
Bima berjalan menaiki anak tangga dan membuka nya dengan perlahan lahan dan sangat hati-hati, Bima tidak mau ceroboh untuk yang kesekian kali, sifat keras kepala nya Seila harus benar benar bisa di hadapi dengan sabar dan sabar.
Pintu kamar telah terbuka dan terlihat lah sosok wanita cantik yang sedang berdiri di depan jendela, pandangan matanya lurus ke bawah, mungkin dia lagi menikmati indahnya pemandangan yang ada di bawah sana, Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan ada keraguan yang membuat dirinya merasa tak yakin apakah gadis di depannya itu mau menerima atau kah masih dengan sikap keras kepala nya.
"Ehem...Seila..!" apakah kau masih marah padaku?'tanya Bima lirih, jujur saja suasana saat ini serasa sangat sulit bagi Bima, bahkan yang tadinya merasa yakin mampu dan bisa kembali meluluhkan hati sang Istri nya kini tiba tiba bagaikan tersapu air hujan yang sangat deras hilang tak berbekas.
Terlebih sapaan nya gagal, sudah berdehem, sudah berbicara lirih, tapi Seila tetap tak bergeming dari tempatnya bahkan tak menjawab sepatah katapun. Bima menelan ludahnya dengan kasar merasa tengorokkan nya terasa kering.
"Sial, ternyata tak semudah yang kubayangkan."Gumam Bima dalam hati, sambil mengacak rambut nya yang.
Dalam keresahan hati nya tiba-tiba terbersit satu ide konyol yang mungkin bisa mencairkan suasana kaku dan canggung saat ini.
"Seila... awas....!" ada cicak di dekat jendela itu."teriak Bima memberi tau dan benar saja Seila langsung berteriak histeris sambil berjingkrak jingkrak menjauhi tempat itu.
"Mana...di mana cicaknya?"teriak Seila ketakutan dan kesempatan itu tidak di sia sia kan Bima dengan lantang Bima berteiak.
"Itu di situ di dekat tanganmu."seru Bima yang sukses membuat Seila ketakutan dan berlari kebalik punggung Bima.
Diam diam Bima Tersenyum dan membalikkan badannya hingga kini tubuh Bima dan Seila saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Kenapa takut, masa sama cicak takut."
Seila mendelik dan dengan cepat mendorong tubuh Bima menjauh darinya hingga jatuh ke lantai.
"Cepat...!" buang cicaknya." Triak Seila menggingatkan.
" Ngak ada cicaknya."jawab Bima entrng.
"Lho tadi katanya ada cicak..!"
"Sapa suruh orang di tanya diam saja, ku bohongin dah biar mau bicara."
"Apa..? jadi ini semua bohong." tanya Seila antusias dan dengan entengnya Bima mengagguk.
Merasa geram karena telah di permainan dengan cepat Seila menghampiri Bima dan memukul mukul dada bidang Bima dengan keras, membuat Bima mengaduh kesakitan tapi bibinya mengembangkan senyuman.
"kamu jahat, sudah tau aku takut cicak kenapa juga kamu takuti aku dengan cicak."
"Yaa....salah sendiri di tanya ngak jawab, emang enak di cuekin."Ucap Bima sambil terkekeh.
"Kak Bima....! seru Seila penuh dengan penekanan
Kembali tangan halus dan putih itu memukul mukul tubuh Bima, sambil terkekeh Bima mengengam tangan Seila dan merengkuh nya dalam dekapan nya.
"Maafkan, aku sayang, selama ini kamu tersiksa dan tak bahagia karena ketidak tegasanku tapi kamu jangan khawatir yang mengaggu hubungan kita sekarang sudah aman dan aku akan cari tau siapa wanita itu sebenarnya."
__ADS_1
Seila menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan seraya merenggangkan pelukan Bima.
"Ku rasa tidak perlu, tidak usah lagi kita membicarakan nya biarkan saja, oh ya Kak Bima! bagaimana Ayah bisa tau wajahku berubah, kak Bima yang ngasih tau ya?"tanya Seila seraya mendudukkan bokongnya di kursi sofa.
