
Dusun Pon, sebuah daerah miskin dan terbelakang di pulau ini. Kondisinya sangat kontras dengan tetangga-tetangga dusun itu yang telah membangun infrastruktur yang lebih baik serta mengembangkan ragam industri serta perekonomian. Keadaan ini didukung oleh perilaku dan anggapan para tetua dusun, para sepuh dan orang-orang yang dihormati yang bersikukuh bahwa Dusun Pon harus tetap seperti ini karena alasan yang tak masuk akal bagi kebanyakan warganya: Dusun Pon adalah salah satu gerbang gaib tempat keluar masuknya iblis dan kekuatan kelam hitam gelap nan jahat.
Selama entah berapa generasi dan keturunan, selalu diturunkan orang-orang yang bertugas menjaga tempat-tempat keramat dan melaksanakan upacara dan ritual tertentu setiap hari Rabu Pon.
Selama bertahun-tahun, tempat-tempat keramat tersebut ada yang kondisinya masih kokoh nan kuat, ada pula yang lapuk dimakan umur sehingga terus dilakukan pembaharuan. Sepasang pohon beringin di ujung lapangan, tugu batu di perempatan jalan dusun dan gapura dusun adalah tiga tempat keramat yang masih bertahan dalam waktu yang lama. Namun, tunggul kayu di tepi sungai sudah diganti beberapa kali, dengan ritual dan penempatan khusus.
Girinata, sewaktu muda tak percaya dengan hal-hal semacam ini, begitu pula kebanyakan pemuda-pemudi dusun. Cukup unik memang dimana di masa itu, masih banyak daerah, bahkan yang telah maju, masih berpegang erat pada kepercayaan dan budaya masa lampau mereka yang berhubungan dengan dunia gaib. Namun, mungkin Dusun Pon sudah miskin terlalu lama sehingga para pemuda sudah bosan harus mengikuti kepercayaan bahwa dusun mereka memiliki tanggung jawab besar menjaga gerbang antardunia. Mereka lelah harus melihat warga tetangga sebaya yang hilir-mudik bertemu di jalan dengan hal-hal baru dan canggih, sedangkan mereka terus-menerus harus berhadapan dengan kepercayaan, kebiasaan dan budaya dusun.
Sang pemuda yang bernama Girinata tersebut sejatinya berasal dari sebuah keluarga yang paling kaya di dusun Pon. Secara ironis, para pemuda miskin percaya dengan apapun yang ia ucapkan. Menurut Girinata, kekayaan keluarganya malahan dikarenakan mereka tak percaya dengan hal-hal bodoh dan takhayul semacam ini. Dengan adanya empat tempat dan benda keramat itu, pembangunan di dusun tak akan pernah tercapai. Memang, kekayaan membuat bahkan kata-kata sampah terdengar bagai untaian mutiara yang indah menawan.
Sayangnya, hasutan dan ajakan Girinata muda kepada teman-reman sebayanya untuk iseng atau dengan sengaja merusakkan tempat-tempat terhormat itu masih tak membuahkan hasil. Meski secara pemikiran, rata-rata orang dusun, terutama yang masih muda atau sebaya dengannya, sejalan.
__ADS_1
Girinata pun sudah terlanjur memasukkan anggapan ini di dalam kehidupannya sehari-hari. Jadi, ketika ia menikah di usianya yang masih muda pula, yaitu delapan belas tahun, dengan Marni, tujuh belas tahun, Girinata ‘mendidik’ keluarga kecilnya dengan rasa skeptis dengan kepercayaan tetua dusun mereka.
Didikan tersebut malah nyatanya menghasilkan Kinanti, anak perempuan pertama Girinata dan Marni, yang telah binal dan penggoda semenjak masih gadis remaja. Ketika ia berpacaran dengan Suwarno, cucu Mbah Darmo, salah satu tetua dusun, Kinanti tak segan-segan mengajak Suwarno bercinta dan bernakal-nakal di dekat salah satu tempat keramat dusun ini berkali-kali, yaitu, tunggul kayu di tepi sungai.
