Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.92.BERTEMU MANTAN


__ADS_3

Suasana masih sangat pagi udara yang sejuk menerobos masuk ke dalam sum sum kulit


Arya memberanikan jaketnya pada sang istri, sikap Arya yang sok Romantis membuat Arina sedikit jengah dan kesal.


"Ini di dalam mobil tidak perlu jaket lah," tolak Arina pada Arya.


"Ya, baiklah, tidak masalah kalau kamu merasa dingin bisa langsung kamu pakai,"


Arina tidak menjawab perkataan dari suaminya, wajahnya masih menampakkan mendung dan ketidaksukaan membeku seperti es dari kutub Utara, Arya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, mencoba memahami kekecewaan yang Arina rasakan. Arya sadar dirinya telah membohongi Arina dengan menghianati persetujuan dalam pernikahan yang Arina berikan sebagai syarat untuk menerima sebagai suaminya, dia berjanji tidak akan menyentuh nya sampai Arina bisa menerimanya, tapi belum dua malam perjanjian itu sudah di hiayanatinya, Arya tersenyum simpul menggingat semua itu.


"Siapa sih yang tahan menyianyia kan kenikmatan yang tersaji di depan mata, aku juga manusia normal yang pasti tidak tahan jika ada sajian di depan mata, sudah lama juga ingin merasakan bagaimana rasanya dan nikmatnya berhubungan, ternyata benar benar memabukkan, entah berapa kali aku mengempur nya, yang jelas dan pasti sampai aku benar benar puas, masalah Nanti di marahi atau di musuhi istri, pikir belakangan dan sekarang aku akan mempertanggung jawabkan semua ulahku semalam," Gumam Arya dalam hati.


Arina sungguh terkejut ketika Arya menghentikan mobilnya di depan Rumah sakit.


Terpampang jelas sebuah tulisan Rumah Sakit Sehat Sentosa. Di tatapnya lekat lekat wajah suaminya, Sang Suami di tatap begitu keder juga karena tatapan Arina bagai tatapan seekor Macan yang hendak menerkamnya.


"Arina..!"kenapa menatapku begitu,"


"Ini Rumah sakit kan?"tanya Arina tegas.


"Iya, ini Rumah sakit, tuh ada papan Namanya,"ucap Arya polos.


"Sudah tau tuh ada papan gede namanya, maksudku ngapain kamu ajak aku kesini?"


"Oh, itu..!"Arya tersenyum manis sebelum menjawab pertanyaan Arina.


"Di tanya, bukannya menjawab malah senyum senyum, ngapain kita kesini, kamu sakit?" bukannya semalam kamu mengempurku dengan hebat, kok sekarang mau masuk Rumah sakit, kenapa?"sakit habis mengempurku," Sungut Arina kesal.


"Bukan aku yang sakit dan mau periksa,"


"lalu siapa?


"Kamu..!"


"Apa...?"aku, kok aku..!"tanya Arina.


"Kan kamu sekarang lagi sakit tuh jalanmu saja begitu, jadi aku akan minta obat dokter agar kamu tidak sakit, dan lagi jangan khawatir disini dokter nya temanku dia akan memberi yang terbaik untuk kita,"Arina membulat kan kedua bola matanya dan menatap tajam ke pada Arya.

__ADS_1


"kamu itu bener bener ya, masak sakit beginian kamu bawa ke rumah sakit, memangnya kamu mau bilang apa? maaf dokter, istri sakit habis melakukan malam pertama dengan ku begitu? dasar bodoh, ayo, pulang," seru Arina.


"Tenang, Rin, dokternya temanku jadi aman,"


"Aman..aman, aku ngak mau,"


"Ya, sudah kalau begitu tunggu disini aku minta obat nya saja," Ucap Arya sambil membuka pintu.


Arina bener bener merasa sangat kesal dan ingin rasanya meninju Suaminya, yang bener bener bodoh. Arina menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, wajah nya memerah karena menahan marah. Namun ketika Arina membuang muka ke kanan tiba-tiba mata indahnya menangkap sebuah


Motor yang ada di parkiran.


