
Sang preman melepaskan kacamata hitam yang masih ia kenakan walau tadi ia terlempar keras sehingga menyebabkan tulang bahunya retak dan kepalanya bocor. Ia melemparkan kacamata hitamnya itu dengan sembarangan. Namun begitu, terlihat bahwa hanya tubuh fisiknya yang terluka, sedangkan kesadarannya telah sepenuhnya diperbudak oleh Wardhani sang Ratu Dededemit.
Ia berjalan mantap, keluar dari lift dari lantai tiga apartemen itu. Ia kemudian juga meloloskan jaket kulit kebesarannya dan membuang ke lantai apartemen begitu saja, sama seperti kacamata hitamnya tadi.
Wardhani menjalankan tubuh sang preman. Tadi ia sempat memungut revolver milik rekannya yang tewas dengan tubuh hancur berantakan bagai bubur dan lumpur, kemudian merogoh saku sang rekan dan mengambil beberapa biji peluru yang ternyata memang dibawa.
Sang preman berjalan pelan di pelataran parkir, menyaksikan tubuh sang Maung mencelat menubruk keras sang ular hijau betina yang tubuhnya berkelok-kelok panjang.
Ia menggenggam revolver itu, membuka katup tabung berputar dan mengisi penuh tabung itu dengan peluru.
Menurut pengamatannya, belum terlihat siapa dari kedua mahluk jadi-jadian yang sedang bertempur itu yang unggul.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kusuma Dewi semakin terbenam dalam lapisan dunia kekuasaan sang ular betina. Dahulu, dengan jujur ia sangat menikmati dunia ini dimana lapisan-lapisan dimensi membuatnya nyaman, bagai helai-helai kain yang membelai kulitnya. Sengatan petir energi membikinnya bergairah dan bersemangat. Setiap hawa daya yang merangkak di atas kulit dan menyelip masuk ke dalam pori-porinya begitu hangat, menggelitik namun menyenangkan.
Namun sekarang, tempat ini menjadi sebuah penjara baginya. Lecutan dan letupan elektrik tenaga begitu menyiksanya. Tubuhnya yang bukan miliknya lagi itu menjadi kendaraan sang siluman ular. Desisnya memenuhi ruangan dimana ia terkunci dan terkerangkeng ini. Ia tak memiliki kuasa yang dahulu ia nikmati dan miliki.
__ADS_1
Jiwa Kusuma Dewi terombang-ambing.
Tusukan cakar dan taring sang Maung berkali-kali menembus dan merogoh ruang dimana ia tersembunyi. Langit-langit dimensi tempatnya terikat sobek, terkoyak namun kembali menyatu lagi. Kusuma Dewi gemetar ketakutan di dalam tubuhnya sendiri. Getaran rasa takut tersebut menggerogoti jiwanya. Wajah Anggalarang sang kekasih terbayang-bayang, namun hancur lebur ketika sekali pagi cakar tajam sang Maung memporak-porandakannya.
Kusuma Dewi berusaha memberontak untuk membuat semua ini usai. Ia tak hendak melawan sang kekasih yang juga jelas terjebak di dalam dunia penjara lainnya di dalam tubuhnya sendiri. Entah apa yang terjadi pada hidupnya. Keinginan yang ia idam-idamkan sekian lama, bahkan dengan pengorbanan menjadi bukan dua sosok perempuan iblis ini ternyata hanya membuatnya mencecap rasa manis sekejap saja.
Ia mencoba menyibak tirai berlapis dan berwarna-warni akanmerah darah, putih tulang dan nanah, hitam busuk, biru dan ungu lebam, dan nila senja dengan menyobek serta menyundulkan kepalanya keluar.
Di sisi lain, Anggalarang terikat di sebuah dinding daging yang berdenyut-denyut. Ia bahkan merasakan ketika darah mengalir dari sulur-sulur urat yang mengikat tubuhnya sehingga tak bisa lepas.
Anggalarang begitu penasaran apakahMaung masih dapat melihat sedikit saja sisa-sisa sosok Kusuma Dewi dalam mahluk yang sedang bertarung dengannya. Ia tak menyangka bahwa kemunculan Maung malah membuatnya bertarung dengan gadis yang hendak ia selamatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wardhani berbisik pada sang preman yang kini tak mengenakan kacamata hitam dan jaket kulitnya yang kebesaran lagi itu, "Aku akan memberikanmu kenikmatan yang tak akan kau dapatkan dimanapun. Kau lihat tubuh ini, bukan? Kita memang berada di tubuh yang sama, tapi kita belum menjadi satu. Ikuti segala perkataanku, maka kau akan memiliki jiwa ragaku."
