Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Kesembilanbelas Kusuma Dewi


__ADS_3

Kusuma Dewi tak mengajak Anggalarang masuk ke dalam kamarnya. Seberapapun inginnya, tak pernah sekalipun ia menawarkan hal yang tak disangsikan akan langsung disambut laki-laki itu. Anggalarang pun sama. Tak ada niat untuk menerapkan gombalan habis-habisan untuk memangsa keindahan Kusuma Dewi. Bukan seperti Jenni Tan sang gadis metropolitan yang hanya dalam dua gelas whisky yang mereka tenggak di sebuah bar sudah mampu ia


rengkuh dalam pelukannya. Juga tak seperti Nadya Moeloek yang memerlukan sehari saja bagi Anggalarang untuk dapat mengurungnya dalam kekuasaan hasrat dan berahi. Bahkan Dhenok berdada montok tapi berwajah polos itu berhasil ke ranjang bersamanya kurang dari sebulan pendekatan Anggalarang yang terbilang tak begitu militan tersebut, bahkan cenderung iseng.


Namun, mengenai Kusuma Dewi, gadis ini, bukan sekadar intan permata, bukan sekadar sinar terang berwarna-warni di mata Anggalarang, ia adalah segalanya: sang semesta itu sendiri.


Hasrat, berahi dan syahwat ada di sana, tapi tidak berusaha menggedor-gedor dada sang pemuda, atau mencoba menyobek lambungnya dengan cakar nafsu layaknya seekor harimau kelaparan. Ah, mungkin karena sang Maung tak terlibat lagi di dalam hubungannya kali ini, pikir Anggalarang. Berahi jadi tak merajainya. Neskipun hasrat menjadi bagian tak terlepas dari dirinya dan Kusuma Dewi, itu semua mereka bagi bersama dan sama rata. Tidak ada penundukan dan penaklukan disini, tidak seperti yang Anggalarang lakukan pada gadis-gadis lain. Sebaliknya, Anggalarang malah bersedia menjadi budak asmara Kusuma Dewi. Di sisi lain, Kusuma Dewi tak lagi ingin memperbudak laki-laki itu seperti keinginan dan permintaannya kepada kekuatan sihir nan gaib yang berasal dari pecahan Pancajiwa. Kusuma Dewi ingin memiliki, sekaligus dimiliki oleh AkangAnggalarang.


Mereka berdua tak tergesa-gesa. Gelora asmara memang membawa perahu kebersamaan mereka, tetapi dengan kecepatan yang normal dan tak menghanyutkan.


Anggalarang kembali menyentuh bibir Kusuma Dewi yang begitu merah karena kontras dengan kulit putih pucatnya dengan menggunakan bibirnya. Kusuma Dewi menerima ciuman ini dengan wajar dan rasa hangat yang nyaman. Ia tak membinal bagai ular atau membengal layaknya sosok cantik bertubuh indah berkulit gelap berpucuk dada merah merekah darah: Kusuma Dewisudah yakin keduanya tak lagi tinggal dan hinggap di dalam tubuhnya.

__ADS_1


Selesai ciuman manis itu, Anggalarang dan Kusuma Dewi berpisah di depan pintu kamar Kusuma Dewi dengan membawa rasa gandrung yang memenuhi rongga dada mereka.


Sang sosok misterius berbayang lemah dan rapuh itu menendang dinding bangunan dengan kesal. Ia sudah cukup lama memerhatikan dan mengikuti keduanya dari balik kegelapan. "Apa sebenarnya rencanamu, perempuan sial? Kenapa masih kau ulur-ulur waktu untuk membuatnya menidurimu?" sang sosok berbisik pada dirinya sendiri, seakan sedang membaca skrip dan merasa ditonton dalam sebuah pertunjukan panggung.


Penelitiannya sejauh ini telah menunjukkan bahwa Kusuma Dewi telah membuat rekan kerja laki-lakinya, Dani, setengah gila karena tunangannya tewas mengenaskan tanpa penjelasan yang cukup. Ia sempat percaya Anggalarang adalah korban berikutnya ketika ia mendapati bahwa perempuan yang dekat dengan sang pria, Jenar Keswari, yang juga merupakan penyelia baru di tempat kerja mereka, dilarikan ke rumah sakit. Hanya saja, bedanya perempuan itu masih hidup. Begitu juga ternyata dengan perempuan lain yang memiliki hubungan khusus dengan Anggalarang, Livy Tjandrawati, resign, berhenti bekerja secara mendadak dan pergi jauh meninggalkan kota ini entah kemana. Desas-desus mengatakan ia menderita gangguan kejiwaan pula, paranoia bahkan mungkin skizofrenia. Sang gadis juga masih hidup.


