
Arya yang kesal dengan ulah Arina membuat
selera makannya hilang.
Setelah melakukan pembayaran, Arya berlari
mengejar Arina yang lebih dahulu masuk mobil.
Melihat kedatangan Arya yang dirasa Arina
cukup cepat membuat nya bertanya.
"Kok, cepat, makannya apa sudah selesai?"
"Kenapa, kamu tadi menertawakan aku, apa ada yang lucu dari perkataanku,"
"Tentu saja, lucu, bagaimana mungkin kamu bisa berkata begitu, aku tau pasti kamu pusing
mikirin permintaan Nenek, sehingga kamu tidak bisa berfikir dengan jernih, kamu berfikir dengan meminangku semua masalah kamu dan Nenek akan beres.
"Ini tidak ada hubungan nya dengan Nenek,
aku benar benar Ingin menjadikan mu istriku.
Arina...!Maukah kau menikah dengan ku?"
Arya menatap Arina dengan penuh harap.
"Kamu bercanda, ya!"
"Arina, aku serius, Aku tidak bercanda dan ini juga bukan suruan Nenek, semua karena aku...
Jatuh cinta padamu !"
"Maaf, Arya, bukannya aku menolak tapi kamu
harus tau, aku tidak bisa menyukai orang lain,
aku sudah pernah bicara dengan mu kan?
Aku mencintai orang lain dan sampai kapanpun
aku tetap akan mencintainya, jadi tidak mungkin kita bisa menikah tanpa ada ikatan cinta,"
"Aku mau menunggu sampai hatimu bisa
menerima ku,"
"Apa maksud mu?"
"Kita menikah saja, banyak kok orang menikah yang tanpa cinta, namun akhirnya mereka jatuh
cinta.
"Ini dunia nyata Arya...!bukan dunia novel novel
yang ada di pasaran itu, menikah karena di jodohkan lalu jatuh cinta dan bahagia.
"Lalu, sampai kapan kau akan menunggu orang yang belum pasti !"
"Entahlah,"
Arina menyandarkan tubuhnya di kursi depan mobil.
Arya menatap wajah gadis di depannya dengan tatapan yang sendu, tangannya meraih tangan
Arina, nrmbuat Arina tersentak kaget dan menoleh kearahnya.
"Beri kesempatan padaku," untuk membuktikan cinta ku, aku akan membuat mu melupakan semuanya.
Arina menarik tangannya, dia menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nya dengan
perlahan.
"Itu, tidak mudah, lagi pula meskipun aku mau menjadi istrimu, aku tidak akan mampu
melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri, itu akan
sangat menyakitkan bagimu dan kau tidak akan
__ADS_1
bisa trima itu,"
"Arina...! aku siap bersabar menunggu, percayalah aku tidak akan, menuntut hak ku
sampai kau sendiri yang mengatakan siap.
Bagaimana apa kau mau menerima ku?"
"Beri aku waktu,"
"Baiklah, satu Minggu, bagaimana ?"
Arina mengagguk, Arya tersenyum bahagia
mendengar jawaban Arina, masih ada harapan
untuk mendapatkan Arina meskipun
Arina belum tentu akan akan menerima nya.
****
Di tempat yang berbeda, Iqbal dan Seila berjalan kembali ke tempat awal mula mereka
terjatuh.
"Non Seila ! kalau hapenya tidak bisa kita temukan bagaimana?"
"kita pergi ke rumah penduduk, yang ada di sekitar sini!"
"Non, lihat...!"
itu kan, kak Bima dan Bondet, mereka berjalan mendekati goa,"
"Cegah, Bal !cepat, aku tidak bisa berlari, jangan
sampai mereka memasuki goa itu!"
"Lalu, Non Seila bagaimana?"
"Aku berjalan pelan di belakang, cepat Bal, jangan pikirkan aku,"
Iqbal berlari mengejar Bondet dan Bima yang
"Kak.....Bima.....!Tunggu..!"
"Bondet......."Tunggu... ! berhenti jangan ke goa itu ?"
Berkali kali Iqbal berteiak memanggil manggil nama Bima dan Bondet sambil berlari.
Sedangkan Seila, yang kakinya sedikit terluka karena lecet, berjalan tertatih tatih, sesekali dia harus berhenti karena rasa nyeri yang ada di kaki.
"Apa lebih baik, aku tunggu disini saja ya,
rasanya capek, kalau harus berjalan terus,"
Keluh Seila seraya duduk sambil merentangkan kedua kakinya lurus kedepan.
Iqbal yang berlari sambil berteriak-teriak memanggil Nama Bima dan Bondet akhirnya,
di dengar Juga.
"Kak Bima, lihat kebelakang, itu Iqbal berlari kesini !"
"Kenapa, dia sendiri, dimana Seila? jangan jangan Iqbal belum bertemu Seila,"
Dengan Nafas yang ngos ngosan, iqbal menghentikan langkahnya di depan Bima dan Bondet.
"Bal..! kenapa lari lari, mana Non Seila?
Tanya Bondet penasaran.
"Iya, dimana Seila Bal ?"
Tanya Bima cemas.
"Non Seila ada di sana !
Ucap Iqbaal seraya menunjuk ujung jalan.
__ADS_1
"Ayo, kita kesana,"
Ajak Bima pada Bondet dan Iqbal.
Melihat kedatangan Bima, Bondet dan iqbal
Seila segera berdiri dari tempat duduknya.
Bima yang sudah berada di depan Seila dengan
segera memeluk istri tercintanya.
"Sayang, kamu tidak apa apa kan?"
Seila menggelengkan kepalanya.
"Syukur lah kalau begitu, ayo sekarang kita pergi, kita cari di mana nafa !"
"Tunggu..! Nafa ada di dalam goa itu !"
Ucap Seila.
"Apa...?"
"Bagaimana kau bisa tau?
Seila menceritakan awal mula sampai, ketika dia harus berlari dari kejaran empat orang
pria yang memergoki keberadaan nya
"Jadi Nafa ada di goa itu ?"
Tanya Bina ingin memastikan.
Seila mengagguk.
"Baiklah, Sekarang kita kesana,"
"Tunggu..!"
Bima mengeryitkan dahinya melihat Seila, menghalangi langkah mereka.
"Ada, apa?"
"Kurasa, di dalam goa itu, bukan hanya, di huni
oleh ke empat para lelaki, namun juga ada mahkluk lain yang ada disana, itu terbukti dengan keadaan Nafa yang diikat, dalam sebuah Altar.
"Apa, kamu yakin?"
"Ya, aku sangat yakin,"
"Kalau begitu, kita bagi tugas, untuk menyelamatkan Nafa, karena ke empat pria itu
sudah mengenalimu, maka tugas kamu, harus bisa memancing mereka keluar dari goa, apa kamu siap sayang ?"
"Aku,"
Seila menunjuk kepada dirinya sendiri.
"iya, kamu tidak keberatan kan, sayang, kamu harus bisa memancing mereka keluar dari goa
biar aku bisa masuk menolong Nafa.
"Kalau, mereka menangkap ku bagaimana ?"
"Tenanglah, nanti Iqbal akan, menghubungi teman yang lain dan kantor polisi, Bagaimana?
apa kamu siap sayang,"
Seila mengagguk.
"Baiklah,"
"Dan kau Bondet, tetap ikut aku, ayo. .kita bersiap,"
Mereka semua sudah bersiap dan bersepakat melakukan
tugas masing masing.
__ADS_1
Meskipun, dengan rasa, was was dan takut
Seila pun menerima Tugas yang di berikan Bima.