Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Duapuluh


__ADS_3

Irawan merasakan darahnya membeku, tulang-tulangnya melemah, dan jantungnya serasa jatuh bebas ke perut. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat mayat-mayat keluar dari kuburan, berjalan melalui gapura atau memanjat melewati dinding makam. Sang pemuda merasakan tubuhnya meregang, mungkin nyawa sudah hampir keluar dari tubuhnya, atau mungkin sebentar lagi.


Lutfi, Marwan dan Handoko berlindung di balik tubuh gempal Pakde Narto. Mereka juga melihat jelas pedang Inggris Pakde Narto memapras leher mayat hidup tadi setelah sebelumnya bacokan ke kepala sang mayat tak membuahkan hasil.


"Pak ... Pakde, siapa mereka? Apa ini? Apa yang harus kita lakukan?" ujar Marwan dengan suara yang bergetar.


"Kita harus lari dan mengabarkan yang lain, pakde," kali ini Lutfi yang berbicara.


"Tidak! Tugas kita adalah untuk menghadang mereka," balas Pakde Narto tegas.


"Tapi, apa yang sebenarnya kita hadapi ini, pakde? Lihat, pakde lihat ‘kan? Mereka adalah mayat hidup, zombie. Ada pak lurah yang kembali hidup padahal saya yang menguburkannya beberapa hari yang lalu," tunjuk Marwan pada sesosok tubuh telanjang yang masih belum terlalu busuk badannya berusaha memanjat tembok.


Semua orang disitu tahu pasti siapa si mayat tersebut.


"Lihat, mereka adalah pak Sardi, Wanto, Yumirwan ... Warga kita yang meninggal belum lama ini. Mereka semua hidup beserta mayat-mayat lain yang sudah lama dikubur di sini," seru Handoko panik.


Ada belasan mayat yang berjalan dengan kaki terseok, tubuh yang tinggal separuh utuh ke arah mereka. Yang cuma tersisa tulang belulang membawa tanah dan cacing yang menempel di tulang mereka. Masih banyak lagi yang menggali tanah kuburan mereka dari dalam, memaksa naik, merangkak keluar dari tempat mereka beristirahat selama ini, yang seharusnya untuk selamanya, kekal.


"Irawan, kalau kamu sudah sadar, cepatlah lari ke balai desa. Kabarkan semua yang ada di sana untuk bersiap-siap, gunakan senjata apa saja yang mungkin. Penggal kepala mayat hidup yang menyerang desa kita," perintah Pakde Narto setengah membentak kepada Irawan yang terlihat sekali hampir hilang kesadarannya dari kenyataan.


Menyikapi ini, ketiga temannya segera ikut berseru memanggil nama sang pemuda, menggoyang-goyangkan bahu dan badannya, mengangkatnya supaya berdiri tegak.

__ADS_1


"Irawan, segera pergi sekarang. Kau harus sadar," Handoko bahkan menampar wajah Irawan. Yang ditampar terkejut dan mulai menunjukkan kesadarannya. "Ambil parangmu, dan pergi dari sini, cepat!" tambah Handoko.


Irawan mengambil parangnya dan bersiap untuk berlari ketika ia melihat keempat orang yang membelakanginya memegang senjata mereka dengan erat, dalam posisi siap tempur.


"Ingat kuda-kuda yang aku ajarkan? Jangan habiskan waktu dan tenaga kalian membacok bagian tubuh selain leher mereka. Putuskan kepala mereka seperti yang tadi aku lakukan," perintah Pakde Narto. Anak-anak muda itu saling pandang, masih ragu.


Demi melihat keraguan dan kengerian yang membayang di waut-raut muka para pemuda tersebut, Pakde Narto maju dengan cepat ke arah mayat-mayat hidup tersebut. Ia membabat satu mayat, mengenai bahunya. Segera ia babat lagi sehingga satu kepala lagi menggelinding dan sisa tubuhnya terkapar di tanah. Serangan ini ia lanjutkan segera dengan dua tiga kali tebas ke satu mayat hidup lagi karena sang mayat mengangkat kedua tangannya dalam posisi ingin mencekik. Akibatnya sabetan pedang Pakde Narto membentur tangan dan jari si mayat hidup tersebut sebelum Pakde Narto berhasil membabat putus kepalanya.


"Cepat, tak ada waktu lagi, habisi mereka semua. Untuk apa aku mengajari kalian ilmu silat?!" perintah Pakde Narto.


