
Di kala semua tugas yang ada di kantor
selesai, Bondet dan iqbal sudah bersiap
siap untuk pergi ke pesta undangan
perpisahan yang di adakan Ayahnya Nafa.
Bondet dan iqbal tampil dengan baju yang
sangat rapi dan bagus malam itu, sedangkan
Bima, hanya memakai baju yang dikenakan
saat kerja pagi, Bima tidak menganti bajunya
lantaran Bima tidak pulang ke rumah, untuk
menggambil baju ganti, semua dia lakukan
agar Seila tidak tau, kalau Bima akan pergi
ke tempat undangan nya Nafa.
Bima, Bondet dan iqbal berangkat bersama
dengan menggunakan mobil milik Iqbal.
Sengaja juga Iqbal tidak membawa pacarnya
di karenakan, pacar iqbal yang suka sekali
marah marah dan memerintah di khawatirkan
akan membuat masalah di Acara pesta nanti.
Dalam satu jam perjalanan, akhirnya Bima,
Bondet dan Iqbal sudah sampai di Hotel
Mulia Senayan Jakarta.
Sebuah Hotel berbintang lima yang sangat
mewah dan mahal, konon ceritanya dalam
satu malam kita harus merogoh kocek
sebesar 216 juta. Sebuah harga yang sangat
fantastis hal itu di karenakan hotel kamar
ini di lengkapi dengan jazcuzzi shower
berlapis emas 24 karat, toilet Neorest dan
perlengkapan kamar mandi mewah, selain
itu kamar itu juga memiliki bantal Nancy
Corzine edisi terbatas dan barang-barang
dekoratif dari jay Strong. Terletak di lantai
atas Hotel, the duke suite mulia Senayan Jakarta itulah nama hotel nya, sangat
mahal dan mewah, Namun bagi keluarga
Nafa, harga seperti itu tidak lah mahal
menggingat Ayah Nafa orang terkaya
nomor satu yang ada di London.
Mereka tiba di Hotel Mulia Senayan Jakarta
pada pukul 5.30.
Bondet yang tidak pernah masuk hotel di
Indonesia di buat terkagum kagum akan keindahan dan kemewahan hotel yang
ada di Indonesia khususnya Jakarta.
"Wah, kak Bima, hotel ini sangat istimewa
sekali, pasti Ayah nya Nafa harus membayar
mahal hotel ini, sungguh ternyata bukan
Hanya di luar negeri saja ada hotel mewah
Indonesian juga punya,"Ucap Bondet
bangga akan keindahan dan kemewahan
yang ternyata Indonesia juga punya.
"Iya, Ndet makanya, kita harus cinta tanah
air," Ucap iqbal menjelaskan.
Bondet terkekeh mendengar ucapan iqbal.
"Coba Bal, buktikan padaku kalau kamu
cinta tanah air, bisa nyanyiin lagu Tanah
Air ku apa tidak," Tanya Bondet ingin
mengetes seberapa besar cinta Iqbal
pada Tanah Air nya.
"Tentu saja, aku bisa mungkin kamu tuh
yang ngak bisa,"Ledek Iqbal pada Bondet.
"Aku kan ngak Sekolah Bal, jadi aku tidak
bisa," Ucap Bondet tiba-tiba murung.
Melihat mimik wajah Bondet yang
tiba-tiba murung karena merasa sedih
dengan cepat iqbal menghibur nya.
"Gak papa ndet, ngak Sekolah yang
penting kita tetap cinta produk dalam
Negri seperti cari cewek pun juga dalam
Negri, jangan yang luar Negri,"
Ucap Iqbal sambil terkekeh, membuat
Bondet kembali tersenyum.
"Sudah jangan berisik saja, mari kita
masuk," Ajak Bima kepada Bondet dan
__ADS_1
iqbal.
Ketiganya masuk ke dalam hotel, suasana
yang sangat meriah, ternyata Acara
perpisahan ini tidak hanya di hadiri oleh
para teman terdekat Nafa, tapi juga di
hadiri oleh sahabat Ayahnya Nafa.
Melihat kemunculan Bima, Bondet dan
Iqbal yang sudah sejak tadi siang di
tunggu tunggu, dengan cepat Nafa
menghampiri.
"Kak Bima...!" Ayo masuk,"Seru Nafa pada
Bima, Kita duduk disana saja ya ,"Serunya
kemudian.
Bondet, Iqbal dan Bima menggikuti Nafa.
"Kak Bondet dan Kak Iqbal kalian boleh
ke ujung sana makan dulu karena nanti
akan ramai orang jadi sulit mengambil
makanan," Seru Nafa menjelaskan.
Dengan cepat Bondet dan iqbal bergegas
ke ruang makan yang di tunjukkan Nafa
Namun langkah iqbal terhenti,
"Kak Bima..!" Ayo kita makan," Ajak iqbal
kepada Bima.
"Ngak usah ajak kak Bima, Nanti kak Bima
makan sama sama aku," Ucap Nafa
menjelaskan.
"Kenapa mesti sama kamu Fa ?"kita makan
bareng saja Sekarang,"Ucap Bima.
"Apa kak Bima, sudah lapar?"Tanya Nafa.
"Belum, cuma kalau bareng itu enak,"
Ucap Bima kalem.
