
Para preman tersebut sebagian adalah anak buah Affandi, sedangkan sebagian lagi adalah kaki tangan Marsudi. Namun mereka juga mendengar semua perintah Affandi, apalagi bila ini menyangkut urusan bos mereka sendiri.
Kini para pasukan itu berdiri di sudut tanah lahan parkir, di samping mobil-mobil mereka yang diparkir. Mereka sedang mendengarkan penyampaian informasi dan perintah mendetail Affandi. Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk mengangguk.
Lima orang berjaga-jaga di depan parkiran, sepuluh orang berjaga di losmen dan restoran. Sisanya langsung masuk mencari tahu dimana kamar si laki-laki itu menginap. Mereka tentu saja menggunakan paksaan dan kekerasan dalam usaha mencari Soemantri Soekrasana. Tas-tas yang mereka bawa sudah pasti diduga berisikan beragam macam senjata.
Namun yang tak diduga, para preman itu membawa senjata api, bukannya sekadar senjata tajam seperti yang biasa preman-preman pasar gunakan. Preman-preman yang dihubungi Affandi adalah orang-orang pilihan dari ratusan bawahannya dan Marsudi. Mereka bukan preman pasar yang menakut-nakuti orang dengan bentakan dan ancaman.
Seperti yang dipikirkan Kardiman Setil, orang-orang ini bukan sekadar preman biasa, melainkan orang-orang terlatih bagai pasukan yang tugasnya menyerang dan membunuh lawan dengan efektif.
Mereka dipersenjatai dengan senjata api laras pendek seperti pistol dan senapan laras panjang. Stok yang mereka miliki ini sebenarnya juga dibeli dari Kardiman Setil dari bisnis penjualan senjata gelapnya. Jadi, kekhawatiran Kardiman Setil juga berlipat karena ada banyak orang dalam satu tempat yang mendapatkan senjata ilegal dari tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pintu diketuk dengan keras di kamar Soemantri Soekrasana di lantai dua. Suaranya yang nyaring membuat Soemantri Soekrasana melonjak.
Laki-laki muda itu membuka pintu dan melihat Wong Ayu berdiri di depannya, berkacak pinggang.
"Aku tak tahu mengapa kau menyimpan kuntilanak tak berguna itu. Ia sudah tahu bahwa ada orang yang berniat mencelakaimu tapi diam saja?" semprot sang wanita.
Soemantri Soekrasana menggaruk kepalanya. "Maksud mbak?"
__ADS_1
Wong Ayu sekarang melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. "Ada puluhan orang dengan bersenjata api datang ke desa ini sedang mencarimu. Mereka menginginkan keris Mpu Gandring. Jangan tanya mereka siapa, pikirkan saja bagaimana menghadapi mereka. Jangan sampai ada korban yang tak berdosa."
Soemantri Soekrasana hendak bertanya lebih lanjut, terutama bagaimana Wong Ayu bisa tahu. Tapi ia urungkan. Untuk perempuan sakti macam Wong Ayu, mengetahui perihal semacam ini bukanlah hal yang sulit baginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hujan benar datang, tidak terlalu deras namun cukup mampu membuat genangan besar di sana-sini dan ciptaan air di lapangan tanah parkir di depan losmen dan warung makan. Pasukan bersenjata baru saja hendak menyerbu masuk ke losmen ketika diluar terdengar derung kendaraan dan klakson yang dibunyikan bersahut-sahutan.
Ternyata ada rombongan truk, pickup, motor dan orang berjalan kaki memenuhi lapangan parkir. Tidak hanya itu, teriakan orang dewasa dan tangisan anak-anak menembus hujan, menarik perhatian semua orang.
"Kita harus bersiap-siap!"
"Kalian harus menolong kami."
Melihat dan mendengar ini, para preman bawahan Affandi memasukkan kembali senjata mereka ke balik jaket atau ke dalam tas mereka. Affandi dan Kardiman Setil saling berpandangan, kemudian memberikan semacam sinyal bagi anggota mereka untuk menahan diri dahulu.
