
Wajah sosok hantu perempuan itu berubah-ubah bagai sebuah tumpukan dari tiga sampai lima klise film dari orang yang berbeda. Mata dan hidungnya membayang, hadir dan menghilang. Tempat dimana mulutnya berada, kini hanyalah merupakan sebuah lubang gelap tanpa dasar. Entah darimana keluarnya suaranya ketika berbicara.
"Pergiii ... Pulangg...! Mereka bunuhhh...!!!"
Gema suara Soelastri bukan berasal dari bumi, mungkin dari dimensi yang berbeda. Suara itu tidak manusiawi meski Pak Jerry bisa menengkap setiap kata yang diucapkan jelas itu. Seakan-akan bahasa sang kuntilanak dibentuk dari rasa dan emosi, bukan dari suara dan organ-organ pembentuknya. Buktinya, kata-kata aneh seakan memerlukan interpretasi makna itu masuk menembus, menancap, mengoyak, dan mencacah hati Pak Jerry.
Pak Jerry kembali merasakan ketakutan yang sangat itu. Ketika jiwa manusia bersentuhan dengan kehadiran sosok astral atau adikodrati, seluruh hati dan pikiran tergoncanga.
Tak lama, Soelastri seperti tak mampu lagi menahan bentuk manusianya.
Kepalanya terpuntir kembali ke posisi semula. Pak Jerry dapat mendengar jelas bunyi patahan tulang belulang, terutama ketika tubuh gadis yang dahulu molek itu membalik. Tangan dan kakinya menahan tubuh dalam posisi kayang, walau kepalanya tetap menatap ke arah Pak Jerry.
Soelastri mundur, keluar dari dalam mobil dan menghilang ke dalam kegelapan.
Detak jantung Pak Jerry terlalu cepat serasa ingin lepas dari rongganya dan melompat laju keluar tubuhnya.
Di depan sana, di balik kabut yang menggunung dan sedang membuka, nampak beberapa sosok laki-laki berjalan pelan ke arah mobil sedan Pak Jerry yang masih menyala itu.
Sosok-sosok tersebut menyeret parang-parang panjang. Bunyi khas nan bising logam bergesek dengan aspal memekik.
Sosok laki-laki yang berjalan paling depan rombongan misterius itu adalah seorang pemuda yang pernah mati dan hidup kembali, merayap keluar dari neraka. Ia pula, tujuh tahun yang lalu, sewaktu masih hijau muda, ikut menikmati pemandangan tubuh Soelastri di pondok yang sama dengan Pak Jerry.
Laki-laki itu tak lain dan tak bukan adalah Yudi.
Yudi menyipitkan matanya karena cahaya lampu mobil, memandang mobil tersebut dengan Pak Jerry yang masih membeku di dalamnya. Ia mengacungkan parang panjang dengan karat di bagian pangkal bilahnya ke arah Jerry yang juga balas memandangnya dari balik kemudi.
Insting Pak Jerry memercik menubruk kata-kata dari Soelastri ... "Pergi, pulang, mereka, buunuh ..."
Sontak ia menarik batang perseneling dan menginjak gas, memundurkan mobil dan berputar balik.
Bunyi decitan ban yang keras mengirimkan sinyal kepada Yudi dan pemuda Kampung Pendekar lain untuk mempercepat langkah mereka, setengah berlari.
__ADS_1
Bagai seekor kijang yang merasa terancam oleh kumpulan serigala, Pak Jerry siap menggasak pedal gas dan meninggalkan tempat itu. Ia bersiap menutup pintu mobil di kursi depan penumpang yang tak ditutup Pak Norman ketika ia ingat bahwa Pak Norman sendiri serta Setya masih berada diluar.
Pak Jerry benar-benar hendak bersikap masa bodoh dan peduli setan. Toh, ia tak begitu kenal dengan kedua tetangganya tersebut. Ia juga jengah dengan sikap Pak Norman yang ia kenal suka sekali petantang-petenteng dan memuja gambaran dan citra fisiknya. Apalagi Setya yang sok terlibat dalam dunia modernitas dan meyembah logika.
Sialan! Tapi ternyata ia tetap tak bisa meninggalkan mereka. Ia tidak memiliki sifat semenjengkelkan mereka, apalagi jahat.
