Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Empat


__ADS_3

Girinata diam seribu bahasa. Tubuhnya mendeprok di lantai, bungkuk. Tubuh fisiknya masih muda, namun sudah renta saja rasanya. Pandangan matanya kosong menatap entah kemana. Seluruh otot-otot di tubuhnya seperti meleleh turun, membuat gairah dan semangatnya sudah sama sekali lenyap.


Ruang tamu yang besar di rumahnya ini kosong, sama seperti kesadarannya. Tak banyak yang dapat dilihat, selain tikar yang terbentang secuil bila dibandingkan dengan luasnya ruangan serta sebuah lemari pakaian kayu yang mungkin adalah satu-satunya benda berharga milik rumah ini.


Itu yang terlihat oleh mata awam orang-orang biasa. Hanya saja, bagi siapapun yang memiliki mata batin pasti dapat melihat belasan sosok astral mengerubungi tubuh lemah dan tak berdaya laki-laki itu. Mereka berjubelan menempel dan menumpuk di badan Girinata, termasuk sosok Kinanti berambut kaku kemerahan; Marni istri sundel bolongnya; Simbah Dasimah, sang ibu; serta Sapar Nataprawira sang mertua. Semua roh dan arwah mengerikan itu mengecap, menyesap dan menghisap sedikit demi sedikit jiwa Girinata sampai kering.


Chandranaya sang kuntilanak merah mengambang diam tak jauh dari sana, tepatnya kembali berada di atas coretan mantra yang ditoreh dengan darah Soemantri Soekrasanadi atas lantai ubin Belanda ruang tamu rumah keluarga Girinata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana berdiri di tengah jalan setapak yang kiri kanannya tumbuh pepohonan bambu yang rimbun. Ujung-ujung puncak pohon bambu melengkung ke arah jalan, seperti menanunginya bagai atap alami.


Ia tetap saja berdiri di sana, memandang sekeliling dan merapal mantra.


"Lama-lama pegal lidahku membaca mantra melulu," ujar dukun muda ini dalam hati.


Ia sebenarnya sedang marapal mantra mengentalkan aura magis di sekitarnya. Kemampuan yang ia gunakan ini serupa dengan selembar jala yang mencoba menangkapi ikan-ikan gaib. Hanya saja, hantu-hantu yang seharusnya menciptakan aura hawa magis dan mistis itu tidak berada di sekitarnya sama sekali saat ini. Cukup aneh sebenarnya. Namun, Soemantri Soekrasana memang memiliki tujuan lain. Dukun muda itu melakukan ini sebagai sebuah tipuan untuk memancing sesuatu, ikan yang lebih besar dibanding hantu-hantu dan arwah penasaran belaka.


Benar, hanya dalam hitungan detik setelah Soemantri Soekrasana selesai merapal mantra, sosok yang ditunggu-tunggu sampai jua di hadapannya.

__ADS_1


Wardhani muncul dari kegelapan begitu saja, seperti seorang penampil yang menyibak tirai di atas panggung. Sosoknya yang polos tanpa sehelai benang pun itu menyala membunuh kekelaman meski kulitnya tak kurang hitamnya.


Wardhani mengedarkan pandangannya ke sekeliling, bahkan mengerahkan segala indra batin. Tak nampak satu arwah dalam bentuk apapun. Wajahnya yang ayu menatap ke arah Soemantri Soekrasana yang berdiri di depannya hanya beberapa langkah jauhnya.


Wardhani tersenyum. "Apa rencanamu sebenarnya, Mas Soemantri? Kemana kedua orangtuaku?" ujar sang gadis tenang. Ia tahu bahwa sesuatu yang penting sedang terjadi kepada kedua orang tuanya.


Soemantri Soekrasana dipertontonkan dan dapat melihat setiap detil lekuk tubuh Wardhani, terutama kedua pucuk dadanya yang merah menyala. Namun, sang dukun muda sama sekali tak terpengaruh. Yang ia lihat hanyalah anatomi tubuh manusia berjenis kelamin perempuan bila dilihat secara utuh tanpa penutup. Bukannya Soemantri Soekrasana tak mengetahui tindak tanduk dan perilaku macam apa orang yang berdiri di hadapannya tersebut.


Mengetahui Soemantri Soekrasana hanya berdiri tanpa menjawabnya, Wardhani kembali tersenyum. "Benarkah laki-laki sepertimu tak tertarik sama sekali dengan gadis sepertiku, Mas? Apakah keadaanku yang sudah sama sekali tak berbusana seperti ini masih tak membuatmu tergoda?" ujar Wardhini lirih.


Sekarang Soemantri Soekrasana yang tersenyum, ia bahkan sempat terkekeh sebentar. "Aku yang harusnya bertanya kepadamu, Wardhani. Apa kau pikir setiap laki-laki adalah budak nafsu syahwat belaka bagimu? Apa laki-laki sepertiku ini kau nilai dari bisa tidaknya terangsang oleh tubuh seorang perempuan telanjang? Mungkin itu kesalahan terbesarmu."


