Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Bajul Bedugal


__ADS_3

Namun, seperti diketahui, Girinata bukan seorang laki-laki lemah apalagi bodoh. Ia hanya bajingan bajul bedugal yang penuh hawa nafsu dan berahi mengalir sebagai bagian dari darahnya. Tak sulit memahami bahwa Soemantri Soekrasana tak akan dapat diserang dengan cara biasa. Buktinya, Girinata bahkan terpaksa mencabut paku sundel bolong di puncak kepala istrinya untuk melawan Lembu Sekilan yang memungkinkan musuh terhindar dari segala jenis serangan fisik dan badaniah yang sengaja disarangkan untuk mencelakainya.


Kedua tangan terentang Girinata berhenti sedepa dari tubuh Soemantri Soekrasana. Ada asap tipis sama kelamnya dengan malam, merajut keluar bagai benang-benang tipis bergerak begitu cepat ke arah Soemantri Soekrasana.


Anehnya, tubuh dukun itu tak bergerak menghindar. Lembu Sekilan sekali lagi tak mendeteksi asap tipis itu sebagai sebuah ancaman fisik. Namun tentu saja Lembu Sekilan salah. Bahkan Soemantri Soekrasana tertipu. Ia merutuk karena terlambatmengetahui bahwa serangan Girinata adalah sebuah serangan gaib yang tak akan mungkin mampu dilihat oleh aji Lembu Sekilan.


Keris Mpu Gandring-nya hendak ia gunakan menebas benang-benang asap hitam yang menembus lembaran kabut putih itu. Namun, ilmu hitam Girinata berkedip nakal pada tenaga dalam bilah keris pusaka ratusan tahun tersebut. Darah dan angkara murka adalah bahasa bagi keduanya.


Soemantri Soekrasana kembali merutuk, mengutuk, dan bersumpah serapah. Sudah hukumnya menggunakan benda-benda berlatar belakang kutukan untuk melawan kutukan lain, sama saja memakai racun untuk melawan racun. Resikonya adalah sembuh, atau racun tersebut melawan balik.


Dan sesungguhnya, itulah yang terjadi.


Waringin Sungsang adalah ilmu kanuragan yang konon diciptakan oleh salah seorang wali Allah di tanah Jawa, Sunan Kalijaga, untuk melawan orang-orang dengan ilmu hitam yang berusaha memggugat dan menentang kebesaran Ilahi. Ilmu ini ditujukan untuk menundukkan dan melumpuhkan musuh tanpa membunuhnya. Apalagi, ilmu ini dirancang melawan para jawara aliran sesat yang memiliki kesaktian sihir dan gaib.


Tapi, sudah ratusan tahun, Waringin Sungsang merangsang jiwa kreatif nan jahat para praktisi ilmu hitam dan sesat untuk memodifikasi kekuatan putih ini menjadi kanuragan permainan iblis.


Jadi, benar, Girinata menggunakan Waringin Sungsang versi sesat untuk pula bekerja sama dengan energi gaib yang dikandung keris pusaka Mpu Gandring yang dalam sejarah telah membunuh sang pembuat yaitu Mpu Gandring sendiri, Ken Arok atau Ken Agrok sang pemilik yang menusukkan keris itu ke tubuh sang pandai besi serta kelak kutukan keris akan juga membunuh keturunan Ken Arok di masa depan. Kerjasama kedua hal terkutuk tersebut berhasil membuat Soemantri Soekrasana jatuh berlutut. Tenaganya terserap oleh ilmu Waringin Sungsang. Kakinya lemas tak kuat menopang beban tubuhnya sendiri, seakan ada bebatuan cadas yang ditimpakan ke atas punggungnya.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana meringis. Ia tak bisa melepaskan keris Mpu Gandring dari genggamannya. Pusaka itu menempel seperti pacet, lintah, yang terus menyedot tidak hanya tenaga, namun juga kesadarannya. Belum lagi tambahan hawa asap gelap Waringin Sungsang yang masuk ke pori-pori tubuhnya, merampok energi apapun yang masih ada dan tersisa.


Kulit Soemantri Soekrasana mengkerut, memucat, bagai darah terserap keluar. Kesadarannya semakin menipis. Ia jatuh berdebum ke tanah. Setiap sudut tubuhnya serasa diremas keras oleh jari-jari yang tak terlihat.


