Kabut Cinta

Kabut Cinta
25. Bertanya-tanya


__ADS_3

"Kau ingin bercerai dengan Mariska? Kenapa? Bukankah dia..."


"Sempurna?"


Potong Temmi saat Hendrawan belum selesai bicara,


Tampak sang pengacara muda itu tersenyum tipis, tatapannya yang tajam mengarah pada Temmi, temannya yang telah lama ia kenal baik,


"Ambisinya akan karir membuatnya sangat keras kepala, kami semakin tak bisa sepemikiran, kau tahu Wan, rumah tangga tak akan berjalan dengan baik jika kedua belah pihak jadi pemimpinnya, dan jika suami yang mengalah, membiarkan perempuan yang jadi pemimpin juga itu akan jadi masalah besar ke depannya,"


Kata Temmi,


Hendrawan yang mendengarkan mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti dan juga mengiyakan apa yang disampaikan Temmi,


Tentu saja, benar adanya memang, jika sebuah rumah tangga bagaimanapun harus hanya ada satu pemimpin, dan suami adalah yang seharusnya menjadi pemimpin untuk keluarganya,


Karir bagus pada perempuan, tetap tak bisa merubah kodratnya untuk hanya menjadi makmum saja,


Bahwasannya banyak tokoh perempuan yang memperjuangkan hak perempuan, adalah hanya agar bisa memiliki kesempatan belajar, kesempatan mengasah kemampuan, kesempatan untuk bisa menjadi perempuan yang lebih terampil, yang bukan untuk hanya menjadi keset, namun menjadi perempuan yang cerdas, yang bisa memilih suami yang layak jadi imamnya,


Kesempatan itu, bukanlah untuk menjadikan perempuan setara dengan laki-laki, menjadi memiliki hak memimpin rumah tangga dan menjadikan suami tak lagi mempunyai harga diri dalam rumah tangga mereka,


Semua ada porsi dan tempatnya, apapun alasannya, tetap saja, pada akhirnya, isteri atau perempuan yang terlalu berambisi mengejar karir macam dia adalah laki-laki yang memiliki tanggungjawab kebutuhan akan membuat suami tidak nyaman,


Kecuali, jika ia adalah perempuan yang menjadi janda, tentu ini adalah lain perkara, mengejar karir agar mandiri secara finansial agar tak perlu melirik suami orang lain untuk memenuhi kebutuhan adalah tentu lebih baik,


"Aku minta tolong kau uruskanlah perceraianku, termasuk pembagian harta gono-gini kami,"


Ujar Temmi kemudian,


"Siapkan saja berkasnya dan bawa ke sini, nanti aku bantu,"


Kata Hendrawan,


Temmi mengangguk,


Lalu terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan pengacara Hendrawan,


Temmi dan Hendrawan yang tengah duduk di sofa tampak menoleh ke arah pintu,

__ADS_1


"Masuk,"


Kata Hendrawan,


Tak lama seorang staf perempuan terlihat membuka pintu ruangan tersebut, yang kemudian masuk ke dalam membawa setumpuk berkas,


"Oh kau Na, letakkan saja di meja,"


Kata Hendrawan pula pada stafnya,


Staf perempuan itu lantas mengangguk, dan membawa berkasnya ke meja kerja Hendrawan di ruangan itu,


"Nyonya Arin tidak jadi datang Na?"


Terdengar kemudian Hendrawan bertanya pada staf nya yang tengah meletakkan berkas-berkas di atas meja Hendrawan,


"Nyonya Arin?"


Suara itu macam gumaman saja, saat bersamaan staf itu berbalik dan kembali menghadap atasannya,


"Ya, yang membuat janji temu untuk hari ini,"


Kata Hendrawan,


Staf perempuan tersebut mengingat, lalu...


"Nyonya Laras,"


Uhuk... Uhuk...


Tiba-tiba saja Temmi yang sedang menyeruput wedang teh yang disuguhkan untuknya pun terbatuk,


Hendrawan dan staf nya seketika melihat ke arah Temmi yang tangannya langsung meletakkan cangkir tehnya dan cepat meraih tisu untuk menyeka bibirnya,


"Sori,"


Kata Temmi gugup melihat Hendrawan menatapnya dengan begitu banyak tanda tanya di sana,


Tapi, staf perempuan Hendrawan entah kenapa malah senyum-senyum, lalu memilih pamit undur diri,

__ADS_1


"Kau mengenal Nyonya Arin?"


Tanya Hendrawan,


Temmi cepat menggeleng,


"Tidak ada, aku tidak mengenalnya,"


"Oh, kupikir kau kenal Arin, dia kan saudara Indra, teman kita juga, dia membuat janji temu denganku sejak kemarin dulu, sepertinya juga soal gugatan perceraian temannya,"


"Temannya?"


Temmi bertanya dalam gumaman, Hendrawan mengangguk,


"Ya, dia hanya bicara intinya saja, selebihnya ia ingin temannya itu menyampaikan sendiri, dan tentu memang harusnya seperti itu,"


Kata Hendrawan,


Temmi tampak mantuk-mantuk saja mendengar Hendrawan bicara, otaknya lebih sibuk memikirkan tentang Laras, kakak iparnya yang tadi sempat bertemu di ruangan ini dan tentu Temmi sebetulnya sudah menduga untuk apa Laras datang ke tempat Hendrawan,


"Ah bicara soal Arin kenapa aku jadi lapar,"


Kata Hendrawan, membuat Temmi yang sedang memikirkan Laras jadi menatapnya sambil ingin tertawa,


"Apa hubungannya Arin dan perutmu? Ada-ada saja,"


Temmi pun tertawa kecil,


"Lho, Arin itu pemilik resto, kudengar ayam goreng dan iga bakarnya salah satu yang terenak di kota ini, sayangnya aku belum pernah sempat mampir lagi,"


Kata Hendrawan,


"Kau kapan-kapan mampirlah, tidak akan menyesal, aku jamin,"


Imbuh Hendrawan pula,


Resto milik Arin?


Jika Arin adalah teman baik Laras, bahkan akan mengurus perceraian pun Laras diantarkan olehnya, apakah ini berarti Arin juga tahu di mana saat ini Laras tinggal?

__ADS_1


Temmi pun jadi penasaran.


...****************...


__ADS_2