
Affandi sadar bahwa kekuatan supranatural yang bersifat kewanitaan adalah bentuk kekuasaan yang luar biasa menarik, menggairahkan bahkan memabukkan.
Laki-laki di segala jaman terus-terusan mencoba mendaulatnya untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan.
Sebut saja Kanjeng Ratu Kidul penguasa laut Selatan pulau Jawa, sesungguhnya adalah mempelai Panembahan Senapati, pendiri kerajaan Mataram, serta keturunannya, yaitu sang cucu, Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Pada abad keenambelas Masehi, Pangeran Panembahan Senopati berkeinginan untuk mendirikan sebuah kerajaan yang baru, yaitu Kesultanan Mataram, untuk melawan kekuasaan Kesultanan Pajang. Ia melakukan tapa di pantai Parang Kusumo yang terletak di selatan kediamannya di Kota Gede.
Meditasinya yang begitu khusuk menyebabkan ledakan energi yang luar biasa sehingga mengganggu kerajaan sang Ratu di perut Laut Selatan. Sang Ratu datang ke pantai menembus lipatan dan gulungan ombak untuk melihat siapa yang menyebabkan gangguan di kerajaannya, bahkan mungkin untuk memberikan hukuman bagi siapapun itu.
Ternyata ketika ia sampai ke dunia manusia, hatinya yang adikodrati itu bergejolak melihat ketampanan sang pangeran. Sang Ratu merasa ia jatuh cinta dan meminta Panembahan Senopati untuk menghentikan tapanya.
Sang Ratu tahu apa maksud dan keinginan sang manusia dengan wibawa tersebut. Sang Ratu penguasa alam gaib di Laut Selatan itu setuju untuk membantunya dalam mendirikan kerajaan yang baru dengan kekuatan spiritual dan bala tentara gaibnya. Untuk memperkuat kekuasannya dan seluruh keturunannya kelak, sang Pangeran melamar untuk menikahi sang Ratu Laut Kidul serta semua penggantinya nanti, yaitu para raja Mataram.
Kekuasaan dan kekuatan perempuan bak air yang mengalir penuh kekayaan akan ikan, dan pengairan untuk sawah serta ladang, namun juga begitu dahsyat dalam bentuk banjir yang menenggelamkan, serta ombak yang menghempas.
Di pulau ini, dimana kekuasaan Laut Selatan tak mencampuri segala urusan gaibnya, ada Putri Junjung Buih yang merupakan putri angkat Rajin Kerajaan Negara Dipa, Lambung Mangkurat, yang didapatkannya muncul tercipta dari gumpalan buih ketika sang Raja melakukan tapabrata atau balampah dalam bahasa setempat.
Sang putri yang elok ini kelak akan menikah dengan Pangeran Suryanata, keturunan dari Raja Majapahit dari Jawa yang saat itu berkuasa di nusantara. Keturunan mereka kemudian menurunkan raja-raja besar di pulau ini, dari Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Daha, Kesultanan Banjar hingga Kepangeranan Kotawaringin.
Affandi merasa menjadi seorang utusan gaib yang diminta menikahi kekuatan tersembunyi di Kalimantan ini untuk menguasai nusantara.
__ADS_1
Ia terkekeh, geli sendiri, tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi kelak.
Nyi Blorong memberikannya misi untuk meminang kekuasaan dimana kekuatan gaibnya tak ikut campur. Ia adalah duta, ia adalah raja itu sendiri, yang membangun kerajaan gaib, memimpin serta memainkan peran dalam kekuasaan.
Detik pertama kakinya menyentuh tanah pulau ini, ia dapat merasakan energi mengalir ke tubuhnya bagai sebuah pohon mendapatkan makanan dari akar-akar besarnya.
Bumi menyambut. Hantu-hantu yang tak tenang mengintip-intip dari balik kuburan dan rumah kosong. Jin dan siluman melihatnya dengan penuh minat dari sela-sela pepohonan lebat. Segala ilmu hitam terangkat ke udara, meledak di angkasa bagai kembang api menyorakkan kedatangannya.
Tapi tunggu!
Affandi benar-benar mendengar suara ledakan besar. Riak gelombangnya sampai ke tubuhnya, menyadarkan semua indranya, membuat ia awas. Mungkin pertunjukan sudah dimulai, pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wong Ayu dan Sarti jelas ingin protes, tetapi setelah Wong Ayu membawa mereka berempat berteleportasi, menciutkan partikel tubuh mereka menembusi pori-pori ruang dan waktu dan muncul di daerah dimana ledakan besar itu terjadi, keduanya mengurungkan niat mereka tersebut.