"Baiklah, Ayo ikut aku," Tanpa menunggu
jawaban dari Bima, tangan Nafa sudah
meraih tangan Bina dan mengajak nya.
"Kita mau kemana?"Bukankah ruang makan
di sana? Tanya Bima Bingung Lantaran
Nafa justru membawa Bima masuk ke
"Kita makan di kamar saja, aku ingin
bercerita banyak hal dengan Kak Bima,
bukankah ini malam perpisahan kita,"
"Iya, tapi..!" Tidak benar kita satu ruangan
tertutup berdua,"
"Kak Bima, itu aneh, aku yang cewek saja
ngak takut, kenapa kak Bima takut,"
Bima tersenyum simpul, mendengar
ucapan Nafa.
"Bukan takut Fa, tapi ini tidak pantas,"
Ucap Bima lembut seraya menghentikan
langkah kakinya agar tidak masuk ke dalam
kamar hotel.
Nafa sangat mengenal Bima, dia tidak akan
sembarangan masuk dan takluk pada
bujuk rayu wanita, oleh sebab itulah Nafa
sangat tertarik pada Bima meskipun
respon yang di berikan Bima sangat
mengecewakan. Namun Nafa yakin
sekuat apapun laki laki bertahan pada
akhirnya akan jatuh juga.
Sudah sangat rapi dan sudah sangat di
rencana kan malam ini akan dia
habiskan bersama dengan orang yang
sangat dia cinta.
"Baiklah, kak Bima tunggu disini, aku
mau mengambil beberapa kue yang
ku buat tadi, sekalian aku akan
mencoba gaun pesta untuk malam ini,
Kak Bima tunggu disini,"Ucap Nafa.
Bima hanya mengagguk mendengar
ucapan Nafa, sementara Nafa bergegas
masuk ke dalam kamar hotel mewah nya.
Tak lama kemudian, Nafa sudah keluar
dengan membawa cake kue choklat.
__ADS_1
"Lho...!"katanya mau ganti baju dengan
gaun pesta kenapa belum ganti?" Tanya
Bima.
Nafa tersenyum,
"Nanti saja kak, kan kita mau makan cake
takut kotor," Ucap Nafa.
"Kamu benar," Ucap Bima tersenyum.
Melihat Bima tersenyum hati Nafa semakin
di buat tidak tidak menentu ada debar debar
aneh di sana.
"Ayo, kak, di cicipi kue choklat buatanku,"
Ajak Nafa pada Bima.
Melihat cake choklat di depan nya tiba tiba
Bima teringat pada Seila, dia paling suka
dengan choklat, sedang apa dia sekarang.
Timbul rasa hati nya ingin menelpon istri
tercintanya.
"Sebentar, aku telpon rumah dulu," Ucap
Bima minta ijin, ketika Bima merogoh saku
celananya alangkah terkejutnya dia, ketika
tidak mendapati ponsel hapenya.
"Kenapa tidak ada?"padahal aku tadi
membawa nya,"Gumam Bima lirih.
" Ada apa kak?"Tanya Nafa.
"ponsel hapeku, tidak ada,"Ucap Bima
"Oh, ya sudahlah, mungkin tertinggal di
kantor kak Bima,"Ucap Nafa.
"Itu tidak mungkin, aku ingat tadi aku
membawanya, kenapa tiba-tiba tidak ada,"
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, lebih baik
kita makan cake dulu," Bujuk Nafa.
"Tidak bisa Nafa, istri kakak Nanti marah
kalau kakak tidak ngasih kabar,"
Mendengar ucapan Bima menyebut istri
sungguh Nafa merasa sesak, tapi dia
berusaha untuk tetap tersenyum.
"Ya sudah minta sama kak Bondet saja
untuk menghubungi mbak Seila,"
"Kamu benar, aku akan temui Bondet,"
Ketika Bima hendak melangkah Nafa
menghalangi.
"Biar aku saja yang bilang, kak Bima
di sini saja." Titah Nafa.
Mendengar tawaran Nafa
Bima segera Tersenyum, sedangkan Nafa
dengan cepat pergi, Namun ternyata Nafa
bukan pergi memberi tau Bondet, tapi
justru menemui seorang pelayan hotel.
"Hey, sini ?" Nafa melambaikan tangan
pada salah satu pelayan hotel.
"iya Non, ada apa?"
"Mana hape kak Bima yang tadi ku
suruh menyembunyikan!"
"ini, Non !" Ucap pelayan itu seraya
menyerahkan ponsel hape kepadanya.
Nafa segera meraih ponsel hape itu dan
langsung mematikan nya.
"Dengar, taruh hape ini di saku baju tuh
orang yang ada di ujung sana itu, kau
mengerti,"
"iya, Non saya mengerti," Ucap pelayanan
hotel itu.
"Bagus, cepat taruh disana,'
"Baik, Non,"
Setelah sang pelayan pergi, Nafa
menyunggingkan sebuah senyuman di
bibirnya.
"Malam ini, tidak akan ada yang
mengaggu kebersamaan nya dengan
Bima, dan untuk kau mbak Seila,
relakan suamimu menghabiskan malam
bersamaku,"Gumam Nafa dalam hati.
__ADS_1