
Gadis itu terbengong bengong melihat ulah
Bondet yang tiba tiba aneh bagaikan
orang yang habis melihat hantu,
Namun tidak di pungkiri ada rasa lucu
dan ingin tertawa melihat tubuh gendut
Bondet yang meloncat, lalu terjatuh
Namun demi menghargai orang lain
dan demi kesopanan gadis itu cepat
menutup mulutnya agar tidak menimbulkan
suara tawa, pasalnya dia takut kelepasan.
Dengan lembut dan penuh hati hati gadis
itu mendekati Bondet.
"Mari, aku bantu bangun, pasti sakit jatuh
begitu,"Ucap gadis itu menjelaskan.
Bondet yang masih tidak percaya dengan
apa yang di lihatnya di depan mata
dia masih mengucek matanya sambil
mengerjap ngerjapkan kedua matanya.
"Apa, aku bermimpi,"Ucap Bondet kemudian.
"Bermimpi apa ! ini siang kenapa kamu membahas mimpi,"Jawab sang gadis
polos karena dia tidak mengerti.
"Kalau begitu coba aku cek,"
Dengan sigap Bondet segera berdiri di
tatapannya gadis yang ada di depannya,
sang gadis yang tidak mengerti maksud
Bondet, cuma diam mematung, namun
tidak lama kemudian dia menjerit dengan
keras.
"Auuuuuhh...!
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi
gadis tak berdosa itu.
Wajahnya yang tadi ramah dengan
senyum kini berubah memerah
seperti monster.
Melihat tatapan sang gadis yang begitu
tajam dan menakutkan, Bondet segera
memasang tampang paling tampan
dengan sebentuk senyum Pepsodent
"Maaf, Nona, cuma cek ini mimpi
atau bukan,"Selak Bondet membela diri.
__ADS_1
Dengan tampang yang tidak bersahabat
sang gadis pun mendekati Bondet dan.
"Plaaakk....plaaaakk....plakkk....!"
Sebuah tamparan beruntun mendarat
di pipi Bondet yang empuk seperti bakpao.
Bondet pun Meringis kesakitan.
"Aduh...! Nona kenapa kau tampar aku berkali
kali, bukankah aku cuma sekali, ini
namanya tidak adil," Ucap Bondet komplin.
"Biar kamu semakin yakin kalau ini siang
bukan mimpi,"Ucap gadis.
Ketika mereka berdua sedang sibuk
berdebat, terdengar suara lirih dari dalam
kamar.
"Aku, ada di mana?"
"Hey, jodhoku sudah sadar ! Bergegas gadis itu
masuk ke dalam kamar.
"Enak saja ngaku ngaku jodhomu, dia
bukan jodhomu,"Ucap Bondet menegaskan.
"Kau, sudah sadar rupanya, kau ada disini
di rumah ku,"Ucap gadis itu.
menemukan kak Bima disini,"Ucap Bondet
haru hingga matanya berkaca kaca.
"Kau...! mengenalnya?"Tanya gadis itu
penasaran.
"Iya, dia yang sedang kami cari," Ucap Bondet
menjelaskan.
Dia berjalan mendekati ranjang di mana Bima
berbaring, segera di genggamnya tangan
Bima yang masih lemah.
"Kenapa aku ada disini, Seila mana?"Tanya Bima tiba tiba.
"Aduh, kak Bima belum kuat pun masih
sempat sempatnya menanyakan di mana
Non Seila,"
"Seila, itu siapa?" Tanya gadis itu, pada
Bondet.
"Istrinya, dan ini yang kau sebut jodohmu
Namanya Kak Bima," Ucap Bondet
menjelaskan.
Gadis itu meringis dengan sebuah
__ADS_1
senyun yengir kuda.
"Aku kira dia adalah jodhoku yang Allah
kirimkan untuk ku," Ucap nya lesu
sembari keluar kamar.
"Apa anak muda itu sudah sadar, putriku !"
Tanya seorang bapak paruh baya.
"Sudah, Ayah, ternyata orang yang ku bawa
itu, dia adalah temannya,"Ucap gadis itu
lesu.
"Itu malah bagus, itu artinya kita tidak usah
bersusah payah mencari keluarganya."
"Tapi, Ayah ! bagaimana dengan mimpiku
aku sudah bermimpi ingin menjadi kan
dia suamiku," Ucap gadis itu tertunduk.
Sang Ayah yang memahami perasaan
putri nya segera dia menghampiri.
"Anakku, jangan berkecil hati dia
bukan pangeran yang dikirimkan
kepadamu." Ucap sang Ayah sambil
membelai lembut rambut putrinya.
"Kita hanya di berikan amanah, untuk
menolong nya, bukan untuk menjadi
kannya pangeran hidup mu, kamu
yang sabar ya,"Ucap sang Ayah menghibur
hati putri gadis nya.
Dengan wajah yang diliputi mendung
gadis itu tersenyum.
"Aku, ihklas kok Ayah, dengan semua
takdir yang Allah berikan kepada ku.Ucap
nya mantap.
Sang Ayah terkekeh mendengar ucapan
dari anak gadis nya.
"Jika ternyata Allah menjodohkan kamu
dengan anak, yang kamu bawa tadi
bagaimana?" Tanya sang Ayah ingin tau
"Ah, Ayah !masak tega Putrinya secantik
ini, harus bersuamikan laki laki yang
pipinya seperti bak pao itu," Sungut
gadis itu pura pura kesal.
Yang kemudian membuat keduanya
__ADS_1
tertawa.