Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.57.PIPINYA SEPERTI BAK PAO.


__ADS_3

Gadis itu terbengong bengong melihat ulah


Bondet yang tiba tiba aneh bagaikan


orang yang habis melihat hantu,


Namun tidak di pungkiri ada rasa lucu


dan ingin tertawa melihat tubuh gendut


Bondet yang meloncat, lalu terjatuh


Namun demi menghargai orang lain


dan demi kesopanan gadis itu cepat


menutup mulutnya agar tidak menimbulkan


suara tawa, pasalnya dia takut kelepasan.


Dengan lembut dan penuh hati hati gadis


itu mendekati Bondet.


"Mari, aku bantu bangun, pasti sakit jatuh


begitu,"Ucap gadis itu menjelaskan.


Bondet yang masih tidak percaya dengan


apa yang di lihatnya di depan mata


dia masih mengucek matanya sambil


mengerjap ngerjapkan kedua matanya.


"Apa, aku bermimpi,"Ucap Bondet kemudian.


"Bermimpi apa ! ini siang kenapa kamu membahas mimpi,"Jawab sang gadis


polos karena dia tidak mengerti.


"Kalau begitu coba aku cek,"


Dengan sigap Bondet segera berdiri di


tatapannya gadis yang ada di depannya,


sang gadis yang tidak mengerti maksud


Bondet, cuma diam mematung, namun


tidak lama kemudian dia menjerit dengan


keras.


"Auuuuuhh...!


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi


gadis tak berdosa itu.


Wajahnya yang tadi ramah dengan


senyum kini berubah memerah


seperti monster.


Melihat tatapan sang gadis yang begitu


tajam dan menakutkan, Bondet segera


memasang tampang paling tampan


dengan sebentuk senyum Pepsodent


"Maaf, Nona, cuma cek ini mimpi


atau bukan,"Selak Bondet membela diri.

__ADS_1


Dengan tampang yang tidak bersahabat


sang gadis pun mendekati Bondet dan.


"Plaaakk....plaaaakk....plakkk....!"


Sebuah tamparan beruntun mendarat


di pipi Bondet yang empuk seperti bakpao.


Bondet pun Meringis kesakitan.


"Aduh...! Nona kenapa kau tampar aku berkali


kali, bukankah aku cuma sekali, ini


namanya tidak adil," Ucap Bondet komplin.


"Biar kamu semakin yakin kalau ini siang


bukan mimpi,"Ucap gadis.


Ketika mereka berdua sedang sibuk


berdebat, terdengar suara lirih dari dalam


kamar.


"Aku, ada di mana?"


"Hey, jodhoku sudah sadar ! Bergegas gadis itu


masuk ke dalam kamar.


"Enak saja ngaku ngaku jodhomu, dia


bukan jodhomu,"Ucap Bondet menegaskan.


"Kau, sudah sadar rupanya, kau ada disini


di rumah ku,"Ucap gadis itu.


menemukan kak Bima disini,"Ucap Bondet


haru hingga matanya berkaca kaca.


"Kau...! mengenalnya?"Tanya gadis itu


penasaran.


"Iya, dia yang sedang kami cari," Ucap Bondet


menjelaskan.


Dia berjalan mendekati ranjang di mana Bima


berbaring, segera di genggamnya tangan


Bima yang masih lemah.


"Kenapa aku ada disini, Seila mana?"Tanya Bima tiba tiba.


"Aduh, kak Bima belum kuat pun masih


sempat sempatnya menanyakan di mana


Non Seila,"


"Seila, itu siapa?" Tanya gadis itu, pada


Bondet.


"Istrinya, dan ini yang kau sebut jodohmu


Namanya Kak Bima," Ucap Bondet


menjelaskan.


Gadis itu meringis dengan sebuah

__ADS_1


senyun yengir kuda.


"Aku kira dia adalah jodhoku yang Allah


kirimkan untuk ku," Ucap nya lesu


sembari keluar kamar.


"Apa anak muda itu sudah sadar, putriku !"


Tanya seorang bapak paruh baya.


"Sudah, Ayah, ternyata orang yang ku bawa


itu, dia adalah temannya,"Ucap gadis itu


lesu.


"Itu malah bagus, itu artinya kita tidak usah


bersusah payah mencari keluarganya."


"Tapi, Ayah ! bagaimana dengan mimpiku


aku sudah bermimpi ingin menjadi kan


dia suamiku," Ucap gadis itu tertunduk.


Sang Ayah yang memahami perasaan


putri nya segera dia menghampiri.


"Anakku, jangan berkecil hati dia


bukan pangeran yang dikirimkan


kepadamu." Ucap sang Ayah sambil


membelai lembut rambut putrinya.


"Kita hanya di berikan amanah, untuk


menolong nya, bukan untuk menjadi


kannya pangeran hidup mu, kamu


yang sabar ya,"Ucap sang Ayah menghibur


hati putri gadis nya.


Dengan wajah yang diliputi mendung


gadis itu tersenyum.


"Aku, ihklas kok Ayah, dengan semua


takdir yang Allah berikan kepada ku.Ucap


nya mantap.


Sang Ayah terkekeh mendengar ucapan


dari anak gadis nya.


"Jika ternyata Allah menjodohkan kamu


dengan anak, yang kamu bawa tadi


bagaimana?" Tanya sang Ayah ingin tau


"Ah, Ayah !masak tega Putrinya secantik


ini, harus bersuamikan laki laki yang


pipinya seperti bak pao itu," Sungut


gadis itu pura pura kesal.


Yang kemudian membuat keduanya

__ADS_1


tertawa.


__ADS_2