Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.88.GAGAL LAGI


__ADS_3

Dalam dingin malam, dengan cahaya redup Karena sengaja tidak di nyalakan Bima berlari ke kamar atas dengan membawa selimut di punggungnya. Udara yang dingin membuat nya sedikit kedinginan, sehingga merasa perlu untuk membawa selimut.


Sampai di kamar atas, Bima, meraih kunci kamar cadangan, khawatir kamarnya di kunci lagi oleh Seila, tapi ternyata kamarnya tidak di kunci, perlahan-lahan dan dengan sangat pelan Bima membuka pintu, ketika pintu terbuka terpampanglah sebuah pemandangan yang sangat memusingkan kepala.. Ranjang nya di penuhi dengan buku buku Novel, lantainya berserakan bungkus makanan ringan.Bima menyatukan giginya, yang menimbulkan suara graham, ingin rasanya dia berteriak, tapi tak tega melihat istrinya tertidur dengan sangat pulas, posisi tidur yang unik bagaikan anak bayi tidur dengan badan tengkurap kaki kanan dan kiri tidak lurus melainkan membentuk posisi seperti katak yang mau meloncat. Satu ranjang berukuran sangat besar dan luas terlihat tidak cukup untuk menampung dua nyawa.


"Busyet...! tidur model apaan tuh, lalu aku tidur di mana?"Bima mengaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, untuk beberapa saat Bima mondar mandir bagaikan putaran gangsing, dia lagi berfikir keras bagaimana caranya bisa ikut tidur di satu ranjang.


Dengan perlahan-lahan Bima berniat mengangkat satu kaki Seila agar bisa lurus sejajar tidak seperti katak yang mau meloncat. Namun ketika tangannya hendak menyentuh kaki Seila, terlihat Seila mengeliat akhirnya tidak jadi mengangkat satu kaki nya.


"Bagaimana ini?"Tenang tenang harus lebih hati-hati agar tidak menimbulkan suara.


Kembali Bima menggangkat kaki Seila kali ini, Seila bagaikan patung dia diam saja, Bima menarik Nafas lega.


"Akhirnya bisa juga, kini aku bisa tidur di sampingnya," Bima mulai memejamkan mata dengan tangan memeluk punggung istrinya.


"Memeluk punggung lebih baik dari pada memeluk guling," Ucap Bima dalam hati sambil terkekeh yang kemudian membawanya ke alam mimpi.

__ADS_1


Seila yang merasa ada beban berat dalam punggung nya tiba-tiba terbangun, ketiika dia hendak merubah posisi tidurnya, dia di kejutkan dengan sosok misterius yang sedang memeluk punggung nya tanpa memperlihatkan wajahnya seluruh wajahnya tertutup dengan selimut dari ujung kaki sampai dengan ujung kepala. Tak aya lagi Seila berteriak dengan histeris.


"Aaaaaaaaah, Seila mendorong sosok tubuh yang seluruh badannya tertutup selimut dengan kaki, tak bisa di elakkan lagi sosok itupun jatuh kelantai.


"Auuuuwwwh...!" kenapa kau mendorong ku?"keluh Bima sedih.


"Kau!Kak Bima...?"kok bisa sampai di sini, bukannya kaki kak Bima sakit?"Tanya Seila.


Sudah terlanjur basah mandi sekalian, sudah terlanjur ketahuan ngaku sekalian. Dengan senyum cengar cengir Bima memberikan jawaban pada Seila, sedangkan Seila tidak puas jika cuma di jawab dengan senyuman.


"Ayo, ngaku?" kak Bima Bohong kan, kalau kakinya sakit, tuh buktinya bisa jalan sampai sini,"Cecar Seila dengan berapi api.


Bima tidak ingin menanggapi tapi tangannya justru menarik pinggang Seila hingga tubuh mereka sangat dekat, Seila tak bisa lagi marah marah karena jari telunjuk nya pun masuk dalam gengaman tangan Bima sementara bibirnya sudah tertawan di dalam pagutan bibir Bima, tidak ada suara apapun lagi, dengan rakus Bima menjelajahi seluruh kedalam bibir tipis Seila, Bima mengakhiri ketiika keduanya kehabisan oksigen. Dengan lembut di dorong nya tubuh Seila jatuh ke ranjang dengan di ikuti Bima juga menjatuhkan dirinya di atas tubuh istrinya.


"Sayang..!layani aku malam ini,"Pintanya dengan wajah yang penuh harap.

__ADS_1


"Ta..tapi..aku belum memakai pengharum, agar badanku wangi," Ucap Seila dengan terbata bata,


"Tidak perlu, itu, apapun darimu bagiku sudah wangi," Ucap Bima yang masih berada di atas kapal badan Seila.


"Bukan kah menolak keinginan suami itu dosa sayang, jadi layani Aku dengan ihklas, apa kamu mengerti?" mendengar perkataan Bima Seila hanya mengangguk.


"Jadi....!boleh kah,"Dengan gugup Seila mengiyakan permintaan suaminya, Bima yang sudah mendapatkan lampu hijau dari sang istri dia sudah bersiap melajukan kapal sesuka hatinya mula mula Bima melakukan pengecekan di setiap inci kapal serta membuka segala lapisan yang di rasa sangat mengaggu, terlihat wajah Seila yang tegang dengan pipi berubah merah merona seperti buah apel yang siap untuk di makan, Bima melakukan dengan sangat lembut dan hati-hati ketika semua lapisan pengaggu perjalanan dia singkirkan. Satu demi satu lapisan itu mulai telepas berkali-kali Bima mendarat kan ciumannya. Tapi ketika Bima ingin mendarat di dua bukit yang sama karena bukitnya sama tiba-tiba.....


"Tok...Tok...Tok...!"


Serentak Bima dan Seila menoleh ke pintu.


"Buka pintu nya kak..!"Seru Seila pada Bima agar turun dari kapal.


"Issh..mengaggu organ saja ?"Gurutu Bima seraya turun dari kapal.

__ADS_1


Sementara Seila senyum senyum sendiri, dalam hati Seila mengucap Syukur, malam ini ngak jadi di ajak ronda sampai pagi, Seila menutup kembali baju atasnya yang hampir seluruhnya terbuka, sementara Bima dengan langkah malas menuju pintu.


__ADS_2