Sang preman berhenti melawan. Meski ia pada dasarnya sudah dikendalikan oleh sosok Wardhani, tubuhnya yang masih berada di lapisan dimensi dunia lain membuat kekuatannya belum sempurna. Sang preman masih berusaha setengah mati membebaskan dirinya dari kuasa mahluk asing dalam tubuhnya. Kepalanya yang terluka berhenti mengucurkan darah. Cairan kehidupan itu sebagian telah membeku dan membentuk kerak. Rasa sakit di retakan tulang bahu dan kepalanya menyadarkan sang preman bahwa ia masih hidup, sehingga dengan kemampuan yang ia miliki, sang preman terus melakukan perlawanan sebisanya.
__ADS_1
Namun, setelah bisikan menggoda yang merupakan keahlian Wardhani tersebut di telinganya, sang preman berubah bagai kerbau yang dicucuk hidungnya. Tubuh tanpa busana, berwarna gelap nan halus mulus terbentuk dengan begitu indah menyapa kelelakiannya. Sepasang dada Wardhani yang tak besar tetapi menggunung padat berpucuk merah terang merekah darah mengacung tegang mengalahkan niat pemberontakan sang preman. Lekukan lengan dan ketiak, pinggul, pinggang, bokong dan pangkal pahasejajar dengan keindngan pemandangan hamparan bumi dari langit.
Dengan sadar sang preman membiarkan dirinya dikuasai secara penuh. Perlawanannya terasa konyol dan tak dimasuk akal. Alangkah lebih baik bila ia membiarkan sosok berwajah ayu dengan alis mata lentik seakan dipasang paksa oleh semesta itu membimbing semua gerakannya. Ia pasrah menantikan persatuan tubuh nyata antara dirinya dan sosok asing yang menginap dan hendak mengambil kuasa dalam tubuhnya.
Sang preman mengangkat revolver milik rekannya yang telah tewas dan yang telah diisi ulang penuh. Ia mengarahkan moncongnya ke berbagai arah tempat kumpulan warga yang menonton kehebohan ini diam-diam tersebar di berbagai tempat. Di balik pepohonan, di balik bangunan pertokoan atau di dalam kamar apartemen mereka.
Ia menekan pelatuknya.
Ledakan meletus dari moncong revolver.
Wardhani tertawa. Wajahnya yang membayang dalam tubuh sang preman memelar, rahang dan mulutnya membuka begitu lebar dan besar seakan dapat menelan seisi dunia.
Di tempat lain, berkilo-kilo meter dari apartemen mewah di atas bukit, tubuh setengah baya Girinata yang terlihat puluhan tahun lebih tua, membungkuk ke depan dengan sangat bagai sebatang pohon lapuk yang mati tak berbunga dan berdaun lagi. Sepasang matanya menatap kosong entah ke arah mana. Kulitnya pucat tak segar, layaknya gurun pasir yang tak teraliri air sungai, tandus meranggas.
Rumah besar yang ia diami terasa lengang oleh mata telanjang. Bunyi jangkrik bersahutan dari balik tanaman liar yang merambat dan tumbuh liar di pekarangan dan retakan ubin kamar tamu. Cecak berdecak, tokek menokek, dan tikus bercicitan. Hampir tak ada ciri-ciri kehidupan manusia kecuali tubuh bungkuk Girinata yang bersimpuh berdiam diri di lantai ruang tamu.
Namun,bila seseorang yang dilengkapi dengan kepekaan mata batin, terlihatlah secara gamblang keramaian dan kegaduhan tempat ini. Hantu Kinanti menempel di punggung Girinata, melingkarkan tangan erat di lehernya. Sundel bolong Marni sang istri dan arwah Dasimah memegangi kedua lengannya menambah erat beban tubuhnya. Selain itu, di setiap sudut rumah dan ruangan, pocong lusuh beragam bentuk, kuntilanak beragam wajah dan jin serta siluman beragam gaya berhamburan terhampar merayap di dinding, mengesot di lantai dan mengambang di udara. Mereka terkikik, mendesah, melenguh, mengeluh, menangis, berteriak serta menggeram. Aura gelap hitam kental mengambang di atmosfir rumah megah nan tak terurus di Dusun Pon tersebut.
__ADS_1