Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Sepuluh


__ADS_3

Tubuh Yakobus Yakob menegang. Ia merasa tubuhnya pelan-pelan masuk lebih dalam terhisap ke rawa, dan memang itu yang terjadi: tubuhnya perlahan tenggelam ditarik akar pepohonan. Sang sosok perempuan berambut panjang gimbal berhias darah mendorong Yakobus Yakob dari atas agar tubuh tak berdaya tersebut tenggelam lebih cepat.


Yakobus ingin berteriak tetapi tak mampu. Di satu sisi tubuhnya tenggelam ke dalam lumpur rawa, di sisi lain, sang sosok memperlihatkan wajah pucat seputih kertas, sepasang mata lebar yang memenuhi sebagian besar area wajah, dan sepasang bibir tebal yang dari dalamnya mencuat sepasang taring berlumuran darah.


Raga Yakobus Yakob akhirnya ditelan rawa, hilang dari muka bumi, disusul sang sosok perempuan mengerikan itu yang ikut masuk ke dalam rawa. Meninggalkan bunyi burung hantu disusul teriakan amarah enam orang yang sedang memburu dan hendak membunuhnya.


Saat itu pula di pulau berbeda, Satria Piningit terbangun di tengah malam. Sosok jin Obong bertubuh raksasa memenuhi kamar hotel dimana ia menginap.


Sosok mengerikan itu berbisik kepada Satria Piningit, "Panglima Burung ... Panglima Burung ... Panglima Burung ...," ujarnya berulang-ulang sampai sosoknya menghilang bersama angin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob berdiri di sebuah ladang yang luas yang ia yakin adalah hutan. Namun, bukannya pepohonan menghijau yang yang ada, sebaliknya kedua kakinya terbenam di dalam tumpukan abu yang begitu tebal sampai ke mata kaki telanjangnya. Pepohonan habis terbakar, menyisakan bara berkelap-kelip dan asap membumbung menutupi pandangannya di bawah langit berwarna abu-abu karena matahari tak mampu menembus debu dan abu yang beterbangan.


Ranting-ranting pepohonan berderak patah dilahap api dan jatuh ke tanah.


Semula pandangan Yakobus Yakob samar, tetapi berangsur-angsur menjadi jelas.


Ia tak sendiri.


Ada banyak sosok-sosok yang muncul perlahan bagaikan partikel-partikel atom: mereka mulai merekat dan menjadi padat.

__ADS_1


Yakobus Yakob melihat ada beberapa orang yang merangkak atau berjalan bungkuk dari balik arang dan bara. Tubuh-tubuh mereka berubah-ubah menjadi bentuk binatang seperti buaya, anjing hutan, macan kumbang, ular raksasa atau beruang. Namun semua binatang itu terlihat sekali sedang terluka parah. Mereka bergerak tak wajar dan terseok-seok.


Ingin rasa Yakobus Yakob menggosok-gosok kedua matanya untuk meyakinkan apa yang ia lihat. Namun kedua tangannya urung diangkat mendekati matanya karena ia kemudian melihat sosok-sosok lain berdatangan.


Dua sosok melayang pelan di udara kemudian jatuh ke tanah yang ditutupi abu tidak seberapa jauh dari tempat Yakobus Yakob berdiri.


Awalnya ia menyangka kedua benda terbang tersebut adalah dua ekor burung atau kelelawar, tapi nyatanya ia melihat dua buah kepala manusia. Dua kepala perempuan.


Yakobus Yakob tersentak. Darahnya mengalir deras ke otaknya.


Dua kepala perempuan itu membawa serta organ-organ tubuh lain seperti jantung dan paru-paru yang menggantung dari lehernya yang berdarah-darah. Wajah kedua perempuan itu putih pucat dan kotor oleh abu yang menghitam. Sepasang taring mencuat dari balik bibir atas mereka. Mereka megap-megap seperti ikan yang terlempar ke tanah.


Belum sempat Yakobus Yakob meredakan keterkejutannya, ia dikejutkan lagi oleh ratusan sosok lain yang berwarna gelap bagai bayangan. Mereka berdiri di balik asap dengan bentuk yang sangat beragam. Ada yang jangkung setinggi pohon, besar bagai batu pegunungan, kecil setipis lidi, pendek seukuran anak-anak atau berbentuk senormal manusia dewasa biasa.


