
Di dalam gelap malam sebuah mobil berhenti di depan sebuah restoran ternama, mereka adalah keluarga Bima, yang sedang makan malam di luar.
Bik Inah yang tidak terbiasa makan di luar sedikit csnggung dan merasa kurang nyaman di mana banyak pasang mata melihat ke arah mereka.
"Non, Bik Inah, tunggu di dalam mobil saja ya Non, ngak enak di sini,"
"Tenang, saja Bik, jangan perduli kan mereka anggap saja mereka tidak ada, sini biar Vira aku yang gendong,"
"Tapi, Non!"
"Sudah,ayo, ikut,"
Dengan terpaksa Bik Inah menggikuti Seila, Bima yang melihat Seila mengendong Vira, tersenyum simpul.
"Sayang, kamu sudah cocok deh kayaknya kalau punya anak sendiri, Nanti kita ngebut aja ya biar cepat jadi," ucap Bima mengoda.
Membuat wajah Seila berubah merah dengan cepat kuku panjang mendarat sempurna di lengan Bima.
"Ngomong apaan, sih!" malu tuh di dengar orang."
Bima terkekeh kecil, seraya pergi ke depan untuk memesan makanan. Acara makan yang cukup menyenangkan bagi Seila karena ini kali pertama dia pergi bersama dengan Vira anak angkatnya dan Bik Inah, kebahagiaan yang Seila rasakan tidak sama dengan apa yang di rasakan Bima malam ini, Seila sibuk dengan Vira dan Bik Inah sehingga dirinya kerap kali di abaikan hal itu membuat Bima serasa kurang bahagia pasalnya Bima tidak bisa bermesra mesraan dengan istri tercintanya.
******
Menjelang pukul 11 malam ponsel Arina berbunyi, Arya yang sudah terlelap dalam mimpi tidak mendengar ada telpon masuk, dengan perlahan lahan, Arina mengecilkan volume suaranya, agar tidak mengaggu Arya yang sedang tidur.
"Halo, Nov, ada apa?" malam malam telpon."
"Sudah dapat infonya, aku kirimin gambar nya lewat WA ya, besok baru akan ada kiriman surat untuk mu berisi foto orang yang kamu cari,"
"Apa, sudah, ketemu?" tanya Arina tak percaya,"
"Ya, sudah,"
"Ok, cepet kirim aku sudah tidak sabar lagi nih,"
"Sip, tunggu ya,"
"Ting....!"
__ADS_1
"Ting..!"
"Ting..!"
Tiga pesan masuk dari dalam ponsel Arina, dengan hati berdebar debar dan dengan rasa yang tidak sabar Arina membuka pesan yang masuk, seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya Arina mrngerjap ngerjapkan matanya bahkan mengucek beberapa kali.
"Bukan kah, ini, Seila! apa para detektif itu tidak salah info apa ya, masak sih istrinya Bima itu Seila?"
Arina menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, pikiran dan hatinya masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, dalam gelap malam Arina tidak bisa sedikit pun memejamkan matanya, pikiran nya terus melayang layang menunggu esok pagi segera datang seakan sangat lama.
"Jika benar Istri Bima itu Seila itu artinya wanita licik itu telah menjebaknya, kurang ajar sekali dia, awas saja,"Gumam Arina dalam hati yang sesekali di atas ranjang tempat tidur yang di sampingnya ada Arya yang sedang tertidur pulas Arina meninju udara meluapkan kekesalannya.
Cahaya sinar mentari pagi mulai muncul, Arya yang sudah bangun lngsung membuka jendela agar udara pagi bisa masuk, Arina yang semalaman hampir tak bisa tidur karena otaknya selalu berfikir benar tidak nya istri Bima itu Seila, pada saat menjelang pagi baru tertidur, udara pagi yang menerobos masuk menusuk kulit sum sum membuat Arina mendekap erat selimutnya.
"Arina!" sudah siang ayo, bagun, bikinin aku sarapan," Seru Arya.
"jangan ganggu, aku masih ngantuk, kalau mau sarapan bikin saja sendiri, rebus mie dan telur kan bisa," ucap Arina cuek.