Soemantri Soekrasana dan Wong Ayu memantau keadaan dari balkon lantai atas, bahkan Wong Ayu sudah mengenakan kembali jubah hitam coklatnya. Awan gelap menggantung di angkasa menjatuhkan lidi-lidi air. Suasana praktis menjadi gelap dan kelam bagai malam. Dengan kemampuan sihir dan gaib yang Wong Ayu miliki, tak susah mendengar hiruk-pikuk yang terjadi di bawah sana.
"Ratu iblis itu telah menguasai Kaliabang. Aku cukup kaget dengan cepatnya mahluk itu dapat berhasil walau sedikit bersyukur juga karena warga bisa selamat," ujar Wong Ayu kepada Somantri Soekrasana.
Soemantri Soekrasana melinting sebatang rokok dengan cepat dan segera menyulut serta menghisapnya. "Kemungkinan besar orang-orang yang ingin mengejar kerisku sementara urung melakukannya. Mereka pasti bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi saat ini," ujarnya kemudian.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepasang mata Marsudi membuka perlahan. Tubuhnya sudah terasa kembali prima seratus persen. Hatinya tenang, karena selama ia bermeditasi, ia sudah mendapatkan jawabannya. Semuanya sebentar lagi akan muncul di desa ini, desa Pancasona. Maka perjalanannya sungguh tak sia-sia dan telah menampakkan hasilnya yang jelas.
Ketika ia mendengar ribut-ribut di luar, meski tanpa rasa curiga, ia tetap bangun dari posisi bersilanya di lantai kemudian pergi untuk membuka pintu.
Affandi dan Kardiman Setil terkejut ketika Marsudi membuka pintu. Mereka sudah berdiri di sana sedari tadi. Melihat kedua saudaranya di depan pintu kamarnya dan melihat dua orang lain di belakang mereka yang ia kenal dengan baik sebagai anak buah Affandi dan dirinya sendiri. Tanpa penjelasan apapun Marsudi mulai paham dengan apa yang terjadi. Instingnya memang tak bisa salah dalam memaknai sesuatu.
"Sudah berapa lama kalian berdiri di depan kamar?" tanya Marsudi.
Affandi cuma meringis.
"Berapa banyak orang yang kalian panggil?" lanjut Marsudi, seakan membaca pikiran dan perasaan kedua saudara angkatnya itu.
Affandi dan Kardiman Setil diam seribu bahasa. Namun Marsudi tidak terlihat kesal sama sekali. Ia bahkan mengangguk-angguk dan menepuk bahu Affandi. "Kita memang membutuhkan mereka sekarang. Aku harap kita punya cukup kekuatan untuk menghadapi apa yang akan datang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hujan menetes dari ranting pepohonan dan dedaunan. Ada pula air hujan yang langsung jatuh ke tanah di puncak gunung kecil ini. Aliran air kemudian turun melalui sebuah kompleks pemakaman yang terletak di bagian atas pemukiman desa Pancasona. Terlihat tiga orang laki-laki yang berlutut di depan gapura makam di bawah hujan. Ketiganya bertelanjang dada. Di dada telanjang mereka ada mantra rajah Kalacakra yang ditulis dengan darah dan tinta dengan cara membeset kulit mereka dengan pisau. Ketiganya sedang khusuk membaca mantra.
Tak lama tanah kuburan yang basah bergejolak. Semua mayat dan tengkorak penuh dengan ulat, cacing dan belatung memaksa naik keluar dari liangnya. Katak dan kodok berlompatan, burung gagak berkaok-kaok ribut, begitu juga dengan kelelawar yang mengepak-ngepakkan sayap mereka riuh rendah di atas kuburan.
__ADS_1
Mayat dan tengkorak hidup terseok-seok keluar dari makam dan berjalan turun ke pemukiman penduduk. Hujan menyamarkan sosok-sosok mereka yang berjalan di dalam gelap. Sore hari, pukul tiga, hari telah bisa dikatakan gelap seutuhnya, seperti malam adanya. Petir menyambar di angkasa, memberi semburan sinar terang yang menggantikan sinar matahari yang sudah tertutup sepenuhnya oleh awan kelabu dan hitam.