
Satria Piningit beranjak pergi dari lorong diantara bangunan itu ketika ia melihat sang gadis, cantik tetapi acuh dan sedikit kasar itu berdiri di depannya.
"Kau bertemu siapa tadi? Hantu? Pasti bukan Priyam, menurutku," ujar Sarti tanpa menengok ke arah Satria Piningit.
Satria Piningit melipat kedua tangannya di depan dada, bukan sebagai bentuk tantangan, tapi memang mendadak udara menjadi dingin.
"Bukan, bukan hantu. Tapi jin. Sosok sialan itu menjelaskan kepadaku bahwa ialah yang membunuh mbah kakungku di desa Obong sana. Ia juga menjelaskan bahwasanya mbah kakungku adalah salah seorang tokoh besar dan dihormati di desa Obong yang berilmu sesat, sama seperti orang-orang yang kalian hadapi sebelumnya."
Sarti melirik ke arah Satria Piningit, tidak terlalu yakin bagaimana harus menanggapinya.
"Tidak perlu curiga denganku lagi. Aku merasa sudah cukup dengan semua ini. Sekarang juga aku harus pulang ke Kalimantan. Aku akan berhenti mencari tahu tentang Priyam dan desa Obong. Dan ... Benar, sosok gelap yang kau rasakan selalu berada dekat denganku adalah jin yang dahulu adalah milik mbah kakung, dan nenek moyang sebelumnya."
Sarti kali ini benar-benar memandang Satria Piningit. Ia tak yakin apakah Satria Piningit berkata yang sebenarnya atau berbohong dan lebih parahnya, mendramatisir cerita.
"Sampaikan saja salamku untuk Wong Ayu. Katakan aku senang sekali bertemu dengannya. Semoga suatu saat kami dapat bertemu lagi," ujar Satria Piningit sembari mengeloyor pergi melewati Sarti yang berdiri kaku dan aneh di depannya.
Satria Piningit benar-benar pergi malam itu juga. Ia mengendarai mobil dan mengembalikannya ke jasa rental. Ia menginap tidur di sebuah hotel kecil dekat bandara dan naik penerbangan pertama di pagi berikutnya.
Sarti menjelaskan kepergian Satria Piningit kepada Wong Ayu tanpa menunjukkan ekspresi apapun, padahal ia sebenarnya penasaran mampus degan keanehan ini dan bagaimana reaksi Wong Ayu.
"Ada baiknya ia memang segera pulang. Kita tak bisa melibatkan dirinya pada apapun yang akan kita lakukan nanti," ujar Wong Ayu tak kalah dinginnya.
Sarti kecewa melihat Wong Ayu tak memperlihatkan rasa terkejut atau sedih sedikitpun mengingat cerita Satria Piningit sewaktu ia digendam Soemantri Soekrasana, bahwa Satria Piningit dan Wong Ayu memiliki semacam ikatan emosional masa kecil yang cukup sentimental.
__ADS_1
Sebaliknya Sarti malah sebal melihat air muka Soemantri Soekrasana yang terlihat begitu lega karena Satria Piningit pergi tanpa pamit. Sudah jelas ia menyukai Wong Ayu, dan dukun muda itu tak suka saingan, sekecil apapun.
Sarti tak habis pikir dengan sifat manusia yang berhubungan dengan cinta. Bahkan setelah ratusan tahun kehidupannya, ia masih tak bisa membongkar rahasia apapun dari rasa yang satu ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di malam yang sama saat Satria Piningit tertidur di hotel kecil di area bandara, di seberang lautan, di pulau Kalimantan di mana ia tinggal, seorang pemuda bernama Yakobus Yakob terbaring di rawa-rawa. Separuh tubuhnya terendam di air, hanya menyisakan hidung untuk bernafas dan sepasang mata yang tak henti berkedip karena air berusaha masuk.
Jantungnya berdetak terlalu cepat, berlomba dengan nafas yang mengimpit rongga dadanya. Kepalanya pening luar biasa, terasa panas di dalam air keruh berwarna coklat gelap itu, meski Yakobus Yakob tak yakin apa warna air saat itu sebenarnya, toh malam ini terlalu pekat untuk melihat detil warna dari benda apapun.
