Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.183.JELES


__ADS_3

Becik ke titik ala ketara, itulah pepatah Jawa yang sering di ucapkan orang orang Jawa yang mana yang baik akan terbukti dan yang buruk akan terbuka, becik ke titik ala ketara suatu kebaikan cepat atau lambat pasti akan terbukti dan yang buruk akan terbuka begitu lah yang kini terjadi pada Arina keburukan nya sudah terbuka, sesal, hanya itulah yang tersisa sekeras apapun mengejar cinta Bima dan dengan cara apapun jika Allah tidak menakdirkan untuk nya maka tak kan pernah bisa Bima menjadi miliknya dan cinta tak selamanya apa yang kita sukai apa yang kita ingin atau apa yang kita harapkan bisa menjadi kenyataan.


Arina terus terpaku pada kehidupan dirinya di masa lalu di mana semua dia abaikan, tidak ada yang indah dan bahagia selain cinta dan mendapatkan cinta dari Bima, ketidakrelaan melepas kepergian mantan kekasih membuat nya buta bahkan cinta tulus dari pemuda lainpun tidak terlihat oleh nya karena dia hanya fokus pada cinta Bima.


"Apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku bisa menghadapi Arya aku tidak bisa aku sudah cukup menyakiti nya, besok jika dia datang lebih baik aku harus bisa mencari alasan agar aku tidak bisa bertemu dengan nya, bukankah sangat memalukan jika aku masih mau menemuinya, aku sudah tidak punya harapan apapun yang tersisa hanyalah menghabiskan waktu di sini dan jika kelak tiba saat aku di bebas kan aku akan kembali ke kota asal ku, aku ingin melihat dan dekat dengan orang tuaku sudah lama aku meninggalkan mereka bahkan aku tidak tau bagaimana keadaan Ayah dan ibu ku, semenjak aku lari dari perjodohan itu." Arina mengusap wajahnya dengan kasar kemudian memejamkan kedua bola matanya mencoba menghilangkan semua beban dan kegundahan yang menghimpit hatinya.


Dua hari kemudian ..


Novi menyiapkan segala makanan di atas meja dan menunggu kedatangan Arya untuk makan bersama, suatu pekerjaan yang sering dia lakukan ketika dia berada di luar negeri saat menjadi perawat pribadi dari Arya.


Tak lama kemudian terdengar suara derap kaki menuruni tangga, Novi tersenyum bahagia ketika melihat Arya berjalan menuruni anak tangga dan berjalan ke arah nya.


"Tumben telat turun makannya, ayo kita makan."


"Maaf, Nov...!"kamu makan sendiri saja hari ini aku tidak makan di rumah, aku sudah ada janji dengan teman, jadi maaf ya."ucap Arya bukannya Arya tidak ingin makan tapi Arya sudah berencana ingin makan bersama istrinya di dalam penjara, bagi Arya makan dengan istri itu menyenangkan dari pada makan di rumah dengan orang lain yang hanya berjasa merawat nya karena bagaimanapun Arina itu istri sah nya dan seburuk apapun Arya tidak bisa membohongi dirinya sendiri dia sangat mencintai istrinya, Arya mengaggap apa yang di lakukan Arina hanyalah suatu ke khilafan dan Arya percaya dengan caranya suatu saat cepat atau lambat Arina pasti akan bisa merubah sikapnya.


Novi menatap kecewa pada punggung Arya yang tanpa menoleh padanya. Dengan kecewa


akhirnya Novi melakukan sarapan pagi sendiri.tiga bulan lebih menjadi perawat pribadi Arya sudah banyak menggalami peristiwa suka maupun duka tapi sampai detik ini hati Arya tidak terbuka sedikit pun untuknya, ada rasa kecewa sedih dan marah semua berbaur menjadi satu.


Selama itu bersama selama itu hari dan waktu di lewati berdua, kini bagaikan orang asing lagi.


Novi menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan kebersamaan dan kedekatan di antara mereka hanya bisa terkikis dengan waktu cuma dua hari saja, itupun ketika mereka berada di sini di tempat ini, Novi segera menghabiskan makanannya, hati ini Novi masih ingin menemui Arina pertemuan kemarin yang sangat singkat membuat nya belum cukup di mana banyak hal yang ingin dia bicarakan.


Sementara Arya yang dalam perjalanan segera menuju tempat yang sudah di tentukan oleh Jack di mana hari ini dia akan bertemu dengan


Bima, semakin cepat semakin lebih baik agar Bisa dengan cepat pula Arina bisa di bebaskan, restoran mawar indah itulah tempat yang telah di tentukan sebagai tempat pertemuan antara dirinya.


