Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.124.CURIGA.


__ADS_3

Seila menangis dan meraung sejadi jadinya.


"Kamu itu laki-laki normal apa tidak sih, kenapa aku di angurin begini, jangan jangan bersama Seila dia dulu juga begitu masak juga begitu." Gumam Seila dalam hati.


"Aaaaaaaaaaa, sial..sial sial."


Bima melajukan motornya dengan sangat kencang, langsung menuju jalan mawar seperti apa yang di minta oleh Bondet, tidak lama kemudian motor Bima pun sudah sampai di jalan mawar.


"Wah, cepat, banget kak Bima datang nya, emangnya ngak lagi saat berduaan dengan Non Seila."tanya Bondet kepo.


"Bukan, hanya lagi berduaan tapi lagi bercumbu malah."


Ucapan Bima yang tanpa sensor membuat Bondet melotot tak percaya.


"Trus, ngak jadi dong!"


"Tentu saja ngak jadi, kalau jadi sudah pasti aku masih di sana, dasar bodoh,"seru Bima terkekeh.


"Waduuh, kok di tinggal sih kak, kan jadi hilang dong nikmat surga dunianya."


"Ngak, tau, Ndet ngak selera aku."


"Apa? ngak selera."


"Yang benar saja kak!" dulu kak Bima itu malah ngak pernah nglepasin Non Seila, dikit dikit minta, merengek, bahkan pura pura demi dapat jatah." sindir iqbal yang langsung dapat tonjokan manis di keningnya dari Bima meskipun tonjokan itu tidak keras.


Bima menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Aku, juga tidak tau, dulu itu bawaannya ingin terus menikmati sekarang kok bawaannya ingin jauh saja."


"Kak Bima, merasa aneh ngak?"


"Aneh, gimana?"


"Itu, saat kak Bima ajak Non Seila menemuin kita Non Seila sering salah sebut nama kita, masak aku di Panggil Bondet dan si Bondet di panggil Iqbal seperti orang ngak kenal begitu."


"Ada, lagi nih kak, Non Seila itu demen baca Novel eh saat aku ke sana dan kak Bima ngak ada tuh buku Buku Novel di buang, katanya kalau baca bikin kepala pusing."


"Iya, Seila yang sekarang memang jauh berbeda, dia suka dandan juga sampai tebal setebal cat tembok,"ucap Bima sambil tertawa.


"Intinya, gini kak, kita harus berhenti hati dan kak Bima harus mencari tau, kebenaran nya bukankah aneh masak kecelakaan yang begitu parah Non Seila tidak terluka, ini kan aneh?"

__ADS_1


"Kau benar, ndet, aku juga merasa aneh begitu, dulu setiap di tatap ini jantung sudah ngak karuan, tapi sekarang biasa saja.


"Pokoknya, kak Bima harus cari tau Kebenaran nya, ini aneh bener, mobil gosong Non Seila kok tidak terluka sama sekali kan seharusnya ada lukanya meskipun tidak banyak."


"Kamu, benar! aku harus mencari tau hatiku juga ngak respect jika terlalu dekat, tapi aku tidak kepikiran sejauh itu."


"Ayo, cepat pasang ban nya sudah malam nih,"


"Ok, siap boss!"


Menjelang larut malam Bima baru pulang, hati dan pikiran nya begitu tidak tenang dan kalut, masih tergiang ngiang apa yang di katakan Bondet dan Iqbal, hal itu membuat dirinya mengurungkan diri masuk ke dalam kamar Bima memilih tidur di ruang tamu di kursi sofa.


"Jika yang ada di rumah ini bukan Seila, lalu di mana Seila dan bagaimana wanita itu tau kalau Seila habis kecelakaan, ada apa sebenarnya ini, benarkah dugaan Iqbal bahwa Seila sengaja di celakai."


"Arrrrrggghh..!


Bima mengacak acak rambutnya Karena kesal.


Sementara di dalam kamar, Seila mulai terbangun dari tidurnya dan alangkah terkejutnya dia, ketika tidak mendapati Bima berada di samping nya.


"Mas Bima belum pulang, ini kan sudah malam, kemana dia?"


Dengan langkah sedikit tergesa gesa Seila berjalan turun ke bawah, ruangan tamu yang lampunya tidak di nyalakan terasa gelap dan seram, perlahan-lahan Seila mencari tombol untuk menghidupkan lampu dan ketika lampu sudah menyala Seila di buat terkejut dengan sosok laki-laki yang tertidur di sofa.


Ketika tangan lembut Seila hendak menyentuh punggung Bima tiba-tiba dari belakang terdengar suara tua dari Bik Inah.


"Jangan, di bangunkan Non!"kasian Den Bima, kelihatan nya capek, untuk sementara biarkan Den Bima tidur di sofa ruang tamu, ini Bibik sudah bawakan selimut untuk nya."