Kepolisian, petugas medis, petugas pemadam kebakaran dan masyarakat memadati jembatan tol yang terputus total. Semua sibuk dengan urusan dan tanggung jawab mereka masing-masing. Tidak begitu dengan para warga yang cenderung membuat keadaan semakin sulit karena terus berdatangan menumpuk lapis demi lapis di area perkara tersebut.
Sudah dipastikan banyak korban nyawa. Ada pula korban terluka. Beberapa jatuh ke sungai ketika mereka masih berada di dalam mobil dan di atas motor mereka, beberapa tertimpa reruntuhan potongan logam dan beton.
Petugas polisi mengatur lalu-lintas, menutup akses, berteriak-teriak memberikan perintah kepada orang-orang yang penasaran dan malah berkumpul di daerah sekitarnya.
__ADS_1
Petugas Damkar mencoba memadamkan api membumbung di berbagai sisi, termasuk kendaraan bermotor dan bangunan yang terkena efek ledakan.
Kapal dan perahu di sekitar area bencana segera diperingatkan untuk menjauh dari jembatan tol mengingat area itu masih dalam kondisi berbahaya. Segala jenis bantuan masih sedang diusahakan, termasuk kapal patroli penyelamat atau helikopter.
Belum ada berita yang pasti mengenai ledakan ini, entah karena serangan ******* atau tujuan jahat yang lain. Pertanyaan masih terus berhamburan di atas kepala para jurnalis dan wartawan yang sudah berkerumun menggigit bagai semut rangrang.
Matahari hampir muncul dari selimut kelamnya, tapi suasana sudah terang oleh bara yang berkedut-kedut bagai nadi di berbagai sisi, serta riuh rendah oleh sirene dan teriakan manusia.
"Kita mengumpankan diri kita pada nafsu sehingga gampang sekali dikecoh. Kita tak ada ubahnya dengan seekor belut ditusuk-tusuk di lubang lumpur agar keluar," gumam Soemantri Soekrasana masih terlihat kesal.
Anggalarang menarik nafas dan menghapus peluh di keningnya, "Jadi, perempuan iblis itu mengatur sedemikian rupa agar semua jenis kriminal dan penjahat serta pimpinan geng dan preman di dalam sebuah ruangan untuk memancing kita, agar kita terkecoh dengan kejadian ini? Tapi Soamantri, kita juga tetap tidak akan tahu jembatan ini akan meledak atau diledakkan semacam ini. Lagipula, apa sudah pasti ada hubungannya dengan perempuan itu?"
Soemantri Soekrasana memandang Wong Ayu dan Sarti yang terlihat berperilaku serba salah. "Memang kita tak bisa mencegah ledakan ini, namun fokus kita sudah benar-benar terpecah. Sekarang kita kembali menyangsikan informasi yang didapatkan Wong Ayu tentang orang yang bernama Yakobus Yakob tersebut. Di mana sebenarnya letak ia berdiri? Aku juga terus terang menjadi curiga dengan latar belakang alasan kalian dalam misi kita yang kebetulan serupa, mencari tahu dan mencegah setiap langkah perempuan iblis itu untuk kembali menyerang dunia kita," ujar Soemantri Soekrasana panjang lebar.
"Dan ... Ledakan di jembatan tol ini ada hubungannya? Dari mana kau tahu ...?" respon Anggalarang masih berusaha mendebat Soemantri Soekrasana.
"Aura iblis itu kental sekali di sini, Anggalarang. Nampaknya ia kembali menggunakan manusia yang dirasuki kekuatan hitam untuk meledakkan jembatan tol ini. Tapi aku masih belum bisa meraba apa tujuan dan maksudnya," ujar Wong Ayu memotong ucapan Anggalarang.
"Manusia yang digunakan perempuan iblis itu? Maksudmu, Yakobus Yakob?" ujar Anggalarang masih penasaran.
Wong Ayu memandang Anggalarang, kemudian Soemantri Soekrasana, kemudian Anggalarang lagi. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Sial!" ujar Anggalarang.
Soemantri Soekrasana memandang semua anggota Catur Angkara dengan puas, "Sudah kukatakan kepada kalian."