
Hendrato tersenyum dengan ramah.
"Duduklah mas!" aku ingin bercerita banyak hal pada Mas Bima."
Niat hati ingin mengejar dan menggikuti Ningsih apa daya di tahan Hendrato hati Bima menjadi ketar ketir khawatir jika sebenarnya Hendrato mengetahui kalau Bima ada hati dengan Ningsih. Dengan sangat terpaksa Bima pun kembali duduk.
"Ningsih, itu gadis yang keras kepala, saya sudah melarang untuk bekerja tapi dia tetap mau bekerja, jadi dengan berat hati saya mengijinkan Ningsih bekerja, sebenarnya Ningsih itu lagi sakit, untung Mas Bima yang jadi bosnya, saya jadi tidak terlalu khawatir karena aku yakin mas Bima akan memperlakukan karyawan dengan baik."
Bima terkekeh kecil.
"Mas Hendrato, ada ada saja tadi mas Bilang apa, Ningsih lagi sakit, sakit apa dia? kok aku tidak tau dan ku lihat kok sepertinya sehat sehat begitu."
Melihat Bima yang bertanya seolah olah tak Percaya dan bingung Hendrato tersenyum ramah.
"Tentu, saja tidak terlihat mas, karena Ningsih bukan sakit badan tapi dia sakit karena hilang ingatan."
"Astagfirullahaladhim, kasian sekali kok bisa bagaimana ceritanya."
" Mas, Bima ingat mantan pacar saya dulu yang bernama Seila kan?"tanya Hendrato.,
Bima semakin bingung dengan perkataan Hendrato, tadi bertemu Seila pura-pura tidak kenal lalu sekarang membahas Seila sebenarnya ada apa ini, meskipun tidak terlalu memahami maksud dan arah pembicaraan Hendrato Bima mengagguk.
"Seila menggalami kecelakaan yang sangat dahsyat, aku tidak tau apakah Seila mengalami kecelakaan itu murni hanya kecelakaan ataukah kesengajaan orang."
Bima semakin di buat tertegun dengan perkataan Hendrato, karena ternyata Hendrato juga mengetahui kalau Seila habis kecelakaan tapi anehnya bertemu dengan Seila secara langsung, ini tadi kenapa pura-pura tidak kenal, ini yang membuat hati Bima bertanya tanya, kembali Hendrato melanjutkan ceritanya.
"Akibat dari kecelakaan itu, 90 persen wajah Seila rusak dan hancur beruntung Seila di temukan seorang Wanita yang baik hati bahkan rela kehilangan seluruh harta nya demi menyelamatkan Seila agar wajahnya tidak rusak dengan mengirimnya ke Hongkong untuk melakukan operasi wajah, Mas Bima tau, aku sudah lama berdoa dan berharap bisa bertemu dengan Seila tapi aku tidak pernah menyangka jika kami di pertemukan dalam situasi dan saat yang sangat menyakitkan,dosaku di masa lalu yang belum mendapatkan pintu maaf dari Seila membuat aku selalu berdoa memohon dan meminta agar aku di berikan kesempatan untuk bertemu dan meminta maaf kepadanya.
Wajah tegar Hendrato mulai meredup tatapan matanya sayu dan di kedua kelompok matanya tergenang air yang kapan saja siap meluncur bagaikan air hujan, suaranya pun mulai parau, melihat itu hati Bima ikut menjadi berdegup tak karuan wajah Seila 90 persen rusak tapi kenapa yang dia lihat biasa saja bahkan tidak terlihat luka sedikitpun.
__ADS_1
"Kebetulan saya, lagi ada keperluan belajar memperdalam cara operasi wajah belajar pada salah satu teman yang sudah sukses menjadi dokter bedah di Hongkong, pada saat itu dia menangani salah satu pasien yang akan segera melakukan operasi wajah dan mas Bima tau pasien malang itu siapa dialah Seila.
Deg...
jantung Bima seakan langsung berhenti berdetak bibir dan tangannya bergetar.
"Ap-apa?" Seila operasi wajah?katakan yang jelas aku tidak mengerti maksud mu."
"Sebenarnya Ningsih itu adalah Seila dan dia hilang ingatan untuk itu aku bilang padanya akulah kekasihnya dan calon suaminya, aku ingin menebus dosaku di masa lalu, aku ingin Seila bahagia meskipun nanti jika ingatan Seila kembali aku tidak tau apakah dia masih mau menerima ku atau akan meninggalkan ku, aku sangat mencintainya mas.
