
Bima memegang kepala nya seraya menunduk, hati dan pikiran nya membenarkan apa yang di katakan Ningsih kepadanya yang tidak sopan itu dirinya dan yang tidak tau diri itu juga dirinya
sudah beristri tapi masih mengaggu dan mengoda gadis lain.Bima benar benar tidak bisa mengerti mengapa di hadapan gadis di depannya itu dia selalu lepas kendali ada sesuatu daya tarik yang memaksa hatinya untuk ingin bisa selalu dekat.
Ningsih yang melihat Bima seperti orang putus asa berjalan mendekati, Dia tidak suka Bima bersikap berlebihan, tapi hatinya juga tidak tega jika melihat Bima seperti itu. Ketika Ningsih menghampiri Bima dan hendak duduk di sampingnya.
"Ayo, aku antar kamu pulang."
"Tapi, kita kan harus balik ke kantor, pak!
"Tidak, usah, aku antar kamu langsung pulang saja."
Dengan wajah pucat Ningsih memberanikan diri menatap Bima.
"Apa, Bapak memecat ku! tanya Ningsih dengan wajah sedih.
Bima terkekeh kecil.
"Tentu saja tidak."
"Lalu, kenapa aku di suruh pulang."
"Di kantor sudah tidak ada pekerjaan jadi kamu boleh pulang besok masuk lagi."
"Oh, begitu, kirain saya di pecat," ucap Ningsih dengan wajah yang kini kembali ceria ketakutan nya akan di pecat sudah tidak ada lagi.
"Ayo,"
"Iya, pak!
Bima melangkah kan kakinya menuju mobil yang tak lama di ikuti Ningsih di belakang nya.
"Pak, tolong buka pintu mobil depannya, saya boleh kan duduk di depan?"
Bima menelan ludahnya dengan kasar yang entah kenapa tiba-tiba terasa kering, Bima di buat bingung dengan gadis yang ada di dekatnya itu, baru saja marah marah hanya karena pelukan tangan Bima melingkar di pinggangnya, kini tiba-tiba dengan sengaja ingin duduk di depan.
"Kau, mau duduk di depan? Tanya Bima tak percaya.
"Iya, pak!
Dengan cepat Bima membuka kan pintu mobil depan.
"Masuklah."
"Trimakasih, pak!
Bima memfokuskan pandangan lurus kedepan, duduk berdekatan sudah membuat irama jantung nya berpacu dengan kencang, mati matian Bima mengontrol diri agar bisa tetap tenang seolah olah tidak ada apa apa meskipun sebenarnya hatinya sangat tidak karu karuan.
__ADS_1
"Pak! tolong bantu saya memakai sabuk pengaman, saya tidak bisa," ucap Ningsih dengan malu malu.
"Ap-apa?
"Ini, saya tidak bisa."
"oh, iya," Sial Kenapa justru minta di bantuin ngak tau apa, hatiku lagi berdebar debar Keluh Bima dalam hati.
"Sudah, sekarang kita jalan di mana Alamatmu."
Ningsih menyebutkan Alamat Rumahnya dengan cepat Bima melajukan mobilnya ke Rumah Ningsih, Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membuat Ningsih
memandang Bima dengan tatapan mata yang aneh.
"Pak! kok jalannya ngak cepat seperti tadi?
"Emang, kenapa?
"Saya, duduk di depan kan karena tidak bisa memakai sabuk pengaman, agar saya tidak takut saya duduk di depan."
"Astaga, ternyata duduk di depan hanya karena takut, bukan karena ingin duduk dekat dengan ku,"keluh Bima dalam hati yang lagi menertawakan kebodohan nya karena telah ke menduga Ningsih duduk di depan karena tertarik padanya.
Tak lama Mobil memasuki pekarangan rumah yang cukup luas dan terlihat sangat asri.
"Sudah sampai, bisa membuka sabuk pengaman sendiri kan?"
"Bisa, tapi jika Bapak tidak keberatan tolong bantu."
"Sebentar, itu sudah lepas kamu bisa sendiri, aku jawab telpon dulu," pamit Bima sopan.
Ningsih menatap Punggung Bima yang membelakanginya.
"Pasti istrinya, yang lagi telpon," desis Ningsih dalam hati.
