
Setelah menyelesaikan makan bersama
Bima dan sukses membuat Bima mau
menyuapinya, kini Nafa akan menjalankan
rencana terakhirnya.
Cintanya yang sangat dalam kepada Bima
membuat nya tidak bisa berfikir dengan
sehat, apa yang ada di dalam pikiran dan
hatinya itulah yang akan Nafa lakukan.
Ambisinya untuk bisa mendapatkan cinta
Bima sangatlah besar.
Sejak pandangan pertama, Bima sudah
mampu memporak porandakan hati
dan jantung nya, Nafa bukanlah gadis
lugu yang tidak memiliki pacar, sudah
ada beberapa pria yang singgah menjadi
pacarnya dan sudah beberapa kali juga
bibir Nafa tersentuh pacarnya bukan
hal yang aneh berciuman bagi gadis
berdarah bule yang pastinya ciuman
bibir itu adalah suatu hal yang biasa,
jangankan dengan pacar bertemu teman
pun orang bule pasti berciuman.
Tapi dengan Bima, belum sekalipun
bibirnya tersentuh bibir sensual Bima.
putus nyambung dan memutuskan
itu sudah sering Nafa lakukan ketika
dia mulai bosan dengan pacarnya.
Kini dia bertemu dengan Bima dan
keinginan hatinya adalah bisa memiliki
Bima tidak perduli Bima sudah beristri
atau belum, terlahir sebagai anak
orang kaya dan serba ada, Nafa tidak
terbiasa dengan penolakan, untuk itu Nafa
sangat berambisi agar Bima, bisa dia
tahklukkan, Namun sampai detik ini Bima
tetap dingin dan belum bisa masuk
dalam genggaman, mungkin dengan
cara yang kali ini Nafa rencanakan
Bima bisa dia miliki dan Seila akan segera
dia ceraikan.
Melihat Nafa begong sambil tersenyum
Bima mengkerutkan dahinya.
",Ada apa ?", Kenapa senyum senyum
sendiri,"
Nafa yang asik dalam lamunan nya pun
tersentak kaget.
"Mmmm... tidak ada apa apa, cuma suka
saja kalau di temani kak Bima,"
Bima tersenyum melihat ekspresi Nafa
yang dianggap nya lucu.
Bima melirik jam yang ada di pergelangan tangannya pukul 7,30.
Bima Menghela nafas dan menghembuskan
nya dengan perlahan lahan.
"Nafa, ini sudah malam aku balik pulang
dulu ya," Ucap Bima mau berpamitan.
"Malam apaan, sih kak !" Baru juga pukul
7.30, ini sih masih sore kak,"
__ADS_1
"Tapi...!"
"Kak, aku mau ganti gaun, kak Bima tunggu
disini ya, ingat masih sore ini, jadi jangan
pulang dulu ?" Pinta Nafa pada Bima,
sebelum dia melangkah masuk ke dalam
kamar hotel nya.
Berkali-kali Bima Menghela Nafas panjang
dan menghembuskan nya dengan kasar
pikiran nya resah hatinya gundah.
"Sudah pukul 7.30 ,sudah hampir seharian
tidak melihat wajah galak istrinya, hatinya
begitu kacau, ada rindu yang tidak bisa
tersalurkan, seandainya hape nya ada
mungkin rasa rindu ini bisa sedikit terobati.
"Kenapa bisa hape aku hilang ya ? padahal
seperti nya tadi saat aku mau masuk kesini
ada, apa jangan jangan jatuh, kalau Seila
telpon terus tidak ada yang menggangkat
pasti marah, sayang sekali ini pestanya
Nafa kalau pestanya orang lain sudah ku
ajak dia, mungkin memang jatuh lebih baik
aku cari saja,"
Bima berdiri dari tempat duduknya matanya
yang tajam dengan alis tebal sedang
celingukan kekanan dan kekiri bahkan Bima
terkadang harus berjalan dengan menunduk
kan kepalanya.
