
Datuk Mayang Merah tersenyum tenang dan ceria. Ia menikmati pemandangan di depannya bersama ketiga pendekar kembar di sampingnya, padahal, Wan tewas di tempat dan tak akan kembali bangun. Tombak Baru Klinthing telah mengusir roh-roh jahat dalam tubuh pendekaritu. Hantu-hantu yang menemani tubuh Wan kabur menjerit-jerit sedangkan tubuh pendekar Cina itu kembali membusuk.
Datuk Mayang Merah malah kembali terkekeh melihat hal ini. Tawanya disusul tawa gila tiga pendekar kembar. Entah bagaimana cara mereka melihat keadaan tersebut.
Sebaliknya, Datuk Rajawali Tua kesal bukan main melihat Wan, temannya, tewas kembali sedangkan keempat teman lainnya yang gila itu malah tertawa-tawa kegirangan.
Cakar sang Datuk mengepulkan asap hitam kekelaman angkara murka. Kemarahan dan kemurkaannya membuat ia kembali mencelat menyerang Sarti.
"Aku bukan yang dulu, Rajawali Tua! Aku sudah membunuh sebanyak pasir di pantai dan berkembang lebih hebat ratusan tahun selagi kau membusuk di tanah!" teriak Sarti ketika mendapatkan serangan lanjutan san Datuk.
Tak lama mendadak kedua telapak tangan Datuk Rajawali Tua jatuh ke tanah. Sepasang tangan yang dijadikan senjata itu telah terpotong. Tidak hanya itu, kepalanya pun menyusul jatuh menggelinding di tanah, juga terpotong dari tubuhnya.
Hantu-hantu merangkak keluar dari tubuh sang pendekar yang dengan cepat membusuk dan kembali menjadi tulang-belulang yang rapuh.
Melihat kejadian ini, tawa langsung pudar dari wajah Datuk Mayang Merah, Pak Sulung Hitam, Pak Tengah Kuning dan Pak Kecik Putih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Banteng Amuk memukuli tubuh Maung yang besarnya hampir dua kali tubuhnya sendiri. Cakar Maung mencengkram bahu berotot pendekar itu, sedangkan sepasang taring siluman harimau putih tersebut berusaha meremukkan kepala Banteng Amuk.
Kedua tubuh sosok besar itu bergulingan, saling cakar, pukul, dan serang.
__ADS_1
Ternyata memang dibutuhkan sosok siluman banteng untuk bisa mengimbangi Maung. Walau pukulan dan tenaganya luar biasa dan membuat Maung terlempar mundur beberapa kali, akan tetapi kecepatan dan kekuatan siluman harimau putih salah satu prajurit Prabu Siliwangi itu masih tak tertandingi.
Tubuh Banteng Amuk ancai, beredak, berkecai dan
bersepai, hancur lebur berantakan. Daging dan tulang tak dapat dibedakan karena lebur bubur jadi satu.
Melihat ini, Soemantri Soekrasana langsung mengambil kesempatan dengan merogoh Mpu Gandring dan melepaskan tenaga hawa keramat keris itu ke udara.
Tiga pendekar pengeroyoknya terpelanting. Hantu tanpa kepala dan tanpa lengan yang keluar dari cacahan tubuh Banteng Amuk merangkak menjauh dan hilang, sehingga membatalkan penyembuhan tubuh sang pendekar sehingga tubuh hancur bak lumpur itu membusuk dan kembali menjadi tulang belulang rapuh tak utuh.
Wardhani melayang mundur, undur diri, berdiri di balik bayang-bayang pepohonan. Tubuh gelapnya berkeringat, memantulkan cahaya lemah yang hampir tak mampu menembus kabut dan asap ledakan helikopter.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yakobus Yakob menyobek lempengan besi dan baja helikopter, memukul, menendang dan menubruknya dalam gelora api yang membakar ganas. Tubuhnya yang gelap penuh dengan rajah bergerak gesit, cepat dan penuh tenaga, walau tetap saja mereka telah terlambat sehingga tak semua orang di dalam helikopter itu bisa selamat.
Wong Ayu memandang korban hidup dan mati, kemudian menatap ke arah Yakobus Yakob yang membuka mulut berbicara, "Mereka keterlaluan. Kekuatan apapun yang mereka miliki sudah jelas ditujukan untuk menghancurkan siapapun yang mengganggu tujuan mereka," ujar Yakobus Yakob dingin. Sepasang mata merahnya menyala di bawah penutup kepala paruh burung enggang.