Melihat sikap Arina, yang tidak perduli membuat Arya garuk garuk kepala, tanpa bicara lagi Arya segera pergi dari kerja, Arya memilih makan di kantor saja. Suara deru mobil meninggalkan rumah sudah terdengar itu artinya Arya sudah tidak ada di rumah, Arina bergegas bangun dan membersihkan diri, dengan harap harap cemas Arina menunggu surat yang akan datang ke rumah. Tidak menunggu berapa lama yang di nantikan tiba,
Setelah menandatangani, penerimaan pesan
"Jadi istri Bima benar benar Seila?" kenapa jadi begini, aku harus bicara sendiri aku ingin tau, apakah benar semua ini,"tekad Arina dalam hati.
*****
Mentari Pagi yang bersinar terang membuat Seila ingin melakukan aktivitas olahraga pagi, dengan baju olahraga Seila sudah bersiap berangkat keluar rumah, tapi langkah nya terhenti ketika Bima memanggilnya.
"Sayang, tunggu!" aku juga mau olahraga,"ucap Bima seraya menganti bajunya dengan baju olahraga.
"lho, kok mau olah raga, sih kak, memangnya kak Bima ngak kerja?"
"Hari ini, bolos, aku mau menemani olah raga istriku,"
"Apaan, sih, kerja sana, masak ngak ada acara apa apa bolos,"
Bima mendekati Seila yang sedang berdiri, langkah kaki Bima yang semakin mendekat membuat Seila mundur dan terus mundur karena Bima terus mendekat sampai akhirnya
Seila tersudut ke dinding yang tak mungkin lagi bisa membuat nya mundur.
__ADS_1
Melihat Bima yang terus saja maju mendekat Seila sedikit panik.
"Kak Bima!" kau mau apa?"
"Minta kiss pagi," ucap Bima enteng.
"Semalam kan sudah,"
"Masih mau, lagi, masih kurang,"
"Apaan, sih, ini sudah siang nih, aku mau cari udara pagi,"
"Sebentar, saja, sayang, boleh ya,"
Seila yang juga sudah memiliki rasa cinta kepada suaminya dia tak lagi mampu menolak di biarkan saja Bima melakukan apa yang dia suka. Dalam beberapa detik bibir ranum Seila sudah di sesapnya dan dinikmati Bima bagaikan menikmati lembut dan dinginnya es krim.
Bima selalu menepati janjinya, jika bilang sebentar pasti cuma sebentar, Bima memberikan kecupan kecil di bibir yang selalu mengodanya, setelah merasa cukup puas di lepaskan nya bibir ranum yang selalu membuat nya kecanduan.
"Ayo, sayang kita berangkat,"
Seila menggikuti langkah kaki Bima dari belakang.
Joging dan berlari lari kecil sudah menjadi kebiasaan Seila tapi tidak untuk Bima, untuk urusan olah raga Bima paling malas tapi demi bisa selalu bersama dengan pujaan hatinya, Bima rela melakukan semua. Belum juga satu jam Bima sudah terlihat jenuh dan bosan yang membuat nya memilih duduk di dekat pohon rindang, Bima lebih asik melihat memperhatikan Seila yang sibuk berolahraga,
Bima mengeryitkan dahinya ketiika dia melihat Seila berlari menjauh.
"Wah, aku di tinggal ini,"Gumam Bima khawatir.
"Seila..!"tunggu, Bima segera berlari menghampiri, sedangkan Seila yang di Panggil berhenti dan menoleh ke arah Bima.
"Ngapain kak Bima ikut ke sini ?"katanya capek,"
"Iya, capek, tapi kenapa aku di tinggal?"
"Itu, kak!"aku mau ngejar penjual es Doger,"
"Oh, jadi berlari kencang ini tadi hanya mau ngejar es Doger,"
Seila tersenyum dan mengangguk
__ADS_1
"Tunggu, di sini!" aku yang belikan," tanpa menunggu jawaban Bima berlari menuju si penjual es Doger kesukaan Seila.