Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.103.PERTEMUAN.


__ADS_3

Dengan perasaan kesal dan penasaran, Seila


bertanya.


"Apa, ada yang lucu Win!kok tertawa sebegitu nya," tanya Seila binggun.


"Tentu saja, Seila!'pasti ada yang lucu lah, kau tau apa yang lucu itu,"


Seila mengelengkan kepala nya.


"Apa, yang lucu Win?"


"Baju kamu,"


"ini,"ucap Seila sambil memutarkan badannya.


"iya, tumben kamu keluar pakai baju beginian," ucap Wina yang masih sambil terkekeh.


"Semua gara-gara Bima tuh, dia yang suru aku pakai baju ini," Grutu Seila kesal.


"Bima pasti nyuruhnya pakai ngancam, aku yakin itu, karena kalau tidak, mana mungkin kamu mau,"


"Sok, tau, ngak lah aku memakainya dengan senang hati kok,"


"Idih, yang lagi bohong, jangan kamu kira aku tidak mengenalmu Seila, aku tau benar bagaimana karakter mu, tapi pilihan Bima bagus juga, kamu terlihat anggun."


"Gombal, kamu sudah pesan makanan belum?"tanya Seila.


"Sudah, dong, kita tinggal menunggu pesanan ku datang, entar kamu yang bayarin ya,"pinta Wina pada Seila yang di Jawab dengan senyuman.


"Itu, pesanan kita sudah datang," teriak Seila pada Wina.


Seorang pelayan dengan berwajah cantik menghidangkan beraneka ragam makanan seafood yang semuanya makanan laut.


"Win, ayo, makan aku sudah lapar," keluh Seila.


"Kamu makan, saja sendiri dulu, aku mau ke kamar kecil sebentar,"


"Baiklah, Cepat pergi jangan lama-lama entar ke buru habis," ancam Seila pada Wina.


Wina cuma tersenyum kecut mendengar ucapan sahabatnya.


Ketika Seila sedang menikmati makanan yang sangat mengundang semangat makan nya, tiba-tiba telpon berdering dengan sedikit malas Seila menggangkat telponnya.


"Halo..!"


"Halo, Assalamualaikum, sayang!" kamu lagi di mana?"


"Aduh, kak Bima, ngapain sih telpon segala, lagi makan nih," nganggu saja."


Bima terkekeh mendengar ucapan istrinya.


"Sayang, kalau ada yang ngucapin salam itu di jawab, ngak boleh ngak di jawab begitu."


"Iya, Walaikumsalam," balas Seila.

__ADS_1


Bima lagi-lagi terkekeh mendengar ucapan istri bandelnya.


"Ya, sudah, lanjutin dulu makannya, Nanti aku telpon lagi, Assalamualaikum,"


"Ya, Walaikumsalam."


Seila kembali melanjutkan makan seafood kesukaan nya.


******


"Katanya di sini, lalu mana orang nya, jangan jangan detektif ku itu detektif gadungan yang cuma bisa bohong," Gumam Arina dalam hati yang netranya menyapu keseluruh temapat itu.


Namun tak jua orang yang di carinya ketemu, karena kesal dan ada rasa haus Arina memutuskan masuk ke dalam restoran seafood untuk memesan minuman dan ketika


Arina membuka pintu dan hendak melangkah masuk, tiba-tiba mata indahnya tertuju pada seorang gadis yang sedang menuduk dengan mengunyah makanan pesanannya.


"Rupanya dia di sini, syukur lah aku tidak di kibulin sama detektif detektif yang doyan makan uang," sungut Arina kesel dan sebel.


"Mas..!"mas sini,"


Arina memanggil salah satu pelayan laki-laki yang mrmbawa pesanan makanan untukl para pengunjung.


"Iya, mbak, apa ada yang bisa saya bantu,"tanya pelayan laki-laki itu sopan.


"iya, tolong kasih kan, kertas ini pada , tuh, gadis yang ada di ujung sana itu,"


"Oh, iya, mbak,"


"Trimakasih, ya!" ini untuk kamu," Arina memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah kepada pelayan laki-laki itu.


"Sudah, trima saja, ini rejeki untuk kamu,"


"kalau begitu, trimakasih banyak, mbak,"Arina tersenyum kemudian melangkah pergi tidak jadi lagi pesan minuman.


"Permisi, mbak!"


"Iya, ada apa mas?"


"ini, ada pesanan untuk mbak,"laki-laki pelayan restoran itu menyodorkan sebuah kertas yang terlipat rapi tanpa amplop di dalam nya.


"Dari siapa, mas!"


"Saya, juga kurang tau mbak, mungkin teman mbaknya,"


"Ok, trimakasih, ya, kamu boleh pergi,"ucap Seila santun.


"Kok aneh, ada yang ngasih aku kertas segala dari siapa ya?"Gunam Seila dalam hati sambil kedua tangannya membuka lembaran kertas yang terlipat rapi itu.


Isi surat.


