Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.159.KESAL


__ADS_3

Sementara di dalam ruangan Ningsih mulai membuka matanya ketika seorang perawat mulai memeriksa keadaan nya.


"Mbaknya, sudah sadar ,apa yang Mbaknya rasakan saat ini, apa kepala masih pusing?"


"Tidak Suster, seperti nya aku sudah sedikit lebih baik siapa yang membawaku ke sini."


"Seorang laki-laki baik hati, dia membawa dua pasien ke sini mbak dan pacar mbaknya


"Pacar...?"


"Iya, pacar Mbak, laki-laki baik itu bercerita jika Mbaknya hampir di tabrak motor dan pacar Mbak yang menolong mbaknya dengan mempertaruhkan nyawanya, mbak benar benar beruntung memiliki pacar yang baik hati rela berkorban demi keselamatan Mbaknya, jarang jarang lho Mbak , ada orang seperti itu."crocos sang Suster.


"Suster bercanda ya? mana mungkin saya memiliki pacar saya tidak punya pacar suster saya....


Ningsih tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tangan suster memberi kode untuk diam sejenak pasalnya tiba tiba saku suster ada telpon masuk dan sang Suster langsung bicara via telpon.


"Maaf, Mbak, saya tinggal dulu ada satu pasien yang membutuhkan saya, "


"Oh,ya. silahkan."


Tak lama kemudian setelah Suster pergi datang lah seorang laki-laki menghampiri nya.


"Bagaimana keadaan mu Nona?"


"Baik, jadi kamu yang membawaku ke rumah sakit ini?"tanyanya tak percaya.


"Iya..!


Gadis itu segera tersenyum.


"Trimakasih, ya?"


"Sama sama, Non!


"Suster tadi mengatakan padaku, jika yang menyelamatkan aku itu pacarku apa Kak Bondet ngerti maksdnya?"


"Nona...menggenalku?"


"Tentu saja aku mengenalmu bukankah kita sering bersama."


"Oh, ya! kapan Non!" kenapa aku tidak ingat," tanya Bondet binggung.


"Kapan?" di mana?" hei... kau pikir aku suka dengan bercanda mu kita ketemu di tempat biasa kita belajar karate juga di rumah belum lagi di tambah dengan....


"Stop...stop....!" seru Bondet menghentikan ucapannya Ningsih.


"Dari mana kau tau aku bisa karate?'


Sudah tidak tahan dengan kepura puraan laki-laki di depannya Ningsih langsung bangkit dan memukul kepala Bondet.


"Dasar, Nakal....mau mempermainkan ku ya."

__ADS_1


Dengan cepat Ningsih mengambil sandal yang di pakainya dan hendak di layangkan ke kepala Bondet.


"Hei... tunggu, jangan main pukul di tolong bukannya berterima kasih tapi justru mau mengganiaya si penolong, kamu bener bener ngak waras Nona."


"Kurang ajar,kamu berani ngatain aku ngak waras trima ini... Buuuuugh..... Buuuuugh.. buuuuugh..!"


"Auuuwwh.....!" cukup hei wanita brengsek!" Teriak Bondet kesal.


Sementara gadis yang ada di depannya di katakan brengsek langsung terdiam bibirnya bergetar dan dari kedua kelompok matanya menitikkan air mata, tubuh nya terhuyung kebelakang, Bondet yang melihat gadis di depannya tiba-tiba menangis menjadi merasa bersalah, terlebih melihat gadis itu menangis. Dengan perlahan Bondet mendekati gadis yang ada di depannya.


"Maafkan aku Nona?" aku tidak bermaksud mengataimu buruk tapi kau terus menerus memukulku."


"Berhenti di situ Kak Bondet, jangan dekati aku sungguh aku tidak menyangka setelah sekian lama kita tidak berjumpa kak Bondet telah berubah, aku Brengsek...hizk...hizk.... kenapa tidak sekalian kau katakan aku wanita kejam bukankah aku memang dari dulu begini..


.hizk... hizk...aku ngak nyangka kau tega berkata kasar pada istri orang yang telah menyelamatkan mu."


"Maksud mu apa Nona?" aku tidak mengerti."


"Kenapa dari tadi berpura pura tidak mengerti hah...? Bukankah kau bisa begini juga Karena suamiku Kak Bima, lalu kenapa kau begitu seperti orang yang tidak menggenaliku."


"Istri Kak Bima itu kan Non Seila?'


"Iya, tentu saja kamu pikir siapa lagi"


"Tapi....Non Seila tidak ada di sini?"


