
Nama lengkap gadis itu adalah Soemarni Nataprawira. Keluarganya bukan berasal dari Dusun Pon, melainkan dari kampung sebelah. Gadis berwajah mungil beraura polos itu ternyata bengal luar biasa, bertentangan dengan apa yang terpancar dari raut wajahnya yang nyata-nyata bena. Kebengalan, kebinalan dan kenakalan sang gadis ini ditunjukkan dengan selalu pergi bermain ke Dusun Pon setiap ada waktu. Tujuannya sederhana, ingin menyambangi dan bertemu kekasih hatinya, seorang pemuda bernama Girinata. Kekasihnya, sang laki-laki muda itu, adalah anak orang terkaya di dusun Pon yang miskin itu.
Ayah Soemarni Nataprawira yang bernama Sapar Nataprawira, merupakan seorang dalang terkenal di kampungnya. Ia padahal kerap melarang anak gadis bengalnya untuk bertingkah semacam itu.
"Mereka orang kaya, Rama, bukan candala. Kelak kalau aku kawin dengannya, nama keluarga kita tetap akan terjaga, bukan? Jangan khawatir," ujar Marni kepada ayahnya. Saat itu padahal Soemarni Nataprawira baru berumur enam belas tahun, tetapi kata-katanya seperti anak gadis yang tidak diberikan pelajaran tatakrama oleh kedua orangtuanya. Lancang dan kurang ajar. Apalagi mengingat sang ayah adalah seorang dalang yang berarti ia merupakan pengawal dan pejuang bahasa dan sastra, yang berada di garda depan tata dan aturan bahasa.
Seorang dalang adalah Parama Sastra, yang kaya akan perbendaharaan kata serta ahli dalam tata bahasa. Seorang dukung adalah Parameng Kawi, yang paham akan bahasa Jawa Kawi dan kuno. Untuk melengkapi prasyarat sebelumnya, seorang dalang adalah Mardi Basa, yaitu mampu mengolah bahasa demi cerita yang ciamik dan menarik. Kemampuan bahasanya harus mampu dibuktikan dalam hal tersebut. Seorang dalang adalah Mardawa Lagu, yang menguasai berbagai tembang, gending dan seni karawitan. Seorang dalang adalah soerang Mandra Guna, yang menguasai berbagai ketrampilan dalam pementasan, termasuk memengaruhi kejiwaan dan perasaan para penyimak dan penonton. Seorang dalang adalah Hawicarita, dengan kemampuan bercerita yang mumpuni. Memberikan beragam cara untuk menghanyutkan para pemirsa dalam jalan cerita, permasalahan dan penyelesaiannya di lakon tersrbut. Seorang dalang adalah Nawung Krida, yang memahami kejiwaan penokohan wayang dan hubungannya dengan manusia, dan seorang dalang harus Sambegana, yang memiliki ingatan kuat nan sempurna mengenai urutan cerita dan nama-nama tokoh wayang.
"Wedhok macam apa kamu ini?!" Sapar Nataprawira berseru di depan anak gadisnya. "Kamu itu perempuan dari keluarga baik-baik dan terhormat, bukan sekadar kaya. Rama-mu ini adalah dalang, tokoh yang menjadi panutan, omongannya didengar orang lain. Tiap ndalang, Rama selalu menyelipkan pesan moral, falsafah hidup, dan lelaku orang yang benar hidupnya. Lah, kamu kok seenaknya main ke rumah laki-laki, seumur ini lagi, seperti perempuan tak berharga saja, murahan. Tidak elok, Marni," ujar sang dalang.
Soemarni Nataprawira terkikik. Seberapa berusaha garangnya sang dalang, tawa Soeamarni Nataprawira, anak perempuan satu-satunya itu selalu meruntuhkan segala amarah dan murka yang ada padanya. Begitu cintanya ia pada sang gadis, sehingga ia tidak mengacuhkan bisikan-bisikan gaib setiap ia melakukan ritual wajibnya sebagai dalang. Selalu ada sosok samar perempuan berkebaya merah dengan rambut sebagian disanggul dan sebagian terurai acak-acakan datang kepadanya menepis lapisan kabut dan berbisik parau, "Dusun ... Pon ... Sihir ...."