Wardhani meringis. "Ah, semua itu hanya masalah selera. Kalau kau tak tergoda dengan tubuh berkulit gelapku ini, lalu bagaimana dengan ini?" Wardhani melangkahkan kakinya perlahan maju.


Kini yang berdiri benerapa langkah di depan Soemantri Soekrasana adalah seorang perempuan cantik berkulit seputih pualam. Sepasang kaki dan lengannya jenjang dan panjang. Dada ranumnya bergetar ketika ia berhenti melangkah. "Masih bukan seleramu, Mas?"


Wardhani melangkahkan kakinya lagi. Tubuh gadis jenjang berkulit pualam itu beralih rupa menjadi gadis dengan rambut ikal hitam gelap bertubuh padat. Sepasang dadanya besar membulat sempurna, bergoyang hebat. "Aku bisa menjadi apa yang kau mau, Mas," perempuan itu berkata masih dalam suara Wardhani.


Ia melangkah maju lagi dan beralih rupa menjadi seorang perempuan yang sama-sama tak kalah memesona dan cantiknya, namun kali ini dalam bentuk seorang perempuan yang sedikit lebih dewasa. Bahunya tinggi, dadanya berpucuk hitam legam membusung.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana bergerak mundur setengah langkah. Wardhani dalam rupa perempuan dewasa itu masih tersenyum, senang dengan permainan ini. Ia menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya dengan gaya menggoda kemudian melangkah ke depan lagi.


Wujudnya berubah seketika itu juga menjadi seorang gadis manis yang mungil. Sepasang dadanya hampir rata. Tak ada rambut di wilayah subur diantara kedua pahanya.


Soemantri Soekrasana menatap lurus ke perubahan demi perubahan di depan matanya itu bergeming. Hanya sunggingan senyum yang berkali-kali terlukis di wajahnya. "Heh, Wardhani. Usahamu lumayan bagus. Terimakasih atas pertunjukkannya. Aku tak bisa bohong bahwa aku cukup menikmatinya," ujar Soemantri Soekrasana sembari terkekeh.


Raut wajah Wardhani dalam rupa gadis mungil itu kala mendengar ucapan Soemantri Soekrasana berubah menjadi geram namun penuh kelicikan.


"Bodohnya aku, Mas. Mungkin aku benar-benar salah menebak seleramu. Aku harus berani sedikit berimajinasi, apalagi untuk laki-laki istimewa seperti dirimu, Mas. Bukankah seperti ini, Mas Soemantri?"


Sosok perempuan mungil yang tak berbusana sama sekali itu melangkahkan kakinya ke depan dan kemudian tubuhnya mengerut, mengecil, membentuk seorang anak perempuan yang umurnya berkisar sembilanan tahun. Wajah polosnya membentuk mimik lugu yang dibuat-buat. Bahkan sepasang dadanya belum tumbuh.


Astaga! Batin Soemantri Soekrasana. "Bangsat, bajingan kau Wardhani. Bejat jahanam dirimu itu!" seru Soemantri Soekrasana sembari menutup kedua matanya dengan lengannya, menghindari gambaran gaib Wardhani yang sudah keterlaluan baginya.


Sial bagi sang dukun muda. Tepat ketika pemandangan di depannya membuat ia muak dan melindungi matanya, Wardhani berubah bentuk ke wujud astral berupa gumpalan asap hitam melesat menyerang ke arah Soemantri Soekrasana yang sedang tak awas.


Kepulan asap hitam yang berkelebat liar bagai seekor banteng itu menyeruduk Soemantri Soekrasana. Namun nyatanya udara kosonglah yang dihajar Wardhani, penyihir perempuan dalam rupa kepulan kelam tersebut. Tubuh Soemantri Soekrasana yang tadinya tanpa kuda-kuda tak awas itu harusnya mumbul mantul atau tersentak hancur diseruduk asap gaib.


Nyatanya, badannya ditarik bergeser menghindar dengan cepat oleh sebuah kekuatan misterius dan akhirnya menyelamatkannya.

__ADS_1


Lembu Sekilan? Sayangnya dukun muda itu tak sempat merapal ajian pertahanan diri itu. Lagipula, Lembu Sekilan tak bisa bekerja bila yang menyerang adalah mahluk gaibseperti Wardhani sekarang ini.


Karena jelas Wardhani, sosoknya keluar dengan membuka gulungan asap hitam yang terbentuk oleh kekuatan sihir. Serangan yang dilontarkan Wardhani tadi akibat kekuatan gaib pula. Tak lama tubuh polos gadis itu terlihat membentuk sosok lain lagi. Kedua lengannya membentuk cakar harimau belang yang berkuku tajam melengkung. Sepasang kakinya kaki kuda. Ada kelebatan ekor ular di bagian belakang tubuhnya dan sayap hitam membentang di kiri kanannya. Empat mahluk adikodrati agung bercokol di tubuh sang ratu dedemit juru kunci gapura gaib Dusun Pon.


__ADS_2