Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.170.KERAS KEPALA


__ADS_3

Arina tak bisa memejamkan matanya dia begitu gusar dan kalut, ucapan Novi tergiang ngiang selalu dalam ingatan nya, Arya sudah kembali dan Arya sudah sembuh dari lumpuhnya itu artinya Arya akan kembali lagi beraktivitas seperti biasa dan akan kembali juga ke dalam kantornya yang mana pasti akan tau berapa banyak jumlah uang yang keluar dari sana, Arina mengusap wajahnya dengan kasar, karena merasa binggung Arina keluar kamar dan berjalan ke dalam dapur, entah mengapa rasaanya ingin makan dan ingin minum apapun yang ada, kerongkongan nya betul betul terasa kering.


"Kau belum tidur?"


"Sebuah sapaan lembut dengan gema suara yang sangat syahdu, Arini hafal sekali siapa pemilik suara itu.


"Mas Bima! belum ini aku lagi haus dan pingin makan."


"Makan dan minum lah aku akan menemanimu di sini,"ucap Bima datar membuat Arina tak percaya jika Bima mau menemani nya."


"Mas Bima yakin mau menemani ku?"


"Tentu saja bahkan aku juga mau menunguin kamu sampai kamu bisa tidur."


Mendengar perkataan Bima yang tak seperti biasanya membuat Seila yang sebenarnya Arina berbinar bahagia.


"Ayo, mas, kalau begitu temani aku."


"Lho, tadi bilang nya lapar tapi kok sekarang ngajak tidur."


"Hilang laparnya."


Bima Tersenyum kemudian menggikuti Seila yang sebenarnya Arina masuk ke dalam kamarnya. Ketika pintu kamar akan di tutup tak sengaja Bima melihat ke atas di mana di dalam kamar atas ada Seila yang sedang tidur dan alangkah terkejutnya Bima ketiika melihat Seila berdiri di tangga sedang menatap nya. Bima menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa kering dan menggigit Saliva nya ada rasa binggung dan takut yang tiba-tiba menyeruak ke dalam kalbunya.


"Ayo, mas tutup pintunya kenapa masih berdiri di situ," seru Seila yang sebenarnya Arina sambil menarik masuk tangan dan tubuh Bima.


"Ayo, mas sini aku mau tidur dalam pelukan mas Bima."ucap Arina manja.


"Oh, iya," sahut Bima gugup pikiran nya sibuk mengembara dan menerka neraka apa yang akan di lakukan Seila padanya setelah menggetahui dirinya lagi bersama wanita lain, Bima merutuki kecerobohan nya.


"Mas!" trimakasih ya, sudah mau menemani ku tidur, aku sangat senang sekali."ucap Seila yang sebenarnya Arina dengan merebahkan tubuhnya dengan memeluk lengan kekar Bima.


"Iya, tidur lah cepat jangan berisik saja."ucap Bima yang sebenarnya hatinya sedang kalut memikirkan apa yang akan di lakukan Seila istri nya nanti di kamar. Malam serasa lambat berjalan dan terasa lama menunggu Seila, yang di sampingnya cepat tidur agar dia bisa cepat cepat kembali ke dalam kamarnya, berkali kali Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sangat kasar, hatinya benar benar tidak tenang instingnya mengatakan akan ada hal buruk yang akan terjadi, Seila yang sudah kembali ingatan nya sudah bisa di pastikan sifatnya pun akan kembali sangat keras kepala tidak mau mendengar apapun dan suka membenarkan pemikiran nya sendiri.

__ADS_1


Lagi-lagi Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, akhirnya yang di tunggu tiba gadis di sampingnya sudah tidur, Bima Tersenyum lega dan cepat cepat Bima keluar dari dalam kamar gadis yang mengaku menjadi istrinya.


Dengan sedikit berlari Bima menaiki anak tangga kamarnya dan di bukanya pintu kamar itu dengan perlahan lahan berharap Seila istrinya sudah tidur.


Bima menarik nafas lega ketika melihat Seila sudah tidur di atas ranjang nya meskipun dengan badan miring, perlahan-lahan Bima mendekat dan akan mengecup kening istrinya tapi belum sempat semua itu dilakukan tangan Seila sudah menepis nya dengan kasar, membuat Bima sedikit terkejut ternyata Seila belum tidur dia hanya pura-pura tidur.


"Jangan, sentuh aku!"ucap Seila dingin.


"Maaf, aku pikir kamu sudah tidur.'jawab Bima kalem.


Dengan serta merta Seila membalikkan badannya dan menatap tajam wajah tampan di depannya dengan tatapan yang sangat dingin.


"Seharusnya kamu tidak usah kembali, tidur saja di sana."ucap Seila dingin.


"Sayang, kok ngomong nya gitu sih.'


"Kenapa!" sudah deh ngak usah bersandiwara sok peduli aku lagi aku ngak butuh kasianmu.


"Seila...!" ngomong apa sih kamu itu.'


