Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.71.CINTA TANAH AIR


__ADS_3

Di kala semua tugas yang ada di kantor


selesai, Bondet dan iqbal sudah bersiap


siap untuk pergi ke pesta undangan


perpisahan yang di adakan Ayahnya Nafa.


Bondet dan iqbal tampil dengan baju yang


sangat rapi dan bagus malam itu, sedangkan


Bima, hanya memakai baju yang dikenakan


saat kerja pagi, Bima tidak menganti bajunya


lantaran Bima tidak pulang ke rumah, untuk


menggambil baju ganti, semua dia lakukan


agar Seila tidak tau, kalau Bima akan pergi


ke tempat undangan nya Nafa.


Bima, Bondet dan iqbal berangkat bersama


dengan menggunakan mobil milik Iqbal.


Sengaja juga Iqbal tidak membawa pacarnya


di karenakan, pacar iqbal yang suka sekali


marah marah dan memerintah di khawatirkan


akan membuat masalah di Acara pesta nanti.


Dalam satu jam perjalanan, akhirnya Bima,


Bondet dan Iqbal sudah sampai di Hotel


Mulia Senayan Jakarta.


Sebuah Hotel berbintang lima yang sangat


mewah dan mahal, konon ceritanya dalam


satu malam kita harus merogoh kocek


sebesar 216 juta. Sebuah harga yang sangat


fantastis hal itu di karenakan hotel kamar


ini di lengkapi dengan jazcuzzi shower


berlapis emas 24 karat, toilet Neorest dan


perlengkapan kamar mandi mewah, selain


itu kamar itu juga memiliki bantal Nancy


Corzine edisi terbatas dan barang-barang


dekoratif dari jay Strong. Terletak di lantai


atas Hotel, the duke suite mulia Senayan Jakarta itulah nama hotel nya, sangat


mahal dan mewah, Namun bagi keluarga


Nafa, harga seperti itu tidak lah mahal


menggingat Ayah Nafa orang terkaya


nomor satu yang ada di London.


Mereka tiba di Hotel Mulia Senayan Jakarta


pada pukul 5.30.


Bondet yang tidak pernah masuk hotel di


Indonesia di buat terkagum kagum akan keindahan dan kemewahan hotel yang


ada di Indonesia khususnya Jakarta.


"Wah, kak Bima, hotel ini sangat istimewa


sekali, pasti Ayah nya Nafa harus membayar


mahal hotel ini, sungguh ternyata bukan


Hanya di luar negeri saja ada hotel mewah


Indonesian juga punya,"Ucap Bondet


bangga akan keindahan dan kemewahan


yang ternyata Indonesia juga punya.


"Iya, Ndet makanya, kita harus cinta tanah


air," Ucap iqbal menjelaskan.


Bondet terkekeh mendengar ucapan iqbal.


"Coba Bal, buktikan padaku kalau kamu


cinta tanah air, bisa nyanyiin lagu Tanah


Air ku apa tidak," Tanya Bondet ingin


mengetes seberapa besar cinta Iqbal


pada Tanah Air nya.


"Tentu saja, aku bisa mungkin kamu tuh


yang ngak bisa,"Ledek Iqbal pada Bondet.


"Aku kan ngak Sekolah Bal, jadi aku tidak


bisa," Ucap Bondet tiba-tiba murung.


Melihat mimik wajah Bondet yang


tiba-tiba murung karena merasa sedih


dengan cepat iqbal menghibur nya.


"Gak papa ndet, ngak Sekolah yang


penting kita tetap cinta produk dalam


Negri seperti cari cewek pun juga dalam


Negri, jangan yang luar Negri,"


Ucap Iqbal sambil terkekeh, membuat


Bondet kembali tersenyum.


"Sudah jangan berisik saja, mari kita


masuk," Ajak Bima kepada Bondet dan

__ADS_1


iqbal.


Ketiganya masuk ke dalam hotel, suasana


yang sangat meriah, ternyata Acara


perpisahan ini tidak hanya di hadiri oleh


para teman terdekat Nafa, tapi juga di


hadiri oleh sahabat Ayahnya Nafa.


Melihat kemunculan Bima, Bondet dan


Iqbal yang sudah sejak tadi siang di


tunggu tunggu, dengan cepat Nafa


menghampiri.


"Kak Bima...!" Ayo masuk,"Seru Nafa pada


Bima, Kita duduk disana saja ya ,"Serunya


kemudian.


Bondet, Iqbal dan Bima menggikuti Nafa.


"Kak Bondet dan Kak Iqbal kalian boleh


ke ujung sana makan dulu karena nanti


akan ramai orang jadi sulit mengambil


makanan," Seru Nafa menjelaskan.


Dengan cepat Bondet dan iqbal bergegas


ke ruang makan yang di tunjukkan Nafa


Namun langkah iqbal terhenti,


"Kak Bima..!" Ayo kita makan," Ajak iqbal


kepada Bima.


"Ngak usah ajak kak Bima, Nanti kak Bima


makan sama sama aku," Ucap Nafa


menjelaskan.


"Kenapa mesti sama kamu Fa ?"kita makan


bareng saja Sekarang,"Ucap Bima.


"Apa kak Bima, sudah lapar?"Tanya Nafa.