Rasa takut menjalar ke seluruh tubuh, keluar dari pori-pori kulitnya dan mencengkram erat tenggorokannya. Ia serasa ingin muntah saking ngerinya.
Ketakutannya bukan disebabkan beragam jenis serangga yang merambati lengannya yang menyembul di permukaan rawa, atau enam orang yang sedang memburunya dengan pistol rakitan dan parang itu.
Memang, teman-teman sang korban yang melihat langsung dengan kedua mata mereka Yakobus Yakob membunuh salah satu anggota gerombolan mereka ini akan menuntut balas dan pasti akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih keji kepada dirinya.
Memang, sinar panjang berpendaran dari senter para pengejar. Mereka meneriakkan kata-kata ancaman, makian dan sumpah serapah memanggil Yakobus Yakob seakan itu bisa membuat Yakobus Yakob keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerahkan diri secara sukarela untuk dibantai.
Namun**bukan semua itu alasan tubuhnya bergetar hebat. Bukan karena ini pertama kalinya ia mengambil nyawa seseorang, itu tak ia sesali sedikitpun. Bahkan membunuh bangsat itu adalah sebuah kebanggaan dan kepuasan tertinggi yang bisa ia capai sepanjang hayatnya.
Semua rasa takut yang ditimbulkan adalah karena sosok besar yang sedang menunduk menatapnya tajam.
Dalam kegelapan pekat, sosok itu tersinari cahaya rembulan yang lemah. Sepasang tangannya terbentang dengan jemari serupa ranting pepohonan dan sulur-sulur tanaman. Tubuhnya menyatu dengan gundukan tanah dan semak, sedangkan kaki-kakinya tertancap di dalam bumi.
__ADS_1
Yakobus Yakob dapat melihat wajah sang sosok di bawah bulan. Mata raksasa semerah darah, sedangkan darah yang sebenarnya menetes melalui sela-sela bibirnya. Ia bermahkotakan paruh burung Enggang.
"Kau tak bisa mundur lagi," ujar sosok itu berupa desiran angin yang membuat tubuh Yakobus Yakob membeku, walau memang ia sedang terendam air pula.
Yakobus Yakob tak tahu harus menjawab apa atau merespon bagaimana meskipun secara aneh mulutnya mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tak pahami, "Panglima Burung ... Panglima Burung ... Panglima Burung ... Panglima Burung ...."
Indera penciuman Yakobus Yakob merasakan bau anyir dan karat: bau darah. Telinganya sayup-sayup mendengar teriakan perang para prajurit Dayak di masa lalu.
Tunggu! Bagaimana ia dapat mengerti bahwa teriakan-teriakan itu berasal dari para ksatria Dayak di masa lalu? Yakobus Yakob tak mampu menjawabnya karena tubuhnya kaku. Seperti ada yang mengambil alih seluruh tubuh, jiwa dan pikirannya, mencekokinya dengan beragam kata dan gambaran samar.
Ada sulur-sulur akar pepohonan yang bergerak perlahan namun pasti muncul dari dalam rawa-rawa mengikat kaki, tangan, perut dan menjerat lehernya. Ratusan jumlahnya.
Lidahnya kelu ketika untaian akar masuk ke mulutnya, merayap terus memaksa menerobos ke dalam tenggorokannya.
Sang sosok raksasa yang membungkuk di atasnya memudar dan perlahan menghilang. Sebagai gantinya muncul sosok samar seorang perempuan sedang bersimpuh. Rambutnya begitu panjang sampai menutupi tubuhnya yang telanjang. Tapi rambut panjangnya berpilin-pilin, gimbal, belepotan darah yang menetes-netes.
Cahaya bulan berwarna keperakan membuat Yakobus Yakob dapat melihat sosok tersebut dengan lebih baik.
Sosok itu menatapnya tajam.
Dari posisinya yang bersimpuh, ia kemudian merangkak secepat seekor kecoa mendekat ke arah Yakobus Yakob.
Wajah perempuan itu yang mengerikan mendelik sejengkal di wajah Yakobus Yakob yang menganga karena sulur-sulur akar masih bergerak tumbuh masuk ke dalam tenggorokannya.
__ADS_1