Bagaikan petir yang menyambar Bima terkulai lemas duduk terpaku dengan tatapan mata yang kosong hatinya begitu sakit dan tidak percaya, gadis yang selama ini di bentaknya kala salah di suruh suruh, itu adalah istrinya, jika Ningsih adalah Seila lalu siapa yang selalu ada di rumahnya.
Melihat Bima diam terpaku tanpa bicara apa-apa, Hendrato kembali bicara.
"Mas Bima, istrinya mirip dengan Seila bahkan nama mereka juga sama, mas kenal di mana?aku doakan semoga mas Bima bahagia."
"Bagaimana kau yakin, Ningsih itu adalah Seila," tanya Bima yang tiba-tiba bersikap dingin.
"Seila itu memiliki luka di punggung dan di bagian kiri dadanya ada tailalat di sana."
Jawaban Hendrato yang tepat membuat wajah Bima merah padam dengan tangan mengepal Bima hendak memukul Hendrato Karena tau lekuk dari istrinya, tapi niat itu dia tahan dan urungkan karena Bima menyadari sudah pasti Hendrato tau karena Hendrrto adalah orang pertama yang merenggut kesucian Seila sebelum Seila menjadi istrinya.
"Ku lihat, mas Bima sangat tegang, certaku memang sangat menyedihkan siapapun pasti akan ikut terbawa arus, satu yang ku pinta pada mas Bima, jangan mengatakan sesuatu yang memaksa Ningsih menggingat jati dirinya karena dokter melarang otak nya Bekerja keras atau berfikir dengan keras karena hal itu akan menimbulkan efek jika tidak kuat bisa mengakibatkan pingsan dan sakit di area kepala nya, aku tidak ingin Seila menderita lagi jadi ku mohon mas Bima berjanjilah untuk menjaga rahasia ini, mas Bima mau kan?"
Dengan sangat terpaksa Bima mengagguk, Hendrato tidak tau jika Seila itu adalah istrinya kini hati Bima benar benar di penuhi luapan amarah siapa wanita yang berani mengaku sebagai Seila di rumahnya.
Seila yang telah selesai membeli pop corn segera menghampiri Bima.
"Mas Bima, ayo masuk sudah mau mulai tuh film nya."
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan Seila, Bima langsung masuk ke dalam gedung bioskop diikuti dengan langkah kaki Seila. Merasa Bima berjalan dengan sangat cepat Seila segera meraih tangan suaminya.
"Mas Bima, tunggu! jangan cepat cepat kita tidak akan ketinggalan."
Bima tetap diam seribu bahasa dengan wajah yang terlihat sangat dingin. Dengan sedikit berlari Seila mensejajarkan langkah nya dengan langkah kaki Bima setelah sedikit dekat Seila langsung memegang tangan Bima dan mengandeng nya akan tetapi dengan cepat Bima kibaskan tangan Seila. perlakuan yang aneh dan tidak seperti biasanya membuat Seila membulatkan kedua bola matanya.
"Mas Bima? kenapa sih! aku kan cuma mau berjalan dengan bergandengan tangan."
lagi-lagi pertanyaan Seila tidak di jawab Bima hal itu membuat Seila kesal.
"Mas Bima kamu kenapa sih kok jadi kasar begini."
"Apa bisa kita pergi ke hotel sekarang?"
Seila langsung mendelik tak percaya dengan ajakan suaminya, rupanya Bima lagi ingin mendapatkan pelayanan pantas saja sikapnya sangat uring-uringan mungkin mas Bima sudah tidak tahan dan aku akan segera menikmati bagaimana rasanya di sentuh Orang yang kita cintai.
"ayo, mas!"
"yakin, kamu siap dan mau ?"tanya Bima dingin.
"Aku, siap! aku siap memberikan pelayanan yang memuaskan untukmu Mas."ucap Seila lirih.
Perkataan Seila yang sangat manis membuat Bima tersenyum miring, sebuah senyuman yang hanya Bima sendiri yang mengerti makna nya.
"Bagus, ku harap kau tidak mengecewakan aku."cetus Bima dingin.
"Aku, akan memuaskan mu!" sampai kau benar-benar puas."
Mendengar jawaban Seila Bima segera menarik tangan Seila dengan kasar keluar gedung bioskop.
__ADS_1