
Seorang pemuda yang mendapat teguran dari Bima pun hanya bisa menunduk dan meminta maaf.
"Maaf pak!saya tidak akan mrnggulangi nya lagi, maafkan keteledoran saya."
"Baik, sekarang pergi lah," Seru Bima pada laki-laki yang bertugas membersihkan lantai, dengan perlahan dan pasti Bima melangkah mendekati Arina yang diam diam hatinya lagi berbunga-bunga dan tersenyum bahagia, ternyata sang mantan kekasih masih perduli.
"Kau tidak apa-apa kan?"
Arina mengagguk dengan wajah tersipu malu, sungguh perhatian yang tidak ada seujung kuku tapi mampu membuat hatinya begitu melayang layang.
"Mau apa kau menggikuti ku?"
"Aku mau bertemu Seila aku ingin minta maaf dan mengguncapkan trimakasih padanya."
Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Aku rasa tidak perlu, kembalilah dan berkemas lah mana barang barang mu yang mesti di bawa, kembalilah karena aku juga ingin segera pulang."
"Bima...!" lirih Arina di sela sela langkah kaki Bima yang berjalan
"Ya, ucap Bima datar tanpa menoleh ke arah Arina.
"Trimakasih..!"
"Hmmmm .!
"Bima...?"bisakah kita menjadi teman dan kau memaafkan ku."
"Aku tidak tau, sudah lah jangan menggikuti ku aku mau pulang dan aku tidak mau istrit ku melihat mu apalagi melihat kita berdua"
Arina tertawa hambar.
"Kau sangat mencintai istrimu ya."
"Tentu saja!
"Tapi kau juga perhatian padaku itu artinya kau juga memiliki rasa padaku kan?
Perkataan Arina yang ngawur membuat Bima menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arahnya menatap tajam manik mata gadis yang ada di depannya.
"Hentikan omong kosong mu ketahuilah apa yang kulakukan sekedar rasa kemanusiaan jadi jangan berfikir macan macam dan stop menggikuti ku aku tidak mau istriku melihat mu apa kau mengerti!'
Arina tersenyum kecut mendengar perkataan dari Bima, meskipun hatinya tidak suka mendengar Arina berusaha tetap tersenyum dan menerima Arina sangat yakin sikap kemanusiaan yang Bima katakan hanyalah sebuah topeng penutup dimana jika sesungguhnya suasana hati Bima dia juga sangat menyayangi dirinya.
Setelah Tubuh Bima sudah jauh tak terlihat Arina kembali masuk ke dalam dimana dia di tahan untuk berkemas.
Sementara Bima sudah sampai di tempat parkir di mana terdapat mobil dan istrinya di sana, Seila yang melihat Bima sudah berjalan mendekati mobil cepat cepat Seila berpura-pura untuk tidur.
Tidak menunggu beberapa lama terdengar suara pintu mobil di buka dari luar tak lama kemudian Bima masuk ke dalam mobil dan di lihatnya Seila sedang tidur Bima tersenyum melihat istrinya tidur dengan pulas, perlahan lahan Bims mulai mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang Bima tidak ingin tidur istrinya terganggu dengan laju mobil yang begitu cepat bagaikan kuda yang sedang berlari.
Seila yang sedang berpura-pura tidur merasa sangat kesal karena laju mobil bagaikan keong yang lagi berjalan sangat lambat dan super pelan, tanpa sadar Seila mendenggus kesal hal itu membuat Bima menoleh.
"Sayang kamu terbangun ya! maaf kupikir aku sudah menjalankan mobil ini dengan sangat pelan tapi ternyata masih keras juga hingga membangun kan mu."
__ADS_1
"Siapa juga yang tidur dan laju mobil ini benar benar bagaikan keong lapar yang sedang berjalan." Gumam Seila kesal dalam hati.
Melihat istrinya tak bicara apapun Kembali Bima berucap.
"Sayang kita pulang kemana?
"Tentu saja ke rumah ibu angkat, memang mau kemana lagi."jawab Seila dingin tanpa mau menoleh sedikit pun pada Bima suaminya.
Bima sedikit tersentak kaget ketika menyadari betapa sinis nya ucapan sang istri
Bima mengeryitkan dahinya menatap istrinya dengan penuh tanda tanya sedang Seila memilih membuang muka, hatinya masih mendidih terlebih menggingat betapa perhatian nya suaminya pada gadis yang bernama Arina.
Merasa jenggah di pandang dan di tatap suaminya Seila pun bicara.
"Ngapain sih melihat begitu cepat ayo pulang aku capek jenuh dari tadi di suruh menunggu percepat laju mobilnya jangan seperti keong begini." dengus Seila kesal.
Bima yang sempat terlintas pikiran negatif Tersenyum lega pasalnya Seila cuma menggeluh lama menunggu, Bibir pemuda tampan itu akhirnya tersenyum di mana dalam beberapa detik di landa rasa was-was, takut jika sampai Seila melihat kemanjaan dan sikap Arina kepada nya.
"Oh, jadi kesal karena jenuh maaf sayang baiklah aku akan mempercepat laju mobil ini agar kita bisa cepat sampai dan kamu bisa cepat beristirahat.
Hanya memakan waktu dua jam perjalanan akhirnya Seila dan Bima sudah sampai di depan rumah milik ibu angkat Seila. Dengan langkah sedikit berburu buru Seila langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah, sementara Bima yang melihat ulah Seila hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ngatuk dan capek yang dalam barang kali hingga sampai segitunya." lirih Bima yang mana netranya menggikuti langkah kaki Seila. pandangan mata Bima berhenti di depan pintu sudah berdiri ibu Seila dengan senyum mengembang di bibir.
"Maaf Bu kami datang terlambat!" seru Bima merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Nak Bima masuklah."
