
Yoga turun dari taksi dengan langkah gontai, di depan rumah Temmi, sang adik tengah bicara dengan asistennya di samping sepeda motor milik sang asisten,
Melihat kedatangan Yoga, tampak Temmi menghela nafas,
"Bayarkan argo nya untukku,"
Kata Yoga yang sebetulnya tanpa Yoga minta pun Temmi sudah tahu akan begitu,
Temmi lantas meminta asistennya yang pergi menemui pak supir taksi untuk bertanya berapa yang harus mereka bayar,
Yoga sendiri terus berjalan menuju masuk melewati Temmi begitu saja,
Laki-laki itu benar-benar seperti tak ingat apa yang tadi pagi ia lakukan pada adiknya, dan kini ia bahkan meminta Temmi membayarkan taksi lalu melewatinya begitu saja,
Ah andai Yoga bukan kakaknya, pasti Temmi sudah mengatainya tidak waras dan semacamnya,
"Dari mana kamu Ga?"
Tanya Ibu pada Yoga ketika di dalam rumah kemudian Yoga bertemu dengan sang Ibu,
"Dari sana,"
Jawab Yoga sekenanya, membuat Ibunya jadi mendengus kesal,
"Ga, ditanya Ibu jawabnya yang betul,"
Marah Ibu,
Tapi Yoga tampaknya tak peduli, otaknya sudah terlalu panas, sepanas sinar matahari siang ini yang begitu terasa membakar saking teriknya,
Yoga meneruskan membawa langkahnya menuju lantai dua, sambil kembali terngiang apa yang dikatakan sang supir taksi,
"Keluarga bagi laki-laki adalah yang utama, tanpa mereka, maka laki-laki tak ada arti."
__ADS_1
Kata pak supir taksi,
"Dengan adanya keluarga, laki-laki memiliki tujuan hidup yang jelas, karena perannya dalam hidup juga jadi lebih jelas. Menjadi suami, menjadi ayah, menjadi tulang punggung untuk anak isteri, membuat kebutuhan mereka tercukupi, dan dengan adanya isteri serta anak-anak, maka laki-laki jadi mampu mengusahakan apapun yang dibutuhkan manusia, dari sandang, pangan, papan,"
Tambah Pak supir taksi pula,
Yoga yang mendengarnya pun lantas sampai menghela nafasnya,
"Bagaimana jika isteri dan anak meninggalkan suami di saat suami terpuruk Pak?"
Tanya Yoga,
Pak supir terdiam sejenak, lalu...
"Tergantung suaminya, saat terpuruk itu apakah dia tetap berusaha keluar dari keterpurukan atau tidak, jika ia sedang dalam usaha tapi isteri pergi, maka isteri itu memang lebih baik dibiarkan saja pergi, karena sudah jelas dia bukan perempuan yang harus dipertahankan dan diperjuangkan, tapi..."
Pak supir membuka botol air mineral di sampingnya sejenak dengan tangan kiri, lalu meminumnya, setelah beberapa kali teguk, Pak supir kembali menutup botol air mineral itu dan melanjutkan bicara,
"Tapi jika suami tak ada usaha apapun, atau usaha tapi tidak maksimal hingga di saat-saat itu isteri dan anaknya sampai tak bisa mendapatkan hak nya, maka itu berarti isterinya tentu tidak bersalah, karena bagaimanapun tentu suamilah yang paling bersalah jika sampai dalam keadaan terpuruk itu suami tak sungguh-sungguh berusaha keluar dari situasi tersebut,"
Yoga pun demi mendengar semua yang dikatakan pak supir taksi jadi kembali menghela nafas,
Bahkan sampai detik ini, di mana kini ia sudah berada di rumah dan tengah menuju kamarnya, kata-kata pak supir taksi yang masih terus terngiang-ngiang itu membuat hatinya berulang kali harus merasa teriris-iris,
"Mas Yoga ke kamar, Bu?"
Tanya Temmi pada Ibunya yang begitu Temmi masuk tampak sedang mengomel sendirian di ruang TV.
"Ya, ditanya pun jawabnya seenaknya, sepertinya dia memang ingin Ibu mati cepat, itu sebabnya kamu tidak Ibu ijinkan pulang bersama Mariska tadi,"
Kata Ibu dengan raut wajah dan nada suara kesal,
Temmi tampak tersenyum, lalu mengambil tempat duduk di dekat Ibunya,
__ADS_1
"Tidak apa Bu, memang aku juga sudah malas pulang ke rumah,"
Ujar Temmi,
Ibu menatap Temmi,
"Apa sebetulnya kamu ada masalah juga dengan Mariska? Bukankah dia isteri yang sempurna?"
Lirih Ibu mulai kembali merasa curiga dengan keadaan rumah tangga Temmi yang sebenarnya,
Temmi menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, wajahnya yang tampan terlihat masih biru lebam di beberapa bagian akibat pukulan-pukulan Yoga tadi pagi,
"Dia sempurna sebagai perempuan, tapi tidak sebagai isteri,"
Kata Temmi,
"Maksudnya, Mariska?"
Ibu menatap Temmi dengan mata tak percaya,
Temmi tersenyum hambar,
"Aku tahu di mata Ibu, Mariska sangat baik, aku juga tak akan menyanggah itu, tapi nyatanya untuk berumahtangga sampai kemudian bisa meraih bahagia bersama tentu baik saja tak cukup Bu, sempurna sebagai seseorang juga tak cukup, rumah tangga adalah seperti sebuah tim, jika masing-masing harus menjadi pemimpin, maka tak akan pernah bisa tim itu berjalan,"
"Mariska terlalu dominan?"
Tanya Ibu,
Temmi menatap Ibunya, sebelum kemudian tersenyum lagi sekilas lalu, seolah menggantikan kata iya untuk kalimat Ibu barusan,
Ibu menghela nafasnya,
Rasanya hancurlah tiba-tiba hatinya kini, mendapati rumah tangga kedua putranya di ambang kehancuran semuanya, membuat Ibu jadi merasa telah gagal mengantar mereka mendapatkan kebahagiaan sejati.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...