
Soemantri Soekrasana tersentak. Ia sejenak terpana dengan wajah ayu sang perempuan misterius itu. Ia bahkan mengutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini masih sempat berpikir hal semacam itu, yaitu terpesona pada kecantikan seorang perempuan asing.
Namun, pemuda itu masih sadar untuk tidak tenggelam terlalu jauh kedalam kesembronoan dan keteledoran. Berbeda dengan yang diminta sang perempuan, Soemantri Soekrasana tidak mau gegabah dan malah menyimpan kembali keris pusakanya itu. Sinar biru meredup dan menghilang.
Memang keris sakti itu memang dapat melukai siapapun, termasuk mahluk-mahluk gaib, bahkan membunuh dan menghilangkan mereka dari dunia fana ini. Akan tetapi untuk menggunakannya benar-benar memerlukan tenaga yang besar. Andaikata ia tak mendapatkan bantuan tadi, maka walau menggenggam Mpu Gandring sekalipun, ia pasti tewas. Sekarang ia sudah sempat mengembalikan tenaga dan konsentrasi, maka saatnya menggunakan cara lain. Ia mengeluarkan botol air dari tasnya, menenggaknya sampai habis dan membuang botolnya. Soemantri Soekrasana menyemburkan air dari mulutnya dan merapal ajian Lebur Seketi.
Soemantri Soekrasana melompat ke depan sembari berteriak lantang. Ia memukulkan tinjunya ke segala arah. Segala dededemit yang terbentuk dalam rupa lapisan tipis energi dan hawa jahat tersobek dan pecah berderai diiukuti dengan teriakan gaib yang mengerikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Perempuan leak itu sangat kuat. Calonarang sudah berusia ratusan tahun," kata Soemantri Soekrasana kepada perempuan asing itu. Ilmu Lebur Seketi-nya tidak hanya dapat menghancurkan batu menjadi kerikil, tapi juga dapat memukul semua jenis mahluk astral. Sayangnya, binatang-binatang buas dan menjijikkan terus-menerus muncul. Tebasan kelewang dan tinju Lebur Seketi nampaknya tak akan bisa segera mengalahkan sang perempuan leak.
"Dia bukan ibu ratu Calonarang," tegas sang perempuan ayu tak dikenal tersebut.
"Apa maksudmu? Sudah jelas ilmu sihir yang ia gunakan serta penampakannya sendiri menjelaskan itu," protes Soemantri Soekrasana.
"Kau sama dengan orang-orang bodoh lainnya yang selama ini menggambarkan Calonarang sebagai perempuan bengis, penyihir sadis tanpa tahu benar sejarahnya," ujar sang perempuan terdengar gusar.
Soemantri Soekrasana mengernyit dan bingung bagaimana menanggapi kata-kata perempuan cantik ini.
"Kalau tidak gara-gara keris Mpu Gandring yang kau miliki, aku biarkan saja kau dimakan hantu dan siluman-siluman itu," lanjut sang perempuan ketus.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana mendengus dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Baik, baik ... Aku tidak akan berdebat dalam keadaan seperti ini. Sekarang yang harus kita pikirkan bersama, bagaimana cara kita luput dari serangan ratu Calonar ... Maksudku mahluk itu?" jawab Soemantri Soekrasana pasrah.
Lalu terjadilah hal mengejutkan yang belum pernah Soemantri Soekrasana lihat seumur hidupnya. Perempuan cantik dengan senjata kelewang di tangannya itu tidak menjawab pertanyaan Soemantri Soekrasana. Sebaliknya tubuhnya mendadak mengambang di udara. Kemudian ketika mahluk-mahluk siluman dan binatang melata mendekat, ia membuka mulutnya dan menyemburkan api yang luar biasa panasnya bergelung-gelung, memanggang semua jenis mahluk menjijikkan dan mengerikan tersebut. Tidak hanya itu, sang perempuan juga menciptakan bola-bola api dari tangannya dan melemparkannya ke arah para penyerang. Suasana malam langsung menjadi terang benderang.
