
"Dulu aku juga tinggal di sini Ras, waktu belum beli rumah, sekarang aku hanya sesekali saja tidur di sini saat sedang kurang enak badan,"
Kata Arin seraya menunjukkan ruangan di lantai dua rumah makan miliknya, di sana ada kamar, dapur kecil, kamar mandi dan ruang nonton TV yang digelar karpet,
Laras terlihat matanya kembali berkaca-kaca karena rasa haru memenuhi seluruh rongga dadanya,
Angga, anaknya kini terlihat berkeliling ruangan seolah antusias dengan tempat baru,
"Kamu masih bisa pakai motor kan Ras?"
Tanya Arin pada Laras yang terlihat menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan yang ada di lantai dua rumah makan milik Arin tersebut,
"Motor, bisa Rin, mungkin agak takut kalau di jalan raya karena sudah lama tidak pakai, apa itu tugasku? Mengantar pesanan atau belanja?"
Tanya Laras pada Arin pula,
Tampak Arin menggelengkan kepalanya,
"Bukan Ras, itu kamu kalau mau antar Angga sekolah bisa pakai motor rumah makan, jemput juga bisa, tidak usah pakai kendaraan umum karena nanti lama nunggunya,"
Kata Arin,
"Tapi kan itu kalau mau dipakai karyawan lain susah Rin,"
__ADS_1
"Motor ada dua dan mobil ada satu, tidak usah khawatir, itu motor untuk antar pesanan yang dekat-dekat dan jumlahnya tak banyak, kadang satu motor saja juga cukup satu hari, belakangan orang lebih senang makan di tempat langsung,"
Ujar Arin,
Tampak Laras mengangguk,
"Iya Rin, orang lebih suka makan di tempat karena kadang di rumah terus rasanya sudah jenuh setiap hari,"
Kata Laras,
Arin pun mengangguk mengiyakan,
"Ya sudah, barangkali kamu mau menata pakaian di lemari, aku turun lagi ya,"
"Iya Rin, terimakasih banyak Rin, terimakasih banyak, sekali lagi terimakasih Rin, aku tidak akan melupakan kebaikanmu hari ini Rin, sungguh,"
Arin tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu Laras dengan lembut,
"Sudahlah Ras, yang penting saat ini adalah kamu fokus dengan apa yang harus kamu jalani, sebagai sahabat sudah jadi keharusan aku bantu sahabat yang sedang kesulitan, dulu kamu juga sering bantu aku beresin PR,"
kata Arin membuat Laras jadi tertawa kecil,
"Arin, itu tidak sebanding dengan apa yang kamu lakuin, beresin PR itu apa,"
__ADS_1
Kata Laras,
"Lho, hari ini mungkin iya beresin PR terkesan tidak penting, tapi hari itu buatku ya sama saja pentingnya Ras, kamu kan tahu Guru di sekolah teman Ibu semua, tiap nilaiku jelek langsung saja viral dan aku pasti dikurangi uang bulanannya,"
Kata Arin, membuat Laras jadi kembali tertawa,
"Ah kamu ini bisa saja Rin,"
"Tidak percayaan kamu mah,"
Arin juga jadi tertawa,
Tak lama setelah itu Arin pun kembali pamit untuk turun ke lantai satu lagi, karena ia harus kembali duduk di meja kasir,
Sepeninggal Arin, tampak Laras sibuk membereskan pakaian yang ia bawa dengan tas pakaian ke dalam lemari yang ada di kamar di lantai dua itu,
Sementara Angga terlihat senang naik ke atas tempat tidur yang kasurnya terasa jauh lebih empuk dari tempat tidurnya di rumah,
"Angga, mulai hari ini Angga tinggal di sini sama Mamah ya?"
Laras menatap Angga yang ada di atas kasur,
"Iya Mah,"
__ADS_1
Sahut Angga tanpa tanya kenapa, dan pastinya untuk anak seusia Angga tak akan terpikir kenapa mereka harus pindah dari rumah Nenek dan tinggal di sana, apalagi bagi anak-anak, selama itu bersama Mama mereka, semua akan tetap terasa baik-baik saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...