Sampai di tempat tujuan Arya langsung memesan secangkir kopi panas.


Di sisi lain Bima meminta ijin kepada ibu angkat nya Seila untuk pergi keluar hari ini.

__ADS_1


"Nak, Bima, beneran mau keluar hari ini?"


"Iya, Bu sudah janji."


"Nanti pulang ke sini atau langsung ke rumah Nak Bima."


"Mungkin ke sini Bu."


"Baiklah hati-hati ya ?


"Trimakasih, Bu, saya pergi dulu."ucap Bima seraya mencium tangan sang ibu angkat.


"Tunggu...!"


Dari dalam dapur Keluar lah Seila dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kak Bima mau ke mana?"tanya Seila yang tanpa Seila sadari pertanyaan nya membuat sang Ibu Angkat terkejut pasalnya Bima Adalah Boss nya Kenapa hari ini dia memanggil nya Kak dan seakan akan di antara mereka ada hubungan.


Membuat Seila Mengeryitkan dahinya.


"Tidak sopan bagaimana Bu! aku kan sudah memanggil Kak apanya yang salah."


"Nduk, Pak Bima itu Boss kamu seharusnya kamu memanggil nya dengan Pak bukan Kak."


ucapan dari sang Ibu membuat nya menyadari betapa tadi Seila sudah salah bicara sedangkan Bima cuma senyum senyum menyadari ke bablasn ucapan dari Istri nya.


"Udah, jujur saja kenapa, bilang tuh sama ibu angkat kamu kalau sebenarnya aku itu suami mu dan sebenarnya namamu Seila ayo cepat. bilang, biar nanti malam aku bisa tidur di kamar mu tanpa mencuri curi waktu seperti pencuri nunggu semua orang di rumah tidur, baru bisa tidur satu ranjang dengan istri." Gumam Bima dalam hati.


Melihat Bima senyum senyum sendiri Seila menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Jangan menghayal terlalu tinggi, aku ngak bakalan bikin IBu syock dan harapan kamu yang ingin aku menggakui semua nya, maaf Kak Bima sayang ini belum waktu nya."Gumam Seila yang juga bicara dalam hati dengan tersenyum smrik.

__ADS_1


"Oh maaf Bu iya, ini tadi salah ngomong, Maksd Ningsih Pak Bima begitu," ucap Seila seraya menatap wajah tampan di depannya yang tiba-tiba berubah layu membuat Seila terkekeh dalam hati, lucu juga jika melihat suaminya kesal dan ngambek.


"Bu, saya pamit dulu..!"


"Tunggu, Pak Bima aku ikut."


"aduh maaf Ning, Bapak Boss lagi ada acara hari ini ketemuan sama orang jadi Ningsih di rumah saja, biar ngak ngaggu, ini pertemuan penting."


Mendengar Bima bicara begitu langsung saja netra indah milik Seila membulat seketika.


"Apa? mengaggu, memangnya Bapak mau janjian sama siapa. cewek apa cowok, kenapa pula bilang mengaggu."


Bima tersenyum menyeringai


"Kena kau...!asik juga melihat kejelasan mu."desis Bima dalam hati.


Mendapati Bima yang lama belum menjawab, Seila menjadi gusar dan tak sabar


"Di tanya bukannya menjawab tapi justru senyum senyum, janjiannya sama cewek apa cowok.,"


"Menurut mu bagaimana?" goda Bima yang rasanya suka dan senang mendapati istrinya yang kepo dan jeles.


Seila mengkrucutkan bibirnya.


"Ya, masak aku ngak boleh numpang mau ke supermarket Sebentar dari pada Naik angkot, punya Boss kok pelit."


Mendengar ucapan dari istri nya Bima langsung mendelik dengan sempurna.


"Gawat Nih, mulai ngambek beneran Nanti malam Alamat ngak di bolehin tidur satu Ranjang kalau aku tidak menggalah." desis Bima dalam hati." Baiklah, ayo aku antar tapi nanti pulang nya naik Taksi ya, kan aku ada janji."ucap Bima kemudian.


"Iya..! jawab Seila ketus yang dengan cepat langsung berlari ke mobil dan membuka pintu belakang dan duduk dengan bersilang dada sementara Bima dengan santun berpamitan pada ibu angkat dengan mencium tangan nya.

__ADS_1


__ADS_2