Soemantri Soekrasana jatuh terduduk karena terkejut bukan kepalang. Ia mundur beberapa langkah ketika punggungnya menabrak sesuatu. Perempuan yang ia duga sebagai ratu Calonarang berdiri di belakangnya. Sosok itu sudah utuh kembali, tetapi darah mengotori seluruh tubuhnya. Soemantri Soekrasana berbalik dan melihat mahluk itu menumbuhkan taring yang keluar mencuat dari mulutnya yang melebar membuka, siap memangsanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua kekuatan besar bertarung di udara dalam bentuk bulatan api raksasa yang saling menyambar. Perempuan cantik tadi sudah berubah menjadi kobaran api berwarna merah, kuning dan biru, melesat ke angkasa bertubrukan
dengan mahluk iblis berbentuk wanita tua yang juga telah berubah menjadi kobaran api.
Tadi, Soemantri Soekrasana ditolong kedua kalinya oleh si perempuan cantik itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mahluk itu terlalu kuat. Cepat kau bacakan mantra asmara," ujar si wanita cantik itu ketika ia terlempar dari angkasa dan berubah menjadi perempuan biasa kembali.
"Maksudmu?" kata Soemantri Soekrasana bingung.
"Mantra asmara ... pelet. Kau paham dan menguasai ilmu itu ‘kan?" ujar sang perempuan.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana menjadi semakin bingung. Apa hubungannya pertarungan ini dengan mantra pengasihan? Lagipula ia merasa malu di depan perempuan ini karena seakan ia dituduh mengamalkan ajian penakluk hati lawan
jenis, meski memang ia bisa. Tapi berani sumpah ia belum pernah menggunakannya kepada perempuan manapun.
"Sudah, cepat lakukan saja! Dukun sepertimu pasti menguasainya.”
Kini Soemantri Soekrasana menahan kekesalan yang luar biasa. Apa maksud perempuan yang tidak dikenal ini dengan ‘dukun sepertimu’? Seakan-akan ia termasuk seorang dukun cabul yang menggunakan kemampuan gaibnya untuk hal-hal semacam itu.
“Mantra pelet bisa menahan perempuan iblis itu. Ia terbuat dari seluruh unsur negatif, berikan ia sedikit harapan untuk memberikan kita waktu. Aku sudah kehabisan tenaga. Cepat kau lakukan!" lanjut sang perempuan melihat Soemantri Soekrasana masih saja diam terpaku tanpa melakukan apa-apa.
Sial! Masuk akal juga, pikir Soemantri Soekrasana. Apapun yang perempuan itu pikirkan sekaran dan akan lakukan kelak setelah ia merapal mantra pengasihan tidak perlu ia pikirkan dahulu, karena sekarang waktunya untuk merapalkan ajian pengasihan.
Ia kembali mengambil beberapa helai kelopak bunga dari tas selempangnya, menaburkannya ke tanah dan merapal sebuah urutan mantra, " ... witing asoka ring sikilku, hapadhapa ring dhadhaku, mêkar ring rahiku, wastu Si ...," ia kebingungan sebentar. Dalam mantranya ia harus menyebutkan orang yang akan dipeletnya, sedangkan bagaimana memelet mahluk jadi-jadian itu?
Si perempuan cantik berteriak, "Sebut sama jin atau mahluk halus."
Soemantri Soekrasana mengangguk, kemudian melanjutkan mantranya, "... si jim yen andêlêng ring awak sariraning-hulun têka wêlas asih hasih ...."
Si iblis perempuan yang berkelebat dan meluncur ke arah mereka tiba-tiba berhenti serta terdiam di udara. Wajahnya yang mengerikan tersenyum. Senyum paling menakutkan yang pernah Soemantri Soekrasana lihat.
"Hei, apa yang harus kita lakukan? Ia memang tidak jadi menyerang kita, tapi ia tersenyum dan melihat ke arahku. Kalau ia jadi suka denganku, bagaimana?" ujar Soemantri Soekrasana khawatir.
__ADS_1
Sang perempuan misterius itu menyentuh lengan sang pemuda kemudian menutup kedua matanya, "Tutuplah matamu, tahan nafas," perintah sang perempuan.
Soemantri Sokrasana masih merasa bingung dan mengambang di dalam kondisi yang aneh ini. Namun, bagaimanapun juga ia tidak memilii banyak pilihan. Maka, ia pun mengikuti apa mau dan perintah sang perempuan misterius tersebut. Tak lama, kedua tubuh itu memudar di udara dan menghilang dalam gelap tanpa menyisakan apapun. Di satu sudut, kuntilanak merah yang tidak terlihat sejak Soemantri Soekrasana mencabut keris Mpu Gandring miliknya, kini juga perlahan menghilang menyisakan sang sosok iblis betina yang masih tersenyum mengerikan.