Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.152.BERTEMU


__ADS_3

Hendrato menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan dia berusaha menata kalimat apa yang akan di ucapkan agar tidak menyinggung dan membuat sedih gadis yang ada di sampingnya.


"Kenapa diam, bicara lah."


Hendrato tersenyum kecut apa yang tadinya ingin dia bicarakan pun tiba-tiba dia takut untuk menggatakan nya menggingat sifat Seila atau Ningsih yang lebih suka tersinggung dan marah, bukannya Hendrato tidak tau jika hubungan Ningsih dan Bima kini renggang dan jauh, Hendrato tak lagi pernah melihat Bima ada di Rumah Ningsih dan tidak lagi pernah mengajak Ningsih keluar berdua.


Hendrato yakin pasti Bima sudah bercerita kalau Ningsih adalah istrinya dan pasti nya Ningsih sangat syok dan tidak mau menerima hal itu buktinya kini mereka berdua telah jauh.


"Hei, Mas Hendrato! kenapa malah melamun katanya mau bertanya, mau tanya apa?"


Teguran Ningsih yang tiba-tiba membuat Hendrato sedikit gugup karena ketahuan tengah melamun.


"Tidak aku cuma mau bertanya apakah kau mau makan di restoran sederhana yang ada di ujung sana itu, aku pernah dengar dari temanku katanya makannya enak dan lagi pula kita bisa melihat anak anak kecil bermain karena di sana ada tempat bermain untuk anak."


"Oh, boleh! gak papa Mas aku mau pasti seru makan sambil ngeliatin anak kecil bermain."


"Eng..iya, kita kesana ya." ucap Hendrrto menlajukan mobil nya ke tempat Restoran kecil yang ada di dekat permainan anak.


Hendrato memilih duduk di dekat jendela yang mana bisa melihat anak anak kecil bermain dengan senangnya, bibir Hendrato tersenyum bahagia ketika melihat Ningsih tersenyum menatap anak anak kecil yang berlarian dan berjoget dengan lucunya.


"Kau senang kita di sini!"


"Iya, sangat senang mereka lucu lucu."


"Nanti kalau kita sudah punya anak sendiri pasti' lebih lucu dan pasti kita lebih bahagia." Gumam Hendrato dalam hati sejujurnya ingin menggatakan hal itu langsung tapi takut Ningsih tersinggung dan di anggap terburu buru jadilah cuma bergumam dalam hati.


"Mas..!" boleh aku ke tempat anak anak itu?"


"Tentu saja, Boleh, kenapa aku harus melarang aku juga akan sangat senang jika kamu suka dengan anak kecil Nanti malam pertama kita bisa langsung tancap gas." Goda Hendrato sambil tersenyum nakal.


"Apaan, sih..!"


Ucapan Hendrato membuat wajah Ningsih merah menahan malu dengan cepat Ningsih melangkah keluar ke tempat di mana anak anak kecil itu bermain. Hendrato yang melihat itu tersenyum gemas dan bahagia setelah membayar makanan yang mereka pesan Hendrato keluar berlari kecil menghampiri Ningsih yang berdiri dengan senyum mengembang melihat anak anak kecil yang sedang bermain.


"Mas..!"

__ADS_1


"Hmmm..!"


"Lihat anak itu, dia beda dengan anak anak lainnya."


"Iya, rambutnya lucu." ucap Hendrrto tersenyum sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Ningsih. Beberapa hari ini Ningsih tidak pernah menolak atau melarang Hendrato melingkar kan tangan ataupun mencium nya, Ningsih membiarkan itu tapi untuk ciuman bibir Ningsih belum bisa membalas atau pun menerima nya entah mengapa rasaanya sulit dan terasa tidak bersemangat dan malas.


"Ning..! aku ada telpon dari kantor, aku tinggal sebentar di sini kamu tidak apa-apa kan?" cuma satu jam saja paling lambat dua jam jika perjalanan macet.


"ngak, papa pergilah mas, aku mau lihat anak lucu itu."


"Iya, dia paling lucu rambutnya kriting dengan kulit nya paling hitam sendiri di antara anak anak lain."


"Mungkin, papa nya orang berkulit hitam mas, buktinya tuh hidungnya mancung alis dan matanya juga indah, cuma kulit dan rambut saja yang membuat nya terlihat kurang."


"kamu benar, sudah ya aku tinggal dulu sebentar, jangan kemana mana."


"Iya, Mas! aku akan tunggu di sini."


Setelah Hendrato pergi NIngsih berjalan mendekati anak kecil itu dia begitu merasa tertarik ingin mencubit pipi nya yang menggemaskan.


"Hai Dede kecil, siapa namamu?"


"Maaf, Non ini siapa?"


Mendengar ada seseorang yang bertanya padanya dengan cepat Ningsih tersenyum, Nama saya Ningsih putri ibu Cantik dan lucu saya jadi gemas dan ingin menggendong nya."