"Aku, seperti pernah melihat Motor itu, coba aku turun dan melihat dari dekat," dengan sedikit tertatih tatih Karena rasa sakit di daerah sensitif nya yang masih Terasa, Arina turun dari mobil dan melangkah mendekati Motor yang ada di parkiran sebelah kanan.


"Bukankah ini Motor milik Bima, kenapa ada di sini, apakah Bima sakit," tiba-tiba wajah Arina menampakkan sebuah kepanikan, dengan sedikit berlari sambil menahan sakit, Arina segera masuk ke dalam Rumah sakit dan dengan cepat bertanya pada pihak perawat.


"Mbak, tolong, beri tau saya kamar pasien bernama Bima ada di Nomor berapa ya?"tanya Arina panik.


"Oh, baik, tunggu sebentar," perawat itu segera memeriksa daftar buku.


"Mbak coba cek lagi, aku melihat Motor nya ada di sini,"


"Baiklah," lagi lagi perawat itu memeriksa daftar nama pasien.


"Benar mbak, tidak ada pasien bernama Bima di sini!"


"Oh begitu ya mbak, baiklah saya permisi kalau begitu,"


Dengan langkah gontai Arina melangkah keluar pintu Rumah sakit, ketiika berjalan keluar Arina bertemu dengan pak satpam.


"Maaf, pak!" mau tanya?"


"boleh, Non mau tanya apa?"


"Itu pak..!"Motor yang di parkir di sana itu, apa baru parkir hari ini?


" Oh, motor itu!" itu sudah ada dari kemarin malam Non,"

__ADS_1


"Jadi motor nya nginep pak?"tanya Arina penasaran, yang di Jawab dengan anggukan.


"Trimakasih, pak!"


"Sama sama, Non!"


Arina keluar masuk Rumah sakit untuk mencari di mana kamar Bima sampai keringat membasahi pelipis dan lehernya, Arina sesekali meyeka keringat nya, berkali kali orang yang di cari tidak dia temukan Arina memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku depan yang ada di dekat dengan parkiran, tak lama kemudian terlihat lah sosok laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih bibir sensual dengan lesung Pipit di pipi kanan, mata Arina segera berbinar Indah dengan cepat dia berdiri dari duduknya.


"Itu Bima..!" aku akan menghampirinya, tidak Nanti dia curiga kalau aku lebih dulu mengetahui nya, aku harus pura pura agar terlihat tidak sengaja bertemu." ucap Arina dalam hati.


"Aduuuuuhhhh, aduuuhh, sakit,"


Bima yang kebetulan melewati jalan itu menghentikan langkahnya ketika melihat seorang wanita lagi merintih kesakitan dengan


memegangi perutnya sambil menunduk, di dekatinya wanita itu.


"Maaf, mbak sakit apa?"


"Perutku sakit, aduuuuuhhhh,"


"Sabar mbak, ayo aku bantu duduk dulu,"


"Aku tidak mau, aku mau segera periksa,"


"Baik , mbak, mari ku bantu!"


Ketika Bima meraih tangan dan membantu sang wanita Bima terkejut ketika mengetahui siapa yang sedang sakit itu.


"Arina..!" kau," ucap Bima terkejut.


"Bima kau..!'Bima tolong aku, perutku sakit,"


"Iya, sabar ya, ayo, aku bantu ke dalam,"Bima segera membantu Arina dan Arina segera melingkar kan tangannya pada leher Bima dan menuntun tangan Bima agar melingkar di pinggang nya yang ramping.


"Di sini yang sakit, jadi pegang di sini,"ucap Arina manja, awalnya Bima merasa engan dan ingin menolak tapi ketika menyadari Arina dalam keadaan sakit maka Bima menuruti apa yang di inginkan gadis yang ada di sampingnya yang tak lain mantan kekasihnya dulu, saat masih sama sama sekolah.


Tanpa mereka ketahui sepasang mata melihat aksi mereka dari dekat mobil, yang baru saja dia parkir dengan tatapan tajam, yang kemudian membuat nya cepat cepat pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2