Sosok itu adalah seorang laki-laki normal. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, juga tidak pendek. Otot-otot lengan dan kakinya yang liat ditutupi rajah yang rapat. Bisa dikatakan seluruh tubuhnya dipenuhi beragam bentuk rajah berwarna hitam jelaga atau merah darah kecuali di bagian paha dalam dan ketiak. Bahkan leher dan wajahnya pun dihiasi rajah-rajah tersebut.


Ia mengenakan selembar cawat berwarna merah dan hitam yang diikat sedemikian rupa sehingga menyisakan selembar kain menjuntai menutupi bagian depan dan belakang.


Setiap ia berjalan, terdengar bunyi gemerincing dari lonceng-lonceng kecil dari gelang betisnya.


Wajahnya yang tegas sedikit terpayungi mahkota dari bangkai burung enggang gading yang paruhnya mencuat bagai topi.

__ADS_1


"Pangkalima, Panglima Burung ...," ujar Yakobus Yakob rendah.


Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.


"Itu nama yang kalian berikan, tapi aku bukan ciptaan kalian, meski aku ada karena kalian mengingingkannya. Aku bukan bawahan kalian, meskipun aku juga bukan pemimpin kalian," ujar sang sosok tersebut tanpa membuka mulut. Suaranya menembus udara dan masuk langsung ke dalam sanubari Yakobus Yakob.


"Aku bukanlah seseorang maupun sesuatu, tapi aku adalah segalanya. Aku bukan apa, tapi bagaimana. Aku tidak pernah datang karena aku selalu ada dari awal dunia ini tercipta. Aku tidak berada jauh, tapi aku jelas berjarak. Aku tidak berpikir meski aku tahu. Aku tidak seperti yang kau lihat, tidak seperti yang kau rasa karena aku tiada dalam bentuk walau berbentuk karena kalian memerlukan bentuk."


Kepala Yakobus Yakob serasa berputar. Ia bingung dengan kata-kata serupa sajak puisi teka-teki yang perlu dimaknai. Herannya, walau terdengar begitu aneh, sebentar saja otaknya meresap makna setiap ucapan tanpa suara sang sosok misterius ini dengan sempurna, seakan ia paham betul dengan apa yang ia dengar.


Saat itu pula perlahan langit retak. Secercah garis-garis sinar menembus asap dan abu yang beterbangan memperhatikan pepohonan yang terbakar di sekeliling Yakobus Yakob.


Tadinya ia mengira bahwa hanya ada api dan sisa-sisa daun yang terbakar yang ada di pucuk-pucuk pohon kering menghitam itu, ternyata yang ia lihat sekarang adalah puluhan mungkin ratusan tengkorak kepala manusia tergantung atau ditancapkan para ranting-ranting pepohonan.


Darah Yakobus Yakob serasa membeku. Ada semacam sengatan aneh yang megalirkan informasi secara membabi buta ke dalam otaknya. Informasi itu bagai frame film dokumenter yang diputar dengan kecepatan tinggi.


Ia tahu bahwa salah satu mahluk berbentuk anjing hutan itu bernama bahutai, seekor anjing siluman, sedangkan ular raksasa itu disebut Nabau. Dua kepala perempuan yang memiliki taring dan terjatuh ke tanah tersebut adalah sepasang hantu kuyang, sebuah ilmu sesat penghisap darah yang mengerikan.


Aliran pengetahuan itu terus masuk ke dalam otaknya namun belum berhasil ia pilah dan pilih. Seakan tubuhnya akan meledak bila tak berhasil memberhentikan asupan informasi tersebut. Ia seperti dibisiki bahkan kadang terdengar teriakan yang menjelaskan beragam jenis mahluk gaib yang hadir di hutan yang terbakar ini.


Suara gemerincing kemudian semakin terdengar jelas. Sosok laki-laki dengan tubuh tertutupi rajah itu sudah berada dua jengkal di depan Yakobus Yakob, membuatnya terkejut dan terjengkal jatuh.

__ADS_1


Yakobus Yakob terbaring di tanah. Abu menutupi tubuhnya. Ia tenggelam ke dalam tumpukan abu tebal, menyisakan hidung untuk bernafas, sedangkan matanya pedih karena butiran abu berjatuhan dari langit abu-abu.


Dengan kedua matanya inilah Yakobus Yakob melihat sang Pangkalima berdiri di atasnya, mengangkanginya.


__ADS_2