Sosok perempuan dengan sepasang matanya yang meneteskan darah dan mendelik penuh amarah itu membuka mulutnya yang lebih banyak mengeluarkan getih, bergumpal-gumpal bagai lumpur. Kata-kata yang ia ucapkan melayang di sela-sela asap dupa sesajen, memantul di lapisan permukaan wayang kulit yang tertatah tak rata.
__ADS_1
Sapar Nataprawira selalu mencoba tidak mengacuhkan kata-kata yang misterius hampir tanpa arti bila sungguh tak dimaknai itu. Padahal, ia jelas-jelas hidup akrab dengan kegaiban. Dunia pedalangan yang ia tekuni tidak jauh dari lelaku. Seorang dalang harus menjalani hidup prihatin, tirakatan, bertapa atau ziarah ke makam dalang-dalang sebelumnya untuk membersihkan diri sekaligus membuka jiwa pada semesta dan semua mahluknya.
Sebagaimana seorang dalang, Sapar Nataprawira harus mampu mempersiapkan diri untuk yang kasat mata maupun tidak. Ia juga harus mampu untuk menangkal gangguan tak kasat mata.
Namun, cinta mengaburkan segala.
Sapar Nataprawira merapal mantra untuk membuat sang kuntilanak merah yang sejatinya ingin memberitahukan sesuatu, untuk minggat dari hadapannya.
“Aum awignam astu sing lelembut pedhayangan sira ing papan kene kang kekiter kang semara bumi bujang babo kabuyutan …,” sabdanya. Ini adalah mantra pertama dari lima mantra yang dikuasai Sapar Nataprawira yang biasa ia rapalkan untuk mempersiapkan penampilan wayang agar lancar dari segala jenis gangguan.
Hingga pada suatu saat, Soemarni Nataprawira belum pulang sampai petang. Ia sudah meminta para pembantunya mengelilingi kampung untuk mencari anak gadisnya itu, walau jauh di dalam hatinya, ia tahu pasti kemana anak gadisnya itu pergi.
Maka, seorang diri, berjalan kaki dengan sepasang selop yang berbunyi khas memukul-mukul tumitnya, Sapar Nataprawira pergi ke Dusun Pon. Entah bagaimana, ada petunjuk gaib yang mengarahkannya ke satu tempat di pinggir sungai. Kali ini ia sungguh mengacuhkan apa yang suara gaib itu berusaha sampaikan.
__ADS_1
Kedatangan sang dalang tak terlihat penduduk dusun tetangga ini.
Jantung Sapar Nataprawira hampir berhenti berdetak menyaksikan pemandangan di depannya. Soemarni Nataprawira, yang ia panggil Marni, sang putri, setengah telanjang, dihimpit di bawah tubuh seorang laki-laki muda, yaitu Girinata, sang kekasih, di samping sebuah tunggul kayu berkain putih kuning di tepi sungai.
"Lancaaang!" seru Sapar Nataprawira. Kemarahannya membeludak keluar bagai lahar gunung berapi, meski ucapannya tak jelas lebih diarahkan kepada laki-laki muda atau anak perempuannya itu sendiri.
Namun, tetap saja ia mendepak tubuh Girinata, menginjaknya beberapa kali dan menggunakan selopnya untuk menampar wajah sang pemuda. Ketika Soemarni Nataprawira berteriak-teriak menahan laju sang ayah, Sapar Nataprawira menarik lengannya, menyeret sang anak pulang. Cawat Marni masih tertinggal di tepi sungai itu.
Girinata menghapus darah di bibirnya, mengambil cawat kekasihnya yang kumal oleh tanah, kemudian memandang penuh benci ke arah perginya sang dalang beserta putrinya itu. Pikiran sang kekasih yang juga masih muda itu begitu berkecamuk malam itu. Tidak hanya kebencian yang menggumpal-gumpal di dalam rongga dadanya, tetapi juga cara ia memandang dunia, cara ia menilai seisinya. Ada gerakan laten di dalam jiwa sang pemuda agul ini.
Sesampainya di rumah, Sapar Nataprawira mengurung anak perempuannya di kamar sampai si gadis degil itu berhenti berteriak-teriak.
Dua hari kemudian, malam hari, rumah sang dalang heboh dan kisruh. Sang dalang ditemukan emban pembantu telah tewas dalam keadaan mengenaskan. Ia diduga muntah darah disertai paku dan gotri.
__ADS_1
Hari itu adalah malam Rabu Pon.