Beragam teori berseliweran di dalam otak sang sosok. Apa mungkin karena dua perempuan yang menjadi korban itu tidak memiliki hubungan spesial dengan Anggalarang selain di atas ranjang belaka? Masalahnya, ia sudah memerhatikan sejak awal kedekatan Anggalarang dan Kusuma Dewi, membuntuti mereka, dan tak sekalipun keduanya berada di ruangan yang sama untuk bercinta. Tak di ruangan hotel, tak di apartemen dan tak di kamar pribadi.


Sang sosok laki-laki hampir puas ketika sebuah pertanyaan masih menempel di benaknya. Tapi siapa orang terdekat dan tercinta Anggalarang yang mungkin menjadi korban tumbal dahaga nyawa dan jiwa Kusuma Dewi? Mengingat playboy satu itu bahkan tak peduli lagi ketika Livy Tjandrawati telah minggat meninggalkan tempat ini serta menjauh darinya, atau penyelianya masih kesulitan untuk pulih dari penyakit misteriusnya itu.


"Peduli setan!Sekarang aku memiliki misi dan tujuan tambahan. Bukan hanya mengamati dan menunggu akibat yang diciptakan perempuan itu, tapi juga mencegah tindakan jahat Kusuma Dewi segera menyelamatkan Anggalarang," ujarnya masih kepada diri sendiri dengan suara lebih rendah dari berbisik.

__ADS_1


Sosok seorang laki-laki itu meraba sebilah keris telanjang tanpa warangka yang dibebat dengan selembar kain panjang dan diselipkan di balik ikat pinggang bagian belakangnya. Sosoknya undur diri ke dalam keremangan malam gulita ketika melihat Anggalarang meninggalkan kamar Kusuma Dewi.


Asmara adalah sebuah percikan yang membakar, berubah membesar menjadi cinta dimana rasa adalah menu utama. Berahi menjadi bumbu rempah di dalamnya, membuat cinta semakin lezat, semakin menggoda, kuat dan menarik.


Saat ini Anggalarang dan Kusuma Dewi sedang sama-sama menyesap, menyicip, dan menikmati rasa cinta yang menggelora tersebut. Mereka akan membutuhkan pedas berahi, asin syahwat dan asam nafsu sejenak lagi. Tapi itu tak merasa perlu mereka buru-buru sekarang.


Hal inilah yang tak diketahui sang sosok misterius yang mengintai mereka di balik bayang dan kelam tersebut. Tak banyak yang ia paham selain dendam kesumat yang terus menyala bagai bara.


Bahkan Anggalarang sendiri tak mengetahui bahwa sang Maung tak muncul ke permukaan karena paham Anggalarang sedang jatuh cinta. Sang Maung tak diperlukan untuk membuatnya menjadi ganas, jantan, liar dan beringas. Anggalarangsudah menundukkan Kusuma Dewi dengan cara yang paling normal, melalui sebuah pendekatan. Pun tak ada bahaya yang mengancam: Anggalarang tak didikte oleh serangan masa lalu, atau bahaya lain yang dapat menyakitinya.


Di lain pihak, siluman ular dan gadis cantik berkulit gelap di dalam tubuh Kusuma Dewi - sesuai pemikiran yang tercetus dalam otak sosok misterius yang mengawasi mereka - enggan kembali mengganggu Anggalarang: pria tak berjiwa itu. Semua gadis yang mendekati dan didekati Anggalarang tak lebih hanya berfungsi sebagai pelampiasan nafsu dan rekan profesional kenikmatan di atas ranjang.

__ADS_1


Meski masih merupakan sebuah misteri pula apakah kedua entitas gaib yang dibawa Kusuma Dewi dari Dusun Pon itu benar-benar sudah pergi, atau sekadar undur diri? Kusuma Dewi bersikap masa bodoh mengenai hal ini, persis seperti ketidakacuhan Anggalarang kepada sang penjaga nya: Maung. Keduanya terbelit sebuah rasa yang kuat muncul dari sanubari mereka, bernama cinta.


__ADS_2