
Lemparan pisau yang di berikan Seila dengan cepat di tangkap Bima, segera dia pergunakan untuk menangkis beberapa kali serangan dari salah satu pemuda itu.
Seakan tak merasakan sakit dan perihnya akibat goresan pisau, Bima justru bersemangat mendengar teriakkan dari Seila, semangatnya cepat naik dan berkobar di dalam dada, tak ada lagi rasa ragu dan merasa tidak enak, karena Atraksi yang dia lakukan berubah menjadi pertarungan yang nyata.
Kedua kakak beradik yang mampu menggores kan pisaunya ke dalam lengan dan dada bidang Bima, tersenyum dengan penuh kemenangan, mereka sangat yakin lawan nya akan segera mampu dia lumpuhkan dan uang hasil Atraksi bisa mereka rampas dan bawa pergi.Senyum penuh kemenangan tersungging dari bibir kedua kakak beradik itu, serangan demi serangan yang tadinya sengaja tidak Bima tanggapi kini dia melawan dan menangkis semua serangan yang datang menghujam jika tadinya ini hanyalah sebuah Atraksi kini telah berubah menjadi pertarungan yang nyata, tidak lagi Bima akan mengalah, kini kedua orang yang sengaja datang menyamar menjadi bagian dari kelompok mereka, harus segera dia buka kedoknya, agar semua yang menyaksikan Atraksi itu tau, ini bukanlah sebuah Atraksi biasa, tapi ini adalah pertarungan yang nyata.
Kedua kakak beradik semakin gencar melakukan serangan mereka memasang kuda kuda untuk penyerangan berikutnya, sementara Bima kini sudah siap menghadapi keduanya, darah yang menetes dari lengan dan dadanya tak lagi dia perduli kan rasa sakit dan perih, Bima abaikan, kali ini dia bertekad akan segera mengakhiri permainan mereka berdua.
Ketika pisau dari salah satu di antara mereka hendak kembali menyentuh dan mengores kulit putih Bima, dengan sigap Bima menangkap tangan salah satu diantara mereka kemudian satu tangan Bima memberikan pukulan telak pada tangan pemuda itu sehingga jatuh terpental lah pisau yang ada di genggamannya.
Melihat saudaranya terdesak dengan cepat pemuda satunya menghujamkan pisau ke punggung Bima, Namun belum sampai pisau itu melayang dekat ke punggung Bima, dengan cepat Bima melakukan tendangan kaki sehingga saudara dari pemuda itu terhuyung ke belakang, posisi Bima bagaikan sebuah kapal yang mana kedua tangan nya mencengkram krah leher saudara pemuda itu dan kaki lurus ke belakang memberikan tendangan kepada salah satu lawan nya lagi. Dalam posisi terjepit pemuda yang Krah nya di cengkram Bima berusaha melepaskan diri dengan memberikan tendangan kaki menyapu bawah agar mampu menendang kaki Bima, akan tetapi semua itu nihil tanpa hasil karena Bima justru dengan cepat mendorong nya jatuh ke tanah. Dengan suara tidak terlalu keras Bima bertanya.
"Siapa kau?"kenapa kau mengagguku,"
"Siapa, aku, itu tidak penting, yang jelas, cepat serahkan dan berikan semua uangmu,"
Bima tersenyum miring mendengar kan ucapan laki-laki itu.
"Enak, saja, menyerahkan padamu, kau pikir siapa kamu berani menyuruh ku,"
"Kau, tidak mau memberikan?"
"Tentu saja tidak,"ucap Bima tegas.
Mendengar perkataan Bima, laki-laki itu, segera melakukan serangan dengan melilitkan kaki sehingga Bima kehilangan keseimbangan dan jatuh di tanah dengan cepat pemuda itu merubah posisi, kini Bima yang ada di bawah dengan kedua tangan pemuda itu berada di bahu dekat dengan leher Bima, sambil mencengkram dengan kuat kini satu tangannya di angkat keatas hendak memberikan pukulan kepada Bima, suara hiruk piuk para penonton semakin keras semua di buat panik dan tegang begitu juga dengan Seila, wajah nya pun ikut tegang melihat jalannya Atraksi yang kini telah berubah menjadi pertarungan yang nyata.
Bima yang menyadari dirinya akan menerima pukulan dengan cepat menggumpulkan kekuatan tenaga dalam Bima memberikan serangan dengan lilitan kaki yang cukup kuat sehingga mengunci gerakan dari sang pemuda, sehingga gerakan nya, tak lagi mampu mempertahankan keseimbangan sehingga kini dirinya terjatuh, hal yang amat sangat menguntungkan bagi Bima untuk menjatuhkan lawannya, hanya sekali tekan sang pemuda jatuh sehingga posisi menjadi berubah, yang tadinya Bima berada di bawah kini sang pemuda yang berada di bawah, dengan beberapa kali pukulan tangan sang pemuda pun sudah tak berdaya, Bima bangkit dan mencengkram sang pemuda dengan kuat.
