Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Alas Gung Liwang Liwung


__ADS_3

Soemantri Soekrasana Menatap balik langsung ke arah sepasang mata Wardhani yang sama sekali berubah. Angkaramurka tak mampu menggambarkan kobarannya di sana. Ada ratusan bahkan ribuan tahun hasrat dan nafsu purba yang terserap semesta dan diselipkan di pegunungan berbatu, hutan lebat - alas gung liwang liwung, atau samudra tan bisa diukur. Kekuatan yang mengandung rekaman memori atau ingatan syahwat itu merasuk paripurna dalam diri Wardhani yang memang sudah matang dengan sendirinya. Ia bukan hanya membuka diri menerima semuanya, sebaliknya, ia malah memaksa agar kekuasaan gelap yang tercipta sejak awal Datuk Adam merengkuh kehidupan itu menjadi bagian dari dirinya.


Tubuh perempuan muda tersebut meregang seakan tersengat energi listrik yang tak dapat dibayangkan getarannya. Sepasang dadanya yang walau mungil itu bergetar ketika membusung dan sepasang sayap berwarna gelap mencuat keluar dari punuknya.  Kulit kakinya mengelupas dan berganti menjadi sepasang tungkai kaki kuda. Kedua lengannya beralih menjadi cakar harimau loreng dan ekor ular memecut di bagian belakang tubuhnya.


Tatapan tajam Soemantri Soekrasana ternyata makin membuatnya gusar dan berang. Wardhani menggila. Kepulan asap hitam kembali muncul bergulung-gulung. Memekat ganas sekental amarah dan rasa bencinya, tidak hanya kepasa Soemantri Soekrasana, tetapi juga mungkin kepada dunia.


Wardhani melayang ke udara dengan sekali kepak. Para mahluk kegelapan di dalam tubuhnya menjerit-jerit liar laksana hewan-hewan buas dalam kerangkeng, tak sudi namun tak berdaya, masih sangat berbahaya pula.


"Aku harap kau paham apa yang harus dilakukan," gumam Soemantri Soekrasana di belakang Chandranaya dengan agak was-was meski raut wajahnya masih berusaha terlihat santai. Ia hanya bisa berharap pada hantu kuntilanak yang memiliki kekuatan begitu besar tersebut.


Chandranaya, sang kuntilanak merah, yang diciptakan dari penderitaan, dendam kesumat dan paradoks dunia yang durjana, membuka mulutnya lebar. Lubang gelap itu seakan tak berujung, hanya berisi ketiadaan. Teriakan kesengsaraan kembali meletup. Hanya saja kali ini, tidak hanya dunia gaib, bahkan dunia fana pun bergetar.


Tikus-tikus di sawah mencicit berlarian dari sawah ke tegalan dalam posisi berantakan, saling tubruk tak terkoordinasi. Ular sawah menggeliat menekuk dan merapatkan tubuh mereka, tak peduli seberapa banyak mangsa yang berlarian menubruki badan mereka. Kelelawar terbang doyong tak seimbang dan menabrak pepohonan serta genteng rumah warga. Membuat kepanikan terdengar di mana-mana, termasuk dari pendopo tempat berkumpulnya para tetua dusun dan keluarga Pak Guru Johan, sampai kedua anak mereka terbangun menangis.


Girinata menggelepar bersama arwah dan roh-roh yang menempel di badannya. Para hantu memekik, jin menggeram, tuyul-tuyul menutupi kuping dan kepala mereka yang besar dengan tangan-tangan mereka yang kecil. Siluman berwujud binatang dan mahluk-mahluk aneh lain merangkak mundur atau terdiam kaku.

__ADS_1


Tak lama, pocong-pocong, hantu-hantu, sundel bolong-sundel bolong, wewe gombel-wewe gombel, kuntilanak-kuntilanak, genderuwo-genderuwo, dan berbagai jenis mahluk halus dengan tingkatan rendah dan lemah mengabur, padam hilang ketika tubuh-tubuh astral mereka tersedot ke rekahan portal dimensi yang berbentuk lubang-lubang jingga di udara bagai api yang membakar permukaan kertas dan hanya dapat terlihat oleh mata batin.


Suasana riuh rendah. Hawa magis menyambar-nyambar bagai gelombang api yang tidak hanya dahsyat, namun juga mengerikan.


Japa-mantra yang dituliskan Soemantri Soekrasana dalam aksara hanacaraka dengan darahnya di atas lantai ruang tamu rumah Girinata menyala semakin memerah.


