
Laras seusai sarapan dengan Ibu Hasmi, lantas memandikan Angga dan bersiap mengantar Angga ke sekolah sebelum nantinya ia akan mulai bekerja di tempat makan Arin,
Tugasnya adalah membantu Ibu Hasmi memasak pesanan yang berupa tumis-tumisan dan juga berbagai macam gorengan,
Sementara untuk ayam bakar, iga bakar dan yang lain ada lagi yang mengeksekusi,
Hampir semua yang ada di rumah makan Arin diolah mendadak, hanya ayam saja yang untuk digoreng diungkep sejak malam sebelumnya, lalu masuk ke dalam kulkas untuk besok paginya,
Sementara untuk menu masakan lain disiapkan secara mendadak hingga rasanya masih segar, terutama sambal dan lalapannya, semua sengaja serba baru,
Mungkin inilah juga yang membuat rumah makan milik Arin cukup diperhitungkan oleh para penikmat makanan, maupun juga para karyawan kantor untuk memesan makan siang mereka,
Berpuluh-puluh nasi box setiap siang, bahkan kadang sampai seratusan lebih keluar dari rumah makan Arin untuk memenuhi permintaan pelanggan yang hampir dari seluruh sudut kota,
Baik itu dari pesan langsung dengan delivery dari pihak rumah makan, maupun mereka memesan lewat ojek online,
"Hari ini aku antar saja Ras, besok kamu bisa antar Angga pakai motor,"
Kata Arin yang sepertinya baru sampai dan langsung naik ke lantai dua untuk menemui Laras,
"Duh, merepotkan kamu terus Rin,"
Ujar Laras tak enak,
Arin menggeleng,
"Tidak sama sekali Ras, aku sekalian ingin bicara banyak, semalam aku ngobrol dengan Mbak Yuni dan Mas Kholis lewat telfon soal kamu,"
Kata Arin,
Laras membulatkan matanya,
Arin tertawa kecil,
"Jangan salah paham dulu, nanti aku ceritakan, tenang, semalam bukan ajang menggosipkan kamu kok,"
Laras mendengar Arin berkata demikian tentu jadi tersenyum,
"Aku tahu sejak dulu kamu tidak suka bergosip, aku hanya terkejut saja karena kamu sebut nama Mbak Yuni dan Mas Kholis, apa kabar mereka Rin? Lama sekali aku tidak pernah bertemu mereka ya,"
Laras tampak sudah selesai memakaikan sepatu di kedua kaki Angga, lalu perempuan itu berdiri berhadapan dengan Arin, sahabatnya,
"Kita saja baru bertemu, apalagi Mba Yuni dan Mas Kholis, kan?"
"Ah ya ya... Kamu benar,"
Laras jadi tertawa karena merasa bodoh dengan kata-katanya,
__ADS_1
Sedangkan Arin jadi kembali tertawa karena mengerti betul jika Laras sebetulnya sedang tidak terlalu fokus,
Arin pastinya sangat paham dengan kondisi Laras yang saat ini tidak bisa fokus baik dalam bicara maupun juga melakukan sesuatu,
Pertama kali tak tinggal bersama suami, keluar dari rumah mertua dan kemudian memilih tinggal di tempat baru,
Tiba-tiba harus menyiapkan rencana hidup yang berbeda lagi setelah sebelumnya yang ia siapkan pastinya adalah berumahtangga dengan bahagia, sudah barang tentu itu menjadi hal yang akan terasa sulit untuk setiap perempuan yang memutuskan menjauh dari pernikahannya yang sudah tak sehat lagi,
"Aku tunggu di mobil ya,"
Kata Arin kemudian, karena melihat Angga yang sudah siap pergi ke sekolah,
Laras mengangguk lalu pergi masuk kamar untuk berganti pakaian sebentar, merapikan rambutnya sekedarnya, lalu mengambil tas selempang yang sudah lusuh,
Tas satu-satunya yang ia miliki, yang ia beli terakhir kali saat ia masih bekerja,
Laras tak lupa mengambil dompet kecil tipis yang di dalamnya hanya tinggal uang sisa dari pemberian Temmi, adik iparnya,
Sisa dari belanja barang kebutuhan untuk di rumah mertuanya kemarin dan juga bayar ongkos taksi saat pergi dari rumah mertuanya menuju ke tempat Arin ini,
Sejenak Laras menghela nafas melihat lembaran-lembaran uang pemberian Temmi yang kini sudah berupa pecahan lima puluh ribuan dan juga uang-uang kecil sepuluh ribu dan lima ribuan,
Temmi, sejak awal Laras masuk rumah Yoga begitu mereka menikah, hanya Temmi yang memperlakukan Laras dengan baik,
Tak heran, jika Laras merasa jika Temmi sudah macam adik kandungnya sendiri,
Ah yah, semoga Temmi selalu dilindungi dan kelak bisa benar-benar bahagia. Batin Laras berharap tulus,
Laras lantas meraih hp miliknya yang sejak kemarin begitu sampai di tempat Arin ini, ia sengaja tidak aktifkan, karena Laras yakin, Yoga pasti akan menghubunginya lalu akan mengancam ini itu agar Laras mau kembali pulang,
Tidak, sudah cukup!
