
Semalaman Laras pun tak bisa tidur karena sibuk mengira-ngira apa sebetulnya hal penting yang akan dibicarakan saudara Arin,
Laras juga sibuk memikirkan untuk mengunjungi rumah orangtuanya dan juga makam Yoga nantinya,
Laras menatap Angga yang tertidur pulas di sampingnya, anak satu-satunya itu seharian ini bahkan sama sekali tak sempat ia temani bermain, bahkan makan pun ia bersama Kiki, salah satu karyawan rumah makan yang sudah macam adik Laras sendiri meskipun mereka baru saja kenal,
Laras mengusap kepala Angga dengan lembut, sisi hatinya begitu pedih, memikirkan di usia Angga yang sedemikian muda, sudah harus mendapati dirinya menjadi seorang anak yatim,
Meski, selama ini ia pun tak pernah dekat dengan Ayahnya, namun toh pastinya tetap saja, kehilangan sosoknya di usia yang sangat muda tetap sebuah kesedihan bagi seorang anak,
Waktu berlalu malam itu di kamar Laras seolah begitu lambat, Laras merasa ia tengah meniti setiap detik hingga ia benar-benar kelelahan dan kemudian tertidur entah di jam berapa,
Yang jelas, Laras kemudian bangun keesokan harinya begitu Angga membangunkannya karena ada Arin yang memanggil Laras dari depan kamar,
"Astaga,"
Laras begitu terkejut saat melihat jam dinding kamar yang menunjukkan angka delapan lebih,
Laras yang kemudian mendengar suara Arin, cepat-cepat ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamarnya untuk membuka kuncinya,
"Kamu sakit Ras?"
Tanya Arin langsung, saat akhirnya pintu kamar terbuka,
__ADS_1
Laras menghela nafasnya, ia mengusap wajahnya,
"Aku benar-benar tidak tahu hari sudah sesiang ini, maaf,"
Kata Laras benar-benar merasa tak enak hati,
Tentu ia sebetulnya sangat malu pada Arin, hidup numpang, bahkan ia juga harusnya bekerja, malah bangun kesiangan,
"Tidak apa-apa Ras, dari kemarin kata Ibunya Hasmi juga kamu sebetulnya kelihatan tidak sehat tapi memaksakan diri bantu yang lain mengurus rumah makan, aku juga baru mendingan ini, dua hari badan sama sekali tidak sehat,"
Kata Arin yang lantas berjalan menuju set kursi di ruangan depan kamar di mana di sana ada TV,
Angga, tampak ikut turun dari tempat tidur, lalu memeluk Mamanya dari belakang,
Ujar Arin,
Mendengarnya Laras tampak menggeleng,
"Tidak Rin, tidak apa, aku mandi dulu sebentar, sekalian memandikan Angga,"
Kata Laras,
"Baiklah, aku juga belum sarapan, setelah mandi, kamu dan Angga temani aku sarapan ya,"
__ADS_1
Ujar Arin,
Laras pun tampak mengangguk,
Laras lantas berjalan menuju kamar mandi yang ada di lantai itu sambil menggandeng anaknya,
Arin menatap sahabatnya, ia sungguh merasa kasihan dengan Laras,
Ah, benarlah memang masa depan tak ada yang pernah tahu,
Padahal dulu, Arin pikir, Laras akan sukses karena dia selalu rangking saat sekolah, bahkan dia berturut-turut menjadi siswi teladan,
Sayangnya, satu pilihan salah dalam hidup membuatnya malah jadi kesulitan seperti sekarang, meskipun pastinya di setiap skenario Tuhan selalu terdapat hikmah,
Hingga, tak lama kemudian, Laras pun tampak keluar dari kamar mandi bersama Angga dan tergesa menuju kamar untuk ganti pakaian,
Arin sendiri di set kursi depan TV tampak sedang sibuk menerima telfon entah dari siapa,
"Angga, nanti setelah maem, Angga mainan sendiri di kamar ya, Mama akan ada tamu dan ada hal penting yang harus dibicarakan,"
Kata Laras,
Tampak Angga pun mengangguk mengerti.
__ADS_1
...****************...