Para mahluk halus mengintip dari balik tirai dimensi. Mereka muncul dan menghilang. Menembus pepohonan, bangunan dan benda-benda padat lain. Tak ada yang tahu apa yang para hantu, siluman dan jin ini rasakan. Yang jelas mereka masih kalut dengan adanya pancaran sinar biru dari bilah bergelombang keris pusaka Mpu Gandring yang masih tergenggam erat di tangan Soemantri Soekrasana yang dalam hitungan detik saja bisa membuatnya semaput atau mungkin saja tewas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raden Ayu Wardhani sang Ratu Dedemit menghela nafas lega setelah melemparkan dan mengenyahkan kedua sampah di depannya itu tadi bahkan tanpa perlu menyentuh mereka. Istilah binatang ****** mungkin terlalu halus bagi kedua pemuda itu yang bagi dirinya hanya sekelas serangga yang hidup di atas kotoran saja.


Meski ia sedikit kecewa. Harusnya, ia membunuh saja kedua budak tengik itu.


Wardhani meraih lembaran panjang kain kafan yang ia jatuhkan tadi. Kain itu kembali ia ikatkan menutupi sepasang dadanya yang meski mungil namun penuh itu. Puncak dadanya yang merah mengacung tegak oleh gairah gaib dan kepuasan rangsangan setelah membunuh itu masih menjeplak menonjol dari lapisan kafan.


Mendadak perasaan itu kembali lagi. Dari tadi ia masih merasa ada lubang di hatinya. Insting kegaibannya merasakan ada getaran aneh yang terpusat pada satu titik. Awalnya tadi ia masih mengendus dan mencari-cari jawaban tentang perihal apakah gerangan.


Akhirnya, pertanyaan itu terjawab sudah. Sebuah ledakan tenaga dahsyat ujug-ujug menggetarkan jiwanya.

__ADS_1


"Ibu!" seru Wardhani. Kedua matanya membeliak lebar. Dengan jelas ia merasakan sesuatu terjadi pada sang ibu, Marni.


Dengan bergegas Wardhani berlari dengan kedua kaki telanjangnya menerobos malam berkabut. Tubuhnya menghilang dari bayangan lidah api jingga dari pos penjagaan dusun yang sudah mulai kehabisan makanannya. Di sudut lain, kobaran api yang membakar dua pohon beringin juga sudah mulai lelah menyapa angkasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana merangkak di tanah, menerobos tanaman-tanaman bebungaan dan keladi-keladian kesayangan istri Pak Guru Johan sehingga membuatnya rusak.


Di sampingnya, sedepa saja jaraknya, Girinata berdiri menggeram. Kedua tangannya yang gelap gulita mengikuti arah rangkakan Soemantri Soekrasana. Asap hitam terus berpilin-pilin keluar dari telapak dan jemari Girinata untuk kemudian melingkupi tubuh dukun muda yang sudah lemas itu.


Sunggingan kemenangan licik Girinata mendadak pudar demi melihat usaha yang dilakukan lawannya tersebut. "Bajingan! Berhenti kau ... Berhenti!" teriaknya.


Namun Soemantri Soekrasana sudah berada dekat sekali dengan sosok gumpalan asap yang bergetar hebat dan berguling ke kiri dan ke kanan tersebut. Tepat ketika sejengkal lagi tangan kanan Soemantri Soekrasana yang menggenggam keris mencapai sosok itu, dukun laki-laki muda itu berteriak keras dan melakukan usaha terakhirnya sekuat tenaga. Ia melemparkan tubuhnya sedekat mungkin dengan tubuh astral Marni si sundel bolong. Keris Mpu Gandring menancap masuk ke dalam betis pucat sundel bolong yang menjadi solid itu.


Kini teriakan Soemantri Soekrasana yang lemah oleh serangan aji Waringin Sungsang tersebut tergantikan dengan teriakan mengerikan Marni dan suaminya, Girinata.


Girinata menerjang ke arah Soemantri Soekrasana dengan didorong oleh ledakan amarah. Kedua tangan hitamnya membentuk sepuluh cakar.

__ADS_1


Aneh tapi sangat nyata terlihat jelas di kelopak mata, keris pusaka Mpu Gandring tertancap di betis sesosok arwah sundel bolong. Dengan begitu SoemantriSoekrasana dapat melepaskan genggaman tangannya pada senjata itu sehingga ia dapat menghindar dari cakaran tangan Girinata yang tinggal dalam jarak sejengkal saja.


__ADS_2