Sekali lagi Laras ingin dunia ini tahu, betapa ia sudah lelah sekarang dan ingin lepas dari semua beban rumahtangganya yang sama sekali tak membuatnya bahagia,
Laras memasukkan hp miliknya ke dalam tas selempang miliknya, ia berencana akan membeli kartu perdana baru nanti saat pulang mengantar Angga,
"Mama, nanti Angga ingin makan keripik kentang lagi yang seperti kemarin Ma,"
Kata Angga pada Laras begitu Mamanya itu keluar dari kamar,
"Oh yah nanti Mama belikan ya,"
Ujar Laras sambil meraih tangan kecil Angga dan menggandengnya menuju tangga,
"Yang rasa sapi panggang ya Ma,"
Ujar Angga,
__ADS_1
Laras mengangguk,
"Iya, Mama akan belikan keripik kentang dengan rasa sapi panggang yang Angga suka, yang penting Angga nanti di sekolah yang nurut sama Bu Guru ya, belajar yang rajin, kalau pulang, sebelum Mama jemput jangan ke mana-mana, tunggu Mama bersama Bu Guru, mengerti?"
Laras menatap Angga yang langkahnya menjajari langkah sang Mama,
Angga mendongakkan kepalanya, untuk kemudian tersenyum,
"Baik Ma,"
Sahutnya tanpa ragu,
Laras tersenyum lega,
Teringat ia akan kata-kata Ibu mertuanya yang selalu saja mengatakan Angga manja dan sulit diatur,
Mungkin benar Angga sedikit manja, tapi jika dibilang sulit diatur, rasanya terlalu dini mengatakan hal demikian pada anak-anak yang usinya saja masih lima tahunan,
Laras menuruni anak tangga sambil masih menggandeng Angga,
Di lantai satu, beberapa pelayan sudah mulai sibuk bolak balik untuk bersiap menyambut pengunjung tempat makan mereka,
Melihat Laras yang turun dari lantai dua bersama Angga, para pelayan tampak tersenyum lalu menyapa Angga dengan ramah dan hangat, hal ini tentu membuat Laras jadi terharu,
"Angga ayok salim sama Kakak-kakak,"
Kata Laras,
Angga pun menurut menyalami pelayan yang memang usianya masih terbilang belia karena kebanyakan baru lulusan dua dan tiga tahunan saja dari SMA,
"Pinter-pinter ya Dik Angga, nanti pulang main sama Kakak ya,"
Kata mereka,
Angga pun tentu saja mengangguk senang,
"Yuk semua, nganter Angga sekolah dulu ya."
Pamit Laras pada mereka,
"Ya Bu Laras, hati-hati di jalan,"
Kata mereka semua ramah,
Laras tersenyum, lalu kembali menggandeng tangan kecil Angga keluar dari tempat makan Arin menuju mobil yang terparkir di depan di mana Arin di dalamnya sudah menunggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1