"Seila..!" datang lah aku menunggu mu di pinggiran kota taman ini, sekarang juga, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan kepada mu, jangan ragu dan khawatir kau sangat mengenalku, jadi tidak perlu lagi ku sebutkan namaku Nanti kau pasti juga tau siapa aku.


"Aku mengenalnya!" siapa ya?"kebetulan aku sudah kenyang, Wina lama sekali, lebih baik aku tinggal dulu nanti balik lagi," Gumam Seila dalam hati, tapi sebelum pergi Seila sudah melambaikan tangan nya kepada salah satu pelayan dan meminta berapa yang harus dia bayar, dengan senang hati sang pelayan pun mengatakan jumlah uang yang harus di bayar.


*****

__ADS_1


Sampai di tempat yang tertera dalam kertas Seila mulai mengedarkan pandangannya, mencari orang yang telah mengundang nya untuk datang.


"Bagaimana, aku bisa menggenali orang itu, namanya saja aku juga tidak tau, dasar orang kurang kerjaan,"grutu Seila dalam hati.


"Kamu, sudah datang Seila?"


Mendengar ada yang menyebut namanya segera Seila menoleh ke sumber suara.


"Kau...!"bukankah kau Arina?"


"Iya, ternyata daya ingatmu masih berfungsi juga Seila, ku harap kau juga masih ingat siapa aku dan apa hubunganku dengan Bima,"


"Tentu, Arina, aku ingat kamu mantan pacar dari Suamiku," ucap Seila datar.


"Siapa bilang aku mantan Bima, aku masih pacarnya dan kamu, bagaimana bisa kau menikah dengan kekasihku, bukankah kamu wanita yang telah layu,"


"Apa maksud dari ucapanmu?"


"Jangan pura-pura lupa ingatan atau berlagak bodoh Seila, ingat! tidak ada satu laki-laki pun yang sudih menikahi wanita bekas laki-laki lain, bukankah kamu itu bekas dari laki-laki lain, lalu dengan cara licik apa kau menjebak Bima masuk dalam perangkap mu hah,"


"Jaga ucapanmu Arina?aku tidak seperti itu,"


Arina tertawa lebar.


"Ha..ha. ha ... tidak seperti itu!" benar benar kau wanita tidak tau malu Seila, demi menutupi Aibmu kau jebak Bima, kau rampas Bima dariku, apa yang kau lakukan hah, kau juga serahkan tubuh mu, begitu kah, sehingga Bima mau tidak mau terpaksa menikahimu,"


"Arinaaaaa...?" jaga mulut mu,"teriak Seila.


"Plaaaakkk...!"Sebuah tamparan manis mendarat di pipi Arina.


"Kau, berani menampar ku, rasakan ini,"


"Plaaaakkk...!"sebuah tamparan balasan mendarat tepat di pipi Seila.


"Kau, keterlaluan, Arina?"


"Bukan aku yang keterlaluan, tapi kau, yang tega sekali padaku, bukankah kau tau Bima itu kekasih ku, lalu kenapa masih kau rayu dia,"


"Aku, tidak melakukan apa-apa, aku juga tidak tau akan menikah dengan nya, dia yang datang kerumah memintaku,'


"omong kosong!" Bima masih cinta padaku, lihat jika dia tidak mencintaiku, dia tidak akan perduli kan aku, tapi dia masih peduli dengan ku, ini lihat mana ada orang yang tidak cinta memberikan uang cek sebesar sepuluh juta, lihat kertas ini, Bima masih mencintaiku, jadi lebih baik kau bercerai darinya, Bima menikahimu itu hanya karena dia segan dengan Ayahmu yang kepala desa itu, jadi sadar dirilah kau,"


"Bima tidak seperti itu, apa yang kau katakan itu tidak benar," ucap Seila dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Sadar diri lah, kauuu.... !"bekas laki-laki lain,kau wanita kotor, tidak pantas kau bersama Bima jadi lebih baik segeralah kau bercerai darinya,"


Setelah mengucapkan itu Arina melangkah pergi, tinggalah Seila yang jatuh terduduk dengan berlinang air mata. Di tengah deru ombak perasaan yang sangat terluka telpon Seiila berdering, dengan masih terisak Seila meraih ponsel hapenya, terlihat jelas satu nama tertera di layar, Bima. Dengan cepat panggilan di matikan begitu juga dengan ponsel hapenya yang langsung di nonaktifkan.


*****


"Lho, kok langsung di matikan sih, apa masih menikmati makan sehingga tidak mau di ganggu, seharusnya sudah selesai kan sudah lama, mungkin ngak sengaja , coba aku telpon lagi.


"Maaf Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif,"


"Lho, kok, sekarang tidak aktif sih, ada apa ya?"masak batre nya habis Seila ngak suka main game tidak mungkin kalau batre habis lalu kenapa hapenya mati, jangan jangan marah karena ku paksa memakai baju pilihan ku, aduh kalau sampai ngambek gawat ini, aku harus cepat pulang, ngak enak dan nyesek kalau di cuekin istri," Keluh Bima dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2