"Belum, cuma kalau bareng itu enak,"


Ucap Bima kalem.


"Baiklah, Ayo ikut aku," Tanpa menunggu


jawaban dari Bima, tangan Nafa sudah


meraih tangan Bina dan mengajak nya.


"Kita mau kemana?"Bukankah ruang makan


di sana? Tanya Bima Bingung Lantaran


Nafa justru membawa Bima masuk ke


"Kita makan di kamar saja, aku ingin


bercerita banyak hal dengan Kak Bima,


bukankah ini malam perpisahan kita,"


"Iya, tapi..!" Tidak benar kita satu ruangan


tertutup berdua,"


"Kak Bima, itu aneh, aku yang cewek saja


ngak takut, kenapa kak Bima takut,"


Bima tersenyum simpul, mendengar


ucapan Nafa.


"Bukan takut Fa, tapi ini tidak pantas,"


Ucap Bima lembut seraya menghentikan


langkah kakinya agar tidak masuk ke dalam


kamar hotel.


Nafa sangat mengenal Bima, dia tidak akan


sembarangan masuk dan takluk pada


bujuk rayu wanita, oleh sebab itulah Nafa


sangat tertarik pada Bima meskipun


respon yang di berikan Bima sangat


mengecewakan. Namun Nafa yakin


sekuat apapun laki laki bertahan pada


akhirnya akan jatuh juga.


Sudah sangat rapi dan sudah sangat di


rencana kan malam ini akan dia


habiskan bersama dengan orang yang


sangat dia cinta.


"Baiklah, kak Bima tunggu disini, aku


mau mengambil beberapa kue yang


ku buat tadi, sekalian aku akan


mencoba gaun pesta untuk malam ini,


Kak Bima tunggu disini,"Ucap Nafa.


Bima hanya mengagguk mendengar


ucapan Nafa, sementara Nafa bergegas


masuk ke dalam kamar hotel mewah nya.


Tak lama kemudian, Nafa sudah keluar


dengan membawa cake kue choklat.

__ADS_1


"Lho...!"katanya mau ganti baju dengan


gaun pesta kenapa belum ganti?" Tanya


Bima.


Nafa tersenyum,


"Nanti saja kak, kan kita mau makan cake


takut kotor," Ucap Nafa.


"Kamu benar," Ucap Bima tersenyum.


Melihat Bima tersenyum hati Nafa semakin


di buat tidak tidak menentu ada debar debar


aneh di sana.


"Ayo, kak, di cicipi kue choklat buatanku,"


Ajak Nafa pada Bima.


Melihat cake choklat di depan nya tiba tiba


Bima teringat pada Seila, dia paling suka


dengan choklat, sedang apa dia sekarang.


Timbul rasa hati nya ingin menelpon istri


tercintanya.


"Sebentar, aku telpon rumah dulu," Ucap


Bima minta ijin, ketika Bima merogoh saku


celananya alangkah terkejutnya dia, ketika


tidak mendapati ponsel hapenya.


"Kenapa tidak ada?"padahal aku tadi


membawa nya,"Gumam Bima lirih.


" Ada apa kak?"Tanya Nafa.


"ponsel hapeku, tidak ada,"Ucap Bima


"Oh, ya sudahlah, mungkin tertinggal di


kantor kak Bima,"Ucap Nafa.


"Itu tidak mungkin, aku ingat tadi aku


membawanya, kenapa tiba-tiba tidak ada,"


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, lebih baik


kita makan cake dulu," Bujuk Nafa.


"Tidak bisa Nafa, istri kakak Nanti marah


kalau kakak tidak ngasih kabar,"


Mendengar ucapan Bima menyebut istri


sungguh Nafa merasa sesak, tapi dia


berusaha untuk tetap tersenyum.


"Ya sudah minta sama kak Bondet saja


untuk menghubungi mbak Seila,"


"Kamu benar, aku akan temui Bondet,"


Ketika Bima hendak melangkah Nafa


menghalangi.


"Biar aku saja yang bilang, kak Bima


di sini saja." Titah Nafa.


Mendengar tawaran Nafa


Bima segera Tersenyum, sedangkan Nafa


dengan cepat pergi, Namun ternyata Nafa


bukan pergi memberi tau Bondet, tapi


justru menemui seorang pelayan hotel.


"Hey, sini ?" Nafa melambaikan tangan


pada salah satu pelayan hotel.


"iya Non, ada apa?"


"Mana hape kak Bima yang tadi ku


suruh menyembunyikan!"


"ini, Non !" Ucap pelayan itu seraya


menyerahkan ponsel hape kepadanya.


Nafa segera meraih ponsel hape itu dan


langsung mematikan nya.


"Dengar, taruh hape ini di saku baju tuh


orang yang ada di ujung sana itu, kau


mengerti,"


"iya, Non saya mengerti," Ucap pelayanan


hotel itu.


"Bagus, cepat taruh disana,'


"Baik, Non,"


Setelah sang pelayan pergi, Nafa


menyunggingkan sebuah senyuman di


bibirnya.


"Malam ini, tidak akan ada yang


mengaggu kebersamaan nya dengan


Bima, dan untuk kau mbak Seila,


relakan suamimu menghabiskan malam


bersamaku,"Gumam Nafa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2