
Bunyi suara burung hantu terdengar lamat-lamat, dibawa oleh angin dingin subuh yang membunuh.
"Bunuh ... Bunuh ... Diriii ...," lenguhan parau Ratih kembali terdengar sebagai respon pertanyaan suaminya itu.
Pak Guru Johan tersentak kemudian terhenyak. Walau hantu istrinya hanya mengucapkan dua kata tersebut, sebenarnya maknanya begitu ia pahami dengan baik. Itu sebabnya tubuhnya bergetar dengan hebat.
"Tunggu Dek, tunggu. Aku memang laki-laki brengsek dan tak tahu diuntung. Tak perlu kau bersusah payah mengatakannya pun, aku mengakui bahwa aku adalah laki-laki bajingan dan brengsek, tidak memikirkan istri dan anak-anaknya. Tapi, sungguh aku bersedia bertanggung jawab atas perilaku bejatku tersebut. Aku begitu kehilangan dan sedih ketika kau wafa, Dek. Jelas kau tak tenang di dunia sana karena dosa-dosaku, bukan?" ujar Pak Guru Johan bergetar. "Hanya saja aku belum mau mati, Dek. Aku tak mampu melakukannya. Aku tak bisa membunuh diriku sendiri dengan keris ini, bila itu yang kau mau. Tapi ... Tapi ...," sepasang mata Pak Guru Johan berbinar oleh serangkaian ide yang ada di dalam kepalanya. "Aku akan melakukan hal lain dengan keris ini, Dek. Aku berjanji akan membuatmu tenang di alam baka sana. Aku berjanji, aku berjanji Dek Ratih," seru Pak Guru Johan. Tangannya menggenggam keris milik Girinata itu erat.
Sosok hantu Ratih sang Belibis berjalan jongkok ke belakang. Ia mundur sampai sosok astralnya ditelan gelap menyisakan wajah putih pucat mayat dengan kelapak mata memerah yang juga perlahan lenyap.
Pak Guru Johan menghela nafas panjang dan mendeprok lemas di pekarangannya.
Pagi ini ia akan bersiap-siap. Ia sudah memutuskan meninggalkan Dusun Pon tempat tinggalnya untuk pergi mencari keberadaan Kusuma Dewi. Ia akan menuntut perhitungan dengan perempuan sepupu mendiang istrinya tersebut. Semua kesialan dan penderitaannya bermula dari Kusuma Dewi. Segala dosa dan kemalangan yang ia derita adalah akibat datangnya sosok Kusuma Dewi ke Dusun Pon. Maka perempuan itu jugalah yang harus mempertanggung jawabkan segalanya.
Pak Gutu Johan menggenggam hulu keris Girinata sampai telapaknya terasa sakit saking eratnya. "Tenanglah di sana, Dek. Aku akan menuntut balas atas perlakuan gadis itu," ujar Pak Guru Johan pelan pada dirinya sendiri bagai sebuah adegan dalam sinetron.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kusuma Dewi di lengkung takdir yang berbeda telah dibuai sempurna oleh cinta dan asmara. Ia bukan lagi sebuah perahu yang diombang-ambingkan gelombang rasa yang ia nikmati sendiri. Kini ia adalah sebuah kapal yang berlayar dengan tujuan pasti, dan kali ini bersama Anggalarang di atas geladaknya.
Paling tidak itulah yang sekarang ia pikirkan.
Mana ia paham bahwasanya dua entitas sihir nan gaib yang bersembunyi di dalam tubuhnya bermain-main dengan jiwanya, memanipulasi mangsa dengan berubah menjadi sosok dirinya dan unjuk diri di depan korban. Pada kasus Livy Tjandrawati, sang perempuan siluman ular berubah menjadi sosok Kusuma Dewi pada penampakan pertama. Penampakan kedua, giliran Wardhani yang menghantui gadis cantik berdarah Tionghoa itu dengan juga berubah menjadi sosok Kusuma Dewi secara utuh.
Ketakutan yang luar biasa akan Kusuma Dewi membuat Livy Tjandrawati memutuskan minggat sejauh-jauhnya dan tak berani memikirkan Anggalarang lagi. Hidup, nyawa dan kedamaiannya menjadi taruhannya jika ia berani mengganggu Anggalarang lagi.