"Ampun...jangan pukul lagi!"
"Cepat pergi dari sini atau aku laporkan polisi kalian."
"Jangan, ba...baik, kami akan pergi,"
Kedua pemuda itupun akhirnya memilih pergi kabur, sementara para penonton mulai kembali ke tempat mereka masing-masing, bapak tua yang ketakutan pun kini bernafas dengan lega.
__ADS_1
"Kau hebat, Nak!"bisa mengusir mereka."
Bima terkekeh kecil, Sementara Wina dan Seila mendekati.
"Kau, hebat," seru Wina kagum.
Sedangkan Seila yang melihat Bima mulai curiga ketika tangan yang tergores mengunakan gelang tali yang terbuat dari benang.
"gelang tali, itu mirip punya Bima," gumam Seila dalam hati, karena penasaran Seila mendekati Bima.
"Coba, buka cadarnya?Seruan Seila yang meminta Bima membuka cadar sedikit membuat Bima gelagapan pasalnya Kalau Seila tau siapa dirinya pasti marah, tapi kalau tidak di buka juga marah, akhirnya mau tidak mau Bima membuka nya. Setelah cadar di buka Wina dan Seila serentak kaget dan tak percaya.
"Bima...!"Desis Seila.
"Bima!" kau..?"kenapa kau ada di sini dan itu ngapain ikut ikutan main sirkus begitu,'tanya Wina.
Bima terkekeh kecil.
"Demi, istri!" biar ngak ngambek,"
"Apa?"demi aku, ngak lucu tauk, lihat tuh, emang ngak sakit kena pisau begitu?"kau pikir aku senang apa, kau begitu, bikin masalah saja,"ucap Seila sembari melangkah pergi, namun langkahnya di hentikan Bima dengan mengengam tangan Seila.
"Lepaskan, tanganku, tidak ada yang perlu di maafkan."
"Seila, kok, ngomong nya begitu sih, kasian tuh Bima, sampai terluka, gara gara kamu," ucap Wina.
"Bodoh, salah, sendiri begitu,"ucap Seila seraya pergi, Bima yang sudah hafal sifat keras kepala istrinya, ngak mungkin bisa di bujuk rayu, tiba-tiba merintih kesakitan.
"Auuuuuhh, sakit sekali,"Mendengar Bima mengeluh Wina panik."
"Seila...!" cepetan beli obat darahnya ngalir terus itu,"
Seila yang tadinya sudah mau pergi, menengok kembali dan berjalan menghampiri Bima, diam-diam Bima tersenyum dalam hati, sambil bergumam."Tuh, kan, masih ngak tega.
Tanpa Wina dan Bima sadari Seila merobek sedikit kain lengannya dan dengan cepat menggikatkan pada lengan Bima yang darahnya masih terus menetes.
__ADS_1
"Crobroh, sekali, kamu,"
"Demi, kamu, agar ngak ngambek lagi sama aku,"
"ngambek apaan? ngak ada orang yang ngambek bgitu."
"Trus... kenapa hape kamu matikan, kenapa juga saat tersambung ngak kamu angkat."
"batere, hsbis,"
"Bohong..!"bilang saja marah, kamu lihat aku dengan wanita lain, kamu cemburu kan?"
"Ngak..!
"Ah, yang, bener," ucap Bima mengoda.
"Siapa juga yang cemburu, sama orang yang sudah selingkuh,"
Mendengar tuduhan Seila, Bima yang tadinya kalem dan lembut tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Apa kau bilang?"coba katakan sekali lagi,"ucap Bima sambil mencengkram erat tangan Seila.
"lepaskan, sakit tauk,'
Wina yang merasa situasi sudah tidak aman segera pamit undur diri.
"Seila, aku pulang duluan ya, kamu selesaikan dulu urusan kamu dan Suamimu,"
"Win, aku ikut, Bima... lepasin tanganku, sakit tauk,"
"Perduli, jawab dulu, pertanyaan ku,"
Bapak tua yang tadinya di situ pun ikutan memilih pergi.
"Nak, Bapak pergi dulu,"
__ADS_1
"Iya, pak, dan bawa semua uangnya untuk bapak,"
Kini tinggallah Bima dan Seila, tangan Bima masih mencengkram dengan kuat tangan Seila, sedangkan Seila membuang muka agar tidak beradu pandang dengan tatapan tajam mata yang lagi marah.