Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Limapuluh Enam


__ADS_3

Matahari menerangi genangan air sisa-sisa hujan semalam. Darah mengalir terbawa air turun ke bawah bukit dan berakhir di parit-parit kecil menuju ke anak-anak sungai Pratama.


Semua warga menarik nafas lega, meski tidak sedikit yang masih bertanya-tanya apakah ini adalah pungkasannya, akhirnya? Apakah hal mengerikan semalam sudah benar-benar usai?


Jasad-jasad sudah dikumpulkan untuk segera dikebumikan. Tak peduli apakah itu mayat warga atau para penjahat budak iblis perempuan yang menghantui keempat desa dibawah gunung selama beberapa waktu terakhir ini.


Isakan tangis dan kesenduan merayap di atas desa Prajuritan.


Marsudi menatap kosong. Ia tak menyangka ilmunya hilang seutuhnya, tak ada yang tersisa. Ia duduk di tanah dengan kedua tangannya terikat di bawah pohon. Lutfi, Hamdan, Fadlan dan Irawan menjagainya.


Sama nasibnya dengan belasan anggota kepolisian yang tertangkap warga. Tidak sedikit dari mereka masih mengaduh-aduh kesakitan karena terluka. Warga berusaha memberikan mereka pertolongan medis sebisanya. Bukan mengapa, sebuah klinik kesehatan kecil ikut terbakar dan hampir semua obat-obatan dan peralatan medis juga ikut terbakar akibat kekacauan ini.


Gatotkaca sendiri sudah berbicara dengan warga. Ia mengapresiasi tindakan mereka yang menahan diri untuk tidak berbuat sekehendak hati, main hakim sendiri, terlepas dari banyaknya korban dari warga yang berjatuhan.


Gatotkaca berjanji untuk melaporkan hal ini kepada kepolisian melalui orang-orang yang ia percayai. Ia juga sedikit mencoba meyakinkan warga untuk percaya kepadanya. Ia bahkan mengatakan akan menghubungi orang-orang lain di media, para jurnalis yang dapat memberikan dukungan investigasi menyeluruh terhadap polisi korup dan lingkaran kekuasaan yang menaungi para preman dengan mengabarkan berita heboh ini kepada khalayak ramai.


Tak mudah memang membuat para warga Prajuritan, Kaliabang dan Pancasona yang sudah banyak kehilangan segala sesuatu itu menjadi percaya. Mereka bahkan bisa dikatakan kehilangan pegangan dan rasa percaya pada banyak hal setelah kejadian ini.

__ADS_1


Namun, di sisi lain, tidak sedikit pula warga yang memiliki optimisme dan ketenangan pikiran. Mereka pelan-pelan juga urun rembung atau menyumbangkan pendapat mereka mengenai tokoh Gatotkaca ini.


Bila dipikir dengan hati yang tenang, kedatangan Gatotkaca benar-benar membantu para warga dari serangan mahluk halus dan kroni-kroninya. Ia menghentikan para anggota polisi dengan senjata api, melawan Marsudi yang memiliki kesaktian mengerikan, serta memberikan kesempatan bagi empat tokoh yang tak kalah misteriusnya untuk melakukan apapun itu yang menyebabkan para penyerang kehilangan ilmu mereka.


Gatotkaca juga menjelaskan dengan sedikit kata bahwa ia pada dasarnya sudah mengincar kelompok besar preman Marsudi, Affandi serta satu teman mereka, Kardiman Setil jauh-jauh hari. Gerakan kriminalitas mereka termasuk yang terbesar di negara ini, mengakar dan bercabang di berbagai daerah.


Sayangnya, Gatotkaca bukan tipe orang yang berlama-lama berbicara. Ia bahkan tak terlalu ambil pusing bila warga tak bisa langsung percaya dengan kata-katanya. Ia hanya merasa perlu mengatakan apa yang perlu ia katakan. Sisanya adalah tugas para warga sendiri untuk memutuskan memercayai sang adiwira atau tidak.