"Seila, cukup!" hentikan omong kosong mu itu, apa yang kamu katakan itu tidak benar aku sangat mencintaimu,"


"Oh, ya! ha ..ha. ha..begitu ya mencintai yang benar itu, di hotel dengan wanita lain dan di rumah juga dengan wanita lain lalu aku apa pajangan?"


"Seila..!" sudah jangan berfikir buruk begitu yang di hotel itu Nafa dia anak didikku dan diantara kami tidak ada apa-apa, baiklah aku minta maaf tadi telah menemani gadis itu tapi percayalah aku hanya sekedar menemani aku memiliki rencana untuk nya besok jadi aku berfikir sebelum aku memberikan pelajaran atas apa yang dia lakukan aku pikir tidak ada salahnya satu malam membuat nya senang."


"Aku tidak mau tau alasanmu karena aku tau kamu cuma mencari alasan,oh, ya, lebih baik jangan berpura-pura lagi, besok kita urus perceraian kita dan kau bisa bebas dengan siapa saja."seru Seila lantang membuat Tubuh Bima tiba-tiba bergetar karena ucapan Seila bagaikan petir di siang hari dengan bibir bergetar Bima mendekati Seila dan mencoba meraih tangannya.


"Seilaaaa...!" apa kau bilang, cerai...! kamu jangan main main, sayang!" apa yang kau pikirkan itu tidak benar aku sangat mencintai mu, percayalah aku mohon."


Seila membuang muka dan mengibas kan tangannya dengan kasar hingga gengaman tangan Bima lepas.


"Aku tidak main main besok aku akan kembali ke rumah ibu yang sudah menyelamatkan ku dan akan kita urus perceraian kita, kamu ngak usah lagi berpura-pura mencintai ku, cintai dan halalkan saja gadis yang sudah memakai wajahku itu."

__ADS_1


"Seila.., kenapa sih kamu masih saja egois dan keras kepala cobalah sekali saja kamu ngertiin aku."


"Aku egois, aku keras kepala dan aku tidak bisa ngertiin kamu...ok deal...Agar aku tak lagi menjengkelkan buat kamu kita pisah kita cerai titik."seru Seila seraya menarik selimutnya dan tidur.


Bima yang tersulut emosi pun dengan kasar menarik selimut yang di gunakan Seila.


"Enak saja mrnggambil keputusan sendiri, sampai kapan pun aku juga tidak akan mau pisah dan menceraihkan mu titik." teriak Bima yang juga tak kalah segit nya dan meraih selimut kemudian tidur di samping Seila.


"Jangan tidur di ranjang sini, pergi jauh sana!'usir Seila dingin.


"Ini Ranjang ku!"ini kamarku! jadi aku tidur di sini itu juga hak ku." ucap Bima yang juga tak kalah segit, dia ingin memberikan pelajaran pada istri bandel nya, Bima mau menunjukkan diapun bisa berkata keras dan kasar, melihat Seila tak lagi membantah ucapannya diam diam Bima Tersenyum senang.


"Akhirnya, gitu dong sayang anteng ngak membantah lagi masak suami tidur di sampingnya ngak boleh." gumam Bima dalam hati dengan Tersenyum lega.


Tak lama kemudian Seila bangkit dari tidurnya dan turun dari Ranjang, membuat Bima kembali bergolak hatinya was was dan khawatir Seila akan pergi kemana dengan cepat Bima ikut turun dari Ranjang dan mendekati Seila.


"Sayang, kau mau kemana?"


"Tidur, aku lelah."


"Kok ..turun dari Ranjang kalau mau tidur."tanya Bima heran.


"Aku akan tidur di sofa,"


"Apa? tidur di sofa, Ke-kenapa tidak di ranjang saja."ucap Bima gugup ternyata perkiraan nya salah Bima berfikir Seila sudah membaik amarahnya sudah redah tapi ternyata keegoisan dan sikap keras kepala nya masih ada .


"Sudah ku bilang aku tidak mau tidur satu ranjang dengan mu, dengan orang yang berpura-pura mencintai ku, yang sebenarnya cuma mencintai Wajah ku saja.'


"Seila, bisa tidak kita tidak bertengkar malam ini, ok aku mrnggaku salah maafkan aku tapi please, jangan keras kepala begini hatiku sedih jika masih marah dan tidak mau tidur seranjang dengan ku, baik aku yang tidur di sofa, kamu ngak boleh tidur di sofa aku takut kamu sakit.


"Ayo tidur dan beristirahat lah." Bima turun dari ranjang dan tidur di sofa.


Untuk beberapa saat suasana hening, setelah menunggu hampir dua jam Bima baru bisa yakin kalau Seila sudah tidur dengan perlahan lahan mendekati ranjang di mana Seila sedang tidur. Ditatapnya lekat lekat wajah istrinya, ingin membelai ingin mengecup takut yang punya terbangun dan marah marah jadilah Bima hanya menatapnya dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak pernah mau mengerti, aku sangat mencintai mu dan aku bisa gila jika harus kehilangan mu, kembali lah mencintai ku meskipun hanya sedikit." lirih Bima dalam hati.


__ADS_2