Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.77.MENGALAH


__ADS_3

Melihat kelakuan Bima Bondet dan iqbal


menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


Keesokan harinya Bima segera memesan


ojek online, agar dia bisa cepat sampai


di rumah.


"Ndet, bagun, coba lihat di sana?"


Dengan mata masih mengantuk Bondet


menjawab.


"Apa !


"Lihat kak Bima mau kemana tuh ?"


Bondet memicingkan matanya.


"Kak Bondet mau pulang itu," Teriak Bondet


yang tiba-tiba membuka kedua matanya


lebar lebar.


"Iya, kak Bima mau pulang, kita samperin


ayo,"


Dengan tergesa gesa Bondet dan Iqbal turun


dari mobil.


"Kak Bima mau kemana ?"Tanya Bondet.


"Pulang,"


"Lho, kita bagaimana ?" Tanya Iqbal protes.


"Aku sudah telpon bengkel nanti akan ada


yang njemput mobil kamu, aku mau pulang


duluan, perasaan ku ngak enak,"Ucap


Bima menjelaskan.


"Tapi, kak, ini masih pagi sekali, Non Seila


pasti juga belum bangun,"


"Justru dia belum bangun aku sudah harus


ada di Rumah,"


"Ya, baiklah, terserah kak Bima,"


"Kak Bima, hati-hati ya ?"


Bima tersenyum seraya melambaikan tangan.


Ketika ojek online sudah tiba dengan cepat


Bima naik di atas motor nya.


Sebelum pulang ke rumah Bima meminta


ojek online untuk mengantarkan Bima


ke kantor nya di mana motor Bima tinggalkan.


Tidak berapa lama Bima sudah berada di


kantor nya, setelah memberikan uang


kepada ojek online Bima segera menaiki motornya menuju ke Rumah.


Dengan kecepatan tinggi Bima melajukan


motornya, sehingga hanya dalam tiga puluh


menit Bima sudah sampai di halaman


Rumah nya.


Senyuman nya mengembang ketika Bima


sampai di Rumah baru pukul 5.00.itu


artinya masih sangat pagi dan biasanya


Seila masih tidur.


Tanpa mengetuk pintu atau membunyikan


bel rumah Bima langsung membuka pintu


dengan kunci cadangan yang dia punya.

__ADS_1


Perlahan lahan pintu terbuka, Bima yang


sudah tidak sabar ingin bertemu dengan


istrinya dia segera berlari ke kamar atas.


Dengan sangat hati-hati Bima mulai membuka


pintu kamarnya.


Setelah pintu terbuka, bima terkejut ketika


mendapati ranjangnya sudah bersih dan


rapi, Seila pun tidak ada di sana.


Dengan cepat Bima berlari menuruni anak


tangga, Wajah' tampan nya mulai terlihat


tegang.


"Bik..!Bik Inah...?" teriak Bima cemas.


Mendengar ada yang memanggil dengan


tergopoh-gopoh Bik inah segera datang.


"Eh, Den Bima sudah pulang,"


"Seila mana Bik !"


"Ada, Den, di kamarnya,"


"Di kamar ngak ada Bik ?"Jawab Bima cemas.


"Kalau tidak ada lalu kemana ?tadi seperti nya


belum keluar, coba Bik Inah priksa,"


Bik Inah segera memeriksa di seluruh ruangan rumah di bagian bawah.


"Tidak ada Den, pasti Non Seila masih di


kamar atas,"


"Baiklah, aku cek sendiri lagi,"Ucap Bima


seraya berlari ke kamar atas.


Ketika pintu terbuka tiba-tiba Seila sudah ada


Bima mengeryitkan dahinya ketiika Melihat


Seila sudah sangat rapi bahkan sudah


menenteng tas kecil terslempang di pinggangnya.


"Mau kemana ?"


"Ada undangan pesta pernikahan, dari teman,"


"Sepagi ini ?"


"Ya, kan, aku harus bantu bantu,"


"Tapi aku baru pulang,"


"Apa hubungannya, dengan kau baru pulang,"


Jawab Seila cuek.


Bima meraih tangan Seila, tapi dengan cepat


Seila menarik dan menepisnya.


"Ngak usah pegang pegang,"


"Duh, galaknya, cuma pegang tangan dikit


saja ngak boleh,"


"Minggirlah, aku Nanti bisa terlambat,"


"Aku mau bicara soal, kemarin,"


"Ngak ada, yang perlu di bicarakan,"


"Seila...!'Kok gitu sih ngomong nya,"


"Gitu gimana?" kan kamu sudah bilang


sudah bicara, kalau tidak akan, pulang,


ya sudah, tidak apa apa, sekarang apalagi


yang ingin kamu bicarakan,"


"Bukan begitu, aku memang bilang tidak


pulang, tapi aku cuma bercanda,"

__ADS_1


"Tapi, buktinya bener kan !" sudahlah minggir


aku mau lewat,"


Mendengar ucapan sinis dari istrinya Bima


menelan ludahnya dengan kasar.


Bima sudah sangat hafal dengan sikap


istrinya kalau lagi marah percuma saja


menjelaskan karena tidak akan sekalipun


Seila dengar, mengalah dan bersabar itu


mungkin yang lebih baik.


"Aku antar,"Tawar Bima lembut.


"Ngak perlu, kamu beru pulang pasti capek,


kamu istirahat saja di rumah,"


"Aku ngak capek kok, malah aku senang,"


Ucap Bima bersemangat.


"Tapi, aku yang ngak senang, kamu antar,"


"Deg...!"


*Duh, ngambek nya mulai up nih," Keluh


Bima sedih.


"Sudah, minggir jangan berdiri di pintu,


nganggu orang lewat saja,"Ucap Seila dingin.


"Aku mau ikut,"


"Tidak bisa, aku pergi dengan di jemput


teman,jadi mana bisa kamu ikut,"


Tak lama kemudian terdengar suara


mobil di bunyikan dari luar.


"Tit...Tit...Tit...!"


"Aku sudah di jemput, aku pergi,"


Dengan cepat Seila berlari ke luar rumah


dimana temannya sudah menunggu.


Bima tidak trima di tinggalkan begitu saja


diapun ikut berlari keluar, bahkan mendahului


langkah Seila.


Melihat suaminya berlari menggikuti Seila


mengkrucutkan bibirnya.


"Apaan, sih, ikut keluar juga,"


Bima tidak menjawab perkataan Seila.


Selangkah lebih dulu Bima sudah sampai


di dekat mobil teman Seila yang menjemput.


Tanpa membuang waktu Bima langsung


mendekati si pengemudi mobil.


"Apa aku boleh ikut menemani istri ku ke


pesta?" Tanya Bima pada teman Seila.


"Tentu saja boleh kenapa tidak,"


"Benarkah,"Tanya Bima tak percaya.


Gadis pengemudi itu segera mengagguk.


"Kalau begitu tunggu sebentar mau, aku


mau mandi sebntar saja,'


"Boleh,"


Dengan cepat Bima berlari hendak ke dalam


rumah nya ketika dia berpapasan dengan


Seila, Bima mengedipkan sebelah matanya, sebelum berlari ke kamar atas.

__ADS_1


__ADS_2