Ketika Bima Sibuk dan asik dengan pencarian
hapenya yang hilang tiba-tiba terdengar
histeris.
"Aaaaaaaaah.....Tolong..... Tolong...!"
Dengan cepat Bima mendongak kan
kepala nya.
"Itu suara Nafa dari dalam kamar, ada apa
dengan nya ?"
Bergegas Bima berlari ke dalam sumber
suara itu. Pintu yang tertutup segera
Bima dobrak, karna terlalu panik dobrakan
pintu Bima yang keras membuat
Nafa terkejut.
"Braaaaak...!Bunyi suara itu.
Nafa berteiak panik sambil menangis
seraya berlari memeluk tubuh Bima.
Bima yang tiba-tiba mendapat kan pelukan
dari Nafa sedikit terperanjat kaget.
Dengan halus Bima berusaha merenggang
kan pelukan Nafa.
"Nafa.. ada apa?",Tanya Bima lembut.
'Aku takut kak ada mouse..?"
"Mana...?"
"Tidak tau kak, tadi ada di situ, aku takut,"
Ucap Nafa manja.
"Iya...ya, biar ku cari, lepaskan dulu pelukan
nya, aku akan cari,"
Nafa melepaskan pelukannya pada Bima.
Sementara Bima kini sedang celingukan
menunduk mencari tikus.
__ADS_1
"Tidak ada,"
"Tadi ada kak, aku takut"
"Mungkin tikusnya sudah lari,"
"Kak Bima benar, mungkin juga ,
mouse nya sudah lari,"
"Ya, sudah, aku keluar dulu,"
"Jangan...!"
"lho, kenapa ?"
"Aku takut, Kalau ada mouse lagi,"
"Kan kamu mau ganti baju Fa..!" Masak
aku tungguin,"
Nafa tersenyum manja sambil tangannya
mengenggam tangan Bima.
"Kak, Bima bisa duduk disana," Titah Nafa.
"Tapi Fa...!"
"Sudah kan kak Bima ngak ngapa ngapain,
jadi gak papa lah kak Bima di sini, Pokoknya
kak Bima ngak boleh keluar titik, aku takut"
rengek Nafa manja.
"Ya sudah cepet ganti sana,"
Nafa segera melepas bajunya, dari cermin
Nafa melihat Bima tak sedikit pun menoleh
padanya, membuat Nafa sedikit kesal.
"Kok ngak ngintip sih, sok jual mahal amat,
apa aku kurang cantik apa?"
"Kak Bima..!" Tolongin, aku ngak bisa
menaikkan resleting.
"Apa...?"Tunggu, aku keluar minta bantuan
pelayan agar bisa membantu mu,"
Ucap Bima, seraya beranjak dari tempat
duduknya dan hendak keluar kamar.
Namun langkahnya di cegah Nafa.
Dengan cepat Nafa justru menguci
kamar itu.
"Ngak boleh pergi dulu, ayo bantuin,"
"Tapi...?Fa..ini tidak baik,"
"Halah kak, cuma bantuin benerin resleting
saja, ayolah, Kalau ngak mau, ngak boleh
pulang," Ancam Nafa.
Bima jadi ingat sekarang sudah malam
sudah pukul 8,00 , jika tidak dituruti
dia akan pulang semakin malam dan bisa
bisa, Seila marah, dengan terpaksa akhirnya
Bima menuruti apa yang di minta Nafa.
Tidak di pungkiri hati Bima pun berdegup
dengan kencang melihat kulit putih halus
di depan nya, dengan cepat Bima segera
membuang muka agar tatapan matanya
tidak melihat punggung Nafa yang berkulit
putih halus.
Cara Bima yang membantu Nafa dengan
membuang muka membuat Nafa sedikit
kesal.
"Ayo kak cepat,"Teriak Nafa.
Dengan buru buru Bima menarik resleting
baju Nafa ke atas karena tanpa melihat
yang terjadi justru Nafa berteiak kesakitan.
__ADS_1