
Mendengar ini, Kardiman Setil berlari ke van dan mengambil UZI-nya, "Sudah kubilang, aku memang harusnya membawa pacarku yang satu ini."
Tanpa menunggu waktu lagi ia menghujani tembakan kepada keempat tubuh itu dengan tepat. Suara rentetan UZI nya membelah udara, bersamaan dengan letupan sinar dari moncong senjatanya. Keempat tubuh itu terlonjak keras, terlempar ke belakang. Mereka masih berusaha bangun, walaupun kali ini dengan sedikit kepayahan. Tetap saja tak terlihat bahwa tubuh mereka terluka. Keempatnya berbaju compang-camping akibat serangan peluru dan karambit Affandi.
Dari situlah kemudian Marsudi dapat melihat di dada mereka terdapat semacam lambang ditulis dengan tinta berbentuk melingkar dengan tulisan aksara Jawa.
"Rajah Kalacakra," gumam Marsudi.
"Apa katamu, Mar?" teriak Kardiman Setil yang menggenggam UZI nya sembari bergantian mengarahkannya ke masing-masing penyerang.
"Rajah Kalacakra!" ulang Marsudi dengan suara lebih nyaring. "Mereka menuliskan rajah Kalacakra di dada mereka. Kau lihat itu? Itu adalah sumber kekebalan mereka," ujarnya pada Affandi dan Kardiman Setil.
Marsudi mengepalkan kedua tangannya, "Af, sasar bagian paling lemah di tubuh mereka. Coba mata. Kau juga, Kar, tembak mata mereka," perintah Marsudi.
Keempat penyerang dengan rajah Kalacakra sadar bahwa tiga orang yang mereka serang ini memang bukan orang sembarangan dan paham dengan ilmu kebal mereka. apalagi terbukti Marsudi memiliki ilmu rawarontek. Mereka segera menghambur kembali menyerang.
__ADS_1
Affandi begitu gesit, hampir setiap serangannya mengenai tubuh musuh. Bila tak memiliki kekebalan, yang diserang pasti sudah terpotong-potong tubuhnya. Sedangkan rentetan tembakan Kardiman Setil masih belum menyasar ke mata atau bagian lemah lawan meski mereka terlontar ke belakang. Marsudi sendiri bergerak seperti banteng, menyerang terus-terusan.
Marsudi memojokkan Sujono ke pohon beringin. Ia mencekik leher Sujono, "Kau boleh kebal, tapi apa kau bisa hidup tanpa udara?" Sujono menggelepar hebat, mengejang, kemudian mati di tangan Marsudi.
Baru saja menarik nafas, Marsudi merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya. Setiawan membabatkan parangnya ke punggungnya, tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Setiawan mencacahnya, mencincangnya. Marsudi ambruk ke tanah. Setiawan mengangkat parangnya tinggi-tinggi dan menebas leher Marsudi. Ia kemudian menendang kepala Marsudi menjauh dari tubuhnya. Marsudi mati untuk kedua kalinya hari ini.
Demi melihat sang abang diperlakukan seperti itu, Affandi meraung keras. Ia menyerang Setiawan membabi buta. Walau terbukti kebal, Setiawan tak memiliki cukup kemampuan bela diri, sehingga bagaimanapun ia terdesak. Affandi pun berhasil melesakkan salah satu karambitnya ke mata kanan Setiawan. Kali ini Setiawan yang meraung kesakitan. Affandi hendak kembali menyerang Setiawan yang berguling-guling mengaduh,namun ia melihat jasad abangnya. Ia segera berlari mencari kepala Marsudi dengan meraba-raba tanah. Ketika mendapatkannya ia segera berlari dan menempelkan kepala itu di badannya. Butuh waktu untuk membuat kepala dan tubuh bersatu, tapi Setiawan sudah kembali menyerang dengan matanya yang mengucurkan darah.
Sialan! pikir Affandi. Harusnya ia melesakkan karambit dalam-dalam sampai ke otak orang itu.
Kardiman Setil menahan nafasnya, Affandi jatuh terduduk dengan luka di lengan kanannya di samping tubuh Marsudi yang mulai menempel dengan kepalanya. Sepasang mata Marsudi sudah terbuka dan melihat kejadian di depannya bersama kedua saudara angkatnya.