"Halo...!
"Halo, kak Bima apa kabar, ini nafa?
"Hei, Nafa, apa kabarmu?"
"Baik, kak Bima sendiri bagaimana?
"Baik, juga fa."
"Kak, hidupin kameranya kangen pingin lihat wajah tampan kak Bima,"rengek Nafa manja.
"Masa, bukanya lebih tampan cowok yang ada di London."
__ADS_1
Suara tawa renyah Nafa terdengar sangat keras sehingga Ningsih yang belum turun dari mobil sempat mendengarnya entah kenapa tiba-tiba ada rasa ingin tau suara siapa itu karna sepertinya itu bukan suara istri dari pak boss nya dengan berlagak seperti gerah di punggung
Ningsih menggerakan punggung nya ke belakang sedikit sehingga dia bisa dengan jelas melihat siapa yang sedang bicara dengan boss galaknya.
Manik mata Ningsih segera melotot dengan sempurna ketika terlihat dengan jelas sekilas wajah seorang gadis cantik berambut pirang berkulit putih bersih dengan pakaian seksi yang sedikit terbuka sehingga belahan dari kedua bukit terlihat sedikit, Ningsih segera turun dari mobil dan menutupnya dengan sangat kasar sehingga menimbulkan bunyi membuat Bima yang asik dan fokus ngobrol tersentak kaget.
"Braakk..!"
"Astagfirullahaladhim," saking kagetnya Bima beristighfar mendadak dan menoleh ke sumber suara.
"Ada, apa kak?
" Ngak ada apa apa?"
"Kak Bima? siapa cewek di belakang kakak tadi,"
"Oh, karyawan kantorku,"
"hmm, kirain selingkuhan kak Bima,"
"Huss..! sembarangan saja kalau ngomong aku kan sudah, beristri."
Suara tawa renyah dari sebrang.
"Siapa, tau saja, aku juga mau kok jadi selingkuhan nya kak Bima,"
"Ngomong apa sih kamu, sudah nanti kita ngobrol lagi aku mau pulang Nih, ngak boleh kan nyetir sambil ngobrol."
"Oh, iya nanti aku telpon lagi kalau kak Bima sudah sampai Rumah."
"ok!
"Kak!"
"Apa lagi,"
"Emuaahh, aku kangen sama kak Bima,"ucap Nafa sambil mengkrucutkan bibirnya.
Bima mendelik melihat ulah Nekad dan konyol
Nafa yang di nilai dari dulu tak berubah, sambil melajukan mobilnya menjauh dari jalan pekarangan Ningsih Bima sibuk berfikir dengan tingkah laku Ningsih yang di rasa cukup aneh.
"Kenapa Ningsih keluar dengan membanting pintu mobil, apakah dia cemburu, ini tidak mungkin, Ningsih tidak suka sama aku lagi pula Ningsih sudah punya pacar mana mungkin dia cemburu sama aku tapi jika benar dia cemburu itu artinya perasaan hatiku kepadanya bersambut.
"Araaaaaagggghhhh! kenapa aku menghayal begini," desis Bima dalam hati sambil mengacak acak rambutnya.
Sedangkan Ningsih yang masuk kedalam Rumah dengan wajah cemberut, membuat sang Ibu bertanya tanya ada apa dengan putri angkatnya kenapa wajahnya terlihat sedih dan murung, meskipun sangat Ingin tau, Ibu Ningsih memilih diam tak berani bertanya biarlah Ningsih saja yang akan bercerita sendiri seandainya dia mau.
__ADS_1
Dengan perasaan kesal Ningsih melempar tas kecil yang terslempang di pundaknya kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Dasar play boy, sudah beristri tapi suka mengoda wanita lain, laki-laki rakus, serakah dan tukang selingkuh, itu sebutan gelar yang cocok untukmu, aku benci kamu, kamu sangat menyebalkan, tapi Kenapa jadi aku yang marah marah, aku kan cuma karyawan nya bukan istrinya tapi kenapa rasanya sakit melihat Pak Bima bicara begitu riang dan bahagia dengan gadis berparas bule tadi, bodoh ah, mau selingkuh kek atau tidak itu urusan nya bukan urusanku," Desis Ningsih yang kemudian memejamkan mata.