Ketika Girinata mengetahui bahwa anak perempuannya hamil diluar nikah, tentu tetap saja ia murka. Ia menampar Kinanti dua kali. Kejadian ini sama sekali tak diketahui Marni, istrinya. Keluarga kaya mereka sedang dalam masa krisis saat itu. Nyatanya, seberapapun antinya Girinata pada praktik gaib dan ritual budaya di dusunnya itu, ia bukan termasuk laki-laki yang mampu bekerja dengan baik dan bertanggung jawab atas kekayaan keluarga.
Girinata ternyata tak mampu mengurus semua usaha sang ayah yang lama wafat. Bahkan, ibunya sendiri yang masih harus turun tangan mengurus usaha-usaha tersebut sampai ia meninggal beberapa saat kemudian..
"Kau anak bodoh ternyata. Kalau kau mengencingi tunggul kayu di tepi sungai atau meludahi pohon beringin, atau mencoret-coret gapura tau menendang tugu batu, sampai mati pun akan Bapak bela. Tapi tindakan tak senonoh yang kau maksud adalah bersenggama di sana, sampai hamil! Mau ditaruh dimana muka Bapak? Kita sedang kesulitan keuangan, dan kau cari gara-gara. Bapak tak mau tanggung jawab. Urus kehamilanmu sendiri!"
Tunggul kayu itu adalah benteng dari ilmu sihir. Sudah belasan kali sang gadis dinodai di tempat itu, dengan sengaja. Maka, segala jenis teluh, guna-guna dan santet menjalar masuk ke Dusun Pon dengan leluasa. Puluhan tetua tewas beberapa hari kemudian. Mereka muntah-muntah. Cairan yang dikeluarkan dari tubuh mereka mengandung paku dan gotri atau bola-bola besi kecil.
__ADS_1
Hanya beberapa yang selamat karena memiliki memiliki kemampuan melawan kekuatan gaib tersebut, termasuk Mbah Darmo yang saat itu saja umurnya sudah mencapai delapan puluh tahun. Suwarno, sang cucu, beserta seluruh keluarganya: ibu, bapak, adik kakak, juga tewas mengenaskan dengan perut menggembung beberapa saat setelah ia bercinta dan dimintai pertanggungjawaban oleh Kinanti.
Dusun Pon gempar habis-habisan. Teriakan panik dan histeris, tangisan penuh rasa sakit dan kesedihan mendalam, serta geraman kemarahan dan kekesalan meledak-ledak di angkasa hari itu. Semua warga saling tuduh saling curiga. Ketidakpercayaan dan skeptisisme banyak pemuda atas ilmu gaib dan klenik menguap bersama angin. Mereka ingin sekali memastikan siapa yang melakukan ini kepada dusun mereka, atau bagaimana hal ini bisa terjadi.
Tak lama setelah kejadian wabah besar ini, antara rasa sedih ditolak sang kekasih sekaligus sang bapak, serta tak rela calon babang bayi yang ada di dalam perutnya bakal hidup dalam penderitaan kelak, Kinanti bunuh diri dengan menjatuhkan tubuhnya ke dalam sumur di belakang rumah besarnya.
Girinata sang bapak menatap sepasang mata Wardhani, anaknya, dan Marni istrinya. Ia harus menjelaskan semuanya kali ini. Tidak ada yang bisa dan perlu ditutup-tutupi lagi.
Keterkejutan Wardhani, Marni bahkan Soemantri Soekrasana sekalipun memang sudah harus ia wajari.
"Bapak mencoba menepati janji untuk bertanggungjawab sepenuhnya atas perilaku Kinanti. Maka dari itu, mbakmu ini ikut Bapak terus sampai sekarang," ujar Girinata kepada Wardhani dan istrinya lemah.
__ADS_1
Sosok arwah Kinanti memandang kosong ke arah Wardhani maupun ibunya. Tak ada sebersit tatapan akrab dari mata mati tersebut. Sang sosok hanya mengikuti kemalangannya sendiri dan menghantui sang bapak.