Kabut Cinta

Kabut Cinta
10. Dua Sisi Berbeda


__ADS_3

Temmi tergesa-gesa turun dari mobilnya, ia terlihat panik berjalan masuk ke dalam rumah,


Ya, bagaimana tidak panik, Ibu menelfon sambil menangis dan sesekali menjerit ketika ada suara seperti barang-barang dibanting,


"Bu, Ibu,"


Temmi memanggil Ibunya sambil matanya memandangi ruangan depan rumahnya yang kini terlihat berantakan,


Vas bunga dan guci pecah berserakan di atas lantai,


Temmi yang melihat pemandangan semacam itu tentu saja jadi semakin panik, ia khawatir Ibunya akan kenapa-napa,


"Bu... Ibuuu,"


Temmi memanggil Ibunya lagi, saat kemudian Ibunya terlihat turun dari lantai dua sambil menangis lalu menghambur ke arah putra keduanya,


"Ada apa Bu? Mana Mas Yoga?"


Tanya Temmi,


Ibu menggelengkan kepalanya,


"Entahlah Tem, Ibu takut, Ibu takut sekali,"


Kata Ibu,


Temmi pun lantas merangkul bahu Ibunya, dan kemudian membawa Ibunya ke ruang tengah di mana di sana juga tampak mejanya terbalik,


"Yoga mengamuk macam orang kesetanan, isteri dan anaknya pergi,"


Kata Ibu sambil mengusap dadanya yang terasa sesak,


Temmi membantu Ibunya duduk, lalu ia segera ke ruang makan untuk mengambilkan air minum namun di sana pun juga sama berantakan,


Temmi akhirnya pergi ke dapur, yang hasilnya jauh lebih parah dari ruangan yang lain,


Mas Yoga, apa dia gila? Apa dia tidak bisa sedikit lebih dewasa?


Temmi rasanya kesal bukan main,


Merasa tak mungkin masuk ke dapur dalam kondisi ruangan seberantakan itu, maka Temmi lebih memilih berbalik lagi menemui Ibunya yang sedang sesenggukan,


"Bu, pulang ke rumah Temmi saja y,"


Kata Temmi,


Ibunya menatap Temmi yang kini berlutut di depan Ibunya,


"Tidak Tem, Ibu tidak bisa, kakakmu akan sendirian di rumah, kalau nanti dia bunuh diri bagaimana?"


Temmi menghela nafas,


"Bu, Mas Yoga sudah bukan anak kecil lagi, kalau dia bisa menggunakan pikirannya dengan baik, dia tidak akan pernah melakukannya,"


Ujar Temmi pula,

__ADS_1


"Ini semua gara-gara Laras, dia sama sekali tidak menghormati suami,"


"Bu, sudah, tidak usah bawa-bawa Mbak Laras,"


Kata Temmi,


Tapi, mendengar Temmi seperti akan membela Laras, membuat Ibu justeru jadi semakin kesal pada Laras,


"Kenapa kamu selalu membela Laras, Tem?"


"Temmi tidak membela Mbak Laras, Bu, tapi Temmi berusaha di posisi yang seharusnya Temmi ada,"


"Posisi apa? Kamu itu anaknya Ibu, kamu itu adiknya Yoga, tapi kamu selalu seakan-akan Ibu dan Yoga lah yang selama ini salah,"


Temmi mendengar Ibu mengeluh demikian tentu saja jadi menghela nafas,


"Bu..."


"Tem, kakakmu itu sudah terlalu setres tidak bisa mendapatkan pekerjaan, lalu isterinya sekarang malah pergi begitu saja membawa anaknya, isteri macam apa seperti itu? Apa dia hanya menganggap Yoga jika punya uang saja?"


"Mbak Laras juga sudah cukup lama sabar Bu, cobalah mengerti keadaannya, perempuan mana yang akan bisa terus bertahan dalam kondisi seperti dia? Suami menganggur dan sama sekali tak ada usaha untuk mendapatkan penghasilan, sementara anaknya semakin hari semakin besar, banyak kebutuhan di depan mata, bukan hanya makan, jajan, tapi juga sekolah,"


Kata Temmi berusaha memberikan pengertian pada Ibunya,


Tapi, manalah mau Ibu mengerti,


Buat Ibu yang pada dasarnya sejak awal tidak menyukai kehadiran Laras di tengah kehidupan keluarganya, tentunya semua yang salah tetaplah Laras di matanya,


"Sebagai isteri sudah jadi keharusan mau mendampingi suami di kala susah dan senang, kamu pikir Ibu dulu menikah dengan Ayahmu langsung senang? Tentu tidak sama sekali,"


Kata Ibu,


"Kenapa kamu menjelekkan kakakmu?"


Ibu malah marah,


"Bu, ini kenyataan yang harus kita terima, Mas Yoga yang salah, jadi kita juga harus mengakui itu,"


"Yoga seperti itu karena istrinya yang tidak bisa memberikan semangat, coba kalau Laras seperti isterimu,"


Kata Ibu,


Temmi menghela nafas lagi,


"Ibu, berhentilah membandingkan keduanya, jelas mereka orang yang berbeda, tidak bisa dipaksa sama Bu,"


"Bukan dipaksa sama Temmi, tapi paling tidak jika mau jadi isteri yang suaminya sukses ya harusnya seperti isterimu itu,"


"Bu, ini karena Ibu belum tahu sebetulnya seperti apa rumah tanggaku,"


Lirih Temmi,


Ibu menatap putra kesayangannya,


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


Tanya Ibu bingung, namun Temmi tampak enggan membahas, pun juga karena ia memang bukan tipe laki-laki mudah menceritakan masalah rumahtangganya pada orang lain sekalipun pada orangtua,


Biarlah, biar apa yang ia rasakan cukup ia saja yang tahu,


"Apa Tem?"


Tanya Ibu penasaran,


Namun Temmi kemudian memilih berdiri dari posisinya, ia menggeleng sambil tersenyum saja,


"Tidak ada apa-apa Bu, jangan dipikirkan,"


Kata Temmi,


Ibu tetap menatap Temmi,


terbersit tanya dalam hati Ibu akan pernyataan Temmi tadi yang seolah mengisyaratkan rumah tangganya juga tak baik-baik saja.


Kenapa?


Bukankah mereka selama ini hidup berkecukupan?


Bukankah karir keduanya sama-sama bagus?


Bukankah Temmi dan isterinya terlihat selalu rukun, dan ke manapun selalu berdua?


Tapi kenapa?


Kenapa tiba-tiba Temmi bicara seolah ia sebetulnya memiliki permasalahan yang berat dan pelik?


"Temmi panggil asisten rumah tangga di rumah Temmi untuk beres-beres dulu di sini Bu, kalau Ibu memang tak mau pulang ke rumah Temmi,"


Ujar Temmi pada Ibunya,


"Kamu akan tetap di sini bukan?"


Tanya Ibu,


Temmi mengangguk,


"Ya, Temmi akan tetap di sini sampai Mas Yoga pulang, ada banyak yang harus aku katakan padanya,"


"Jangan bicara apa-apa dulu pada kakakmu Tem, nanti dia tambah setres,"


Ibu berusaha melarang,


"Ibu selama ini memanjakan Mas Yoga, akhirnya dia jadi begitu, setiap ada masalah mengamuk lalu pergi tidak jelas, mau sampai kapan dia begitu, apalagi Ibu melindunginya."


Kata Temmi,


"Ibu tidak memanjakan, kata siapa Ibu memanjakan,"


Lirih Ibu,


Temmi pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2