Lutfi, Marwan dan Handoko saling pandang, kemudian seakan saling memberikan semangat, ketiganya berteriak lantang mengangkat parang dan golok mereka, mengingat kemungkinan besar mereka adalah harapan keselamatan desa ini dari mahluk-mahluk iblis ini. Ketiganya menyerbu membabatkan senjata mereka. Gerakan mereka sebenarnya cukup terlatih oleh jurus-jurus silat yang diajarkan Pakde Narto, namun serangan mereka tidak selalu tepat, sehingga mereka harus menebas bagian-bagian tubuh lawan yang tidak perlu. Berbeda dengan Pakde Narto yang meski berbadan gempal dan sedikit buncit, tapigerakannya gesit dan tebasannya cukup tepat dan terarah.


Irawan masih berdiri melihat kejadian ini. Rahangnya mengeras. Pakde Narto melihatnya dan mundur dengan cepat dari arena pertarungan menghampiri Irawan, "Kenapa kamu tidak segera pergi? Kamu tidak perlu melawan mereka, segera kabari warga desa saja," tegas Pakde Narto.


"Pakde, mayat itu ... Mayat itu adalah paklik yang meninggal sembilan bulan yang lalu," ujar Irawan menunjuk dengan parangnya ke sesosok mayat laki-laki dengan tubuh gemuk menggelambir dan membusuk di banyak bagian. Tulang-tulangnya terlihat mengintip di balik daging yang menghitam.


"Dia bukan paklikmu lagi. Dia adalah mayat hidup yang dikendalikan oleh ilmu hitam, ilmu sesat!" ujar Pakde Narto keras-keras.


Irawan memandang mayat itu dingin. Ia menggelengkan kepalanya, "Sewaktu masih hidup, paklik jahat kepadaku. Ia sering menghina dan merendahkan keluarga padahal ia selalu mengambil keuntungan dari usaha bapak. Dulu aku tak bisa apa-apa, tapi sekarang, aku akan bunuh dia!"


Irawan menyerbu ke arah mayat tambun itu dan membabatkan parangnya berkali-kali, sesuka hati sampai ia merasa puas. Ia berteriak-teriak bagai orang gila,

__ADS_1


"Mampus kau, mampus!".


Setelah entah berapa kali cacahan parang yang menghancurkan tubuh busuk itu, Irawan menebas kepala sang almarhum pakliknya tersebut. Kepalanya yang jatuh ke tanah ia tendang sekuat tenaga, melayang bagai bola diatas para mayat hidup dan jatuh di atas makam dan terinjak-injak mayat-mayat hidup yang masih berkeluaran dari kuburan.


Pakde Narto melongo melihatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Telapak tangan Marwan melepuh, Lutfi lebih parah, kulit telapaknya terkelupas karena membabatkan parang dan goloknya terus menerus, mengenai tulang dan daging membusuk para mayat yang sepertinya tak ada habis-habisnya.


Irawan sudah kelelahan dan terdesak. Rasa takutnya mungkin sudah hilang, tapi nyawanya terancam. Ia sudah terluka karena cakaran dan gigitan para mayat, bahkan Handoko terkepung oleh tiga mayat hidup. Parangnya menancap di batok kepala salah satu mayat dan terlepas dari tangannya yang licin oleh keringat dan darahnya sendiri dari kulit telapak yang terkelupas.


Pakde Narto dengan gerakan silatnya yang gesit telah berkali-kali membantu menyelamatkan keempat anak buah ronda malam ini sekaligus murid-murid silatnya, namun tetap saja tidak mudah baginya apalagi anak-anak muda itu untuk tepat menebas kepala para mayat.


Handoko sedang tercekik. Dua mayat bahkan mencakari bahu dan mencoba menggigiti wajah pemuda itu. Handoko berteriak kesakitan. Pakde Narto melesat untuk membantu dengan membacok satu mayat hidup, tapi lagi-lagi pedang Inggrisnya mengenai rahang sang mayat sehingga serangan ini tak membuat mayat itu berhenti mencakari Handoko. Satu mayat bahkan berhasil menggigit pipi Handoko dengan keras dan mengoyaknya.


Melihat ini Pakde Narto membuang pedangnya ke tanah. Ia menutup mata, menarik nafas dan merapal sebuah ajian, sebuah ilmu kanuragan. Setelah itu Pakde Narto berteriak keras dan menghantamkan tinjunya ke kepala mayat yang tadi terbacok di bagian rahangnya.


Pukulan Pakde Narto memiliki akibat yang luar biasa. Kepala mayat itu hancur bagai pecahan batu kapur. Tubuh mayat tanpa kepala itu ambruk ke tanah, disusul satu mayat lagi yang juga hancur kepalanya oleh tinju Pakde Narto. Tapi sayang, satu mayat sudah berhasil menggerogoti wajah Handoko yang kini tak berbentuk lagi. Salah satu bola matanya keluar dari rongganya, lidahnya juga dicabik oleh mulut mayat itu. Darah Handoko menciprat kemana-mana. Ia tewas.


Dengan kesal Pakde Narto menghancurkan kepala mayat itu sampai menjadi debu.

__ADS_1


__ADS_2