Pak Jerry membuka pintu mobilnya dan keluar. Matanya melihat dua tubuh terkapar pingsan beberapa langkah darinya.
Yudi dan rombongannya terus mendekat. Hawa membunuh hitam pekat di punggung dan kepala mereka.
Bangsat! Rutuk Pak Jerry.
Ia menarik tubuh Setya yang lebih ringan terlebih dahulu, kemudian memasukkannya ke kursi belakang. Pak Jerry kemudian berlari ke arah tubuh Pak Norman tanpa menutup pintu mobilnya.
Sang kuntilanak merangkak terbalik di dekat tubuh Pak Norman yang terlentang semaput.
Kali ini Pak Jerry yang terkejut setengah mati serasa ingin pingsan juga.
Kata-kata itu kembali terdengar seakan terbentuk dan lahir dari udara.
Pak Jerry menggosok dadanya cepat-cepat. "Iya, iya, Lastri. Aku tahu. Tapi kalau kau terus mengagetkan aku seperti itu bagaimana aku bisa pergi?" ujarnya.
Kuntilanak merayap kayang Soelastri merangkak mundur dan hilang di tepi jalan, di balik rerimbunan pohon kelapa sawit.
Pak Jerry menengok ke belakang, mendengar derap kaki dan gesekan parang di aspal semakin dekat.
Ia mengangkat tubuh Pak Norman.
Hampir tak bergerak!
Luar biasa berat tubuh orang ini, pikir Pak Jerry.
__ADS_1
Ia menarik nafas dan kembali menggunakan kekuatannya untuk menyeret Pak Norman.
Dalam beberapa langkah, Yudi dan yang lain akan sudah sampai di tempatnya berada. Beberapa pemuda bahkan sudah mengangkat parang mereka ke udara dalam posisi menebas. Sudah jelas apa yang akan terjadi dengan dirinya bila mereka berhasil mencapai ke arahnya.
Akhirnya, Pak Jerry berhasil sampai ke mobil dan memasukkan sebagian tubuh Pak Norman ke kursi depan. Ia kemudian menyesali bahwa harusnya Pak Norman ia tumpuk saja di belakang bersama Setya, karena panjang tubuh Pak Norman yang berat dan tak sadarkan diri tak muat dan tak mungkin dilipat.
Tapi terlambat. Yudi dan rombongan tinggal melompat saja ke arah mobil sedannya.
Maka Pak Jerry membiarkan kaki Pak Norman masih menggantung di luar, meski tak menggapai mencapai aspal.
Ia berputar ke depan, masuk ke kemudi.
Parang Yudi memecahkan kaca mobil belakangnya, tepat ketika ia menutup pintu.
Pak Jerry berteriak bagai orang gila.
Ia mencoba mendorong untuk memasukkan gigi satu, namun tongkat persenelingnya menjadi pemberontak dan begitu menyebalkan, tak mau diperintah.
Pak Jerry mendengar dua pukulan lagi memecahkan kaca mobilnya.
Tongkat perseneling masuk ke posisinya. Pak Jerry menginjak pedal gas seperti sedang membunuh seekor tikus.
Ban berdecit dan mobil meraung, melaju meninggalkan rombongan Yudi dan rekan-rekannya yang hampir berhasil membuat Pak Jerry, Pak Norman dan Setya menjadi mayat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yudi kesal karena tak berhasil menangkap korbannya. Ia ingin sekali merasakan bilah parang tajamnya menyobek kulit dan menetak daging manusia, atau memutuskan sekalian tulangnya. Rasanya begitu memuaskan dan menyenangkan.
Yudi mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Di sela-sela pagi yang hendak menguap, ia melihat Soelastri merangkak keluar dari kegelapan seperti anak anjing yang malu-malu menghadap majikannya.
Yudi memicingkan kedua matanya kemudian tersenyum sinis dan mendengus, "Kau Soelastri, bukan? Aku tak tahu apa yang kau lakukan sehingga orang-orang itu dapat melarikan diri. Apapun hubunganmu dengan salah satu orang itu, aku tak mau ambil urus. Tapi sekali lagi kudapati kau tak membantu kami menangkapi orang-orang dari perumahan itu, bahkan dalam neraka pun akan kunikmati tubuhmu yang molek itu terpanggang api!" ancam Yudi.
__ADS_1