Padahal, Kusuma Dewi tak mengetahui sama sekali mengenai hal ini. Namun, bukan berarti ia tak berdosa. Kusuma Dewi dengan segenap jiwa raganya mempersilahkan dua entitas gaib itu untuk menggunakan tubuhnya bagi kendaraan mereka. Ia juga mendapatkan keuntungan dengan meniduri Pak Guru Johan serta Dani dan mengetahui pasti sang perempuan siluman ular segera gadis bugil bertubuh indah berkulit gelap itu meminta korban jiwa untuk makanan mereka.
Tujuan utama mendapatkan Anggalarang dengan membiarkan dirinya menjadi budak iblis rasa-rasanya pantas-pantas saja. Jadi, jelas ia tak peduli dengan apa yang dilakukan kedua iblis betina itu tanpa sepengetahuannya, kepada siapa dan bagaimana caranya. Itulah dosa kedua.
Malam ini, mungkin adalah saatnya. Saat yang keduanya tunggu sejak lama. Keintiman yang harus dibuktikan dengan pelepasan rasa yang sudah tak bisa ditahan dan dipenjara lagi.
Kamar apartemen Anggalarang terletak di lantai tiga, tepat di atas sebuah bukit di wilayah yang sedikit keluar dari kota. Kamar mewah dengan interior bergaya minimalis, modern dan beraksen monokrom itu begitu rapi, nyaman bahkan berbau wangi.
Kusuma Dewi menutup mata saking malunya. "Kamu kenapa, Kusuma Dewi?" tanya Anggalarang penuh perhatian.
__ADS_1
"Aku jujur, Kang, kamar Akangluar biasa bagus dan bersih. Aku malu dengan keadaan kamarku sendiri," jawab Kusuma Dewi.
Anggalarang merangkul pundak indah Kusuma Dewi dan menekannya ke dalam sebuah pelukan hangat. "Akang yang sebenarnya khawatir kamu akan menganggap Akangterlalu rapi untuk seorang laki-laki."
"Memangnya dari semua gadis dan wanita yang Akangajak kemari ada yang berkomentar seperti itu?" ujar Kusuma
Dewi.
Sebenarnya tidak ada niat dan nada menyinggung atau berkesan cemburu dari ucapannya. Bahkan Kusuma Dewi sama sekali tak peduli berapapun wanita yang ditiduri Anggalarang di ranjang empuk bernada warna hitam putih itu.
Anggalarang menarik nafas panjang. "Sekarang cuma kamu yang ada di dalam hati dan pikiran Akang. Bahkan kamu sudah ada di sana sejak lama. Akangjuga tidak pernah membawa perempuan manapun ke kamar ini."
Kusuma Dewi mengernyit penuh selidik. "Lalu, kalau kalian hendak ...," Kusuma Dewi tidak menyelesaikan kalimatnya dan membiarkannya menggantung di udara. Wajahnya memerah. Begitu menggemaskan di mata Anggalarang.
"Kami ke hotel, atau Akang yang pergi ke tempat mereka," jawab Anggalarang jujur dan lugas.
Kusuma Dewi menyeruduk tubuh ramping namun berisi Anggalarang, memeluknya erat dan mendaratkan bibirnya ke bibir sang kekasih. Ciuman penuh gairah lumerlah sudah.
__ADS_1
Sebuah perasaan yang aneh bin ajaib. Entah bagaimana cara kerja hati, rasa dan pikiran. Dengan jujur kepada Kusuma Dewi bahwa ia tak pernah membawa perempuan manapun ke dalam kamarnya kecuali Kusuma Dewi, menegaskan betapa istimewanya gadis berkulit putih pucat itu bagi Anggalarang. Bukan tempatnya lagi Kusuma Dewi peduli apalagi cemburu mengetahui Anggalarang bermain cinta dengan beragam gadis di kamar hotel atau dimanapun itu.
Kusuma Dewi bahagia. Anggalarang menjadi miliknya, jiwa dan raga. Ia sudah tidak memikirkan apakah kedua sosok gaib yang bernaung di dalam raganya berperan serta dalam keberhasilan yang ia idam-idamkan sejak lama ini. Keduanya tak muncul terlalu lama, maka, mungkin sekali bahwa pesonanya yang sudah ada lama tanpa ia sadari hanya dipantik oleh kedua mahluk itu. Bahkan, secara kebetulan - atau telah digariskan oleh semesta - Anggalarang pun diam-diam telah memendam rasa kepadanya. Butuh waktu dan pengorbanan yang besar agar kedua kutub yang berbeda ini untuk saling menarik dan akhirnya menempel menjadi satu.