"Apa ?tidak ada di sini, lha aku kamu anggap apa?"aku Seila kak Bondet, kau benar benar sudah keterlaluan hizk...hizk..!"teriak Ningsih sambil menanggis.


"Tunggu....,!" apa kamu bilang kamu Non Seila....ha..ha .ha.... jangan ngaku ngaku Nona, aku tau Kak Bima itu laki-laki yang tampan tapi segitu nya merendahkan dirimu kau pikir aku tidak tau wajah dari istri kak Bima."


"Wajah Non Seila tidak jelek seperti wajahmu itu!" ha..ha .ha .kamu lucu ngaku ngaku saja."


Ningsih segera memegang Wajahnya.


"Apa yang salah dengan wajahku.'


"Bercerminlah, agar kau tau siapa Dirimu dan tuh di kamar sebelah itu yang jadi pacarmu bukan Kak Bima."


Bergegas Ningsih mendekati seorang suster yang kebetulan lewat.


"Sus... tunggu!" boleh aku pinjam cermin aku mau melihat wajahku."


"Oh, boleh sebentar ku ambilkan."


Tak lama kemudian Suster itu kembali dengan membawa kaca cermin kecil.


"Ini mbak!"


"Trimakasih."


perlahan-lahan dengan tangan bergetar Ningsih mengarahkan kaca cermin ke wajahnya dan....

__ADS_1


"Aaaaaaaaa....Tidaaaak..!" pyaaaaarrrr....!"


Ningsih membanting kaca cermin yang ada di tangan nya ke lantai hingga pecahan kacanya berhamburan.


"Nona...kau kenapa?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari Bondet gadis itu Keluar kamar dan langsung masuk ke dalam kamar pasien sebelahnya dia ingin tau siapa orang yang telah mengaku sebagai pacarnya. Karena sedikit tersulut emosi langkah dan cara Ningsih membuka pintu pun sangat keras dan kasar hingga membuat penghuni nya sedikit terkejut. Menggetahui siapa yang datang Hendrato langsung menyunggingkan sebuah senyuman manis.


"NIngsih, kau sudah sembuh sayang."


Sapaan yang sangat manis dan romantis tapi tidak bagi Ningsih, sapaan itu di anggap sangat lebay dan menjijikkan.


"NIngsih..?"kau memanggil namaku dengan Ningsih."


"Tentu saja, kan kamu memang Ningsih calon istri ku."ucap Hendrato lembut.


"Apa kau bilang? calon istri mu, sejak kapan aku mau dan sudih menikah dengan mu Hen kau pikir aku sudah memaafkan perbuatan mu padaku Jangan mimipi kau."


"Seila....!" apakah kau kini sudah ingat siapa dirimu."


"Aku tidak mau basa basi, trimakasih sudah menolong ku, tapi lain kali jangan mengaggap istri orang sebagai pacar mu mengerti."


Setelah mengucapkan itu Ningsih langsung pergi, Melihat gadis yang di tolong nya hendak pergi Bondet berseru.


"Nona....kamu belum sembuh benar, kau masih perlu di rawat."


Ningsih tidak menghiraukan ucapan Bondet dia terus melangkah dan menjauh pergi. Tak lama kemudian datang lah Mobil Bima.


"Kak Bima?"


"Siapa yang mengalami kecelakaan Ndet?"


"Pacar laki-laki yang ada di kamar itu."


"Hei... kenapa di kamar ini ada pecahan kaca."


"Gadis itu, tidak tau kenapa dia marah setelah melihat wajahnya di cermin?"


"Oh, mungkin karna ada luka sehingga dia kesal, penasaran juga sama laki-laki yang jadi dewa penolong aku mau lihat."


Ketika Bima membuka pintu kamar terlihat lah sosok laki-laki yang tak asing baginya sedang bersusah payah untuk turun dari ranjang.


"Hendrato...!"


"Kak Bima!" tolong ....tolong kejar Seila dia pergi dengan marah Seila seperti nya sudah tidak lagi hilang ingatan."


"Apa? Seila ingatan nya sudah kembali."


"Iya, dia marah marah padaku tolong aku takut terjadi sesuatu padanya.


"Kamu, tenang saja aku suaminya aku yang akan mengurusnya, ayo Bondet kita cari Seila?"

__ADS_1


"Jadi benar gadis yang ngaku Seila tadi beneran Non Seila?"


"Sudah simpan pertanyaan mu ayo cepat kita cari dia."


__ADS_2