Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Keenam Kusuma Dewi


__ADS_3

Kusuma Dewi meloloskan celana yang menutupi pangkal pahanya, melihat sekeliling, kemudian berjongkok. Riak air dan hembusan angin membelai segala indranya. Kusuma Dewi merinding, merasakan kulitnya tergelitik oleh sebuah sensasi aneh. Ia mendadak membayangkan tubuh Anggalarang mencabik-cabik tubuhnya dengan kasar dan penuh nafsu.


Bayangan ini membuat tubuhnya menggelinjang. Seakan ada kejutan energi dari tunggul kayu yang melompat-lompat melewati luncuran air seninya, merambat di bongkahan kewanitaannya dan berlabuh di jiwanya.


Di permukaan sungai yang gelap terlindungi dari cahaya matahari oleh dedauan dan ranting pepohonan, membayang sosok gadis polos tak berbusana, berkulit sekelam misteri, dan berpucuk dada semerah darah. Wajahnya menyeringai ketika sosok lain di belakangnya menggerakkan tubuh ularnya berkelok-kelok mendekati Kusuma Dewi yang masih berjongkok melepaskan air kencing dari rekahan keperempuanannya.


Jendela gaib berdecit terbuka. Tak lama Kusuma Dewi pun menjelma menjadi seorang putri. Sengatan energi  memalun dan membalut tidak hanya tubuh, namun juga jiwanya. Ia bisa merasakan bahwa hayatnya bersorak-sorai memuja dan memuji dirinya sendiri. Tubuh, badan, raga ini adalah altar penghormatan. Setiap jengkal tubuhnya adalah keindahan dan kecerlangan. Kedua matanya sudah terbuka sekarang. Ia adalah agung, ia adalah akbar, ia adalah bena, ia adalah sempurna. Kusuma Dewi menghirup udara kebenaran yang sejati, melakukan perayaan akan diri.


Dua sosok dalam satu raga astral yang maya merayap diatas arus air menempel di kulit putih pucat Kusuma Dewi. Yang serupa ular melata di punggung dan merengkuhnya. Yang bugil tanpa busana, memeluk erat dari muka tubuhnya. Dari situlah sentakan ekstasi dimulai. Kesadaran diri Kusuma Dewi terbuka vulgar dan brutal. Ada geliat luar biasa kuat dan menarik bagi kedua sosok itu untuk merasuk ke dalam tubuh gadis berambut panjang kemerahan tersebut.


Sebagai akibatnya, Kusuma Dewi kini merasa bahwa semua keinginannya telah tercapai, bahkan sudah tersedia secara lama. Ia adalah dia tetapi disaat yang sama ia menjadi orang yang sama sekali bukan dia. Ia adalah ia dan ia adalah lainnya. Apapun itu Kusuma Dewi tak peduli.


Pak Guru Johan hampir saja jatuh terduduk kalau salah satu tangannya tidak menopang tubuhnya berpegangan pada sebatang pohon. Cahaya mentari menelisik masuk tempat keramat itu, menyinari sosok Kusuma Dewi yang muncul di hadapan laki-laki beristri tersebut.


Pak Guru Johan tak dapat percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Kusuma Dewi, setelah tak terlihat hanya selama sepuluh menit, kini muncul menjadi sosok yang berbeda.


Kecantikannya bukan dari dunia ini, bukan dari bumi. Seakan sosok molek di depannya terangkai dari butiran sinar yang dironce menjadi sebuah mahakarya semesta.

__ADS_1


Pak Guru Johan sudah tahu dan sadar sedari awal bahwa Kusuma Dewi ayu nan menggairahkan, tapi ia tak menduga perempuan itu bakal muncul dengan menggeber segala keindahannya.


Kulit pualam wajah, leher, lengan, lutut dan tungkai kakinya terlalu peri tak manusiawi, malah mungkin ia adalah seorang bidadari.


Rambut kemerahannya yang tergerai bagai mega-mega meradang jubah langit yang mengambang di angkasa, begitu mengerikan saking memesonanya. Kibaran baju terusannya membuat bagian atas paha sang gadis terkespos.


