
Seila kembali menatap seluruh isi ruangan di mana semua masih terlihat sama dan tidak berubah dengan tatapan intens Seila menatap sebuah lukisan foto pernikahan dirinnya dan Bima.
"Ayo, sayang kita masuk ke dalam kamar, kau harus banyak beristirahat dan mulai besok aku tidak akan mengijinkan dirimu menjadi karyawan di kantorku."
"Aku tidak mau di Rumah tanpa kegiatan pasti akan sangat membosankan." grutu Seila.
"Non Seila tidak akan bosan kan ada Non Vira kecil," sahut Bik Ijah yang tiba-tiba muncul dengan membawakan dua gelas kopi panas dengan satu piring pisang coklat keju.
"Apa Vira tidak takut padaku," tanya Seila yang kemudian di sambut dengan tawa Bima.
"Dia kan putrimu mana mungkin dia takut yang ada pasti Vira akan senang." jawab Bima sambil meraih minuman yang di berikan Bik Ijah kepadanya.
Setelah menghabiskan beberapa potong pisang cholat keju dan meneguk beberapa tegukan, Bima Naik ke dalam kamar atas di mana di ikuti Seila dari belakang.
Bima membuka pintu kamar dengan perlahan lahan kemudian, berbalik menghadap Seila yang menggikuti nya dari belakang.
"Lihat kamar ini tidak akan sunyi lagi, karena kau sudah kembali."
__ADS_1
"Kak Bima ngomong apaan sih, sudahlah aku mau beristirahat."
Seila menduduk kan bokong nya di tepi Ranjang dan yang kemudian diikuti Bima , Melihat Bima melakukan gerakan yang selalu menggikuti nya, Seila bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah jendela, di bukanya sedikit kelambu yang mana langsung memperlihatkan keindahan jalanan yang ada di luar Rumah, lagi-lagi Bima menggikuti gerakan Seila dan kali ini langsung memeluk Seila dari belakang.
"Seila, jangan tinggalkan aku lagi ya, aku sungguh merasa sepi dan hampa tanpamu
"Kak, Bima apaan sih, lepas dong! jangan seperti anak kecil saja."
"Apakah tidak boleh memeluk istri sendiri,"tanya Bima Sambil membenamkan wajahnya dalam punggung istrinya, seolah olah tidak mau kehilangan lagi.
Sementara di tempat lain tampak seorang pemuda yang baru saja turun dari dalam mobil sedang membawa beberapa tas ransel berupa beberapa potong pakaian milik istrinya, masuk ke dalam Rumah.
Melihat istrinya masih diam terpaku di depan pintu Arya mengeryitkan dahinya.
"Ada apa, ayo masuk?"ajak Arya sambil mendekati sang Istri, sambil mengengam tangan nya.
"Tidak..!
__ADS_1
Arya semakin binggung melihat sikap istrinya yang menolak di ajak masuk ke dalam Rumah dan dengan perlahan melepaskan genggaman tangan nya.
Arya menelan ludahnya dengan susah payah.
"Kamu, kenapa, mengapa tidak mau masuk?'
"Aku tidak pantas tinggal lagi di Rumah ini, trimakasih kamu sudah berjuang untuk membebaskan aku tanpa bujuk rayumu Kak Bima tidak akan luluh hatinya dan kamu sudah berhasil membuat istri Kak Bima membantu mu, aku sangat berterimakasih dan ku rasa lebih baik aku tinggal di kontrakan saja bukan disini."
"Arin....!Kamu itu bicara apa, aku suamimu jadi Rumah ini juga Rumahmu." cetus Arya kesal, bagaimana tidak kesal sudah di bantu dan di pikirkan tapi masih ngak sadar dan masih egois mau melakukan apapun sesuka hati dan memikirkan perasaan orang.
Arina Tertawa lebar Namun terlihat jelas jika nada Tawanya terdengar sangat sumbang dan terkesan di paksakan.
"Istri...!Hahahaha, apa kamu tidak salah ucap, istri yang bagaimana aku ini dan apa pantas aku di sebut istri jika aku tega mencelakakan suamiku bahkan sampai membuat nya lumpuh, lalu aku mengguras semua hartanya untuk kepentingan ku apakah wanita seperti aku ini masih bisa di sebut istri, sudahlah Arya hubungan kita itu sudah tidak ada kau boleh menceraikan aku, kamu bisa mendapatkan orang yang lebih baik dariku, kamu berhak bahagia dan kamu tidak perlu lagi mencemaskan dan memikirkan sudah cukup pengorbanan mu untuk ku, sekarang bukalah kembaran baru untuk kebahagiaan mu dan biarkan aku pergi dari kehidupan mu," ucap Arina sambil berbalik dan hendak melangkah keluar pintu Namun lagi-lagi tangannya langsung di sambar dan di gengam erat Arya.
"Apa kau pikir aku bahagia jika membiarkan kamu pergi, ya.... benar...aku kecewa, aku sakit hati aku kesal karena sikap dan perbuatan yang kau lakukan padaku, kau sangat tidak berperasaan menyakiti diriku, lalu apakah dengan kau pergi kau tidak menyakiti ku lagi? kau lebih menyakiti, ayolah kita bersama Kembali membuka lembaran hidup baru, ayolah kita bersama membangun biduk Rumah tangga yang bahagia."
"Tapi, aku tidak pantas untuk itu, aku sudah...
__ADS_1
"Cukup...!cukup Arina jangan bicara itu lagi siapa yang menggatakan tidak pantas, aku tidak mengatakan apapun, bagiku kamu tetap istriku apapun perlakuan mu padaku, jika ada orang yang mengatakan aku bodoh biarkanlah aku bodoh karena cinta, bukankah cinta itu memang buta meskipun berkali-kali tersakiti tapi masih juga mencinta, ayolah kita buka lembaran baru lagi."
Mendengar perkataan Arya yang begitu mengharukan Arina tidak dapat bicara apapun lagi kecuali derai air mata keharuan, karena orang yang dia sakiti tetap mencintai.