Siluman bertubuh burung gagak yang pertama tercerabut dari tubuh Wardhani dan tersedot ke gerbang dimensi lain. Kepakan sayapnya tak kuat melawan tarikan energi yang merantainya dan menari-nari di udara.


Wardhani jatuh ke tanah.


Harimau loreng menggeram. Kepala manusianya dalam bentuk seorang perempuan mengerang pedih, ngeri dan sedih ketika tubuhnya lepas dari cangkokannya. Cakar-cakar terbalut bulu-bulu belang itu tak kuat menjejak dunia fana. Tali-temali energi jingga merah menggapai-gapai dan menariknya keras ke salah satu lubang menganga di udara.


Wardhani terhenyak. Gigi mata gergajinya menghilang, digantikan wajah ayu, muda nan polos penuh pertanyaan.


"Maaf Wardhani, demi kemanusiaan, demi dusun ini dan warganya, segala tindakanmu tak bisa kubiarkan. Kamu menghancurkan empat tempat keramat yang sudah ratusan, mungkin ribuan tahun umurnya, demi kepentingan hawa nafsu iblismu dan keluargamu," seru Soemantri Soekrasana di sela-sela teriakan nyaring nan memekikkan sang kuntilanak merah. "Tapi kamu tak cermat, Wardhani. Kamu mencuri japa-mantra untuk menguasai para dedemit, tapi kamu tak sadar bahwa japa-mantra yang tertulis di lantai rumahmu itu adalah ganti empat tempat keramat yang kamu hancurkan, pemulih Pancajiwa."

__ADS_1


Tidak, mas. Tidak ...!" ujar Wardhani yang sadar dengan ketidakberuntungannya dan yang kini telah kembali menjadi gadis muda polos tanpa busana dengan siluman ular masih memeluk pinggangnya dari belakang. Bahkan ekor raksasanya membelit kedua kaki Wardhani sehingga tubuhnya masih tak tersedot oleh kuasa lubang dimensi itu.


"Ya, Wardhani. Bapakmu, Girinata, menggantikan sepasang pohon beringin. Mbakyumu, Kinanti, menggantikan tugu batu. Simbah Dasimah menggantikan tunggul kayu di tepi sungai, dan ibumu, Marni, menggantikan gapura bata merah Dusun Pon. Mereka menjadi tumbal kunci gerbang dunia lain untuk selamanya, Wardhani. Tidak ada cara lain," lanjut Soemantri Soekrasana.


Wardhani terbelalak memandang Chandranaya yang sosoknya begitu agung sekaligus mengerikan. Sepasang matanya yang melotot memerah tiada henti. Kulit pucatnya mencetak garis-garis urat biru di baliknya.


Wardhani lemas. Kulitnya kini tak pucat lagi. Ia kembali menjadi Wardhani sang gadis muda nan ayu dan lugu.


Kulit gelapnya yang indah menonjolkan segala kemolekan lekuk tubuhnya yang tak tertutup sehelai benangpun. Ia merintih, memandang penuh derita pada Soemantri Soekrasana. "Bagaimana denganku, mas Soemantri? Tolong aku," ujarnya lemah mengiba. Prajurit Nyi Blorong merangkul erat tubuhnya. Wajah sang siluman menempel di samping wajah Wardhani. Bedanya, Wardhani mengiba, wajah sang ular betina siap menggeramus gadis muda itu.


"Cukup, hentikan!" perintah Soemantri Soekrasana kepada sang kuntilanak merah. "Hentikan, kataku! Biarkan gadis itu bebas. Dia sudah mendapatkan ganjarannya," wajah Soemantri Soekrasana kini cemas melihat Wardhani terlihat begitu lemah.


Chandranaya sang kuntilanak merah membelah tubuhnya menjadi dua secara gaib. Satunya kini secara tiba-tiba berada di depan Soemantri Soekrasana menghadapnya. Sepasang mata merah mendelik ke arah sang dukun muda, membuatnya tersentak ke belakang. Kuntilanak merah itu berusaha mengatakan kepada Soemantri Soekrasana bahwa tak ada yang biasa dilakukan. Lupakan godaan menolong perempuan muda yang sudah bergelimang darah itu. Ia bukan perempuan polos, lugu, apalagi suci.


Soemantri Soekrasana memandang ke arah Wardhani yang masih menatapnya penuh luka. Air mata sang gadis mengalir ke kedua pipinya dengan begitu pilu ketika tubuhnya terikut tersedot bersama sang siluman ular ke portal dimensi lain yang membawanya entah kemana, meninggalkan dunia fana.

__ADS_1


__ADS_2