"Iya, Bik!" Dengan wajah kesal Seila kembali melangkah ke kamarnya,"


"Sial, wanita tua itu ikut campur urusan ku, gagal lagi aku mendapatkan Bima Seutuhnya, seharusnya malam ini dia sudah bisa menjadi milikku, kenapa sih ada saja yang mengaggu, apa lebih baik aku ajak Bima ke hotel saja, mungkin ini lebih bagus karena tidak akan ada yang akan mengaggu kencanku lagi."


Dengan perasaan kesal Seila membenamkan wajahnya di dalam bantal. Sementara Bik Inah tersenyum dengan penuh arti.


"Mungkin Non Seila bisa membohongi Den Bima, tapi tidak akan pernah bisa membohongi kasih seorang ibu, Non Seila sudah ku anggap seperti anakku sendiri sehingga aku tau wanita yang ada di rumah ini itu bukan Non Seila, sejak awal masuk rumah ini aku sudah curiga cuma aku tidak memiliki bukti apapun untuk membuka kedok wanita ini, jangan jangan Non Seila yang asli ada dalam tawanannya atau entahlah dan yang mengherankan kenapa wajah mereka bisa sama padahal Non Seila tidak memiliki saudara kembar, aku akan selidiki itu dengan diam diam."


Bik Inah memandang wajah Bima dengan tatapan sayu dan sendu mengusap lembut rambut anak asuh yang sangat disayanginya.


" Aku, tidak bisa bayangkan apa yang akan Den Bima lakukan, seandainya dia tau, jika yang ada di rumah ini itu bukan Non Seila, pasti dia akan kembali hancur dan sedih, kembali murung dan tak ceria lagi seperti saat itu, aku tidak mau Den Bima sedih, untuk itu rahasia dan kecurigaan ku akan ku pendam sendiri."


*****

__ADS_1


Ningsih dan keluarga sudah tiba di Indonesia dengan selamat, dengan menggunakan taksi Ningsih dan seluruh keluarga sampai di depan rumah ketika tengah malam, perjalanan dari bandara Hongkong ke Indonesia memakan waktu sekitar 4 jam dan dari bandara Indonesia ke rumah keluarga Bu Ningsih dua jam jadi sampai di rumah tengah malam sekitar pukul 12.00


"Nduk, ayo masuk ini Rumah kita."


"iya, Bu!


"Nah, ini kamar mu Nduk, tidak terlalu besar dan sedikit sempit kamu tidak keberatan kan nduk?"


"Tidak, Bu! aku justru senang."


"Nduk, kamu sudah tau kalau ibu dan bapak mu ini bukan ibu kandung mu, kami cuma orang yang kebetulan menemukan ketika kamu terjebak tergeletak di pinggir jurang, beruntung Nduk jarak kamu dengan mobil yang terjatuh di jurang cukup jauh kalau tidak mungkin kamu tidak bisa selamat."


"Iya, Bu, aku bersyukur Allah masih melindungi ku."


"Nduk, apa kamu mau jadi anak ibu dan bapak, kami ini orang miskin yang setiap harinya cuma ngurus sawah dan sapi."


"Mau, Bu, kalau aku tidak mau aku harus kemana aku juga tidak tau keluarga ku,"


"Trimakasih, ya Nduk, ibu seneng, kamu mau dan ihklas jadi anak ibu, nanti kalau ingatanmu sudah pulih, kamu boleh meninggalkan kami dan kembali ke keluarga mu."


"Bu, meskipun kelak ingatanku kembali aku akan tetap menyayangi ibu dan tidak akan melupakan ibu," Ucap Ningsih sambil memeluk ibunya.


Sang ibu sangat haru dan bahagia mendengar ucapan Ningsih di peluknya erat erat putri angkatnya. Sang Bapak pun ikut tersenyum bahagia.


"Bu! sawah dan sapi kita tidak jadi di jual, karena kita akan memiliki menantu yang kaya."


"Iyo, pak..! kita akan memiliki menantu seorang dokter, kalau bapak sakit kita tidak usah bayar, tidak usah menjual sawah dan sapi, kita bakalan di berikan obat dengan gratis ," Sahut Bu Ningsih dengan senyum bahagia.


"Iya, Bu! ini suatu anugerah dari Allah untuk keluarga kita Bu, patut kita syukuri, sawah dan sapi, Nanti kita jual buat Naik haji saja Bu.'


"Bapak, Ndak eman, sapi dan sawah di jual buat Naik haji?"


"Ndak, Bu, aku ihklas kalau untuk urusan yang satu itu."


"Bapak dan ibu, Ndak usah jual sawah dan sapi Nanti Ningsih yang akan cari uang agar ibu dan Bapak bisa Naik haji."


"Wah, ini Bu! ini, anak berbakti sama orang tua, iya Nduk tak doakan kamu bisa dapat kerjaan yang halal dan yang bisa memberikan kamu gaji besar biar Nanti kamu bisa bawa kami untuk Naik haji, sawah dan sapi ngak usah di jual lagi,"ucap bapak sambil terkekeh.


"Iya, pak! doa bapak dan ibu pasti di kabulkan Allah."


"Amin, smoga saja , ya Bu?"

__ADS_1


"Iya, Pak! Amin,"


__ADS_2