
Rumah makan milik Arin hari ini ramai luar biasa, Laras yang masih dalam kondisi kurang fit setelah kematian suaminya tampak ikut sibuk membantu melayani para pengunjung yang datang,
Arin sendiri sudah dua hari sejak hari kematian Yoga belum pernah berangkat lagi ke tempat usahanya karena kurang enak badan,
Seluruh urusan di tempat makan pun diserahkan pada pegawai-pegawai seniornya, yang sudah lama bekerja di sana,
"Mbak Laras, istirahat saja kalau masih tidak fit,"
Kata Kiki yang melihat Laras mondar-mandir di dapur membantu menyiapkan pesanan pengunjung dan juga pesanan yang diantar,
"Iya Mbak, dari tadi juga sudah kita bilangin istirahat saja, wajah mbak pucat sekali,"
Kata Mbak Lastri, yang begitu mendengarnya tampak Laras pun memaksakan senyuman,
"Tidak apa, aku baik-baik saja kok,"
Ujar Laras,
Semua sekilas terlihat saling pandang seolah berkata satu sama lain dengan tatapan mata,
Ya, tentu saja mereka paham betul dengan keadaan Laras yang sebenarnya, bagaimana pucatnya dia, dan bagaimana kesedihannya yang ketika saat-saat terakhir sang suami akan dikuburkan, Laras malah tidak diperbolehkan ikut mengantar ke peristirahatannya yang terakhir,
"Ini satu lagi pesanan ayam bakar kan?"
Tanya Laras mengalihkan pembicaraan, tampak ia memandang ke arah Hasmi,
"Ya mbak, meja nomor empat, paket ayam bakar dan iga bakar, tambahan cah kangkung, tempe kemul dan dua es jeruk,"
Kata Hasmi,
Laras meletakkan semua pesanan yang disebut ke atas satu nampan yang kemudian akan dibawa oleh pelayan menuju meja pemesan,
Dan kesibukan pun berjalan sepanjang hari itu hingga malam hari, hingga jam delapan malam Hasmi menutup pemesanan karena bagian bahan sudah mengabarkan stok bahan habis,
Semua terlihat lelah, namun sangat puas karena hampir semua pengunjung terlayani dengan baik dan tak ada komplain sama sekali,
Laras yang menghabiskan hampir seluruh energinya sepanjang hari untuk bekerja membantu pun ikut merasa senang,
__ADS_1
Setidaknya, ini adalah salah satu cara dia berterimakasih pada Arin, selain tentu karena memang ini juga bagian dari kewajibannya sebagai salah satu karyawan di sana saat ini,
Sekitar jam sembilan malam, ketika rumah makan akan ditutup, salah satu pegawai yang dipercaya menggantikan Arin menjadi kasir memanggil Laras karena ada telfon,
Laras menghampiri meja kasir,
"Telfon dari siapa?"
Tanya Laras,
"Dari Bu Arin,"
Jawab pegawai itu,
Laras pun meraih gagang telfon milik rumah makan, agak heran kenapa Arin menelfonnya ke telfon rumah makan, bukan ke hp,
"Ya halo,"
"Ras,"
Terdengar suara dari seberang sana,
Tanya Laras bingung,
"Hp kamu tidak aktif Ras,"
Kata Arin,
Mendengarnya Laras pun baru ingat seharian tadi hp dipakai Angga main games dan pasti sekarang hp nya habis baterai dan Angga biasanya ketika hp sudah mati akan digeletakkan begitu saja,
"Ah yah, aku baru ingat hp seharian untuk mainan Angga, pasti hp habis baterai,"
Kata Laras akhirnya,
"Aku belum naik ke lantai atas, dari tadi juga yang bolak balik menengok Angga, Mas Kiki,"
Ujar Laras,
__ADS_1
"Sori ya Ras, harusnya kamu masih dalam masa istirahat karena masih dalam suasana berkabung,"
Kata Arin,
"Tidak apa Rin, aku malah senang karena sibuk jadi bisa mengabaikan banyak pikiran negatif,"
Ujar Laras,
"Ras,"
Panggil Arin,
"Ya, kenapa Rin?"
"Besok Kakak sepupuku ingin ketemu, ada yang ingin dibicarakan soal tempat usahanya di Bali, kamu keberatan atau tidak? Maksudnya, kalau kamu belum ingin bicara dengan orang, aku akan sampaikan pada kakak sepupuku agar bisa membuat jadwal temu di hari lain,"
Ujar Arin,
Laras tampak terdiam, seperti menimbang-nimbang,
Hingga kemudian...
"Ya, tidak apa Rin, besok saja, barangkali hal penting lebih baik jangan ditunda-tunda,"
Putus Laras akhirnya,
"Oke Ras, ini memang penting, sangat penting malah menurutku, besok kakak sepupuku akan mampir sekalian aku berangkat,"
Kata Arin,
Laras pun mengiyakan,
"Baiklah Rin,"
Kata Laras.
Dan panggilan pun ditutup, Laras meletakkan gagang telfonnya,
__ADS_1
...****************...