Ada alasan mengapa Wong Ayu digelari Durga. Ketika ia mengeluarkan angkara murka di dalam dirinya, api membumbung dari kedua telapak tangan, membayang di mata dan bergejolak di tenggorokannya siap meluncur keluar.
Hawa panas api yang berkobar membentuk bayangan muka raksasa perempuan yang bermata melotot iblis, hidung besar dan mulut yang lebar sebagai tempat taring-taring berdiam. Rambut hitam bergelombang Wong Ayu membentuk sanggul garuda sang Betari Durga menghadap ke belakang. Ia berkalung rantai bara dan bernafas kematian.
__ADS_1
"Yakobus Yakob. Silahkan lepaskan angkara murka dalam aliran darahmu. Bunuh mereka semua!" ujar sang Durga yang mengambang di udara bertopang hawa panas neraka.
Yang diajak bicara mengembangkan seringai tipis di bibirnya. Keduanya paham bahwa kelompok orang yang mereka lawan ini jelas-jelas sudah tak memiliki unsur-unsur kemanusiaan lagi. Mereka sudah dijadikan budak nafsu dan kuasa setan secara sempurna. Bagi orang-orang ini membunuh orang yang tak berdosa dan tak memiliki permasalahan dengan mereka bukanlah sebuah hal yang sulit. Tak ada cara lain selain melawannya juga dengan kekejaman yang pantas.
Tubuh Yakobus Yakob memendar dan memecah menjadi jutaan partikel, melesat menghilang, tepat ketika Wong Ayu sang Durga meledakkan api dari tubuhnya.
Seakan dinding neraka bocor, lidah api menjalar bergulung-gulung menabrak pepohonan kelapa sawit, terus menggusur tubuh para pemuda dari Kampung Pendekar yang berduyun-duyun mendekati bangkai helikopter, berharap masih dapat memanen jiwa.
Orang-orang yang masih selamat sudah diletakkan di belakang Wong Ayu dalam keadaan tak sadarkan diri. Namun karena kobaran api yang menyengat dan bersinar menyilaukan seterang matahari, mereka terbangun jua. Pemandangan di depan membuat mereka bergidik ngeri.
Yakobus Yakob yang tubuhnya terbang hilang memecah, muncul di sela-sela kobaran api dari Wong Ayu. Tangannya yang sekeras baja, setajam silet, mencacah tubuh gosong para pemuda. Ia melompat kemudian hancur menghilang, muncul dan memadat lagi, menghancurkan tubuh para pemuda yang kalap oleh nafsu membunuh itu.
Di sisi yang lain, Satria Piningit yang dikelilingi barisan pasukan hantu melihat bahwa para pemuda di dalam lautan api masih berusaha membentuk kembali diri mereka yang hancur lebur meski sosok gelap Yakobus Yakob tetap berusaha membuat tubuh-tubuh itu hancur berantakan.
Bulu-bulu tebal nan kasar hantu-hantu mariaban berkibar-kibar terkena deru gulungan api. Tapi mereka tak apa, mereka tak menderita. Malahan, mata-mata penuh gelora mereka memandang para korban helikopter di belakang Wong Ayu dengan penuh minat haus darah.
Tubuh-tubuh pemuda yang hancur terbakar dan gencet, ambyar, buyar oleh serangan Wong Ayu dan Yakobus Yakob, terus kembali utuh. Semua oleh karena mahluk-mahluk halus yang berkedip-kedip transparan melayang, mengambang dan merayap di sela-sela gelombang api Wong Ayu terikat pada jiwa dan raga para pemuda.
Wong Ayu yang sosoknya bergelora membakar di angkasa memandang ke arah Satria Piningit dengan sepasang bola mata memantik bara. Tanpa dikomando, Satria Piningit paham dan melakukan tugasnya.
Ia memerintahkan, hanya berkomunikasi dengan pikiran dan perasaannya, para hantu untuk memecah kekuatan hantu-hantu 'musuh'. Soelastri merangkak kayang dengan cepat, menghilang muncul menyerang. Tarini, Priyam dan Jessica Wu mencelat berkelebat, menghilang muncul menyerang. Chandranaya mengambang, berteriak, memuntahkan aliran darah dari mulut dan menangiskannya pula dari matanya. Ratu kuntilanak yang digdaya itu menghilang muncul menyerang.
__ADS_1