"Maaf, Non Ningsih ini bukan Putri Bibik, saya cuma pengasuh nya."


"Oh, iya lucu anak nya siapa Namanya?"


"Vira, Non!" Maaf Non boleh nitip sebentar saya mau membelikan Non Vira mainan di ujung sana dia tadi seperti nya ngelihatin terus."


"Oh, boleh..boleh, Bibik pergi saja biar Vira saya yang jaga."


"Trimakasih, Non! Oh ya kalau Non Vira rewel di sana di dalam mobil itu ada papa nya, Non Ningsih bisa berikan padanya."

__ADS_1


"Tenang Bik, seperti nya Vira sama aku ngak rewel tuh."


"Iya, kok aneh gitu, padahal di rumah di ajak mamanya saja sekarang ngak sampai duapuluh menit sudah nangis."


"Non Ningsih cantik dan sepertinya penyayang gitu jadinya Non Vira suka, ya sudah saya tinggal dulu ya Non."


"Ya, silahkan Bik."


Bik Inah segera pergi meninggalkan Vira dan Ningsih, melihat Vira yang lucu Ningsih semakin gemas dan senang entah sudah berapa kali pipi hitam Vira di ciumannya.


"Hei, ada apa?"tadi diam dan tenang sekarang kok seperti mau ngajak jalan, ok mau jalan kemana Vira sayang, hei tangannya mengarah ke mobil itu, oh pasti mau ketemu Papanya ya sudah ayo aku antar kamu ke papamu."


Ningsih segera menggendong Vira menuju mobil berwarna Hitam, melihat kaca mobilnya tertutup dengan kaca anti tembus pandang membuat Ningsih tidak tau dan tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam dengan penuh hati-hati NIngsih mulai menggetuk pintu mobil, mendengar ada ketukan mobil dengan cepat si penggemudi pun membukakan pintu mobil dan ketiika pintu mobil terbuka Ningsih langsung melotot tak percaya begitu juga dengan si pengemudi mobil dia tau kalah terkejutnya sehingga Tatapan mereka beradu satu sama lain.


"Ningsih..!"Seru Bima terkejut.


"Pak, Bima!"ma-maaf seperti nya aku salah orang, tadi Dede kecil ini minta di anterin kepada papanya," ucap Ningsih gugup hatinya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Bima di tempat ini orang yang beberapa hari ini dia hindari tapi justru diam diam dia rindukan dalam hati, Ningsih hendak melangkah pergi tapi Bima menghentikan nya.


"Mau, kau bawa ke mana anakku?"


"A-apa?" anak Bapak! benarkah Vira ini anak Bapak?" tanya Ningsih tak percaya tanpa sadar. karena dia tau Bima dan istrinya berkulit putih bersih tapi kenapa anaknya berkulit hitam.


"Iya, Vira anak ku berikan padaku sekarang waktunya tidur masuk lah hati hati biar tidak terjaduq kepala nya."


NIngsih menggagguk dengan perlahan lahan di berikan nya Vira pada Bima hati Ningsih benar benar bergolak tak karuan jantung berdebar lebih cepat dan terlebih Tatapan mata Bima yang tak berkedip menatap nya membuat NIngsih jadi salah tingkah, Ningsih merasa jengah dengan tatapan mata Bima yang terus menatapnya.


"Kenapa menatapku begitu, Vira sudah sama bapak jadi saya pergi dulu."ucap NIngsih menghindari tatapan mata Bima dan buru buru keluar tapi Bima menahan tangan Ningsih dengan mengengamnya.


"Jangan pergi dulu, tolong bantu aku menidurkan Vira di mobil joq belakang di sana Vira bisa tidur dengan nyaman karena ada box tidur nya."


"Oh, iya!"


Ningsih membantu Bima membuka pintu mobil belakang dan dengan sangat hati-hati Bima menidurkan Vira yang sudah tertidur sedangkan Ningsih langsung hendak keluar tapi lagi-lagi Bima mencegah nya dengan menggengam tangan Ningsih. Bagaikan ada sengatan listrik ketika tangan Bima menyentuh nya debar jantung yang tadinya sudah reda kini mulai berpacu lagi membuat debar di dalam hatinya lebih dalam lagi.


"Lepaskan, Bapak, mau apa?"ucap NIngsih dengan bibir bergetar.

__ADS_1


"Apa, kamu tidak mau memaafkan ku, atau apakah kamu sudah benar-benar melupakan aku."


Ningsih belum memberikan jawaban dia justru menggigit Saliva nya membuat Bima gemas menatapnya sedangkan NIngsih memilih membuang muka tak sanggup rasanya jika harus beradu pandang. Ningsih tidak pernah menduga jika dia akan bertemu dengan Bima.


__ADS_2