Dengan sedikit membungkuk sebagai tanda hormat Bima masuk ke dalam menuju kamar tamu namun ketika hendak masuk sang Ibu pun berteriak.
"iya Bu, kan biasanya saya tidur di ruang tamu,"
Ibu Ningsih terkekeh mendengar penuturan dari Bima.
"Itu kan dulu, beda dengan sekarang nak Bima, Ningsih kan istri Nak Bima kenapa tidurnya harus di ruang tamu." Bima yang tak menyangka ibu Ningsih mengerti jika Ningsih adalah istrinya sedikit terkesiap.
"Dari mana Ibu tahu kalau Ningsih itu adalah istriku," tanya Bima penasaran.
"Nak Hendarto kemarin datang ke sini dia menceritakan semuanya Kalau Ningsih sebenarnya adalah Seila istri dari Nak Bima, Ibu tidak mengerti sama sekali Kenapa kalian sudah mengerti jika kalian itu sepasang suami-istri kenapa diam saja, kenapa tidak bercerita kepada ibu sehingga menyuruh Nak Bima tidur di ruang tamu.
Bima terkekeh mendengar ucapan dari Ibu Angkat Ningsih.
"Kan Seila sayang dengan ibu dia mau menjaga perasaan ibu takut dan khawatir kalau ibu syok mendengar penjelasan dari kami jadi kami sepakat merahasiakan nya."
"Wah benar benar Nak Bima suami yang sangat pengertian, sekarang Nak Bima dan Ningsih maksud ibu dengan Nak Seila kalian tidak perlu berpura-pura lagi karena kami sudah tau."
"Iya, Bu ! trimakasih atas pengertiannya.
"Kalau begitu cepat buat kejutan buat istrimu jika Nak Bima mulai saat ini boleh satu kamar dengan Seila."
"Baik, Bu,!"
Dengan bersemangat Bima langsung membawa tas ransel berisi pakaiannya menuju kamar Seila, tanpa mengetuk pintu Bima masuk dan membuka pintu kamar membuat Seila yang ketika itu sedang berganti baju sedikit kaget.
__ADS_1
"Kak, Bima! kenapa langsung masuk sih harus nya ketuk pintu dulu aku kan lagi ganti baju."
"Memangnya kalau kamu lagi ganti baju kenapa kamu kan istri ku jadi tidak masalah kan,"
"Ini bukan di rumah kak, ini Rumah ibu jadi jaga sikap kak Bima jangan sembarangan lalu ngapain juga tuh ke sini nenteng baju segala, mau pindahan apa? bawa balik tuh baju sebelum Bapak dan Ibu tau."
Bima terkekeh.
"Biarin saja mereka tau, aku sudah capek bersandiwara pura pura menjadi orang lain sedangkan engkau tau aku itu suamimu." ujar Bima pura pura cuek dengan keadaan padahal sesungguhnya nya Bapak dan Ibu Ningsih yang menyuruh karena mereka tau jika Bima suami dari Ningsih.
"Keterlaluan sekali sih sudah bikin emosi orang tapi ngak ngerti, sekarang mau cari masalah saja, ngak pokonya Kak Bima harus pergi," seru Seila dengan mendorong tubuh Bima agar keluar dari kamar.
"Sayang jangan didorong-dorong nanti aku jatuh."
"Perduli Siapa suruh bikin kesal dan sakit hati." "Kapan aku bikin kesel dan sakit hati"
"Tuh...! gak ngerasa kan, orang kamu suruh menunggu eh kamunya enak-enakan lagi bercanda dan bercengkrama berdua gitu nggak merasa."
Bima terkekeh mendengar perkataan istrinya Oh jadi kamu lihat semuanya.
"Tentu saja, aku punya mata sudah pasti melihat."
."Tapi apa yang aku katakan dan apa yang kamu lihat tidak sama dengan yang aku rasakan Aku hanya bersikap berperilaku seperti manusia lainnya saja, semua tidak lebih dari rasa perikemanusiaan itu saja."
"Peduli..! pokoknya keluar dari kamarku sekarang juga," handrik Seila pada Bima hatinya masih sangat kesal dan marah ketika tubuh Bima terdorong tampak Ibu Ningsih sedang berdiri di depan pintu.
"Ibu..!
"Apa yang kau lakukan Nak, mengapa Kau mendorong Nak Bima "
"E..Ng dia..
"Dia itu suamimu nduk jadi wajar dan tidak masalah kalau Nak Bima ingin tidur disini,"
"IBu....!dari mana Ibu tau kalau ....
Seila tidak melanjutkan ucapannya karena Ibu Ningsih sudah menyela pembicaraan.
"Nak Hendrato yang menjelaskan semuanya." Tutur IBu Ningsih kalem. Jadi Biarkan suamimu tidur disini, masuklah dan Taruh baju Nak Bima di Almari."
"Baik, Bu!ucap Bima sambil mengedipkan sebelah matanya pada Seila yang mendelik ke arahnya.
"Ningsih, Bima Ibu pergi dulu,"
"Baik, Bu!
Setelah Kepergian Ibu Ningsih Bima mulai memasukkan semua baju yang ada di dalam tas Ransel nya ke dalam Almari."Alhamdulillah nanti malam bisa olah raga Nih, boleh kan sayang."seru Bima sambil menatap nakal pada istrinya.
"Ngomong apaan sih, ngak beretika amat."
"Lho ...ini sudah beretika sayang dari pada loss minta jatah."
Seila yang masih kesal dengan suaminya tak mau menggubris lagi dengan cepat Seila keluar kamar.
__ADS_1
"Yeaaah....pala kabur," seru Bima sanbil terkekeh memandang gemas istri kesayangan yang lagi ngambek.
.