
Masih bisa terlihat dengan jelas jika gadis di depannya bukan Ningsih dengan cepat Bima mendorong tubuh gadis di depannya hingga menjauh dari tubuhnya.
"Kau...!" mau apa kau kesini, pergi."
"Tenanglah, mas, aku akan membantu mu, kamu seperti nya lagi sakit."ucap gadis di depannya dengan terus mendekati Bima, dengan kesal Bima menepis setiap tangan dari gadis itu yang ingin meraih dan menyentuh nya. Dengan memegang kepala yang serasa mau pecah Bima mendorong dan mendorong gadis yang berusaha mendekati nya sampai pada pintu.
"Keluar, kau?"
"Mas, tenanglah dan kecilkan suaramu, bukankah kita suami istri jangan dorong aku begini mas sadarlah."
"Justru aku masih sadar kamu bukan istriku jadi pergilah." seru Bima sambil mendorong tubuh gadis di depannya sampai keluar kamar dan dengan cepat Bima langsung menutup kamarnya.
"Sialan..!" apa obatnya belum bekerja kenapa Bima masih. bisa menggenaliku atau jangan jangan dosisnya kurang, aku akan minta pelayan memberikan minum lagi agar obat itu segera bereaksi."
_____________
Ningsih yang habis dari kamar kecil kebinggungan mencari keberadaan Bima karena Bima sudah tidak ada lagi di tempat nya.
"Mbak....!" tadi ada pesan dari mas yang duduk di sini katanya kepala nya sakit dan minta beristirahat jadi saya membawanya ke kamar no 123 , mbak bisa menemuinya di sana."
"Oh, iya trimakasih."ucap Ningsih seraya tersenyum. Pak Bima sakit..!" tadi seperti nya baik baik saja kenapa tiba-tiba sakit aku harus ke sana untuk memastikan keadaan nya." Gumam Ningsih dalam hati.
Di depan pintu kamar Ningsih langsung membuka pintu dan masuk ke dalam di lihatnya Bima sedang memegangi kepalanya, melihat Bima seperti kesakitan Ningsih tak tega, dengan cepat di hampiri nya.
"Pak Bima..!" apanya yang sakit pak." tanya Ningsih khawatir.
"Ningsih..!" kepala ku Serasa mau pecah dan badan ku terasa panas, tolong bantu aku membukanya ini panas sekali.
"Pak..!Ba-bagaiman bisa saya membatu membuka baju bapak..A-aku Ti- tidak bisa."jawab Ningsih gugup sambil melangkah mundur.
"Ningsih... !"Tolonglah, aku sudah tidak tahan lagi, ini sangat menyiksa."
Melihat Bima berdiri sempoyongan dan hampir jatuh Ningsih segera berlari mendekat berusaha menahan agar tubuh Bima tidak Jatuh dengan bersusah payah Ningsih membantu Bima agar tetap berdiri tegak dan berjalan ke ranjang nya setelah dekat Ningsih sekuat tenaga menjatuhkan tubuh Bima di atas ranjang tapi yang terjadi justru tangan Bima memegang erat Tubuh Ningsih pun ikut terbawa jatuh di atas ranjang, hingga posisi Ningsih di atas tubuh Bima, ketika Ningsih hendak bangkit tangan Bima yang melingkar di leher Ningsih tidak bisa terlepas dengan bersusah payah Ningsih melepaskan tangan Bima dan ketika berhasil Ningsih segera bangkit berdiri.
Tapi Bima yang sudah mulai di kuasai obat kembali menarik tubuh Ningsih jatuh ke pelukan nya.
__ADS_1
"Pak..!" apa yang kau lakukan." Tanya Ningsih gugup.
"Ningsih...! tubuh ku panas sekali ini sungguh menyiksa ku, boleh kah aku..! Bima tak lagi meneruskan ucapannya boleh kah aku melakukan nya." tanya Bima sendu.
"Pak... lepaskan! jangan ... jangan seperti ini," Pinta Ningsih memohon dengan wajah ketakutan dan air mata mulai lolos dari pelupuk matanya ,antara sadar dan tidak Bima kemudian berteriak.
"Araaaaaagggghhhh...!" Teriak Bima sambil mendorong dengan kuat tubuh Ningsih hingga jatuh ke lantai Bima tak memperdulikan Ningsih yang terjatuh dengan cepat Bima berlari masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam sementara Ningsih yang jatuh terduduk menangis dengan keras dia tidak menyangka jika Boss nya akan melecehkan nya. Tapi ketika mendengar suara teriakan erangan dan rintihan dari dalam kamar mandi Ningsih mulai bangkit berdiri. sayup sayup terdengar Bima mengumpat dalam kamar mandi.
