
Bondet menatap langit langit di atas
kapal yang sedang berlayar.
pikirannya begitu kalut sehingga
hatinya merasa kan, kesunyian yang
dalam. Sungguh suatu perasaan yang
belum pernah terlintas dalam angan
kini dirinya betul betul merasa menjadi
manusia yang paling sengsara di dunia.
Terlepas dari takdir kehidupan nya yang
penuh dengan luka.
Di usianya yang masih belia di mana
semua bersekolah dan bercengkerama
mesra dengan kasih sayang orang tua
bermanja dan bermain.
Tapi dirinya sudah harus bergelut dengan
dunia kekerasan keluar masuk penjara
sudah menjadi makanan empat sehat
lima sempurna dalam fase perjalanan hidupnya.
Hanya untuk menyambung hidup
dia selalu menjadi pengemis
mencuri merampok, terlahir sebagai
anak tanpa kasih sayang, sudah buruk
rupa buruk pula tingkah dan perbuatan
nya sungguh takdir yang pahit.
Jika saja takdir tidak mempertemukan nya
dengan Bima, mungkin sampai saat ini
dia akan tetap menjadi orang jahat yang
tidak berhati.
Pertemuan yang sangat dramatis dimana
ketika itu dia lagi tidak memiliki uang
untuk makan, di lihatnya seorang pemuda
duduk di warung kopi sedang mengeluarkan
dompet nya, dia yang lagi membutuhkan
dengan cepat merampas dompet itu.
lalu kabur pergi.
Tidak pernah di sangka sebelumnya
jika mangsanya kali ini, bukan sembarang
manusia, ketika itu dia sudah merasa aman
karena pemilik dompet tidak mengejarnya
sehingga dia bisa dengan leluasa kabur.
Namun ternyata dugaan nya salah, sang
pemilik dompet sudah ada di depannya.
Dalam kebinggungan hati dari mana
pemuda itu bisa sampai ada di depannya
sedangkan dia tidak melihat dia berlari
ternyata pemuda di depan nya memakai
motor dan mengambil jalan pintas lain.
Sebagai seorang pencuri dan perampok
yang sudah malang melintang bertahun
tahun Bondet tidak gentar melihat pemuda
di depannya dengan motor menghadang.
Dengan kekuatannya dia menyerang
pemuda itu, tapi ternyata pemuda itupun
memiliki kekuatan silat yang cukup bagus.
Dia yang selalu menang dalam segala
__ADS_1
pertarungan menghadapi sesama
brandalan kini belum ada tiga jurus dia
sudah di buat kwalahan.
Bondet berfikir pemuda itu pasti akan
membunuhnya atau membawanya kekantor polisi, tapi ternyata pemuda itu
hanya mengambil kembali dompet nya
dan pergi bahkan tanpa basa basi
pemuda itu meninggalkan uang satu
lembar berwarna biru, di samping nya
kala tersungkur jatuh.
Uang itu berjumlah lima puluh ribu rupiah.
Bondet tidak habis pikir kenapa orang yang
dia jahati justru bersikap baik padanya.
Ada sedikit rasa haru dan malu yang
tiba tiba menyeruak ke dalam kalbunya.
Hari itu dan kisah itu sudah berlalu,
Bondet pun sudah melupakan, dia kembali
ke dunia biasanya merampok dan mencuri
lagi.
Kali ini Bondet tergiur dengan tawaran
teman premannya. Ikut menjadi anak
buah seorang Mafia dengan imbalan
yang sangat fantastis, membuatnya
ikut bergabung, tapi takdir bicara lain
Bondet gagal dalam melakukan tugasnya
sang teman preman yang dia percaya
ternyata lebih memilih meninggalkan nya
disaat dia tertangkap, sangat tidak
mungkin bisa lolos dari maut meskipun
bela diri, karena musuh yang sekarang
ada di depannya adalah sebuah pistol
dengan peluru tajam yang sekali tarik
peluru itu pasti menembus jantung nya
dan tamatlah riwayatnya.
Satu orang temannya yang juga ikut
dalam tugas itu, dia juga telah meregang
nyawa, akibat timah panas tanpa ampun,
satu temannya lagi kabur.
Tinggalah Bondet sendiri menunggu
giliran untuk kematian nya.
Tidak ada yang terucap ketika itu selain
Aku berserah kepada sang pencipta.
Pada detik detik timah panas akan di
tembahkan musuh dan Bondet pun
menutup mata pasrah, tiba tiba ada
bayangan berkelebat dengan cepat
mendorong nya membuat dia terjatuh
Terjungkal hingga berguling guling.
peluru pertama gagal mengenai sasaran
Bondet selamat, namun sang penyerang
pembawa timah panas tidak berhenti disitu
dia terus menghujamkan pelurunya.
Kinii peluru itu menyerang dengan membabi
buta mengarah pada sang penolong.
Bondet masih ingat dengan jelas ketika
__ADS_1
sang penolong melompat dan bersalto berkali kali untuk menghindari timah panas.
Sampai pada detik akhirnya, sang penolong
menarik tangan Bondet dan mengajaknya
berlari, hingga pilihan terakhir di dorongnya
tubuh Bondet jatuh ke sungai yang kemudian
dia pun ikut terjun ke sungai.
Sedikit memiliki kemampuan renang
membuat Bondet mampu mengatasi
derasnya arus sungai.
Begitu juga dengan sang penolong
Dengan mudah bisa ke daratan tepi
Loloslah Bondet dari kematian.
Ketika dia mendekati sang penolong
untuk mengucapkan terimakasih
Bondet tertegun bahkan kaki terasa lemas
tak bertenaga ketika mengetahui siapa
orang yang telah menolong nya.
Ternyata sang penolong dan orang yang
telah menyelamatkan nyawanya adalah
orang yang pernah dia rampas dompet nya.
dan yang pernah memberikan uang lima
puluh ribu.
Dengan wajah tertunduk malu kala itu
Bondet mengucapkan trimakasih,
Dan berjanji tidak akan melakukan
kejahatan lagi. Di situlah awal mula persahabatan antara Bondet dan
Bima di mulai.
Kini hidupnya begitu tenang dan damai
selalu tersenyum bahagia dan ceria
Pertemuan nya dengan Bima benar benar
suatu Anugerah sang pencipta
Dunia tak selebar daun kelor.
Tapi kini hatinya meronta ronta ingin
sekali merasakan dan menikmati indah
nya sebuah cinta namun apa daya
dirinya tak setampan Arjuna.
Bondet tersenyum sendiri sambil
memejamkan mata.
Bima yang melihat keanehan diri Bondet
segera membangunkan nya.
"Ndet..! bagun ngapain loe senyum senyum
sendiri begitu, lagi kesambet ya ?"Tanya
Bima pemasaran.
"Ah, kak Bima ! jangan brisik aku lagi
mikir bagaimana bisa mendapatkan
cewek cantik, biar hidupku ini bisa
berwarna."
"Kalau mau dapat cewek cantik tuh,
kurusin dulu itu badan, dan sering
sering traktir cewek, pasti nanti
banyak yang Kecantol."
"wah..!ide bagus itu tapi bagaimana bisa
ngurusin bandan dengan cepat ya?"
"Sudah, itu kita pikirkan nanti, lihat kita
sudah hampir sampai, ayo bangun buka
__ADS_1
matamu, jangan molor saja.'Ucap Bima
menggingatkan.