
Melihat kelakuan Bima Bondet dan iqbal
menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
Keesokan harinya Bima segera memesan
ojek online, agar dia bisa cepat sampai
di rumah.
"Ndet, bagun, coba lihat di sana?"
Dengan mata masih mengantuk Bondet
menjawab.
"Apa !
"Lihat kak Bima mau kemana tuh ?"
Bondet memicingkan matanya.
"Kak Bondet mau pulang itu," Teriak Bondet
yang tiba-tiba membuka kedua matanya
lebar lebar.
"Iya, kak Bima mau pulang, kita samperin
ayo,"
Dengan tergesa gesa Bondet dan Iqbal turun
dari mobil.
"Kak Bima mau kemana ?"Tanya Bondet.
"Pulang,"
"Lho, kita bagaimana ?" Tanya Iqbal protes.
"Aku sudah telpon bengkel nanti akan ada
yang njemput mobil kamu, aku mau pulang
duluan, perasaan ku ngak enak,"Ucap
Bima menjelaskan.
"Tapi, kak, ini masih pagi sekali, Non Seila
pasti juga belum bangun,"
"Justru dia belum bangun aku sudah harus
ada di Rumah,"
"Ya, baiklah, terserah kak Bima,"
"Kak Bima, hati-hati ya ?"
Bima tersenyum seraya melambaikan tangan.
Ketika ojek online sudah tiba dengan cepat
Bima naik di atas motor nya.
Sebelum pulang ke rumah Bima meminta
ojek online untuk mengantarkan Bima
ke kantor nya di mana motor Bima tinggalkan.
Tidak berapa lama Bima sudah berada di
kantor nya, setelah memberikan uang
kepada ojek online Bima segera menaiki motornya menuju ke Rumah.
Dengan kecepatan tinggi Bima melajukan
motornya, sehingga hanya dalam tiga puluh
menit Bima sudah sampai di halaman
Rumah nya.
Senyuman nya mengembang ketika Bima
sampai di Rumah baru pukul 5.00.itu
artinya masih sangat pagi dan biasanya
Seila masih tidur.
Tanpa mengetuk pintu atau membunyikan
bel rumah Bima langsung membuka pintu
dengan kunci cadangan yang dia punya.
__ADS_1
Perlahan lahan pintu terbuka, Bima yang
sudah tidak sabar ingin bertemu dengan
istrinya dia segera berlari ke kamar atas.
Dengan sangat hati-hati Bima mulai membuka
pintu kamarnya.
Setelah pintu terbuka, bima terkejut ketika
mendapati ranjangnya sudah bersih dan
rapi, Seila pun tidak ada di sana.
Dengan cepat Bima berlari menuruni anak
tangga, Wajah' tampan nya mulai terlihat
tegang.
"Bik..!Bik Inah...?" teriak Bima cemas.
Mendengar ada yang memanggil dengan
tergopoh-gopoh Bik inah segera datang.
"Eh, Den Bima sudah pulang,"
"Seila mana Bik !"
"Ada, Den, di kamarnya,"
"Di kamar ngak ada Bik ?"Jawab Bima cemas.
"Kalau tidak ada lalu kemana ?tadi seperti nya
belum keluar, coba Bik Inah priksa,"
Bik Inah segera memeriksa di seluruh ruangan rumah di bagian bawah.
"Tidak ada Den, pasti Non Seila masih di
kamar atas,"
"Baiklah, aku cek sendiri lagi,"Ucap Bima
seraya berlari ke kamar atas.
Ketika pintu terbuka tiba-tiba Seila sudah ada
Bima mengeryitkan dahinya ketiika Melihat
Seila sudah sangat rapi bahkan sudah
menenteng tas kecil terslempang di pinggangnya.
"Mau kemana ?"
"Ada undangan pesta pernikahan, dari teman,"
"Sepagi ini ?"
"Ya, kan, aku harus bantu bantu,"
"Tapi aku baru pulang,"
"Apa hubungannya, dengan kau baru pulang,"
Jawab Seila cuek.
Bima meraih tangan Seila, tapi dengan cepat
Seila menarik dan menepisnya.
"Ngak usah pegang pegang,"
"Duh, galaknya, cuma pegang tangan dikit
saja ngak boleh,"
"Minggirlah, aku Nanti bisa terlambat,"
"Aku mau bicara soal, kemarin,"
"Ngak ada, yang perlu di bicarakan,"
"Seila...!'Kok gitu sih ngomong nya,"
"Gitu gimana?" kan kamu sudah bilang
sudah bicara, kalau tidak akan, pulang,
ya sudah, tidak apa apa, sekarang apalagi
yang ingin kamu bicarakan,"
"Bukan begitu, aku memang bilang tidak
pulang, tapi aku cuma bercanda,"
__ADS_1
"Tapi, buktinya bener kan !" sudahlah minggir
aku mau lewat,"
Mendengar ucapan sinis dari istrinya Bima
menelan ludahnya dengan kasar.
Bima sudah sangat hafal dengan sikap
istrinya kalau lagi marah percuma saja
menjelaskan karena tidak akan sekalipun
Seila dengar, mengalah dan bersabar itu
mungkin yang lebih baik.
"Aku antar,"Tawar Bima lembut.
"Ngak perlu, kamu beru pulang pasti capek,
kamu istirahat saja di rumah,"
"Aku ngak capek kok, malah aku senang,"
Ucap Bima bersemangat.
"Tapi, aku yang ngak senang, kamu antar,"
"Deg...!"
*Duh, ngambek nya mulai up nih," Keluh
Bima sedih.
"Sudah, minggir jangan berdiri di pintu,
nganggu orang lewat saja,"Ucap Seila dingin.
"Aku mau ikut,"
"Tidak bisa, aku pergi dengan di jemput
teman,jadi mana bisa kamu ikut,"
Tak lama kemudian terdengar suara
mobil di bunyikan dari luar.
"Tit...Tit...Tit...!"
"Aku sudah di jemput, aku pergi,"
Dengan cepat Seila berlari ke luar rumah
dimana temannya sudah menunggu.
Bima tidak trima di tinggalkan begitu saja
diapun ikut berlari keluar, bahkan mendahului
langkah Seila.
Melihat suaminya berlari menggikuti Seila
mengkrucutkan bibirnya.
"Apaan, sih, ikut keluar juga,"
Bima tidak menjawab perkataan Seila.
Selangkah lebih dulu Bima sudah sampai
di dekat mobil teman Seila yang menjemput.
Tanpa membuang waktu Bima langsung
mendekati si pengemudi mobil.
"Apa aku boleh ikut menemani istri ku ke
pesta?" Tanya Bima pada teman Seila.
"Tentu saja boleh kenapa tidak,"
"Benarkah,"Tanya Bima tak percaya.
Gadis pengemudi itu segera mengagguk.
"Kalau begitu tunggu sebentar mau, aku
mau mandi sebntar saja,'
"Boleh,"
Dengan cepat Bima berlari hendak ke dalam
rumah nya ketika dia berpapasan dengan
Seila, Bima mengedipkan sebelah matanya, sebelum berlari ke kamar atas.
__ADS_1