"Tentu saja aku yang bercerita agar Ayah tidak terkejut."
"Tuh...kan !"aku jelek kan, makanya kak Bima ngasih tau duluan." Sungut Seila kesal dengan bibir di krucutkan.
Bima terkekeh mendengar perkataan istri nya yang di nilai terlalu sensitif, berfikir menurut garis pemikiran nya sendiri.
"Tidak semua begitu, contoh nya aku apa aku dulu tau kamu istriku, tidak kan! tapi aku selalu mengaggumu apa kamu tau kenapa itu karena hatiku ingin selalu dekat dan dekat padahal aku tidak tau sama sekali siapa kamu ketika itu, cinta itu datang nya dari hati bukan dari pandang wajah saja, jika cuma itu patokan dari sebuah cinta mungkin aku sudah meniduri Seila palsu itu, bukankah wajahnya mirip dengan mu lalu kenapa aku tak juga memiliki keinginan untuk menyentuh nya itu karena hatiku masih milikmu dan hatiku untuk mu,"ucap Bima menegaskan membuat rona merah pada wajah Seila seperti buah tomat yang siap di jadikan sambal bajak yang enak.
Bima menggulurkan tangannya pada Seila yang ketika itu sedang duduk.
"Ayo kita turun..!" kita makan bersama kasian Ayah sudah menunggu." ajak Bima pada Seila, tanpa penolakan kali ini Seila menggikuti ajakan Bima.
Di ruang makan semua sedang menunggu kedatangan Bima dan Seila, tatapan haru dan penuh bahagia menyelimuti hati laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Ayah dari Seila, sang Ayah sangat bangga pada menantu nya Bima, di mana laki-laki itu tidak mempersoalkan wajah putrinya yang sudah berubah bahkan masih setia sabar dalam menghadapi sikap keras kepala putrinya hal yang lebih membanggakan lagi Bima juga sudah memberikan keadilan pada Seila di mana orang yang menggaku sebagai istri Bima dengan wajah yang sama kini mendapat kan balasannya dengan di masukkan nya ke penjara.
Bima yang memiliki kekuasaan serta teman dekat di bidang hukum yang bekerja sebagai pengacara ternama membuat laporan yang di ajukan tidak menunggu lama dan sidang atas dasar pemalsuan identitas akan di gelar Minggu depan.
Bima Tersenyum senang mendapat kan kabar berita itu, yang mana Seila palsu jika tidak bisa menunjukkan bukti bukti kebenaran kalau dirinya benar benar Seila istrinya maka pintu penjara siap menjadi tempat tinggal nya.
"Semua sudah berkumpul mari kita makan," ajak Seila pada semua yang ada di situ.
"Mari...Non!" sahut Bik Inah menanggapi.
"Tunggu..!" seru Bima kemudian membuat semua yang hendak menggambil nasi dan lauk pun terhenti.
Seila menatap wajah Bima dengan mengeryitkan dahinya.
"Ada apa lagi kak?kan kita sudah kumpul semua di sini."ucap Seila protes dia merasa semua sudah lengkap tapi mengapa masih tidak di ijinkan.
"Kita belum lengkap masih ada beberapa undangan yang belum datang." ujar Bima memberikan jawaban.
"Lho...siapa lagi yang belum datang kak?"tanya Seila penasaran. "Awas..!kalau macam macam megundang orang sembarangan." seru Seila dalam hati, khawatir dia masih sangat marah dan kesal dengan Nafa dan jangan Jangan Bima mengguncang Nafa untuk datang dan kalau sampai hal itu terjadi Seila akan menjadi kan mereka perkedel.
Bima yang melihat tatapan tajam Seila berusaha tersenyum dan menggeleng kan kepalanya, berharap Seila tidak berfikir yang macan macam.
"Sebentar lagi mereka akan segera sampai,"ucap Bima kemudian.
"Baiklah, kita tunggu kedatangan mereka." ucap Ayah Seila kemudian, sambil menunggu mereka berbincang bincang tentang banyak hal terutama sang Ayah yang sangat penasaran dengan apa yang akan Bima lakukan pada gadis palsu yang menggatakan dirinya istri nya Bima, tak lama kemudian.