"Araaaaaagggghhhh...dasar obat sialan, siapa yang berani mengerjaiku." Araaaaaagggghhhh.Bima berteriak merancau sendiri di dalam kamar mandi, Ningsih yang mendengar itu baru tersadar jika Bima melakukan karena pengaruh obat yang telah dia minum'.
Karena khawatir Ningsih bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati kamar mandi.
"Pak...!"apa Bapak baik baik saja?"apa yang harus aksu lakukan agar bisa menolong Bapak?"
"Carikan Air kelapa dan bawa ke sini."
"Baik, pak!"
Bergegas Ningsih keluar kamar dan tanpa sengaja bertabrakan dengan orang yang kebetulan ingin masuk ke kamar itu.
"Maaf..!" saya tidak sengaja." ucap Ningsih merasa bersalah dan dengan cepat memungut gelas yang pecah di lantai.
"Bodoh, sekali sih kamu, kalau mau jalan tuh lihat lihat."
"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja."
Keributan yang terjadi antara Ningsih dan gadis di depan pintu kamar telah menyita perhatian sang pelayan Hotel yang akhirnya membuat sang pelayan Hotel membantu dan merelai keributan itu dengan wajah kesal akhirnya gadis berkacamata yang tak lain adalah Seila mulai melangkah masuk ke dalam kamar sedangkan Ningsih berlalu pergi, dia bertanya pada penyaji makanan apakah di Hotel ada tersedia Air kelapa atau tidak dengan susah payah akhirnya Ningsih mendapatkan air kelapa yang di butuhkan untuk meredam reaksi dari obat perangsang.
Langkah Ningsih yang tergesa-gesa dan tak menghiraukan sekeliling tak menyadari jika Hendrato menggikuti nya dan ketiika Ningsih hendak masuk ke dalam kamar Hendrato bertepuk tangan yang sontak saja membuat Ningsih menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya Ningsih ketiika mengetahui siapa yang ada di belakang nya.
"Mas, Hendrato!"
"Kenapa, terkejut! tau aku tiba-tiba ada di sini, jadi begini setelah berdansa dengan romantis dengan Bima sekarang kalian mau bermalam di kamar juga."
""Mas, Hendrato ini ngomong apa sih?"
__ADS_1
"Aku membicarakan kamu dan Bima bukankah di kamar itu ada Bima?'
"Iya tapi....!"
"Tapi apa?"
"Apakah seperti ini caramu menghianati ku, menjijikkan."Dengus Hendrato kesal.
"Tenanglah, apa yang mas Hendrrto pikirkan itu semua tidak benar."
"Tidak benar, kau bilang, Ha. ha..ha..!"sudah tertangkap basah masih juga menyangkal."
"Kenapa kau tidak percaya padaku."
"Apalagi yang bisa dipercaya apakah ini belum cukup bukti."
"Lalu sekarang mau mas Hendrato apa?" membatalkan pernikahan kita kah jika itu yang mas mau baiklah aku trima."ucap Ningsih yang mulai merasa kesal.
"Enak saja, tentu saja tidak."
"Bukankah tadi mas bilang menjijikkan lalu untuk apa mrnikahiku," sungut Ningsih kesal kemudian berlalu pergi.
Ningsih tak lagi berniat ke kamar Bima Ningsih menyuruh seorang pelayan untuk mengantarkan air kelapa ke kamar Bima sedangkan Ningsih berlari pergi meninggalkan Hotel dengan perasaan kesal dan air mata yang sejak tadi di tahannya, kecewa kesal dan marah itulah yang kini di rasakan NIngsih dia tidak menyangka jika Hendrato akan bicara seperti itu kepada nya.
Hendrato yang melihat Ningsih keluar dari Hotel menjadi panik dan segera berlari mengejar bukan maksud hatinya ingin menyinggung perasaan Ningsih tapi entah kenapa rasa cemburu itu membuat nya gelap mata dan bicara sesukanya.
Dengan derai air mata Ningsih terus berlari membelah jalan yang sunyi dari arah berlawanan terlihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi.
"Ciiiiiiiiiittttt.....!"sang pengemudi melakukan rem dadakan.
"Hei....!" kalau nyebrang jalan lihat lihat dong.
"Maaf....! Bruuuuugggh..!"
"Hah ..Dia pingsan!"seru sang pengemudi mobil.
__ADS_1