
Bima berjalan dengan mengengam
tangan Seila. Sisa sisa cinta masih
menggelora dalam dada, membuat
hati Bima bersenandung riang.
"Ayo, masuk..!" ini warungnya," Ajak Bima
kepada Seila.
"Pengunjung nya cukup ramai, apakah
disini makanannya enak,"
"Ya, sangat enak, dulu aku suka datang kesini,"
Ucap Bima mantap.
Seila menatap Bima dengan Tatapan penuh
selidik.
"Sering kesini..!"Sama siapa ?"Tanya Seila.
Bima yang tidak sadar telah mengucapkan
kejujuran hati nya di buat salah tingkah,
pasalnya dia lagi binggung harus menjawab
apa, karena tidak mungkin kan, Bima harus
bilang dengan jujur, kalau dulu sering pergi
ke warung ini bersama pacarnya.
"Kenapa diam !"Bersama siapa kamu
datang kesini ?"Desak Seila meminta jawaban.
Bima menyunggingkan senyum nya yang
paling manis, untuk kali pertama nya Bima
akan bicara bohong pada istri nya, semua
dia lakukan agar Seila tidak marah.
"Sama teman lah, kadang kami bertiga
kadang juga berempat," Jawab Bima
bohong, Bima belum siap kalau bicara
Jujur untuk saat ini, bisa bisa suasana
yang lagi manis manisnya, lagi romantis
romantis nya bisa kabur dalam sekejap.
"Oh, kirain sama cewek,"
Mendengar kalimat ucapan dari Seila
membuat hati Bima tiba tiba serasa ada
bom atom yang lagi menghimpit dadanya
sehingga membuat nya terbatuk-batuk.
"Kamu kenapa?" kok tiba-tiba batuk begitu.
"Ngak, apa apa !"cuma ini, tenggorokan
tiba-tiba terasa kering,"
__ADS_1
"Oh, cepat kamu pesan makanan dan juga
minuman dari pada batuk mu ngak berhenti,"
Bima nyengir mendengar perintah istrinya.
Dalam hati Bima bergumam. "Smoga ngak di
tanya yang aneh aneh lagi.
"Kenapa masih bengong, ayo cepat pesan
sana," Titah Seila pada Bima.
"Eh, iya, sayang..! kamu mau makan apa ?"
"Di sini, yang paling enak apa ?"
"Wah, semua enak, dia saja selalu ketagihan
datang kesini untuk makan," Ucap Bima
Berbinar binar.
"Dia..?Dia..siapa ,"Tanya Seila curiga.
Menyadari telah salah bicara dengan cepat
Bima meralat omongan nya.
"Dia..! teman temanku,"Ucapnya sambil
sambil nyengir.
"Awas..!"kalau ketahuan bohong aku
tinggalkan," Ancam Seila.
Mendengar ucapan Seila yang seperti itu
tiba tiba Bima diam, tak berani lagi bicara
hafal dengan sifat istri nya yang satu ini.
Ucapan nya tidak pernah main main.
Ada sedikit rasa sesal kenapa mengajak
Seila ke warung ini, kini Bima sedikit
berhati-hatil agar tidak lagi salah bicara.
Bima memesan dua macam makanan
ada sate ada juga rujak cingur.
Tidak berapa lama Bima sudah kembali.
"Coba, cicipi, mana yang kau suka, sebentar
aku suapi sate dulu mau ?ini enak lho,"
"Ngak usah, aku makan sendiri saja ,"
Tolak Seila.
"Hmmm, ya sudah !"habis ini mau
mampir ke supermarket tidak ? untuk beli
keperluan Vira,"
"Ngak usah, langsung pulang saja aku
capek, entar malam nya saja kita kesana
sekalian kita bawa Vira,"
__ADS_1
"Emang, kamu bisa mengendong Vira ?"
"Ya, bisalah, aku kan ibunya,"
Bima tertawa mendengar ucapan Seila.
"Ibu nya..? Masak ada seorang ibu tapi
ngak pernah mengasuhnya,"
"Kamu juga, Ayahnya tapi tak pernah peduli,"
"Eih, aku lebih perduli dari pada kamu lah,"
Ucap Bima sambil tertawa.
"Tapi bagus juga sayang, kamu bawa Vira,
biar nanti kalau kita punya anak sendiri kamu
sudah pintar,"
"Idih, apasn sih, anak kita vira saja sudah
cukup,"Tukas Seila.
"Ya, ngak maulah, aku juga mau punya
anak dari darah daging kita sendiri,"
"Vira, kan anak orang,"Ucap Bima enteng.
"Berani bilang, sekali lagi Vira anak orang
jangan tidur di kamar, sono tidur di sofa
seperti biasanya,"
"Yaelah, galaknya, ya deh..!" Vira anakku,
aku juga sayang kok sama vira," Ucap
Bima menyakinkan.
Setelah membayar makanan Bima dan
Seila kembali ke mobil berjalan pulang.
Suara bunyi hujan yang rintik rintik
menjadi teman setia dalam perjalanan
pulang mereka.
pasalnya teman setia yang lagi duduk
di sampingnya sedang tertidur pulas
di bahunya. Bima Menghela nafas panjang
dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Hampir saja tadi keceplosan bicara tentang
Arina, jika Seila tau pasti akan marah
padanya, terlebih pertemuan nya dengan
Arina yang masih saja meminta cintanya
benar benar jangan sampai mereka berdua
bertemu, bisa terjadi perang badar nanti.
Keduanya sama sama keras kepala dan
sama sama tidak mau mendengar kan
__ADS_1
apa kata orang lain bagi mereka yang
benar hati dan pikiran mereka sendiri.