Kabut Cinta

Kabut Cinta
29. Bertambah Benci


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Laras dan Arin tampak bergegas menuju ruangan yang telah diberitahu Temmi,


Angga sendiri digendong Kiki, yang tentu tak tega jika harus Laras yang menggendong anaknya dalam kondisi seperti sekarang,


Laras sejak dalam perjalanan hingga akhirnya sampai di rumah sakit masih terus menangis dan semakin menjadi kala ia akhirnya menapakkan kaki di sana,


Sungguh, bukan ini maunya,


Jika toh ia ingin berpisah dengan Yoga, tentu bukanlah salah satu dari mereka harus meninggal,


Temmi yang telah menunggu di depan ruangan yang ia beritahu jika disanalah Yoga disemayamkan untuk menunggu proses dari Rumah Sakit untuk nantinya jenazah bisa dibawa pulang, kini tampak Temmi menyambut kedatangan Laras,


"Di ma... na Mas Yoga?"


Tanya Laras lirih, suaranya sudah seperti akan tenggelam sama sekali karena tenggorokannya begitu sakit,


Temmi yang terlihat kedua matanya sembab mempersilahkan Laras untuk masuk ke dalam ruangan,


Temmi membukakan pintu ruangan tersebut, yang kemudian tampak Ibunya yang berada di sisi jenazah Yoga,


Ibu tampak menangis begitu pilu, namun begitu melihat Laras berdiri di ambang pintu saat pintu dibuka Temmi, terlihat Ibu langsung berdiri dengan tatapan mata marah pada Laras,


Ibu menghambur ke arah Laras dan Temmi, dan seketika tanpa diduga semuanya, Ibu mertua Laras itu tiba-tiba saja melayangkan tamparan yang sangat keras ke wajah Laras,

__ADS_1


Plak!


"Kembalikan anakku! Kembalikan anakku! Perempuan tidak tahu diuntung! Perempuan pembawa sial keluarga!!!"


Ibunya Yoga dan Temmi mengamuk, suaranya keras berteriak-teriak,


Laras yang dalam kondisi sudah tak berdaya hanya bisa bersimpuh dan menangis,


Panas dan sakit di wajahnya tak ia rasakan sama sekali, ia sudah terlalu sering terluka, dan lagi kesedihan yang kini menimpanya karena Yoga tiba-tiba tiada, rasanya membuat semua luka itu menguap sama sekali, bahkan ketika tamparan itu mendarat di wajahnya,


"Gara-gara kau hidup Yoga berantakan! Dia kehilangan karir, kehilangan kebahagiaan, kehilangan masa depan, dan sekarang ia meninggal dengan tragis, ini semua salahmu! Semua salahmu!"


Teriak Ibu mertua Laras lagi,


Bukan hanya teriak, Ibu mertua Laras juga hendak melayangkan serangan lagi terhadap fisik Laras,


"Lepaskan Ibu, Temmi! Lepaskan! Biarkan Ibu memberi pelajaran perempuan itu! Karena dia Yoga nya Ibu meninggal,"


Ibu terus meronta berusaha lepas dari pelukan anaknya, namun Temmi tak menyerah, ia terus memeluk sang Ibu sambil membawanya menjauhi ruangan jenazah Sang Kakak di semayamkan,


"Ibu, tenanglah, jangan begini, malu dilihat orang,"


Kata Temmi,

__ADS_1


Tapi Ibu yang tampaknya begitu syok dengan kematian anaknya terus saja berteriak marah, bahkan teriakan Ibu memaki-maki Laras semakin keras hingga Laras di ruangan Yoga disemayamkan masih bisa mendengar,


"Pembawa sial, menantu pembawa sial!"


Ibu terus mengulang makiannya,


Arin dan Kiki yang berada di depan ruangan Yoga disemayamkan tampak menatap Laras dengan iba, perempuan itu kini terhuyung mencoba berdiri,


Arin yang semula akan masuk untuk menolong dicegah oleh Kiki,


"Maaf Bu Arin, menurut saya, biarkan saja Bu Laras sendirian melihat suaminya, bagaimanapun kita hanya akan mengganggu jika terlalu masuk,"


Kata Kiki seolah mengingatkan Arin agar tak terlalu apa-apa melibatkan diri,


Mendengar saran Kiki, maka Arin pun mengangguk karena dirasanya saran Kiki memang benar,


Kiki lantas menurunkan Angga, agar anak itu masuk ke ruangan di mana Mama dan almarhum Papanya berada kini,


"Sebaiknya kita tunggu di luar ruangan saja Bu Arin,"


Kata Kiki lagi,


Arin pun mengangguk setuju, ia lantas keluar dari ruangan di mana Yoga disemayamkan, lalu membiarkan Kiki menutup pintunya,

__ADS_1


Sementara itu, teriakan Ibu mertua Laras sudah tak lagi terdengar, entah ia sudah berhenti berteriak, atau karena Temmi membawanya ke tempat lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2