Gatotkaca melontarkan dirinya ke langit bagai roket. Bayangan tubuhnya hilang sekejap saja. Wong Ayu, Sarti, Soemantri Soekrasana dan Anggalarang melihat kepergian sang tokoh dari balik pepohonan di atas bukit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka adalah mayat-mayat hidup yang belum sempat dibunuh oleh Wong Ayu dan anggota Catur Angkara yang lain karena mereka berfokus mengejar iblis betina yang telah sampai di desa Prajuritan. Rupa-rupanya ketika sang iblis betina telah terkurung di dunianya, para mayat hidup ini seakan berjalan sendiri secara otomatis seperti mesin rusak. Ternyata ketika Soemantri Soekrasana mengeluarkan keris Mpu Gandring untuk mengusir para mahluk halus dan melumpuhkan para mayat hidup, ledakan sinar energi kebiruan keris itu tidak sampai mengenai sisa mayat hidup yang berjalan dari desa Pancasona, sehingga mereka tetap berjalan sesuai 'program' yang telah dipasang sebelumnya.


Angin pagi ini berhembus cukup kencang. Hawa dingin sisa hujan semalam masih membayang walau mentari memberikan sinarnya dengan cukup kaya. Gemerisik rerumputan yang dilewati tubuh-tubuh tak utuh itu tertutupi deru angin kencang perbukitan.


Jerangkong yang sejumput daging dan kulit busuknya menempel di tulang, atau mayat-mayat yang menyeret tubuhnya dengan satu kaki, tanpa tangan, perut robek mengeluarkan usus dan organ-organ dalam tubuh, dan tubuh-tubuh berbau busuk serta kondisi yang sama sekali tak sedap dipandang, mendekat ke arah para anggota Catur Angkara yang duduk di tepian jurang bukit yang curam. Mayat-mayat hidup itu mempercepat gerakan mereka seakan mencium atau merasakan hawa kehidupan manusia di dekat mereka.

__ADS_1


***


Sarti memapras kepala satu mayat hidup dengan Baru Klinthing-nya ketika ia sedang berbaring di rerumputan. Matanya menatap para mayat hidup yang mendekat dan sekejap itu pula ia sadar apa yang terjadi. Anggalarang dan Soemantri Soekrasana malahan sudah sempat terlelap beberapa detik di atas bukit itu. Mereka awalnya sedang mencoba sedikit saja menikmati hasil kerja keras mereka berapa malam ini. Namun, apa mau dikata. Mereka belum boleh tertidur barang sejenak.


Wong Ayu tersentak kaget dan langsung bangkit membakar sekaligus kepala lima sampai sepuluh mayat hidup yang menyerangnya menggunakan api yang ia ciptakan dari kedua tangannya. Ia tak memperkirakan serangan tiba-tiba tersebut sehingga ia mengeluarkan lebih dari separuh kesaktiannya dengan sisa tenaga yang ia miliki dalam keadaaan lelah seperti ini.


Soemantri Soekrasana merasa tubuhnya linglung ketika terkejut dan membuka mata dan melihat tulang-tulang tangan dan jari menyergapnya. Ia berdiri dan mundur. Aji Lembu Sekilan-nya bekerja secara otomatis, menghindarkan tubuhnya dari serangan musuh bahkan ketika ia sendiri tak sempat menyadarinya. Tubuhnya tertarik ke belakang namun hilang keseimbangan. Ia merasa kaki kanannya menginjak udara. Akibatnya, ia terjatuh, menggelinding ke bawah jurang dari bukit tersebut.


Anggalarang juga terbangun, namun tubuhnya refleks ikut melompat ke arah jatuhnya Soemantri Soekrasana.


Maksud hati Anggalarang ingin menolong Soemantri Soekrasana dengan harapan Maung akan langsung keluar dari dalam tubuhnya.


Tapi, Maung sedang istirahat dan tak mau diganggu.


Kedua tubuh laki-laki itu menggelinding terus ke bawah melalui rerumputan tinggi, dan terbentur batu serta pepohonan. Anggalarang merasakan tubuhnya berteriak, segenap otot dan tulangnya berdenyut sakit.


Tubuh Soemantri Soekrasana melayang, hanya berjarak satu inci sebelum menabrak kumpulan bebatuan tajam. Sang kuntilanak merah merasuk ke dalam tubuhnya dan membuatnya mengambang.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana menarik nafas lega. Namun dilihatnya tubuh Anggalarang tak kunjung berhenti, masih menggelinding liar ke bawah jurang. Soemantri Soekrasana mencelat untuk menangkap tubuh itu.


__ADS_2