Kusuma Dewi bersukacita atas nikmat tubuhnya. Oleh sebab itulah kedua sosok gaib yang menempel di kulitnya membisikkan hal cabul dan badung yang selama ini hanya bisa dibayangkannya.


"Mas, kok melongo seperti itu?" ujar Kusuma Dewi dengan nada yang tak bisa dipungkiri penuh godaan itu.


"Anu ... Anu, kamu sudah selesai, Dek?" jawab Pak Guru Johan yang tak bisa dipungkiri tergoda.


Keringat dingin mengalir sebesar butiran beras dari kening dan punggung Pak Guru Johan. Lidahnya kelu.


Tubuh Kusuma Dewi yang seakan diturunkan dari kahyangan itu menari-nari di pelupuk mata Pak Guru Johan. Tidak ada yang mampu menggetarkan jiwa laki-laki selain getaran dada dan bokong seorang perempuan yang seirama dan bersimfoni dengan nafsu sang pria itu sendiri.


Sosok perempuan bertubuh ular memeluk erat Kusuma Dewi dari belakang. Wajahnya bersinar redup kehijauan. Lidah bercabang duanya menyapu telinga Kusuma Dewi ketika ia membisikkan kata-kata, "Saatnya engkau mencoba keagungan tubuhmu sendiri. Berikan laki-laki beristri itu kepuasan syahwat yang ia inginkan. Kau pun akan mendapatkan kebebasan jiwa dan raga yang sudah kau mau sedari lama." Sosok gaib itu terkekeh dan terkikik. Sedangkan sosok satunya, yang menyatukan raga di depan tubuhnya kembali menyeringai dengan licik.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ratih memiliki pandangan seperti kaca film, berbayang, buram kabur namun lebur. Kepalanya masih sangat pusing dan terasa berat, termasuk punggung dan pundaknya, padahal ia tidak lagi meriang.


Ia sudah berkali-kali mencoba bangun dan berjalan-jalan sedikit. Dari beberapa kali percobaan, baru dua kali ia berhasil melangkah ke belakang untuk pergike toilet dan menengok pekarangan. Tapi itupun tak lama.


Kedua anak laki-lakinya sore ini sedang bermain di rumah tetangga yang juga masih kerabatnya. Itu sudah biasa dilakukan. Apalagi tadi Pak Guru Johan sudah berpesan kepada tetangganya tersebut bahwa istrinya sedang tidak enak badan dan ia hendak menemani sepupu istrinya tersebut sejenak.


Belum hampir satu jam sang suami dan sepupunya keluar, tapi samar-samar Ratih melihat sosok Pak Guru Johan datang masuk ke kamar. Perawakannya yang berpostur sedang namun selalu rapi itu selalu membuat jiwa Ratih tenang, entah mengapa.


"Kok sudah pulang, Mas? Bagaimana tadi? Mana Dewi?" tanya Ratih kembali membaringkan kepalanya ke atas bantal.


Pak Guru Johan berbaring di samping sang istri. "Sudah selesai. Dia senang  dan memutuskan untuk sendirian di sana dahulu. Aku dimintanya pulang duluan," ujar sang suami dingin.


Perlahan pandangan Ratih kembali membaik. Kepalanya masih sedikit berat, namun ia sudah dapat melihat langit-langit kamarnya dengan terang dan jelas. Ia menghela nafas lega. "Syukurlah, Mas. Aku heran, padahal anak itu cantik sekali. Tapi nampaknya ia kurang percaya diri. Kalau dengan mencoba-coba datang ke tunggul kayu itu dia bisa merasa lebih cantik, ya kita biarkan saja Mas," ujar Ratih masih berbaring menengadah memandang langit-langit kamar.


Tak lama Ratih mencium bau yang tak biasa, yang mungkin datang bersama sang suami. Bunga melati. Setahunya, sang suami tak pernah mengenakan bebauan dan parfum semacam itu. Maka ia menoleh ke arah sang suami.

__ADS_1


Wajah Pak Guru Johan menatap tepat ke arahnya. Seringai aneh dan mengerikan muncul di wajah laki-laki itu.


__ADS_2