"Ting..Tong..! Ting Tong...!"bel rumah berbunyi pertanda tamu sudah datang.
"Mereka sudah datang..!" seru Bima dengan wajah berbinar senang.
__ADS_1
"Biar Bibi yang bukain Den!'tawar Bik Inah.
"Boleh, silahkan Bik!"
Bergegas Bik Inah membuka pintu depan.
"Selamat sore Bik?"
"Oh, ternyata kalian yang datang , selamat sore ayuh masuk."ajak Bik Inah antusias.
Suara derap kaki menuju ruang makan yang cukup keras membuat Seila ikut penasaran siapa tamu suaminya yang spesial kali ini dan ketika mereka sudah berada di depan pintu ruang makan Seila ssngat terkejut samoai ssmpai bangkit dari tempat duduknya.
"Wina ...!" Kak Bondet dan Kak Iqbal kalian datang bersama ya, ayo masuk mari kita makan." Seru Seila girang Bondet dan Wina segera duduk sedangkan Iqbal masih mematung berdiri di pintu.
"Kak Iqbal!" ayo masuk Kenapa masih berdiri di situ, ayo kita makan."seru Seila.
"Iya, sini masuk Kenapa masih bengong saja" timpal Bima yang juga meminta Iqbal untuk duduk.
"cewek ku masih di luar gak mau ku ajak masuk."
"Biar aku yang samperin, kamu duduk, saja." tawar Seila.
"Non Seila yakin bisa membujuknya?"
"Yakin, kalau masih tidak mau tinggal tarik tangan nya beres."
"Ha..ha ..ha.. Jangan Non, nanti dianya ngambek," seru Bondet.
"Tenang...aku pasti bisa atasi."ucap Seila mantap seraya keluar menemui pacar Iqbal di luar.
Akhirnya Iqbal menurut, dia duduk di antara semua tamu keluarga untuk makan bersama, sampai di luar Seila melihat seorang gadis masih duduk di dalam mobil, Seila mengetuk pintu kaca mobil, membuat sang gadis segera membuka kaca mobil dan Seila terperanjat ketika mengetahui siapa yang ada di dalam mobil, tatapan mata mereka bertemu, Seila segera membalikkan badan dan hendak pergi tapi niat itu di urungkan nya karena termasuk tidak sopan pada tamu. Dengan tubuh membelakangi Seila berkata.
"Apa, kau tidak ingin masuk dan makan bersama kami! kalau tidak keberatan masuklah dan mari kita makan bersama." suatu ajakan yang tentunya tidak sopan di mana yang menggajak tidak menatap wajah orang yang di ajak.
"Apa kamu tidak keberatan, jika aku ikut bergabung di sana?" tanya gadis itu santai.
"tentu saja untuk apa aku keberatan masuklah," ucap Seila sedikit sinis yang kemudian masuk rumah lebih dulu, sedangkan di dalam ruang makan Iqbal berbisik pada Bima membuat Bima mendelik.
"Kak Bima, di luar ada Nafa?"
"Apa..!"Macam-macam saja kamu, bisa marah marah lagi nih Bini," ucap Bima seraya menonjok kepala Iqbal pelan tanda gemas.
Bima menelan ludahnya dengan kasar ketiika melihat Seila masuk dengan raut wajah masam dengan cepat di raihnya tangan sang istri.
"Sini duduk, Iqbal jemput temen kamu itu."seru Bima memberikan perintah dengan wajah tanpa dosa dan bibir cengar-cengir Iqbal pun keluar menjemput Nafa.
__ADS_1
Setelah semua sudah berada di meja makan Bima mempersilahkan semua tamu undangan nya untuk makan.
"Mari kita makan, ayo ..ayo ambil sendiri pilih mana yang di suka, sayang kamu suka ayam bakar ini kan biar aku ambilkan."tawar Bima cari perhatian berharap sang istri ngak ngambek ngambek lagi, Bima tak perduli Seila mendelik karena perbuatannya yang penting bisa aman ngak dapat marah dan ngak ngambek.