Satu sosok berwarna putih, yang sebelumnya mereka pikir sebesar manusia ternyata sebesar seekor sapi, menyerang tiga warga Obong yang kebal oleh senjata tajam dan senjata api itu. Sosok misterius itu ternyata berwarna putih dari bulu-bulu di tubuhnya yang menyerupai seekor binatang. Kedua tangan, atau kaki depannya, yang panjang, mencakar dan melemparkan orang-orang kebal itu bagai daun saja. Walau mereka masih bertahan karena kekebalannya, sosok putih yang tubuhnya menyerupai seekor harimau itu bergerak dengan begitu cepat dan memiliki kekuatan setara belasan orang kuat.
Cakar-cakar panjangnya akhirnya menembus dari kedua mata Setiawan sampai ke otaknya. Setiawan akhirnya tewas juga. Ngadi berkali-kali terlempar dan akhirnya mati dengan leher patah. Ia mungkin memiliki kulit yang keras dan tak tertembus senjata, namun dihempaskan sedemikian rupa dengan kekuatan yang maha dahsyat, membuat tulang-tulangnya remuk, termasuk lehernya, membuatnya tak bisa bernafas lagi. Namun, yang paling malang adalah Ngadi. Ia seakan menjadi hidangan penutup mahluk jadi-jadian ini.
__ADS_1
Dadanya digerogoti oleh taring-taring mahluk ini yang mencuat keluar dari mulutnya. Awalnya Ngadi seperti tak merasakan apa-apa, namun sang mahluk terus-menerus berusaha melalap dadanya. Air liur sang siluman harimau putih menghapus sebagian besar gambar rajah Kalacakra di dada Ngadi yang bertuliskan mantra dengan menggunakan tinta. Sebagai akibatnya ilmu kebal itu juga menghilang bersama hilangnya rajah. Ngadi melolong kesakitan ketika seluruh jeroan tubuhnya ditarik keluar oleh mahluk itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pria itu berdiri di depan mereka. Ia telah berubah menjadi seorang manusia biasa dengan ukuran yang manusiawi pula. Kemejanya sudah robek-robek, begitu pula celana kainnya yang tinggal selutut saja. Wajah sang pemuda tak terlihat dengan baik karena disembunyikan oleh gelap dengan sangat baik.
"Rawarontek ... Hmmm ... Menarik," ujar siluman harimau putih pada Marsudi yang sekarang telah kembali utuh dan hidup, namun dengan kondisi tubuh yang masih terlihat sekali kelelahan. "Aku tak mau mencegah kalian, tapi kalian sendiri tahu resiko yang akan kalian hadapi nanti. Aku sudah menduga, para pencari ilmu semacam kalian akan mengikuti panggilan itu, tapi aku tak menyangka akan benar-benar seperti ini adanya. Wahai pengamal ajian rawarontek, kemungkinan besar kita masih akan bertemu lagi," lanjutnya.
Suara sang siluman seperti memiliki dua sampai tiga lapis yang terdengar bersamaan. Ada suara lain yang lebih berat dan lebih tinggi menyertai suara utama sosok itu. Bahkan mungkin sekali, bukan sang pemuda yang berbicara sebenarnya.
Tadinya Affandi dan Kardiman Setil sudah hampir kehilangan nyawa bila tidak kedatangan mahluk itu yang melompati kap mobil van Kardiman Setil dengan tangkas dan menghabisi ketiga warga Obong berilmu kebal itu.
Sosok itu kini sudah meloncat dan menghilang ke balik pepohonan ketika cahaya mulai muncul dari sela-sela ranting dan dedaunan. Bahkan dalam bentuk manusianya, sang siluman masih bergerak begitu gesitnya, sebelum tak lama kemudian ekor dan bulu keluar mencuat dari balik kulitnya. Sosok pemuda itu pun kembali ke dalam bentuk hewani.
"Bahkan siluman harimau putih Prabu Siliwangi dari bagian barat pulau Jawa pun hadir di sini," gumam Marsudi perlahan. Ia tersenyum. Hatinya serasa penuh. Petualangan yang ia mimpikan terbuka lebar di depan matanya. Ia mengusap darah di bekas luka potong di lehernya dan kembali tersenyum.
__ADS_1